
Rebecca dan Abah pun segera berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi sehingga membuat anak anak berteriak histeris.
"Briel..."kaget Rebecca yang melihat Briel tengah menuntun singa.
"Tante..." girang Briel yang melihat Rebecca, saking senangnya sampai dia melepaskan rantai singa yang ada di tangannya.
"Aarrww..." auman singa dan berlari menuju Briel.
"Singa...." semua orang yang ada di sana pun semakin panik, karena singa itu beneran terlepas.
"Lari ..."
"Singa tungguin Bliel." teriak Briel mengejar singa.
"Becca cepat kamu amankan singa itu." perintah abah Ramli yang melihat kerusuhan yang terjadi.
"Baik Abah."
"Cantik sini." pangil Rebecca pada singa yang berlari itu.
Singa itu pun berlari semakin kencang dan mengaum sehingga membuat keadaan semakin mencekam.
"Lari ada singa lari." teriakkan itu lah yang terdengar di telinga Rebecca.
"Aarrww." auman singa itu setelah sampai di hadapan Rebecca.
Singa itu menempel manja ke Rebecca dan Rebecca pun segera mengambil tali rantai yang ada di tanah.
"Singa....kok Blielnya di tinggal sih." cemberut Briel.
"Aarrww." seolah mengerti Briel sedang mengajaknya bicara singa itu mengaum.
"Briel..." pangil Rebecca lembut.
"Iya Tante." jawab Briel mendekatkan tubuhnya ke Rebecca.
"Kenapa Briel lepasin singanya hmm? Itu teman temannya pada ketakutan loh." ujar Rebecca lembut.
"Bliel kasian sama singanya, masak di kulung telus kan bosen." jawab Briel.
"Ya tapikan gak harus di lepas juga sayang, Briel emangnya gak takut apa? Gimana nanti kalau singanya makan Briel?"
"Maaf, Bliel tadi bosen main sendilian jadi Bliel jalan jalan dan nemuin ada singa di sana jadi ya Bliel lepasin, bial jadi temen Bliel."
"Enggak Bliel gak takut sama singa, kan singanya baik jadi gak bakal makan Bliel." jawab Briel.
"Hufft...ya udah lain kali kamu kalau mau main sama singa gak boleh sendirian harus ada yang nemenin." ucap Rebecca mengingatkan Briel.
"Siap Tante, oh iya singa Bliel kan sampai di lumah sekarang. Tante ayo pulang Tante, Bliel mau lihat singa Bliel di lumah." rengek Briel.
"Hah, singa?"
"Iya Tante Bliel habis di beliin papi singa, dan singanya sekalang balu sampai di lumah Bliel jadi Bliel mau lihat." jelas Briel.
"Ya udah ayo kita pulang, tapi kita antar singanya balik ke kandang dulu ya."
"Iya Tante, ayo." Briel menarik tangan Rebecca.
__ADS_1
Rebecca pun nurut saja, tangan satunya di tarik Briel sedangkan yang satunya lagi memegangi rantai tali singa agar tidak terlepas lagi.
Sementara kegaduhan pun sudah di atasi oleh beberapa pelatih yang ada di sana, mereka menenangkan anak anak yang panik ketakutan melihat singa tadi hingga membuat anak anak itu kembali tenang.
"Singa Bliel pulang dulu ya, nanti Bliel ke sini lagi bawa makanan yang banyak buat singa." ucap lucu Briel.
"Aarrww..." balas si singa.
"Wah singanya nurut banget sama Briel." ujar Rebecca.
"Iya dong, kan Bliel sayang singa." memeluk singa itu dengan gemas.
"Cantik aku pamit pulang dulu ya, maaf cuma sebentar doang lihat kamu nya. Nanti kalau ada waktu lagi aku pasti bakal kesini lagi jengukin kamu." ucap Rebecca pada si singa.
"Cantik?" bingung Briel.
"Iya cantik, namanya singanya ini cantik." jawab Rebecca.
"Wah nama yang cantik seperti singanya."
Eemmuah.
Briel mencium singa itu.
"Udah yuk kita pulang, nanti papi kamu nyariin." ajak Rebecca.
"Hayuuk." mereka pun pergi setelah mengunci pintu kandang singa dengan benar.
