
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏
.
.
.
“Laras.. aku mengerti apa yang kamu rencanakan ini adalah yang terbaik, tapi.. apa ini tidak terlalu terburu-buru ?” Tian berucap seraya menatap lekat wajah Laras yang duduk tepat dihadapannya. Tian bahkan belum ada sepuluh menit tiba diruangannya saat Laras masuk untuk mengatakan hal yang diluar dugaan Tian.
Laras mengangguk sambil menghela nafas perlahan namun wajahnya tetap memperlihatkan raut keseriusannya. “Bukannya kak Tian sendiri yang selalu mewanti-wanti agar aku bergerak cepat ? waktu semakin sempit kak, aku tidak ingin mengecewakan Fashion Milan kalau tidak bisa total dalam mengerjakannya..”
Mendengar alasan itu Tian pun membenarkan dalam hati. Tapi target rencana Laras untuk memindahkan kantor pusat SWD Fashion ke kota B dalam minggu ini.. tak urung membuat Tian semakin tidak mengerti dengan jalan fikiran Laras.
Sejujurnya Tian senang dengan perubahan yang ada pada diri Laras saat ini, yang terlihat begitu fokus dalam menangani pekerjaan pada perusahaan yang pada awalnya dirintis langsung oleh mendiang Saraswati itu.
Tian juga memahami keinginan Laras yang ingin memindahkan kantor pusat dikarenakan kota B memang memiliki potensi yang jauh lebih besar dalam beberapa aspek penting yang juga secara otomatis memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menekan biaya produksi.
Tapi.. timing untuk melakukan semua itu sepertinya terkesan terlalu cepat. Sikap Laras yang juga terlihat terlalu bersemangat dan menggebu-gebu membuat Tian mau tak mau memikirkan sebab akibat dari perubahan sikap yang maha drastis itu. Jangan-jangan semua tindak tanduk Laras ada hubungannya dengan..
“Aku sudah menjelaskannya panjang lebar kan, kak.. bahwa kota B sangat berpotensi. Nyaris dua puluh persen bahan baku berasal dari sana, empat puluh persennya berasal dari wilayah sekitar. Selain itu sebagian besar sumber daya manusia yang berkualitas dibidangnya, delapan puluh persen juga berada di kantor cabang kota B. Rata-rata keluhan mereka sama, kak.. sebagian besar menolak untuk pindah ke kantor pusat. Aku tidak bisa mengabaikan semua keluhan itu begitu saja. Fashion Milan hanya memberi waktu relatif singkat.. dan aku juga tidak mungkin bolak-balik kesana setiap hari..”
Saat Laras menjelaskan panjang lebar Tian bisa melihat sosok Rudi yang masuk kedalam ruangannya. Lelaki itu tentu saja memiliki keperluan dengannya, dan itu jelas terlihat karena ditangan kanan Rudi sudah terdapat sebuah map berwarna biru tua yang sudah pasti terdapat dokumen didalamnya.
Tapi seperti biasa, jika melihat Tian masih berbincang dengan seseorang, maka Rudi akan berdiri tegak diujung ruangan menunggu hingga pembicaraan Tian selesai.
Sama persis seperti sekarang, Rudi juga berdiri disana tanpa sepengetahuan Laras, yang saking seriusnya memberikan penjelasan panjang lebar kepada Tian tentang rencana jangka pendeknya untuk memindahkan kantor pusat SWD Fashion ke kota B sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Rudi didalam ruangan itu, yang tentu saja bisa ikut mendengarkan apa yang sedang menjadi bahan pembahasan mereka.
“Jadi intinya, kamu ingin kantor pusat SWD Fashion dipindahkan ke kota B, dan itu berarti kamu juga akan tinggal disana. Begitu kan ?”
“Iya kak.. dengan begitu aku bisa fokus bekerja tanpa harus bolak-balik kesana kemari. Aku janji akan berusaha semaksimal mungkin memenuhi standar tertinggi dari Fashion Milan..”
Tian mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali meskipun konsentrasinya lumayan terbagi antara penjelasan Laras, dengan ekspresi wajah seseorang dibelakang sana yang nampak berubah mendengar rencana Laras dalam waktu dekat.
“Baiklah.. aku setuju..”
“Benarkah ? kak Tian, terimakasih... aku tidak akan mengecewakanmu, aku berjanji..” Laras nyaris terlonjak dari tempat duduknya saking girangnya mendapati restu Tian, sementara lagi-lagi.. seseorang dibelakang sana nampak sedikit membuang muka mendengar ekspresi kebahagiaan Laras.
Tian tersenyum sambil mengangguk. “Persiapkan saja semuanya, kalau ada yang kamu butuhkan kamu bisa meminta Rudi membantumu. Oh ya Rudi.. kemari sebentar..”
__ADS_1
Laras tersentak mendengar Tian yang tiba-tiba sudah menyebut nama Rudi yang ternyata telah berada didalam ruangan yang sama.
‘Jadi dia sudah mendengar semua pembicaraan tadi ?’
Laras bergumam dalam hati.
“Iya pak ?” Rudi menunduk takjim.
“Kamu sudah mendengar sendiri rencana Laras kan ?”
Rudi mengangguk ragu. “Iya, pak..”
“Bantu Laras untuk persiapan pengalihan kantor pusat SWD Fashion ke kota B.”
“Baik, pak..”
“Dan kamu Laras.. kamu boleh kembali, teruskan pekerjaanmu dalam menyiapkan segala sesuatunya..”
“Baik kak.. aku permisi dulu..”
Laras beranjak dari sana tanpa menoleh kepada Rudi sedikitpun.
