CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#48


__ADS_3

Rebecca sudah sampai di depan mansion mewah Stefan, setelah turun dari ojek dia bingung apakah dia masuk ke dalam mansion itu atau tidak, tapi saat dia tengah bimbang, dia di kagetkan oleh suara satpam yang bertugas menjaga gerbang mansion Stefan.


"Selamat sore nyonya, tuan Stefan bilang dia menunggu anda di dalam," ucap satpam itu membuat Rebecca kaget.


"Ehh- iya pak, saya masuk dulu," balas Rebecca sedikit kaget.


Rebecca pun masuk dan berjalan menyelusuri halaman rumah Stefan yang sangat luas, bahkan letak pintu utama terletak sangat jauh dari gerbang utama.


"Huh jauh banget sih, siapa sih yang desain rumah seperti ini, gak kasian apa sama orang yang jalan kaki kayak aku gini," gumam Rebecca.


Setelah beberapa menit akhirnya Rebecca sudah sampai di depan pintu utama mansion Stefan, saat dia akan masuk dia sudah di sambut oleh beberapa pelayan.


"Selamat datang nyonya, tuan menunggu anda di ruang kerjanya," ucap kepala pelayan.


"Iya bi, terimakasih," balas Rebecca dan langsung menuju ruangan kerja Stefan.


"Hufft...." sebelum mengetuk pintu ruangan Stefan, Rebecca terlebih dahulu menarik nafasnya dalam untuk mengurangi rasa grogi dan takut dalam dirinya.


Tok tok tok.

__ADS_1


"Masuk," balas Stefan dari dalam membuat Rebecca langsung membuka pintu ruangan Stefan.


Ceklek.


Pintu terbuka, dan jantung Rebecca berdetak semakin kencang saat melihat tatapan Stefan yang begitu membunuh saat menatap dirinya.


"Ma-maaf mas saya baru datang," gagap Rebecca setelah berdiri di hadapan Stefan.


"Hmm," balas Stefan dingin dan tak lupa tatapan yang mematikan dia berikan kepada Rebecca.


Hening, Stefan diam tidak mengajaknya berbicara ataupun memarahi dirinya, hal itu membuat Rebecca bingung dan bibirnya sangatlah gatel.


"Ma-maaf sebelum, untuk apa ya mas Stefan menyuruh Rebecca ke sini?" tanya Rebecca memberanikan diri.


"Kamu amnesia atau pura pura amnesia, rasa rasa umur kamu belum tua untuk melupakan kesalahan yang sudah kamu perbuat," balas Stefan menatap Rebecca tajam.


"Aduh, gue takut banget, bagiamana nanti kalau gue ngompol," dalam keadaan yang seperti ini, Rebecca masih sempat sempatnya membatin tak jelas seperti ini.


"Kenapa kamu diam Hah," bentak Stefan.

__ADS_1


"Ma-maaf mas, tapi saya beneran tidak tahu apa kesalahan saya," balas Rebecca.


"Oh gitu ya, saya kira kamu pantas untuk menjaga Briel, tapi apa nyatanya kamu malah membuat Briel menunggu kamu sendiri di depan sekolahnya, beruntungnya saya bisa cepat menjemput dia di sana, kalau tidak apa yang akan terjadi kepadanya Hah, kamu mau membuat anak saya dalam bahaya," marah Stefan karena Rebecca tidak mengingat kesalahan yang sudah dia perbuat.


"Mati gue," batin Rebecca.


"Saya sudah percaya sama kamu ya buat menjaga Briel, tapi sepertinya kamu memang gak bisa menjadi ibu yang baik untuk dia, sebenarnya mau kamu itu apa sih Hah," lanjut Stefan yang masih marah.


"JAWAB, JANGAN HANYA DIAM SAJA," bentak Stefan membuat Rebecca kaget dan secara otomatis air matanya keluar sendiri.


"Ma-maaf kan saya mas, saya berfikir mas Stefan juga mengusir saya dari rumah ini setelah mas Stefan memecat saya dari perusahaan, saya minta maaf karena sudah lupa menjemput Briel dari sekolah, saya minta maaf," ucap Rebecca dengan air mata yang terus keluar dari matanya karena takut terhadap Stefan.


" Seharusnya dari awal saya memang tidak harus percaya sama kamu, jal*ng tetaplah jal*ng, mana bisa dia merawat anak dengan baik," maki Stefan menyebut Rebecca *******.


Mendengar hinaan dari Stefan, reflek kepala Rebecca mendongak dan melihat wajah Stefan yang sudah menghina dirinya.


"Saya bukan jal*ng, dan saya tidak sekotor itu, saya emang salah tapi tak seharusnya anda menghina saya serendah itu," balas Rebecca membalas tatapan mata Stefan tanpa rasa takut.


"Cih, mulai sekarang kamu keluar dari kamar saya dan tidur di kamar pembantu yang ada di belakang,"

__ADS_1


Deg.


...***...


__ADS_2