CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#63


__ADS_3

"Papi jahat, Bliel benci sama papi." Briel terus marah marah pada papinya.


"Sayang, maafkan papi ya, ayo kita kembali ke rumah nanti papi suruh mommy balik ke rumah juga," ajak Stefan berusaha merayu anaknya.


"Gak mau, Bliel mau di sini aja sama mommy," tolak Briel.


"Mommy sekarang sedang pergi, ayo kita kembali ke rumah dulu ya, nanti kalau mommy sudah pulang Briel ke sini lagi," rayu Stefan lagi.


"Papi bohong, Bliel gak percaya sama papi," balas Briel.


"Hufft...." Stefan menghela nafasnya.


"Ini semua gara gara wanita itu, apa iya aku sudah keterlaluan sama dia, tapi dia memang pantas di perlakukan seperti itu," batin Stefan.


"Sayang, dengerin papi ya, kita masuk dulu ke rumah ya, nanti kalau mommy sudah pulang kita ke sini lagi cari mommy," ucap Stefan dengan lembut berusaha menarik hati Briel agar mau ikut bersama nya masuk ke dalam mansion.


Briel diam, dia mencerna kata kata Stefan.


"Papi tidak bohong?" tanya Briel.


"Tidak sayang, papi tidak bohong sama kamu," balas Stefan meyakinkan anaknya.


"Kita masuk ya," lanjut Stefan.


Briel pun mengangguk, dan Stefan pun langsung menggendong Briel keluar dari kamar Rebecca.

__ADS_1


...**...


Pricilla pergi menuju tempat kerja, tapi saat dalam perjalanan terjadi sesuatu hal yang tidak dia inginkan.


Brak.


"Aduh mampus gue," ucap Pricilla menggerutuki kebohongannya.


"Gimana ini," lanjutnya melihat sang pemilik mobil yang dia tabrak keluar dari dalam mobil.


"Si*l," umpat sang pemilik mobil yang masih dapat di dengar Pricilla.


Mendengar itu jantung Pricilla semakin dag dig dug di buatnya, dia semakin takut untuk menghadapi sang pemilik mobil yang dia tabrak.


"Woy, bisa bawa motor gak sih," ucap sang pemilik mobil pada Pricilla.


"Ma-maaf saya gak sengaja tuan," balas Pricilla takut.


"Cih gak sengaja lu bilang, liat tuh mobil gue lecet, gue gak mau tahu pokoknya lu harus ganti rugi kerusakan mobil gue," balas orang itu menuntut ganti rugi.


"E-emang berapa ganti ruginya tuan?" tanya Pricilla gagap.


Jelas dia takut, takut kalau nominal yang di sebutkan orang itu di luar nalar.


"50 juta," jawab orang itu singkat.

__ADS_1


"A-apa li-lima puluh jut-ta?" kaget Pricilla.


"Kanapa, lu gak bisa ganti kan?"


"makanya kalau gak bisa ganti tuh kalau bawa motor hati hati, kalau sudah kayak gini siapa yang mau tanggung jawab.


"Sekali lagi saya minta maaf tuan,"ulang Pricilla meminta maaf.


"Kata maaf yang lu ucapkan tuh gak guna, mana sini cepat ganti rugi," pinta orang itu.


"Saya gak ada uang sebanyak itu tuan," balas Pricilla.


...**...


Sementara itu dengan perasaan yang tidak enak berjalan memasuki cafe tempat dia akan bekerja sekarang.


badan dia memang hendak bekerja, tapi yang ada di pikiran nya adalah bagiamana keadaan Briel setelah dia tinggal pergi.


Bagiamana pun juga dia sangat menyayangi Briel seperti anak kandungnya sendiri, bahkan dia lebih sayang kepada Briel dari pada dirinya sendiri.


"Semoga mas Stefan bisa menenangkan Briel, dan Briel bisa pergi ke sekolah," batin Rebecca.


Rebecca memasuki cafe dan dia langsung menuju tempat dia bekerja.


...***...

__ADS_1


__ADS_2