“Apa itu ?” tanya Tian sambil menatap Rudi yang menenteng map biru, begitu Laras hilang dibalik pintu.
“Ini.. laporan keuangan yang telah direvisi pak..” sambil menyerahkan map biru tersebut yang langsung disambut oleh Tian.
Selanjutnya keadaan menjadi hening saat Tian mulai membolak-balik laporan tersebut satu per satu untuk memeriksa beberapa hal yang telah ia periksa kemarin sore.
Sekitar dua menit berlalu saat Tian akhirnya menaruh kembali map biru tersebut keatas meja.
“Bagaimana pak.. apa masih ada yang perlu direvisi ?”
Tian menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi sambil menatap Rudi lekat. Kepalanya menggeleng namun mulutnya tetap terkunci, membuat Rudi kembali merasa salah tingkah saat menyadari entah kenapa akhir-akir ini ia begitu sering menerima tatapan seperti itu dari pak Tian.
Seperti ada hal yang ingin diutarakan namun tidak pernah bisa. Terkadang Rudi juga merasakan ada amarah yang berkilat, sedikit kekecewaan.. namun terkadang juga seperti sebuah harapan.
Entahlah..
“Pak Tian..” Rudi memutuskan keheningan yang telah mengambil alih waktu sekian lama.
“Hhmm.. iya ?”
“Kalau sudah tidak ada lagi yang bisa saya kerjakan, saya akan kembali ke ruangan saya, pak..”
__ADS_1
“Hhhmm.. baik, pergilah..” Tian menjatuhkan pandanganya keatas meja seraya menghembuskan nafas
beratnya.. “Jangan kecewakan saya, Rud.. karena kamu pasti tau bagaimana saya mempercayaimu..” berucap demikian seraya beranjak dari kursinya.. mendekati jendela kaca yang menghadap kearah luar dimana biasanya ia mengembarakan pandangannya saat ia sedang banyak pikiran dengan leluasa dari lantai lima belas, tempat nya berpijak saat ini.
Rudi tertegun mendengarnya, namun akhirnya ia memilih untuk tetap beranjak keluar dari ruangan Tian.
Ketika Rudi merapatkan pintu ruangan Ceo yang ada dibelakangnya, tatapannya langsung mengarah kemeja sekretaris dimana Laras terlihat tengah menumpuk barangnya pada sebuah wadah berbentuk kotak. Wanita itu hanya menatap Rudi sekilas sebelum akhirnya kembali memusatkan seluruh perhatiannya pada aktifitasnya semula yang sedang membereskan berbagai barang pribadinya.
Melihat pandangan mata Laras yang menolak beradu pandang itu membuat Rudi terhenyak, apalagi setelah mengetahui rencana Laras untuk hidup dikota B setelah ini.
Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh tapi tetap saja memerlukan hampir setengah hari jika berkendara dengan menggunakan kendaraan roda empat.
Tiba-tiba.. entah dari mana datangnya sebuah pemikiran melintas dibenak Rudi begitu saja, membuat Rudi seolah tersadar akan sesuatu.
Beberapa detik berikutnya Rudi masih mematung ditempatnya.. mencoba menghubungkan apa yang ada diotaknya agar sinkron dengan mata bathinnya, dan Rudi menelan ludahnya yang terasa kelu, saat menyadari bahwa kalimat pak Tian agar jangan sampai mengecewakannya itu telah terlampau sering ia dengar dalam dua hari terakhir. Pak Tian selalu mengucapkan kalimat serupa seolah-olah sengaja ingin membuat dirinya menyadari suatu hal.
Rudi mengusap wajahnya putus asa sebelum akhirnya dengan kesadaran penuh memutuskan untuk kembali menarik handle pintu ruangan Ceo yang sudah berada dibelakangnya.
Bunyi pintu yang terbuka mengusik lamunan Tian yang awalnya sedang menatap dikejauhan tanpa arah berganti menoleh kearah pintu dimana sosok Rudi telah kembali berada disana, berdiri mematung sejenak sambil menatap lurus kearah Tian sebelum akhirnya melangkahkan kakinya dengan keberanian yang ia dapatkan dari sekumpulan remahan nyali yang tersisa didalam dirinya.
Tian menatap Rudi yang bergerak mendekat, sehingga jarak yang tersisa rasanya sudah tidak lebih dua langkah.
“Pak Tian, saya telah mengecewakan anda. Saya pantas dihukum..”
Bertepatan dengan usainya kalimat tersebut Rudi bisa merasakan sekujur wajahnya perih memanas.. pelipisnya bahkan langsung mati rasa. Rudi yang sedikit terhuyung bahkan bisa merasakan sesuatu yang anyir terasa merembes dari hidung sekaligus celah bibirnya sekaligus tanpa perlu ia menyentuhnya untuk memastikan.
Sosok Tian terlihat dengan jelas sedang berdiri tegak dihadapan Rudi. Wajahnya terlihat mengeras sempurna.. kepalan tangannya apalagi.
“Maafkan saya, pak Tian..”
Rudi tertunduk dalam, sebelum kemudian dengan sangat berat hati akhirnya ia harus mengucapkan kalimat yang sangat tidak ingin ia ucapkan.. namun ternyata bisa membuat wajah Tian yang mengeras itu mengendur perlahan.
“Pak Tian, saya.. saya.. akan bertanggung jawab..”
.
.
.
Bersambung..
TRIPLE UP.
__ADS_1
Sesuai janji yang telah terpenuhi.. ✌️
Please give me your Like, Comment, and Vote. Thx and Lophyuu all.. 🥰