
"Mampus gw." Rebecca mengumpati dirinya sendiri yang terlalu teledor dalam mengambil keputusan, tapi ini bukan salah dirinya, salah sendiri tadi buat orang panik aja, jadi ya gini.
"Maaf tuan." Sambil menundukkan kepalanya.
"Kali ini saya maafkan, tapi jika kamu ulang lagi kamu bisa angkat kaki dari perusahaan ini. Saya gak suka jika ada karyawan saya yang tidak punya sopan santun." Omel Stefan.
"Iya tuan, sekali lagi saya minta maaf."
"Iya, ngapain kamu masih di situ aja, sini cepat."
"Hufft sabar sabar sabar, anak sabar rezekinya lancar." Batin Rebecca.
Rebecca pun berjalan menghampiri meja kebenaran Stefan dengan perasaan dongkol.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Rebecca lagi setelah berdiri di hadapan Stefan.
"Kamu siapkan rapikan berkas berkas ini setelah itu kamu ikut sama meeting di cafe, jangan lupa bawa berkas ini." perintah Stefan.
"Baik tuan." jawab Rebecca dan segera merapikan berkas berkas yang berserakan di meja Stefan.
"Saya mau ke kamar mandi dulu." pamit Stefan dan segera pergi ke kamar mandi yang berada di dalam ruangannya.
"Hufft... ternyata bos gw galak." gumam Rebecca setelah memastikan Stefan tidak ada di sana.
Rebecca selesai merapikan berkas bertepatan dengan Stefan yang baru keluar dari kamar mandi sambil membenarkan kancing lengan kemeja nya.
"Gilak hot banget." batin Rebecca yang menetap ke arah Stefan sambil meneguk ludahnya kasar.
"Liat apa kamu." suara berat Stefan menyadarkan Rebecca dari lamunannya.
"Hah, tidak tuan." gagap Rebecca karena ketahuan tengah memandangi Stefan.
"Saya kasih tau kamu ya, jangan berharap lebih sama saya atau kamu akan tahu akibatnya." peringatan Stefan berikan pada Rebecca.
"Iya tuan." jawab Rebecca.
"Baru juga mengagumi udah di semprot aja." batin Rebecca.
"Gak usah ngedumel dalam hati, ayo berangkat nanti kita terlambat." ajak Stefan dan segera berjalan di ikuti Rebecca di belakangnya.
"Oh iya, tolong ambilkan jas saya di sana." perintah Stefan menghentikan langkahnya dan berbalik menunjuk ke sebuah gantungan yang terdapat jas hitam di sana.
"Baik tuan." Rebecca hanya bisa menuruti semua perintah Stefan tanpa membantah, dari pada nanti kerjaan terancam. pikir Rebecca.
Setelah keluar dari ruangan Stefan Rebecca menyempatkan diri untuk mengambil tasnya di ruang kerja yang berada di depan ruangan Stefan.
Setelah mengambilkan jas Stefan dan juga tasnya, Rebecca pun segera berlari menyusul langkah Stefan yang sudah berjalan di depannya.
__ADS_1
"Lelet banget kalau jalan." ucap Stefan saat Rebecca sudah berada di belakangnya.
"Maaf tuan." jawab Rebecca.
"Nih anak dari tadi nurut gak ada bantah ucapan gw, baguslah kalau gitu." batin Stefan.
Saat sampai di depan lift yang khusus untuk petinggi petinggi perusahaan, Rebecca akan pergi ke lift yang ada di sebelahnya yang khusus karyawan perusahaan, tapi di cegah oleh Stefan.
"Mau kemana kamu?" cegah Stefan yang tanpa di sengaja memegang tangan Rebecca.
"Mau ke situ." jawab Rebecca menahan agar dirinya tidak meleyot karena tangannya di pegang Stefan.
"Gak usah, sini ikut saya." Stefan menarik tangan Rebecca hingga masuk ke dalam lift yang khusus petinggi petinggi perusahaan.
"Tapi tuan..."
"Udah kamu diam." Stefan pun memencet tombol lantai satu dan tanpa dia sadari tangannya belum terlepas dari tangan Rebecca.
"Maaf tuan ta..."
"Apa?" sela Stefan.
"Itu..." ucap Rebecca takut sambil menunjuk ke arah tangganya.
