CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#91


__ADS_3

"Aaa...." teriak Rebecca kaget karena Stefan malah menarik tangannya dan mendekapnya dengan erat.


"Ssttt... temani aku tidur sebentar, aku masih ngantuk," ucap Stefan dengan nada serak khas bangun tidur.


"Apaan sih, lepasin aku," berontak Rebecca agar bisa terlepas dari Stefan.


"Mama suruh kamu bangun, mereka sudah menunggu kamu buat sarapan," lanjut Rebecca memberitahu kalau dia di perintah mama Brigitta.


"Biarin mereka makan duluan, aku masih ngantuk pengen peluk kamu," balas Stefan tanpa membuka matanya.


"Tuan kenapa sih aneh banget dari kemarin?" heran Rebecca.


Cup.


Stefan mencuri ciuman di bibir Rebecca.


"Saya suami kamu bukan majikan kamu, jadi jangan panggil saya tuan," tegas Stefan.


"Lah, anda sehat kan?" tanya Rebecca dengan posisi yang masih dalam dekapan Stefan.


"Tatap mata aku," pinta Stefan agar Rebecca menatap matanya.

__ADS_1


Rebecca pun melakukan apa yang Stefan perintahkan untuk menatap matanya.


"Dengerin aku, aku menyesal, aku minta maaf atas apa yang selama ini aku perbuat sama kamu, mulai dari perlakuan ku, perkataan ku yang sering hina kamu, aku menyesal, sangat sangat menyesal," ucap Stefan dengan tulus sambil menatap mata Rebecca.


"Aku minta maaf, aku tahu kesalahan ku sangatlah fatal karena sudah sering melukai hati kamu, bahkan aku sering menghina kamu, aku minta maaf, aku menyesal," lanjut Stefan.


"Maukah kamu memaafkan ku, maukah kamu menerima ku menjadi suamimu dan hidup bersama ku hingga nanti?" Stefan menatap mata Rebecca dalam, menyiratkan kalau dia beneran dengan apa yang dia katakan tidak berbohong.


Rebecca terdiam, dia bingung harus bereaksi seperti apa, tapi beda dengan jantungnya yang berdetak lebih cepat dan hatinya yang bergetar mendengar semua perkataan Stefan, di tambah lagi dengan mata Stefan yang Rebecca liat tidak ada kebohongan di sana.


"Kamu maukan memaafkan aku?" tanya Stefan lagi.


"A-aku...." gagap Rebecca.


"Le-lepas," pinta Rebecca dan Stefan langsung melepaskannya.


Rebecca pun langsung berdiri dan Stefan langsung bangun duduk menghadap Rebecca.


"Maaf, untuk kali ini aku belum bisa memaafkan kamu entah itu sampai kapan, tapi memang semuanya masih teringat jelas di otakku, semua perlakuan kamu kemarin kemarin kepada ku," balas Rebecca yang memang tidak bisa semudah itu memaafkan Stefan.


Dia bukan tuhan, dia hanya manusia biasa yang mempunyai dendam, tidak semudah itu Rebecca memaafkan Stefan begitu saja, dia juga ingin melihat seberapa usaha Stefan untuk mencuri maaf darinya.

__ADS_1


"Aku tahu, aku tak masalah kalau kamu belum bisa memaafkan semua kesalahanku, karena memang sangat fatal, tapi aku boleh minta satu hal sama kamu, jangan menghindari ku," balas Stefan.


"Akan aku usahakan," balas Rebecca.


"Emmm...." dehem Stefan.


"Dan untuk malam itu... aku minta maaf, tapi aku tidak menyesal melakukan itu," lanjut Stefan meminta maaf karena sudah mengambil keperawanan Rebecca secara paksa.


"Tidak masalah itu memang hak kamu, tapi aku tidak suka cara kamu yang sangat kasar, seandainya kamu minta baik baik mungkin akan aku kasih dan aku juga tidak akan sebenci itu sama kamu," balas Rebecca yang memang tidak mempermasalahkan kejadian malam itu kalau Stefan sudah mengakui dan meminta maaf kepadanya.


"Terimakasih," balas Stefan.


"Hmm, ayo cepat bersihkan diri kamu, semua orang sudah menunggu di bawah," suruh Rebecca agar Stefan segera membersihkan tubuhnya.


"Mandiin," pinta Stefan.


"Jangan ngaco deh, udah sana aku mau keluar dulu," salting Rebecca dan segera berjalan dengan cepat keluar dari kamar.


"Gemes banget sih," gumam Stefan menatap kepergian Rebecca yang menurutnya sangat lucu ketika berjalan.


Stefan pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum nanti dia turun untuk makan sarapan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2