
"Ngapain kamu di sini?"
Deg.
"Tu-tuan." gagap Rebecca menatap Stefan yang berdiri di depan pintu walk in closed.
"Siapa yang menyuruh kamu masuk ke sini?" tanya Stefan lagi dengan tatapan tajam.
Glek.
Rebecca menelan ludahnya kasar, karena dua hal dia menelan ludahnya, satu karena dia bisa melihat roti sobek yang ada di perut Stefan, dan satunya lagi karena tatapan tajam mematikan dari Stefan.
"JAWAB SAYA." bentak Stefan.
"I-itu tuan tadi tuan sendiri yang menyuruh saya masuk." jawab Rebecca gagap.
"Saya yang menyuruh kamu, jangan mengada ada ya kamu kalau ngomong." balas Stefan dengan tatapan tajam yang tak pernah teralihkan dari Rebecca.
"Papa." ucap Briel yang baru saja masuk ke dalam kamar Stefan.
"Papa bicara sama siapa?" tanya Briel yang baru bangun tidur menghampiri Stefan yang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Tante." girang Briel saat mendapati ada Rebecca di sana.
Briel langsung menerobos masuk kedalam walk in closed menghampiri Rebecca yang berdiri mematung di sana.
"Tante, tante cantik pasti ke sini samperin Bliel ya, ayo Tante ikut Bliel kita lihat singa Bliel yang udah datang." ajak Briel antusias kepada Rebecca.
"Ehh...." Rebecca yang tangannya main di tarik pun tersadar dari lamunannya.
Dia dan Briel main lewat gitu saja di samping Stefan, saat berada di samping Stefan Rebecca memberikan berkas yang dia bawa kepada Stefan dan setelah itu dia melangkahkan mengikuti Briel.
Kehadiran Briel di sana membuat Rebecca bernafas lega, karena dia bisa membantu Rebecca keluar dari kandang singa.
"Briel jangan tarik tarik tangan Tante gitu, kita jalan pelan pelan aja ya, nanti takut jatuh." ucap Rebecca agar Briel jalannya pelan pelan.
Mereka berdua pun berjalan dengan santai menuju bagian belakang rumah Stefan yang sangat besar bak istana kerajaan.
Sedangkan itu di dalam kamar Stefan, dia mendesah kesal saat melihat berkas yang ada di tangannya.
"Ternyata tadi dia yang ketuk pintu, sialan si Julian, awas aja nanti." Stefan mengumpati asistennya karena tidak memberitahu dirinya terlebih dahulu kalau dia menyuruh Rebecca yang datang ke rumahnya.
Melihat penampilannya sekarang, Stefan jadi merasa malu karena Rebecca tadi melihat dirinya hanya memakai handuk yang melingkar di pinggangnya saja.
__ADS_1
"AGGRR... kok saya gak sadar sih tadi." kesal Stefan pada dirinya sendiri sambil mengacak-acak rambutnya yang basah.
Dengan cepat Stefan pun memakai pakaiannya dan setelah itu dia akan menyusul kemana anaknya pergi bersama Rebecca.
Stefan takut kalau nanti Briel akan kenapa kenapa karena bermain dengan singa tanpa dia awasi.
"Bi, dimana Briel?" tanya Stefan kepada pembantunya yang berpapasan dengan dirinya waktu menuruni anak tangga.
"Ada di belakang tuan, lihat singa yang baru datang tadi pagi." jawab pembantu Stefan.
Tanpa mengatakan apapun, Stefan pun langsung pergi menuju halaman belakang rumahnya, dimana kemaren dia menyuruh anak buahnya untuk membuatkan kandang singa di sana.
Saat sampai di sana, matanya melotot karena dia melihat Briel yang asik tertawa bersama dengan Rebecca yang tengah bermain dengan anak singa yang ada di pangkuan Rebecca.
Stefan mengucek kedua matanya karena takut salah lihat dengan apa yang dia lihat, benar ini asli, pikir Stefan.
"Itu singa yang ada di markas kan, apa hanya singa mainan?" tanya Stefan pada dirinya sendiri.
Meskipun itu hanya anak singa, tapi tetap aja bahaya kalau bermain seperti itu apalagi tanpa pengawasan dari orang yang ahli.
Stefan pun berjalan mendekati mereka untuk memastikannya lagi.
__ADS_1
...***...