
"****..." decak Stefan saat menatap Rebecca dari atas.
Kepala Rebecca tepat berada di hadapannya itunya, jadi kalau ada orang lain yang melihat pasti orang itu akan salah faham dengan mereka.
Rebecca mendongakkan kepalanya untuk melihat keadaan Stefan kebangun atau tidak, tapi seketika mata Rebecca melotot saat melihat Stefan yang tengah menatapnya dengan tajam.
Karena terkaget dan refleks ingin segera menjauh tubuhnya membuat Rebecca tidak hati hati saat bangun, alhasil dirinya terjatuh dan kepala Rebecca tepat berada di pangkuan Stefan.
"Auw." keluh Rebecca.
"****. Adik gw." batin Stefan tersiksa.
"Maaf tuan, maaf." Rebecca berusaha bangun dari sana, karena kesusahan bangun Rebecca tanpa sadar mengerakkan kepalanya dan hal itu semakin membuat Stefan kalang kabut.
Tak mau mengambil resiko, Stefan pun membantu Rebecca agar bangun dari pangkuannya.
"Maaf tuan, tadi saya cuma mau mengambil ponsel saya yang terjatuh di bawah tuan." ucap Rebecca meminta maaf.
"Hmm." jawab Stefan.
Stefan tak mau banyak bicara sekarang, dia menatap ke arah bawah perutnya dan melihat ada tonjolan di sana. Stefan mengambil laptop dan menaruhnya di pangkuannya agar Rebecca tidak melihat itunya yang terbangun.
"Tuan tidak apa apa?" tanya Rebecca, pasalnya wajah Stefan agak pucat.
"Saya tidak apa apa, lain kali kalau ada apa-apa kamu bilang sama saya. Biar tidak kayak tadi."
"Kayak tadi, maksud nya gimana tuan, kan saya sudah meminta maaf."
"Hufft... udahlah percuma bicara sama kamu, kamu gak bakalan ngerti. Yang ada saya makin pusing."
"Tuan sakit." refleks tangan Rebecca menyentuh dahi Stefan guna mengecek suhu tubuh Stefan panas atau tidak.
"****...tahan Stefan tahan." batin Stefan.
Gara gara kulit Rebecca yang menempel dengan kulitnya, membuat darah Stefan makin berdesir. Kalau saja Stefan itu orang yang suka bermain dengan wanita pasti Rebecca sudah di santap habis habisan oleh Stefan. Sayangnya Stefan bukan laki laki yang seperti itu, Stefan laki laki yang normal, tapi dia tidak gampang tergoda ataupun suka melampiaskan nafsunya dengan wanita bayaran. Prinsip Stefan nikah dulu baru kawin. Tapi entahlah kalau terus berdekatan seperti ini dengan Rebecca apakah Stefan akan tahan, sepertinya sih enggak.
__ADS_1
"Mau apa kamu?" tanya Stefan sambil menjauhkan tangan Rebecca dari dahinya.
"Maaf tuan, saya hanya mengecek suhu tubuh anda, tapi sepertinya anda baik baik saja." jawab Rebecca.
"Ingat ya, jangan sembarangan menyentuh saya atau kamu akan tahu akibatnya." ancam Stefan.
"I-iya tuan." takut Rebecca.
Stefan lupa dengan itunya yang menonjol tadi, dia memindahkan laptop yang ada di pangkuannya ketempat semula karena dia merasa terganggu dengan laptop itu.
Perjalanan masih panjang karena cafe yang akan mereka datangi tempat sangat jauh dari kantor. Rebecca bingung harus melakukan apa untuk menyibukkan dirinya, main HP? oh itu tidak boleh sama tuan besar, nanti yang ada Rebecca kena semprot lagi.
Rebecca ada ide, dia akan menyibukkan dirinya dengan memeriksa berkas berkas saja. Rebecca menoleh ke samping di mana terdapat laptop dan juga beberapa berkas di sana. Rebecca akan mengambil salah satu berkas yang paling atas, tapi saat akan mengambilnya tak sengaja pandangan Rebecca tertuju pada paha Stefan bagian atas. Rebecca mengeryit heran, apa itu yang menonjol di sana. pikir Rebecca.
