
Rudi masih mencoba menekan nomor Tian, namun hasilnya nihil. Rudi bukannya tidak tau kalau saat ini pesawat yang ditumpangi Tian bahkan mungkin juga belum sampai ditujuan, namun anehnya dia terus melakukan hal bodoh yang sama tersebut terus-menerus.
Saat ia menatap pintu yang menghubungkan ruangan Ceo dan kamar pribadi yang ada di belakang, Meta sudah terlihat keluar dari sana sambil mengatupkan kembali daun pintu dengan perlahan.
“Bagaimana keadaan bu Arini?”
“Tidur, pak.” Jawab Meta singkat.
“Sudah makan?”
Meta menggeleng. Sambil mengacungkan kotak makanan yang ada ditangannya yang bahkan terlihat seperti tidak berkurang. “Makannya sedikit sekali.. mungkin hanya dua sendok..” ujarnya lagi sambil menaruh kotak makanan itu keatas meja.
Rudi membuang nafas berat. Bingung harus melakukan apa, karena saat ia ingin menghubungi dokter Hans, bu Arini malah melarangnya dengan dalih ia tidak apa-apa, sedangkan ponsel pak Tian belum bisa dihubungi sampai sekarang.
“Maaf pak Rudi.. tapi apa tidak sebaiknya menghubungi Pak Tian?” suara Meta yang masih betah berdiri dihadapannya sontak membuatnya berpaling.
“Sudah, tapi belum bisa dihubungi..”
“Bagaimana sih Pak Tian?! Sudah tau istrinya sakit malah tidak bisa di..”
Kalimat Meta mengambang, saat tersadar bahwa ia telah dipelototi sedemikian rupa oleh Pak Rudi, yang tak lain adalah asisten Pak Tian itu.
“Ehhem.. m-maaf, Pak.. saya tidak bermaksud mengomeli apak Tian, saya hanya terbawa perasaan karena terlalu mengkhawatirkan kondisi Ibu Arini..” kilahnya sambil meringis sejenak sebelum cepat-cepat menunduk mengutuk keteledoran mulutnya yang sering lepas kontrol.
“Kamu tidak usah bekerja dulu, kembalilah kedalam dan tolong jaga Ibu Arini..”
“Baik, Pak..”
Meta menunduk takjim, kemudian kembali melangkahkan kakinya kedalam mendengar perintah Rudi, kembali menyisakan Rudi yang masih bingung entah harus berbuat apa.
Sesaat kemudian Rudi memutuskan untuk menekan kembali sebuah kontak, ia memilih untuk menghubungi lagi dokter Hans.
Rudi tidak lagi mempedulikan rasa keberatan Ibu Arini tadi, karena saat ini ia hanya merasa harus mengambil keputusan yang cepat dan tepat.
Apapun alasannya, saat ini kesehatan Ibu Arini adalah hal terpenting yang tidak bisa ia tolerir.
XXXXX
Tak hanya memiliki tekhnologi pengobatan kanker terkini, St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou juga menyediakan berbagai fasilitas pelayanan yang teramat sangat memadai. Terlebih dari segi penanganan perawatannya saja.
Di rumah sakit itu satu pasien bahkan ditangani khusus oleh satu dokter yang dikepalai oleh professor.
__ADS_1
Dan disinilah Saraswati Djenar berada, sudah lebih dari sebelas minggu lamanya.
Diawal perawatan Saraswati telah menerima pengobatan komprehensif minimal invasive, dengan dua kali cryosurgery yang dikombinasikan dengan pengobatan minimal invasif lainnya, yang digunakan langsung mengarah ke pusat sel kanker lewat proses kateterisasi.
Kemarin, hasil CT Scan terbaru milik Saraswati Djenar sudah diambil, dan hasilnya sel kanker ovarium yang ada pada Saraswati dinyatakan telah mengecil dengan persentasi yang sangat signifikan.
Saat ini Saraswati sedang dijadwalkan untuk menjalani metode imunoterapi, yang cara kerjanya adalah dengan menyuntikkan sel imun anti kanker yang berasal dari darah pasien yang dikembangbiakkan menjadi sel antibody lewat tekhnlogi Natural Killer (NK Cell) ke tubuh pasien.
Metode andalan St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou ini sengaja dikombinasikan dalam proses penyembuhan Saraswati Djenar, tentu saja bertujuan untuk mendapatkan hasil pengobatan yang maksimal alias kesembuhan total.
Jangan ditanya lagi berapa biaya yang telah digelontorkan untuk menjalani segala usaha yang telah dilakukan sejauh ini, karena sudah pasti nominalnya sangat fantastis, meskipun semua itu tentunya tidak seberapa untuk Sebastian Putra Djenar.
Siang ini saat membuka mata Saraswati sedikit terkejut saat mendapati Tian sudah berada didalam kamar perawatannya, sedang menerima telepon disudut ruangan dengan posisi berdiri membelakangi ranjang pasien.
Saraswati sedikit terheran, karena sepertinya baru seminggu yang lalu Tian berpamitan untuk pulang setelah menemaninya melakukan treatment selama dua hari.. dan sekarang cucu satu-satunya itu telah berada disini lagi.
