
"Gimana ini," bingung Rebecca sambil memegangi dadanya yang terasa dag dig dug.
"Ini juga baju gada yang tertutup dikit apa ya," menatap pakaian yang dia kenakan.
"Huh," dengus Rebecca sambil menaikkan lingerie yang dia pakai agar lebih ke atas sedikit dan menutupi dadanya.
Tapi nyatanya tidak bisa, mungkin karena punya Rebecca yang terlalu besar, sampai sampai lingerie yang udah dia naikkan turun lagi.
"Dahlah cape, lebih baik aku gunakan kesempatan ini buat keluar dari kamar," lanjut Rebecca yang merencanakan diri buat kabur.
"Sebaiknya aku tunggu di sini sampai mas Stefan tidur, baru nanti setelah itu aku keluar dari kamar," rencana Rebecca.
Menit berlalu begitu cepat, sudah setengah jam lebih Rebecca berada di kamar mandi, dan dia pun memutuskan untuk keluar dari kamar mandi untuk melihat keadaan Stefan.
Pelan pelan dia membuka pintu kamar mandi agar tidak di ketahui Stefan, dan dia mengintip keadaan Stefan yang terlihat sudah tertidur pulas di atas ranjang.
"Syukurlah dia udah tidur, aku jadi bisa keluar dengan mudah dari sini," gumam Rebecca sambil berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar.
Sampai di depan pintu Rebecca segera menarik handle pintu.
Ceklek ceklek.
"Loh kok gak bisa?" Rebecca terus mencoba untuk membuka pintu kamar tapi tetap tidak bisa terbuka juga.
__ADS_1
"Apa pintunya di kunci dari luar, ini gak ada kunci pintunya di dalam," gumam Rebecca yang tidak menemukan adanya kunci pintu di pintu itu.
"Yaahh, masak gagal sih," lanjut Rebecca yang merasa rencananya buat kabur tidak bisa.
Grep.
"Mau kemana hmm?" ucap seseorang sambil memeluk Rebecca dari belakang.
Tubuh Rebecca menegang, antara syok karena tiba tiba ada suara di belakangnya, atau tiba tiba ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
"A-aku...."
"Mau kabur hmm?" potong Stefan berbisik di telinga Rebecca.
"Ugghh...." lengkuh Rebecca tanpa sadar akibat rangsangan yang Stefan berikan di telinganya.
Mendengar lenguhan Rebecca Stefan menarik sudut bibirnya membentuk senyuman licik, Stefan pun melepaskan pelukannya pada Rebecca dan meninggalkan Rebecca begitu saja di sana.
"Hah?" cengoh Rebecca yang merasa dirinya di permainkan.
Apaan maksudnya, habis membuat Rebecca merasa terbang tinggi, tapi habis itu menghempaskan nya ke dasar jurang. Tidak, Rebecca tidak bisa menerima itu.
Rebecca membalikkan tubuhnya dan menatap Stefan yang sudah kembali berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
"Persetan dengan gengsi dan benci, aku tidak terima di perlakukan seperti ini, aku akan membalasnya," batin Rebecca menatap Stefan dengan penuh permusuhan.
Rebecca berjalan dengan gaya sexy menghampiri Stefan, dia melengak lenggok kan pinggulnya, dan setelah sampai di sana dia langsung naik ke atas tubuh Stefan.
Glek.
Stefan yang melihat itupun menelan ludahnya kasar, dia tidak menyangka kalau Rebecca akan melakukan hal seperti ini.
"Mas Stefan...." ucap Rebecca dengan nada yang menggoda sambil tangannya bergerak di atas perut Stefan yang tanpa penghalang apapun.
"Gilak keras banget, jangan sampai nanti gue tergoda," batin Rebecca yang takut kalau malah dirinya lah yang akan tergoda.
Stefan diam saja, dia berusaha mati matian agar tidak mudah tergoda oleh Rebecca.
Rebecca mulai menundukkan kepalanya sejajar dengan kepala Stefan, pandangannya tertuju pada bibir sexy Stefan.
Semakin dekat, bibir mereka hampir menempel kurang tiga centi lagi.
Cup.
Tok tok tok.
"Mommy, papii,"
__ADS_1
...***...