Rebecca senang bisa bertemu kembali dengan si cantik singa, meskipun hanya sebentar tapi itu sudah bisa mengobati rasa rindu Rebecca pada singa itu.
-
Rebecca membawa Briel dalam gendongannya memasuki gedung perusahaan. Banyak pasang mata yang menatapnya karena dia tengah membawa anak bos dari perusahaan ini, tapi Rebecca tak menghiraukan tatapan tatapan itu.
Tok tok tok.
"Permisi tuan." ucap Rebecca setelah mengetuk pintu ruangan Stefan.
"Masuk." jawaban dari dalam.
Dengan agak kesusahan Rebecca membuka pintu ruangan Stefan.
"Astaga Briel kenapa?" panik Stefan yang melihat anaknya berada dalam gendongan Rebecca dengan keadaan mata terpejam.
"Suutttt... Jangan keras keras tuan nanti Brielnya bangun." ucap Rebecca agar Stefan tidak banyak bicara.
"Sini biar saya yang bawa." mengambil Briel dari gendongan Rebecca.
"Kamu bereskan meja kerja saya dan nanti suruh Julian buat antar berkas berkas itu ke rumah saya. Saya mau pulang duluan."
"Baik tuan."
Setelah mengatakan itu Stefan pergi meninggalkan Rebecca di ruangannya.
"Hufft..." hela nafas Rebecca.
Rebecca pun segera merapikan meja kerja Stefan dan membawa berkas berkas itu ke pada Julian.
__ADS_1
Tok tok tok.
"Masuk."
Ceklek.
Rebecca membuka pintu ruang kerja Julian dan menyembulkan kepalanya.
"Ada apa Becca?" tanya Julian dengan pandangan yang tak lepas dari laptop di hadapannya.
Rebecca masuk ke dalam dan berhenti di depan meja kerja Julian.
"Ini tadi tuan Stefan pulang duluan karena Briel ketiduran. Dia menyuruh asisten Julian untuk mengantarkan berkas berkas ini ke rumahnya." ucap Rebecca meletakkan berkas yang dia bawa tadi di meja.
Julian menghentikan jarinya yang menari di keyboard laptop dan menatap Rebecca.
"Kamu setelah ini gak ngapa-ngapain kan?" tanya Julian.
Rebecca berfikir sebentar dan setelah itu menganggukkan kepalanya.
"Ya udah kalau gitu kamu saja yang antar berkas itu, saya masih banyak kerjaan yang harus di urus, nanti alamatnya aku kirim ke kamu." perintah Julian yang membuat mata Rebecca melotot.
"Kok saya."
"Ya terus, kamu mau kerjakan semua pekerjaan saya ini hmm?"
Rebecca membalas dengan gelengan kepala.
"Ya makanya kamu yang antar berkas itu ke rumah tuan Stef."
"Kamu tenang aja, nanti soal ongkos kendaraannya saya kasih." lanjut Julian.
"Tapi..."
"Mau apa enggak, ooh atau kamu sudah gak mau kerja di sini lagi?"
"Tidak tidak, baiklah saya yang akan mengantarkan berkas itu." final Rebecca.
"Ya udah sana kamu, saya masih banyak kerjaan." usir Julian dengan hati yang tertawa karena kebodohan Rebecca, mana mungkin sih Julian bisa memecat seseorang tanpa perintah dari Stefan.
Bukannya pergi, Rebecca malah menjulurkan tangannya ke arah Julian.
"Apa?"
"Uangnya mana, katanya tadi ongkos nya mau di kasih." ucap Rebecca.
"Oh iya lupa." Julian mengambil beberapa lembar uang dan menyerahkannya kepada Rebecca.
"Cukup kan?" tanya Julian.
"Lebih dari cukup, makasih asisten Julian yang baik hati."
"Udah sana sana kamu pergi." usir Julian.
Rebecca pun segera pergi dari sana dengan hati yang senang, bagaimana tidak Julian memberinya uang yang sangat banyak, bahkan uang ini bisa di gunakan untuk ongkos satu bulan Rebecca pulang pergi ke kantor.
"Lumayan buat nambah uang jajan." gumam Rebecca senang.
__ADS_1
Sementara di dalam ruangannya, Julian tengah tersenyum senyum sendiri melihat kelakuan Rebecca yang menurutnya sangat kurang ajar terhadapnya.
...***...