Karena celana yang di pakai Stefan lumayan ketat, jadi itunya tercetak jelas.
Stefan merasa ada yang memperhatikan, dia menoleh ke Rebecca dan mendapati Rebecca tengah menatap ke bawah di mana dia duduk. Stefan mengikuti arah pandangan Rebecca dan seketika dia memelototkan matanya saat menatap itunya yang ternyata di tatap oleh Rebecca.
"Ehh, kamu lihatin apa?" ucap Stefan sambil menutup paha bagian atasnya dengan laptop lagi.
"Maaf tuan, tadi saya gak sengaja melihat itunya tuan. Kebangun ya..." ucap Rebecca yang membuat Stefan makin melotot tajam ke arah Rebecca.
"Kamu..." tekan Stefan.
"Kenapa tuan?" tanya Rebecca.
"Ahh sudah lah, sana kamu periksa berkas berkas itu lagi." Stefan sudah kebingungan harus menangapi sekertaris nya ini seperti apa.
Selanjutnya mereka hanya diam, sedangkan pak sopir sedari tadi hanya menyimak saja tak mau berkomentar, takut di kek sama Stefan.
-
Mereka sampai di cafetaria, mereka pun segera masuk karena sudah di tunggu oleh klaien di sana.
"Maaf saya telat." ucap Stefan dan menarik tempat duduk yang kosong.
__ADS_1
"Oh iya tuan tidak apa apa, saya kebetulan juga baru'sampai." jawab si klaien.
Klaien itu menatap Rebecca yang duduk di sebelah Stefan, Stefan yang mengerti itu pun segera menjelaskan siapa Rebecca.
"Oh iya saya lupa, perkenalkan dia sekertaris baru saya." ucap Stefan memperkenalkan Rebecca.
"Rebecca." ucap Rebecca sambil mengulurkan tangannya.
"Bagas." sambut klaien itu yang ternyata bernama Bagas.
"Mari kita bicarakan kerjasama ini biar tidak buang buang waktu." ajak Stefan.
Mereka pun membahas kerjasama yang akan mereka lakukan. Setelah menandatangani kontrak, Stefan dan Rebecca pun kembali ke perusahaan.
"Pak bisa agak cepat gak, Briel nanti marah marah kalau dia sampai di kantor tapi saya gak ada di sana." ucap Stefan pada pak sopir setelah dia melihat jam tangannya yang hampir pukul sepuluh.
"Baik tuan." jawab pak sopir dan menambah kecepatan mobilnya.
"Briel, siapa itu? Apakah dia wanitanya tuan Stef." batin Rebecca bertanya tanya.
Mereka pun sampai di perusahaan tepat pukul sepuluh tidak kurang dan tidak lebih. Stefan segera keluar dari mobilnya dan di ikuti Rebecca di belakangnya. Saat sampai di lobi ada suara yang memanggil Stefan dengan sebutan papi, siapa lagi kalau bukan Briel.
"Papi.." pangil Briel.
Stefan pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap putrinya yang berada dalam gendongan baby sitter memasuki perusahaannya.
"Sayang." sambut Stefan mengambil alih Briel ke gendongannya.
"Kamu baru pulang hmm?" tanya Stefan sambil mengelus rambut anaknya.
"Iya papi Bliel balu pulang, tadi di sekolah Bliel gambar sesuatu buat papi." ucap Briel dengan antusias.
"Wah beneran, kita ke ruangan papi dulu ya, nanti papi lihat gambaran Briel." ajak Stefan yang di angguki Briel.
Sedangkan Rebecca sedari tadi hanya memperhatikan interaksi antara ayah dan anak di hadapannya itu. Rebecca tidak tahu kalau Stefan sudah mempunyai anak, yang dia tahu hanya dia bisa berkerja di perusahaan besar, udah itu aja.
__ADS_1
Melihat Stefan yang akan beranjak naik ke lantai atas, Rebecca pun dengan setia mengikutinya.
...***...