
Sementara itu, di mansion Stefan sudah mendapatkan beberapa informasi tentang kehidupan Rebecca.
Stefan tahu kalau Rebecca itu adalah salah satu anak padepokan milik Abah Ramli, dan singa yang anaknya bilang itu milik Abah Ramli yang sangat Rebecca sayang.
Hanya itu yang masih Stefan dapatkan karena tadi Briel merengek minta di ajak jalan jalan, sebagai orang tua yang baik Stefan pun mengiyakan permintaan anaknya itu.
Saat ini dia sudah berada di rumah dan sudah menidurkan Briel yang tadi merengek mencari mommy nya.
Mungkin karena sudah kelelahan menangis sehingga membuat Briel cepat tidur dan Stefan bisa sedikit istirahat saat ini.
"Kemana wanita itu pergi, kenapa sampai jam segini belum pulang," gumam Stefan melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Rebecca belum juga pulang.
"Awas saja kalau sampai dia gak pulang hari ini, akan aku beri dia pelajaran," lanjut Stefan.
Saat tengah asik menunggu kepulangan Rebecca, dia mendengar suara mobil yang berhenti di depan mansionnya.
Stefan pun segera bangkit dari sofa dan pergi ke jendela untuk melihat siapakah yang datang ke rumahnya malam malam seperti ini.
Terlihat di luar sana ada Rebecca yang baru saja keluar dari mobil itu, dan mobil itupun segera pergi meninggalkan pekarangan mansion Stefan.
Stefan sempat melihat kalau di dalam mobil itu ada seorang laki laki yang tengah mengemudi, berarti itu artinya Rebecca di antar pulang oleh laki laki, atau bahkan mungkin Rebecca sedari pagi pergi bersama laki laki itu.
...**...
Flashback on:
__ADS_1
Rebecca dan Gilang berada dalam perjalanan menuju mansion Stefan, sedari tadi mereka saling diam, hanya berbicara saat Gilang menanyakan alamat rumah Rebecca saja.
Hingga akhirnya mereka berhenti tepat di depan mansion mewah Stefan barulah Gilang mengajak Rebecca berbicara dengan pertanyaan yang dia ajukan.
"Ini rumah kamu?" tanya Gilang kaget.
Pasalnya mansion itu sangatlah besar dan megah, jadi mana mungkin orang kaya bisa kerja di cafe, Gilang pikir dia salah menghentikan mobilnya.
"Bu-bukan rumah aku, tapi rumah majikan aku , iya majikan aku," jawab Rebecca Bohong.
"Ooh majikan kamu," balas Gilang.
"Ehh tapi kalau kamu bekerja di rumah ini kamu kok kerja di cafe juga, emang majikan kamu ngizinin?" lanjut Gilang heran.
"Ya udah aku turun dulu ya, makasih udah mau nganterin aku sampai sini," lanjut Rebecca ingin segera keluar dari dalam mobil sebelum Gilang bertanya lebih jauh lagi.
"Ehh tunggu," tahan Gilang agar Rebecca tidak keluar dari dalam mobil.
"Iya kenapa?" balas Rebecca bertanya.
"Kamu yakin mau jalan sampai pintu utama, kayaknya halamannya luas deh biar aku antar aja sampai depan pintu," tawar Gilang.
"Ehh gak usah, nanti semakin merepotkan kamu," tolak Rebecca.
"Enggak kok gak repot," balas Gilang.
__ADS_1
"Ini di izinin kan ya sama satpam nya kalau mobil aku masuk?" lanjut Gilang bertanya.
"Ehh iya di izinin kok," balas Rebecca.
Rebecca ingin menolak, tapi dia tidak enak karena tadi Gilang sudah menolong mengantarkan dirinya pulang, tapi dia juga takut kalau sampai Stefan marah.
"Semoga saja dia tidak lihat," batin Rebecca saat gerbang mansion Stefan terbuka dan mobil Gilang masuk kedalam.
"Tadi Rebecca sempat meminta izin pada satpam, dan satpam pun mengizinkan karena Rebecca adalah nyonya mereka.
"Terimakasih ya sudah mau antar aku masuk gerbang," ucap Rebecca.
"Iya sama sama," balas Gilang.
"Ya sudah aku keluar dulu ya," balas Rebecca dan keluar dari mobil Gilang.
"Sampai jumpa besok," ucap Gilang dan mulai menjalankan mobilnya.
"Iya hati hati," balas Rebecca.
Gilang pun pergi meninggalkan mansion Stefan, sedangkan Rebecca menarik nafasnya dalam sebelum dia mulai melangkahkan kaki memasuki mansion mewah Stefan.
Flashback off.
...***...
__ADS_1