CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#73


__ADS_3

Hari pun berlalu begitu cepat, sudah hampir satu bulan usia pernikahan Stefan dan Rebecca, dan selama itu pula setelah kejadian waktu itu Rebecca sudah tak terlalu peduli lagi dengan Stefan.


Hal itu membuat hati Stefan merasa ada yang kurang, dia ingin bicara dengan Rebecca tapi rasa gengsi yang ada di hatinya terlalu besar.


Bahkan sekarang Stefan sudah tidak pernah lagi marah marah kepada Rebecca, entahlah apa yang terjadi dengan dirinya sehingga dia tidak marah marah lagi kepada Rebecca.


"Mommy, mommy nanti bisa jemput Bliel di sekolah kan?" tanya Briel pada Rebecca saat mereka tengah melakukan sarapan pagi bersama di meja makan.


"Maafkan mommy ya sayang, mommy gak bisa jemput Bliel dari sekolah karena mommy harus bekerja," balas Rebecca meminta maaf karena tidak bisa menjemput Briel dari sekolah.


"Yahh... padahal Bliel kangen di jemput sama mommy, mommy udah lama gak bisa jemput Bliel sekolah," cemberut Briel.


Rebecca yang melihat itupun merasa bersalah, tapi mau bagiamana lagi pekerjaan itu juga penting buat dirinya, Rebecca membutuhkan uang untuk biaya hidupnya dan juga anak anak panti.


Ya, selama ini Stefan tidak pernah lagi memberikan uang kepada Rebecca, tabungan Rebecca pun sudah terkuras banyak untuk mencukupi kebutuhannya selama ini meskipun dia sekarang tidak repot membayar uang kontrakan.

__ADS_1


"Luangkan waktumu untuk Briel, berapa sih gaji kerja mu, nanti saya bayar," ucap Stefan yang tidak tega melihat anaknya haus kasih sayang.


"Maaf mas, nanti akan saya usahakan izin kepada bos saya untuk menjemput Briel dari sekolah," balas Rebecca.


"Hmm," balas Stefan.


"Benelan mom?" tanya Briel memastikan.


"Briel doain mommy ya biar dapet izin buat jemput Briel di sekolah," balas Rebecca.


"Pasti mommy, Bliel akan beldoa biar mommy bisa jemput Bliel sekolah," balas Briel.


Briel sangat bersemangat makan sarapan pagi ini karena nanti saat pulang sekolah akan di jemput oleh mommy nya.


Mereka sarapan dengan tenang, dan mata Stefan yang sesekali mencuri pandang ke arah Rebecca tanpa sepengetahuan Rebecca tentunya.

__ADS_1


Selesai sarapan mereka langsung berangkat sesuai dengan tujuan mereka masing masing, Rebecca yang pergi mengantarkan Briel sekolah di lanjut bekerja di cafe, sedangkan Stefan yang berangkat ke perusahaan karena pagi ini dia ada meeting pagi bersama dengan kliennya.


...**...


"Selamat siang pak, mohon maaf apakah saya boleh meminta izin sebentar untuk menjemput anak saya pulang dari sekolah," ucap Rebecca meminta izin pada Gilang manajer cafe saat sudah waktunya Briel pulang sekolah.


"Loh kamu sudah punya anak?" tanya Gilang kaget.


"Su-dah pak, maaf saya tidak memberitahu anda karena saya takut saya tidak bisa di terima bekerja di sini kalau anda tahu saya sudah berumah tangga," jawab Rebecca jujur.


"Astaga kenapa kamu tidak jujur sih, saya tidak masalah kok kalau kamu sudah berumah tangga, lagian bukan cuma anak muda saja yang butuh pekerjaan, tapi orang tua juga malah semakin butuh untuk membantu keuangan keluarga," balas Gilang.


Meskipun sebenarnya hatinya sakit mendengar Rebecca sudah punya orang, tapi dia juga tidak bisa apa apa, mungkin memang Rebecca bukan takdirnya.


"Nasib dah, suka sama bini orang ternyata," batin Gilang menatap Rebecca yang keluar dari ruangannya karena sudah mendapatkan izin dari dia untuk menjemput anaknya yang tengah pergi sekolah.

__ADS_1


...***...


...Maaf ya kalau cerita bikin bosen, aku bakal peringkat saja ya, karena mungkin menurut kalian ceritanya terlalu bertele-tele....


__ADS_2