
Pagi pun tiba, Rebecca sudah berada di dapur berperang dengan perabotan dapur di bantu beberapa pelayan yang bertugas untuk memasak.
"Biar saya saja yang menyajikan, nyonya bangunkan tuan sama nona Briel saja," ucap pelayan saat masakan tinggal menyajikan di atas meja makan.
"Terimakasih Bi, kalau begitu aku ke atas dulu," balas Rebecca.
"Iya nyah," balas pelayan dan Rebecca pun pergi menuju lantai dua dimana kamar Stefan dan Briel berada.
"Saya kasian sama nyonya Rebecca, sepertinya dia ada masalah dengan tuan Stefan," ucap pelayan kepada temannya.
"Benar, padahal nyonya Rebecca itu sangat baik orangnya, tapi sayang sepertinya tuan Stefan tidak menyukai nyonya Rebecca," balas temennya.
"Tapi kalau tuan tidak menyukai nyonya kenapa dia menikahi nyonya?"
"Entahlah, saya juga bingung dengan rumah tangga tuan yang sekarang," balasnya.
"Sudah sudah, kita jangan membicarakan tuan sama nyonya, nanti kalau tuan Stefan tahu kita bisa kehilangan pekerjaan ini," ucap satu pelayan menyadarkan temennya agar tidak menggosipkan tuan mereka.
"Iya benar, bukan hanya pekerjaan, bahkan mungkin nyawa kita juga taruhannya," balas yang satunya lagi.
Akhirnya beberapa pelayan itupun tidak bergosip lagi, mereka langsung kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
...**...
Sementara itu, di tempat Rebecca dia ragu untuk mengetuk pintu kamar Stefan, dia takut nanti akan mendapatkan hinaan lagu dari Stefan.
"Apa gak aku bangunkan saja ya, tapi nanti dia marah kalau gak di bangunkan," gumam Rebecca bingung.
__ADS_1
"Tenang Rebecca, tarik nafas dalam dalam, hembuskan,"
Hufft....
"Ulangi lagi,"
Hufft....
Rebecca menginstruksi dirinya sendiri untuk menenangkan dirinya sebelum dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Stefan.
Tok tok tok.
"Mas, sudah siang ayo bangun kamu harus ke kantor," ucap Rebecca setelah memberikan ketukan pintu di kamar Stefan.
Hening, tidak ada sahutan dari dalam membuat Rebecca mengulanginya lagi.
Tok tok tok.
"Gimana ini, apa aku langsung masuk saja," bingung Rebecca.
"Ya udahlah nekat saja, dari pada nanti dia bangunnya siang trus aku kena marah lagi," lanjutnya yang mengambil kesimpulan untuk masuk kedalam kamar Stefan.
Ceklek.
"Mas...." pangil Rebecca tapi tak mendapatkan sahutan dari seluruh penjuru kamar.
Rebecca melangkahkan kakinya pelan memasuki kamar Stefan, dan bisa dia lihat kalau saat ini Stefan masih berada di atas ranjang king zise nya dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
__ADS_1
"Aduh gimana ini, semoga saja dia tidak akan marah." Rebecca mendekati ranjang dan akan membangunkan Stefan.
"Mas, mas ayo bangun ini sudah siang," ucap Rebecca dari samping ranjang.
Dia bisa melihat wajah tampan Stefan saat masih tidur, betapa beruntungnya dia bisa menikah dengan Stefan yang notabenenya di kejar kejar banyak cewek, tapi sayang sifat Stefan sangat tidak di sukai Rebecca.
"Mas, apa kamu tidak pergi kerja, ini sudah hampir siang," ulang Rebecca lagi dan tidak mendapatkan respon dari Stefan.
"Haduh gimana ini," bingung Rebecca lagi, entah harus dengan cara apa Rebecca membangunkan Stefan.
"Hufft..." Rebecca menarik nafasnya dalam sebelum dia nekat memegang lengan Stefan dan menggoyangkan nya.
"Mas, mas ayo bangun ini sudah siang, apa kamu tidak pergi ke kantor?" ucap Rebecca sambil menggoyangkan tubuh Stefan membuat Stefan pun terganggu.
"Apaan sih ganggu orang tidur aja," marah Stefan yang langsung membuka matanya lebar.
"Siapa yang menyuruh kamu masuk ke dalam kamar saya Hah?" lanjut Stefan marah.
"Maaf mas, a-aku hanya ingin membangunkan mas Stefan," gagap Rebecca takut.
"Halah, bilang aja kamu pasti mau cari kesempatan di saat saya tidur kan, dasar jal*ng,"
Deg.
Lagi dan lagi Stefan menghina Rebecca dengan kata kata yang sangat murahan itu, apakah Rebecca akan selalu kuat menghadapi kata kata itu, ataukah dia akan menyerah? entahlah author juga tidak tahu.
...*** ...
__ADS_1