CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#43


__ADS_3

Plak.


Satu tamparan mendarat mulus di pipi Stefan, jangan di tanya lagi siapa pelakunya, siapa lagi kalau bukan Rebecca.


Ya, Rebecca tidak terima karena Stefan sudah merendahkan dirinya.


"Kau...."


"Saya tahu saya memang murahan di mata anda karena pakaian saya yang mini dan mungkin pernah membuat anda tergoda, tapi saya tidak seperti apa yang anda tuduhkan tuan, saya masih punya harga diri, saya tidak sekotor itu." potong Rebecca berani menatap tajam Stefan.


"Cih, ucapan mu sangat indah sekali, tapi tidak dengan kelakuanmu."


"Kau barusan sudah berani menampar diriku, jangan harap kau akan hidup tenang setelah ini." lanjut Stefan menatap Rebecca tajam tak lupa dengan senyuman mengerikan yang sangat mengerikan.


Rebecca seketika menundukkan kepalanya, dia menyesal karena sudah melakukan hal yang tadi menyakiti suami. Dia sangat ceroboh tadi, tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti kepada dirinya ketika menampar Stefan.


"Ma-maaf." hanya kata itu yang bisa Rebecca katakan untuk menyelamatkan hidupnya.

__ADS_1


"Sudah terlambat nona, silahkan pergi dari sini dan jangan pernah kembali ke perusahaan ini lagi." usir Stefan sekaligus memecat Rebecca.


"Apakah kamu memecat aku mas?" Rebecca mendongakkan kepalanya menatap mata Stefan.


"Ya, apakah kau tidak mendengarnya?" balas Stefan.


"Saya mohon tuan jangan pecat saya, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini." mohon Rebecca.


Padahal dia sudah berniat ingin memberikan sebagian besar gajinya untuk panti asuhan, tapi gara gara kecerobohannya membuat dia harus kehilangan pekerjaannya sendiri.


"Tuan sa...."


"Pergi dari sini Rebecca Caroline." usir Stefan sekali lagi dengan menekankan nama panjang Rebecca.


"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan anda, terimakasih sudah memberikan pekerjaan yang baik untuk saya di sini." ucap Rebecca yang akhirnya memilih untuk meninggalkan tempat itu.


Stefan menatap kepergian Rebecca, entah kenapa dalam hatinya ada rasa tidak rela saat melihat kepergian Rebecca, tapi egonya terlalu tinggi untuk menahan Rebecca pergi.

__ADS_1


Rebecca pergi dari perusahaan dengan membawa barang barang miliknya, banyak dari para karyawan yang menanyakan kepergian Rebecca, ada dari mereka yang membuat rumor yang tidak tidak tentang Rebecca, seperti Rebecca sengaja menggoda pak CEO dan berakhir CEO murka dan memecatnya dan ada juga yang lainnya lagi.


"Hufft... kenapa jadi seperti ini, di hari kedua pernikahan yang seharusnya masih di selimuti dengan kebahagiaan kenapa malah jadi hari yang sangat menyedihkan buat aku." ucap Rebecca sambil berjalan di pinggir jalan.


"Pekerjaan yang selama ini aku impikan harus hilang karena kecerobohan ku," Rebecca menyesali perbuatannya tadi yang menampar Stefan.


Kalau tahu akhirnya akan seperti ini, mungkin Rebecca akan menahannya dan memendamnya saja dalam hati. Tidak apa-apa hatinya terluka asalkan pekerjaannya tetap aman dan dia masih bisa memberikan uang untuk ibu panti.


"Mungkin kembali lagi ke kontrakan bukan pilihan yang jelek, nanti aku di sana bisa meminta Pricillia untuk membantuku mencari pekerjaan baru."


Rebecca pun memutuskan untuk pergi kembali lagi ke kontrakannya, dia malu kalau harus kembali ke rumah Stefan setelah dia di pecat.


Mungkin kalau nanti dia kembali lagi ke rumah itu Stefan juga akan mengusirnya dari sana, dan hal itu akan membuat hatinya semakin sakit.


Rebecca melupakan satu hal, ada seseorang yang tengah menunggu dirinya, yang selalu bergantung padanya. Ya, siapa lagi kalau bukan Briel, meskipun baru satu hari menjadi ibunya, Briel sudah sangat bergantung dan menyayangi Rebecca seperti ibu kandungnya sendiri.


...***...

__ADS_1


__ADS_2