CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#44


__ADS_3

Briel duduk di depan sekolahnya di samping pos satpam, dia menunggu jemputan untuk pulang dari sekolah.


"Mommy kemana sih, kok lama banget jemputnya." gumam Briel menunggu kedatangan Rebecca.


"Nona Briel udah di jemput belum?" tanya pak satpam yang melihat Briel masih ada di sana.


"Belum pak, Bliel boleh pinjam handphonenya gak buat hubungi papi Bliel?" tanya Briel hendak meminjam handphone.


"Iya non boleh, ini pakai aja." balas pak satpam itu memberikan handphonenya kepada Briel.


Briel pun langsung mengetikkan nomor telfon papinya, untung saja dia hafal jadi mudah untuk dirinya ketika ingin menghubungi Stefan.


'Halo papi, ini Bliel.' ucap Briel saat sambungan telepon sudah tersambung dengan Stefan.


'Loh sayang kamu telfon pakai nomor siapa ini hmm?' balas Stefan bertanya.


'Bliel pinjam hp pak satpam di sekolah Pi, pi mommy kemana sih kok belum jemput Bliel juga, ini Bliel udah menunggu lama loh dari tadi?' balas Briel.


'Loh kamu belum pulang sayang, ya sudah kamu tunggu di sana sebentar ya papi akan segera menjemput kamu. Oh iya tolong handphonenya kasih ke pak satpam dong papi mau bicara.'


'Iya papi.' Briel pun langsung mengembalikan handphone pak satpam itu dan bilang kalau papinya ingin bicara.

__ADS_1


'Halo tuan.' ucap pak satpam itu agak takut.


'Halo pak, saya minta tolong ya temani anak saya dulu sampai saya sampai di sana, jangan tinggalkan anak saya sendirian.' pinta Stefan.


'Baik tuan, saya akan menjaga nona Briel di sini.' balas pak satpam itu dan sambungan telefon itupun langsung terputus.


"Terimakasih ya pak," ucap terimakasih Briel.


"Sama sama nona, itu sudah menjadi tugas saya." balas pak satpam itu.


Pak satpam itupun menemani Briel duduk di sana, mereka berdua bercerita layaknya teman sepantaran.


"Dasar istri gak pecus, kalau sampai terjadi sesuatu dengan Briel, saya tidak akan tinggal diam." geram Stefan kepada Rebecca.


Stefan pun segera pergi dari perusahaan menuju sekolah tempat Briel belajar, dia akan menjemput Briel dan mengantarkannya pulang ke rumah.


...**...


Rebecca sampai di depan kontrakannya, dia segera masuk ke dalam dan menata kembali barang barangnya ke tempat semula.


"Loh becca lu kok udah ada di sini, bukannya ini masih jam kerja ya?" tanya Pricillia yang main nyelonong masuk ke dalam kontrakan Rebecca.

__ADS_1


"Gue di pecat Pric." balas Rebecca.


"Hah kok bisa, bukannya lu itu istrinya CEO ya?" kaget sekaligus bingung Pricillia.


"Ini semua karena kesalahan ku Pric." sedu Rebecca.


"Coba sini cerita sama gue, sekalian lu ceritakan kenapa lu bisa menikah dengan CEO itu?" pinta Pricillia agar Rebecca menceritakan semuanya yang sudah terjadi.


"Jadi...." Rebecca pun menceritakan asal mula kenapa dia bisa menikah dengan Stefan dan juga dia menceritakan kenapa dia bisa di pecat dari perusahaan Stefan.


"Padahal itu adalah pekerjaan yang sangat penting buat gue, lu tahu sendirikan gue harus bayar uang kontrakan sekaligus cari uang buat anak anak panti." sedu Rebecca memikirkan nasibnya.


"Lu yang sabar ya, gue yakin pasti akan ada rezeki yang datang buat lu." Pricillia memeluk Rebecca untuk menenangkan Rebecca.


"Lagian gue juga gak nyangka, kan itu semua rencana tuan Stef ya, tapi kenapa sikapnya ke elu tuh seolah olah dia gak terima dengan pernikahan itu." tak abis pikir Pricillia setelah mendengar cerita dari Rebecca bagiamana sikap Stefan yang berubah setelah mereka menikah.


"Entahlah, gue juga gak faham." balas Rebecca.


Mereka berdua pun saling curhat, dan Rebecca juga meminta bantuan Pricillia untuk membantu dirinya mencari pekerjaan baru lagi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2