"Oh, maaf." Stefan pun melepaskan tangan Rebecca dengan salting.
"Kamu jangan ke ge-er an, saya tadi terpaksa memegang tangan kamu agar cepat masuk ke lift." ucap Stefan setelah menetralkan perasaannya.
"Iya tuan." jawab Rebecca yang membuat Stefan lama lama jengkel.
"Kamu gak ada kata lain apa, dari tadi bilang maaf maaf mulu."
"Maaf tuan."
"Tuh kan, padahal saya belum ada satu menit berbicara seperti itu."
"Iya tuan."
Ting.
Pintu lift terbuka.
"Terserah kamu lah." ucap Stefan sambil melangkahkan kakinya keluar dari lift meninggalkan Rebecca.
"Lah tuh orang kenapa coba, gw ngomel salah, nurut juga salah. Nih lama lama gedung ini gw bakar juga." gumam Rebecca sambil berjalan dengan cepat mengejar langkah panjang Stefan.
Di depan pintu masuk gedung ternyata sudah ada mobil dengan sopir yang sudah menunggu mereka berdua. Sopir itu segera membukakan pintu mobil untuk Stefan dan Stefan pun segera masuk ke dalam.
__ADS_1
Kini giliran Rebecca, dia ragu antara harus masuk dan duduk di samping Stefan atau duduk di jok depan samping sopir.
"Kenapa kamu diam saja, cepat masuk." suara berat Stefan.
"Saya duduk di depan samping sopir saja tuan." tolak Rebecca saat di persilahkan masuk oleh sopir.
"Kamu berani bantah saya, cepat duduk sini, saya gak mau duduk sendirian." perintah Stefan yang entah tiba tiba saja keluar dari mulutnya itu.
"Ba-baik tuan." dengan ragu Rebecca pun masuk dan duduk di samping Stefan.
"Jalan pak." perintah Stefan.
Mobil yang mereka tumpangi pun melaju meninggalkan gedung perusahaan Cassano Company membelah jalan raya yang lumayan sepi, karena ini masih jam kantor.
Dalam mobil Rebecca berusaha mengontrol dirinya agar tidak gugup berdekatan dengan Stefan, dia menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel pintar miliknya.
"Ini masih jam kerja, tidak boleh main ponsel seenaknya." sindir Stefan menoleh ke Rebecca dengan tatapan tajamnya.
"Maaf tuan." Rebecca pun mematikan ponselnya dan akan memasukkannya ke dalam tas yang dia bawa...
Cittt...
"Aduh." keluh Rebecca, kepalanya hampir saja kejeduk jok mobil sopir kalau saja Stefan tidak melindungi jidatnya.
"Makanya kalau dalam mobil fokus, jangan main HP mulu, untung saya cepat tanggap kalau tidak jidat kamu udah benjol " ucap Stefan setelah kembali ke posisi awal.
"Maaf tuan, tadi ada ibu ibu yang belok ke kiri tapi pakai sen kanan jadi saya hampir menabraknya." ucap pak sopir karena merasa telah membuat tuan dan rekan tuanya hampir ke jeduk.
"Hmm." jawab Stefan sambil bersandar pada sandaran mobil dan memejamkan matanya.
"Aduh ponselku mana?" batin Rebecca bingung mencari keberadaan ponselnya.
Tapi saat akan masuk ke dalam tas, karena pak sopir yang mengerem mendadak jadi ponsel Rebecca jatuh entah ke mana.
Rebecca pun mencari cari di berkas yang ada di sampingnya dan juga di bawah tempat dia duduk tapi tidak ada juga. Rebecca pun mencari ke arah bawah Stefan duduk, dan benar saja ponselnya tepat berada di tengah-tengah kedua kaki Stefan.
"Aduh gimana ini?" Rebecca bingung, gimana cara ngambil ponselnya.
Dia menatap Stefan yang tengah memejamkan matanya.
"Sepertinya aman kalau aku ngambilnya dengan hati hati." batin Rebecca.
Dan dengan hati hati dia menundukkan kepalanya di pangkuan Steffan guna mengambil ponselnya.
"Akhirnya dapat juga." gumam Rebecca senang, tanpa dia sadari dia telah menyadarkan Stefan.
"****..."
__ADS_1
...***...