
“Arini, kamu harus lebih sering olahraga setelah ini. Biar tubuh kamu lebih sehat.”
Tian berucap sambil menatap Arini dengan mimik bersungguh-sungguh. Saat ini mereka sudah berada tepat didepan pintu apartemen tapi raut wajah Arini yang kepayahan masih tercetak jelas disana.
Tian mengatakan hal itu bukan tanpa alasan, mengingat saat jogging tadi pagi belum ada satu putaran jogging track Arini kelihatan sudah seperti mau kehabisan nafas. Jangankan mengimbangi Tian yang entah sudah berapa kali putaran berlari di jogging track tersebut, Arini bahkan harus menyelesaikan putaran keduanya itu sambil berjalan, dan hanya duduk menunggu Tian sampai lelaki itu menyelesaikan putarannya hingga berkali-kali.
Tian menekan sederet angka di door acces control untuk membuka pintu apartemen. “Kamu juga harus mengurangi kebiasaan makan makanan yang tidak sehat seperti mi instan. Makanan seperti itu tidak baik jika di konsumsi terus menerus..”
“Saya memakannya hanya sekali-sekali saja, Pak..” Arini berkilah sambil masuk kedalam apartemen, mengikuti langkah Tian yang sudah lebih dulu melangkah kedalam.
“Tapi beberapa hari yang lalu sepertinya kamu sering memakannya..”
“Itu karena saya lembur, Pak.. makanya saya tidak sempat untuk memasak makanan yang lain..”
Tian menarik nafas mendengar penjelasan Arini. Dalam hatinya membenarkan juga alasan wanita ini karena memang beberapa hari belakangan ritme pekerjaan di kantor pusat Indotama Group sangatlah padat, hampir semua karyawannya sering lembur, termasuk Arini pastinya.
“Bagaimana pekerjaanmu di kantor ?”
“Lancar.”
“Baguslah.. tidak sia-sia kamu tidak berhenti bekerja,” imbuh Tian.
Mendengar kalimat dengan nada agak menyindir itu bibir Arini langsung maju dua centi. “Tenang saja, Pak.. kalau untuk masalah pekerjaan saya orang yang cukup bertanggung jawab..” ucapnya sedikit menyombongkan diri.
“He-eh ?” Tian hanya mengangkat alis melihat ekspresi percaya diri Arini.
“Terakhir laporan yang saya kerjakan kemarin sudah hampir rampung semuanya, saya hanya perlu membenahi saja.”
Tian menatap Arini sekilas.
“Kalau tau bakalan seperti ini saya tidak akan setuju memberhentikan bu waty.”
“Lho.. Kenapa ? bu waty kan tidak ada sangkut pautnya..?” Arini menatap protes Tian.
“Tidak ada sangkut pautnya bagaimana ? kamu disibukkan pekerjaan kantor, pulang ke apartemen kamu malah beres-beres, mencuci pakaian, belum juga memasak..”
“Saya bisa melakukan semuanya, Pak Tian.. sungguh. Saya tidak merasa lelah sama sekali. Justru.. saya bersyukur bisa disibukkan oleh semua pekerjaan. Saya jadi bisa mempergunakan semua waktu saya itu dengan
baik,” kilah Arini panjang lebar.
“Tapi seharusnya jika kamu punya waktu luang, itu kamu gunakan untuk berolahraga atau beristirahat.”
“Selama ini saya selalu sehat-sehat saja, Pak.. saya juga tipe orang yang jarang sakit..”
“Jarang sakit itu bukan jaminan. Lagian.. kalau kamu sakit ? siapa yang akan merawatmu..?”
Arini membuang mukanya.
‘Cihh.. baiklah.. sekarang aku tau, dia menyuruhku berlari sampai kehabisan nafas dipagi ini hanya karena dia takut aku akan sakit ? Kalau aku sakit, sudah pasti dia tidak mau direpotkan sama sekali..!’
Arini ngedumel dalam hati.
“Kamu kenapa ? apa yang sedang kamu pikirkan ?”
__ADS_1
“Saya ? egh, tidak apa-apa.. saya tidak sedang memikirkan apa-apa..” elak Arini secepat kilat.
Tian menatap Arini dengan tatapan mereka-reka. “Kamu tidak sedang mengatai saya dalam hati kan..?”
“Egh, appa ? tidak.. tidak.. mana mungkin saya begitu..” elak Arini lagi, panik.
‘Gila ! Bagaimana dia tau kalau aku sedang mengumpatnya ?’
“Awas saja kalau kamu berani.”
“Mana mungkin saya berani..?” ucap Arini lirih nyaris tak terdengar.
Tian menatap Arini lekat.
“Iya Pak Tian, saya berjanji akan berusaha menjaga kesehatan saya dengan baik.” ungkap Arini lagi saat menyadari Tian masih mengawasinya.
“Syukurlah kalau kamu mau menyadari jika kesehatanmu itu ibarat investasi. Yang kalau tidak kamu jaga dari sekarang dengan baik, dimasa yang akan datang kamu sendiri yang akan merugi. Mengerti..?” titah Tian tegas.
Arini menganguk cepat agar lelaki dihadapannya ini puas dan berhenti menatapnya dengan galak.
Lagian tidak ada salahnya juga mendengarkan nasihat Tian. Arini bukan tidak menyadari bahwa selama ini dirinya memang sangat jarang berolahraga bahkan nyaris tidak pernah. Lagipula dengan ritme kehidupan dan pekerjaannya selama ini, ia merasa benar-benar tidak punya begitu banyak waktu untuk sekedar menyalurkan hobby, berolah raga, apalagi bersantai.
“Baik Pak,” ucap Arini lagi tanpa sadar.