Nyaris tiga bulan terakhir ini, Saraswati mendapati kenyataan tersebut. Melihat keseriusan Tian yang berupaya terus berada disampingnya setiap kali dilakukan tindakan dokter hati Saraswati seperti ingin mencelos.
Entahlah... yang jelas Saraswati mulai berfikir.. apakah selama ini ia terlalu keras kepada Tian ? Sementara Tian malah selalu berupaya keras untuk memberikan yang terbaik untuknya.
Meskipun berdiri membelakanginya tapi Saraswati bisa melihat bahwa saat ini Tian sedang memijit keningnya dengan gundah saat melakukan pembicaraan ditelpon tersebut.
Terdengar menghela nafas yang sangat berat.
"Aku belum bisa pulang sekarang.. mungkin besok..”
Sayup-sayup Saraswati bisa mendengar kalimat Tian yang terucap perlahan, membuat Saraswati mau tidak mau menautkan alis saat mendengar Tian menyebut nama dokter Hans.
‘Siapa yang sedang sakit?'
‘Apakah.. Arini..?’
Panggilan itu sudah berakhir, namun Tian masih berdiri tegak ditempatnya, membelakangi ranjang Saraswati, masih setia memijit keningnya sendiri dengan gelisah.
Seolah mendapatkan firasat bahwa dirinya sedang diperhatikan seseorang sontak Tian membalikkan tubuhnya serta merta.
Tian langsung tersenyum saat melihat Saraswati telah terbangun dari tidurnya, bergegas ia menyimpan ponselnya ke saku sebelum akhirnya mendekati ranjang pasien.
“Halo, nek.. bagaimana keadaannya hari ini?” tanya Tian, serentak mengecup dahi Saraswati kemudian langsung meraih tangan yang terkulai disamping tubuh itu dan menggenggamnya.
Saraswati mencoba tersenyum. “Keadaanku sangat baik. Kamu.. kapan datang, Tian?”
__ADS_1
“Kira-kira setengah jam yang lalu, nek..” ungkapnya. “Oh ya.. besok pagi nenek akan menjalani imunoterapi, kan? aku sengaja datang untuk mendampingi nenek saat melakukannya..”
Saraswati terdiam mendengar kalimat yang terucap dengan nada riang itu, namun sepasang mata Tian yang bersinar sendu tidak bisa membohonginya lagi.
Ada begitu banyak guratan kesedihan yang mendalam disana yang membuat hati Saraswati ikut merasa nyeri saat berfikir betapa seringnya Tian memendam kesedihannya dan menukarnya dengan selalu tersenyum tenang seperti saat ini.
Keberadaan dirinya di rumah sakit kanker ini pun merupakan permintaan Tian waktu itu, tiga bulan yang lalu saat ia berlutut dihadapan Saraswati, berjanji untuk bersedia memenuhi apapun keinginannya asalkan dirinya bersedia menjalani perawatan intervensi dan imunoteraphy di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou, yang merupakan rumah sakit khusus kanker yang berlokasi di Guangzhou, Cina Selatan.
Saat itu, demi menggapai ambisinya yang telah gelap mata, terlebih saat mengetahui bahwa metode yang dilakukan tidak akan menggunakan operasi dan kemoterapi konvensional, tanpa berfikir dua kali Saraswati langsung menyetujuinya.
Semua itu terbukti saat menjalani hampir tiga bulan perawatan, tubuh Saraswati mampu menerima dengan baik metode yang diterapkan ketimbang saat menjalani kemoterapi konvensial dulu.
Sementara Tian?
Tian terhitung tidak pernah absen mendampinginya, dalam melalui semua proses seperti janjinya sejak awal.
Meskipun Tian sudah tau aturan mainnya.. bahwa jika Saraswati sembuh, hal pertama yang diinginkan Saraswati tentu saja meminta Tian meninggalkan Arini.
Namun seolah tidak peduli dengan semua itu. Tian bahkan terus mengupayakan hal yang terbaik untuk kesembuhannya.. mengabaikan keinginannya sendiri.
“Apa nenek ingin makan sesuatu?”
Saraswati menggeleng perlahan.”Tolong ambilkan aku air mineral saja, Tian..”
Tian bergegas mengambil segelas air mineral dari dispenser yang ada didalam pantry yang merupakan salah satu fasilitas kamar tersebut dan kemudian langsung membantu Saraswati untuk meneguknya perlahan.
Setelah itu Tian menaruh kembali gelas yang masih tersisa sedikit isinya itu keatas nakas, lelaki itu terlihat kembali duduk dengan tenang disamping Saraswati dengan senyum yang mengulas sempurna, tidak pernah berkurang, padahal Saraswati tau cucunya itu sedang memendam kesedihan.
“Aku senang melihat kondisi nenek
membaik. Kata dokter.. sangat besar kemungkinan untuk nenek bisa sembuh secara total..”
Saraswati menelan ludahnya yang tiba-tiba merasa kelu. Melihat senyum Tian yang begitu tenang, membuatnya tidak tahan lagi.. tiba-tiba sudut matanya mulai bertelaga tanpa ia kehendaki..
...
Bersambung…
LIKE, COMMENT, VOTE, ~ jangan lupa yah.. 🤗
See you and lopphyuu all… 😘
__ADS_1