“Apanya yang baik ?”
Arini menatap Tian sedikit. “Maksud saya, saya akan mengingat pesan Pak Tian..” ralatnya lirih seraya menyerahkan segelas air mineral yang baru saja ia tuangkan kedalam gelas ke tangan Tian yang langsung
menyambutnya.
Arini hanya bisa menganguk perlahan. Namun saat melirik sekilas tak sengaja Arini mengamati Tian yang saat meneguk air mineral itu. Jakun Tian turun naik begitu air itu tertelan melewati tenggorokan dan Pemandangan indah tersebut sontak membuat Arini yang juga sedang meneguk air mineral disamping lelaki itu menjadi tidak fokus akan minumannya sendiri. Arini sampai bingung mana yang harus ia telan lebih dahulu.. air.. atau ludahnya sendiri..?
Glekk !!
Arini menggelengkan kepalanya perlahan saat tetesan peluh Tian yang mengalir di jakun yang turun naik itu ikut menambah pemandangan sexy tersebut.
Haiihh.. ia merasa sangat malu saat menyadari jantungnya ikut berdebar-debar tak karuan karena terus disuguhi pemandangan maskulin seperti ini, dan gilanya lagi.. mata perawannya sepertinya benar-benar menikmati. Oh tidak.. sisi keangkuhannya menolak keras menjadi bucin.. tapi sepertinya sisi hatinya yang lain malah mengkhianatinya seratus delapan puluh derajat.
Tian yang sudah menandaskan segelas penuh air mineral kemudian menaruh gelasnya diatas meja makan, balik menatap Arini dengan tatapan tajam sambil tersenyum licik. “Apa yang kamu lihat ?” tanyanya to the point.
“Eghh.. apa..? tidak ada..” geleng Arini secepat kilat, tentu saja berusaha mengelak sekuat tenaga meski ditodong dengan pertanyaan telak seperti itu membuat kegugupan langsung menyerangnya tanpa ampun.
Tian menyeringai. “Jelas-jelas dari tadi mata kamu jelalatan, masih tidak mau mengaku.” ujarnya dengan mimik mengejek.
Arini merenggut kesal. Lagi-lagi hanya bisa pasrah saat menyadari acap kali tingkah bodohnya yang selalu diketahui Tian.
Arini memilih beranjak sebelum kembali menjadi bulan-bulanan boss nya yang selalu bicara semena-mena ini.
“Egh.. mau kemana kamu..?” Tanya Tian.
“Mandi,” ujar Arini acuh.
“Mandi ?”
__ADS_1
“Iya. Mandi. Kenapa ? Mau bantu mandiin ?“ Arini berucap asal, karena masih kesal.
“Memangnya boleh ?”
“Apppaa..??!”
Arini terhenyak. Berbalik menatap Tian dengan tatapan geram tapi Arini malah mendapati sepasang mata berbinar-binar disana.
‘Cihh.. sejak kapan orang ini jadi mesum begini padanya..?’
“Berubah pikiran yah ?” ucap Tian santai menanggapi ekspresi Arini yang masih melotot padanya. “Makanya jangan nawarin yang aneh-aneh..!” kemudian dengan sikap acuh Tian beranjak melewati Arini yang masih setia mematung.
“Egh, Pak Tian mau kemana ..?”
Tian menghentikan langkahnya, memutar badan kembali kearah suara itu. “Mandi !”
“Mandi ??”
“Iya, mandi. Kenapa ? Mau bantu mandiin ?”
“Apppa..??!!” Arini memekik tertahan.
“Kenapa kaget begitu ? ayo kalau mau bantuin, saya bukan orang yang suka berubah fikiran seperti kamu..“
“Huhh !! Siapa juga yang mau.” Ketus Arini sambil membuang pandangannya kearah lain.
Tian yang melihat ekspresi itu langsung beranjak kekamar sambil tertawa, berniat meninggalkan Arini yang masih berdiri mematung salah tingkah campur geram. Tapi baru beberapa langkah tiba-tiba Tian membalikkan tubuhnya lagi.
“Oh ya.. kamu mau makan apa hari ini ?” Tanya Tian. Kali ini ekspresi wajahnya terlihat serius.
Arini menatap Tian ragu-ragu. “Pak Tian mau memasak..?”
“Haihh, memasak ? Itukan tugasmu,”
Arini mencibir sebal mendengar jawaban itu. “Kalau begitu lalu untuk apa tadi bertanya?”
“Mau saya delivery,”
Arini ingin menyanggahnya namun Tian sudah mengibaskan tangan seperti tau apa yang ingin dia ucapkan.
“Tidak usah protes. Hari ini makanannya biar di delivery saja. Saya keburu lapar kalau harus menunggu kamu mandi dulu kemudian baru membuat sesuatu, kecuali..” menggantung. Tian menatap Arini dengan tatapan aneh.
“Kecuali apa ?!” pungkas Arini kearah Tian saat menangkap segaris senyum licik yang terbaca jelas disana.
“Kecuali kalau kamu mau mandi bersama.. mungkin bisa mempersingkat waktu..”
“Delivery. Delivery saja..!” potong Arini setelah bisa memahami apa arti senyum licik dan tatapan aneh Tian adanya. Dengan kesal kembali Arini menuangkan air mineral kedalam gelasnya, meneguknya kuat-kuat.
Tian terbengong melihat pemandangan itu, namun sedetik kemudian ia malah berbalik kembali kearah kamar sambil terkekeh pelan, sama sekali tidak mempedulikan tatapan kesal Arini yang lekat padanya hingga Tian hilang dibalik pintu kamar.
Bersambung...
Hanya ingin bilang,
__ADS_1
Lophyuu all.. (HeartBreak😞)