
Ini adalah pengalaman pertama bagi Arini, berpartisipasi langsung dalam sebuah meeting Indotama Group dengan perusahaan lain. Meeting ini dilaksanakan di co-working space hotel Mercy, yang merupakan hotel bintang lima, tempat dimana klien mereka menginap.
Terlihat sekali bahwa meeting kali ini levelnya cukup penting karena klien yang ditemui ternyata adalah Mr. Edward, seorang pengusaha asing yang bergerak dibidang property dan perusahaannya cukup bonavide di negaranya.
Arini cukup beruntung karena menguasai bahasa inggris dengan baik, sehingga dirinya bisa dibilang sangat berkontribusi dalam membantu Rudi mensukseskan jalannya meeting tersebut sejak awal pemaparan materi, pembahasan tentang produk beserta estimasi biaya, dan segala yang menyangkut topik utama hingga pada tahap evaluasi akhir.
Rudi sendiri yang saat ini bertindak
mewakili Tian sempat tercengang melihat kemampuan Arini. Ia tidak menyangka sama sekali kalau istri rahasia sang Ceo yang sehari-harinya hanya merupakan karyawan yang terlihat biasa-biasa saja ini ternyata memiliki multi talenta yang kuat, sehingga dalam waktu yang relatif singkat sanggup memahami materi yang dibahas, apalagi dengan kemampuan Arini yang juga menguasai bahasa inggris dengan baik.
Kedua belah pihak akhirnya mengakhiri meeting tersebut dengan mencapai sebuah kesepakatan kerjasama yang tentu saja hasilnya memuaskan dan menguntungkan masing-masing pihak.
Meeting pun selesai, dan Mr. Edward yang sebelumnya sempat kecewa karena tidak bisa bertemu Tian selaku Ceo Indotama Group secara langsung akhirnya terlihat sangat puas dengan hasil kesepakatan yang telah dibuat, karena Rudi yang tentu saja dibantu oleh Arini telah berhasil menghandle semuanya dengan baik.
Saat ini Mr. Edward sudah berdiri dari duduknya karena akan pamit untuk kembali kekamarnya. Ia melemparkan senyumnya kepada Rudi dan Arini yang ada dihadapannya.
“I hope, at the second meeting, I can meet Mr. Sebastian in person..”
(Saya berharap, pada pertemuan kedua, saya bisa bertemu Tuan. Sebastian secara langsung..)
“Of course, Mr. Edward.” ucap Rudi meyakinkan sang klien.
(Tentu saja, Tuan. Edward.)
“Mr. Sebastian apologized for not being able to attend. But on the next occasion he will definitely attend the meeting.” Arini menambahkan.
(Tuan. Sebastian meminta maaf karena tidak bisa hadir. Tapi pada kesempatan berikutnya dia pasti akan menghadiri pertemuan tersebut.)
“Good.. and please convey my greeting to Mr. Sebastian. He is so lucky to have reliable employees like you.” puji Mr. Edward lagi sambil menatap Rudi dan Arini berganti-ganti dengan tatapan ramah.
(Bagus.. dan sampaikan salam saya untuk Tuan. Sebastian. Dia sangat beruntung memiliki karyawan yang dapat diandalkan seperti anda.)
“Thank you, Mr Edward.. we are very happy to hear it.” Ucap Rudi kemudian yang disambut angukan oleh Arini.
(Terima kasih Tuan. Edward.. kami sangat senang mendengarnya.)
Dan kemudian Mr. Edward benar-benar berlalu setelah menyesap kopi cappuccino pesanannya sekali lagi.
“Huuhff.. akhirnya..” Arini
menghempaskan tubuhnya diatas kursi begitu saja. Ia merasa begitu lega dan plong setelah melewati semua hal yang awalnya membuatnya sangat gugup dan berdebar.
Rudi yang ada dihadapan Arini sontak tersenyum melihat tingkah polos istri rahasia sang bos besarnya ini. Ia juga akhirnya memutuskan untuk menghempaskan kembali tubuhnya ketempat duduknya semula.
“Pak Rudi, ini benar-benar pengalaman pertama yang membuat saya panik dan merasa tegang sejak tadi."
Rudi tersenyum mendengarnya. “Saya juga merasakan hal yang sama bu, biasanya saya hanya mendamping Pak Tian untuk meeting penting seperti ini, tapi tadi saya harus berusaha semaksimal mungkin untuk menghadapinya secara langsung. Untung saja saya didamping oleh bu Arini..” ucap Rudi yang merasa benar-benar bersyukur karena kehadiran Arini sudah jelas sangat membantu dalam kelancaran jalannya meeting tadi.
“Syukurlah semuanya bisa berjalan dengan lancar..”
“Iya bu Arini, dan ini semua tidak
terlepas dari peran serta bu Arini.”
“Pak Rudi.. jangan ngadi-ngadi ah, bikin saya malu saja..” Arini berucap kocak sambil tertawa, mencoba melepaskan sisa-sisa ketegangan yang masih tersisa didalam didirinya.
“Bu Arini, tolong jangan panggil saya Pak lagi. Panggil saja saya Rudi, bu.. seperti Pak Tian memanggil saya,”
__ADS_1
“Loh, kenapa memangnya ? kamu saja panggil saya bu Arini terus dari tadi.. biasanya juga kamu memanggil saya Arini kan..”
“itu berbeda, bu. Saya minta maaf kalau dikantor saya terpaksa harus memanggil nama ibu karena..”
“Iya saya tau, karena kamu tidak ingin orang lain curiga kan..” Arini tersenyum.
Rudi menganguk pelan.
“Ya sudah kalau begitu..” ucap Arini akhirnya, ia juga tidak ingin membuat Rudi semakin tidak nyaman sehingga memilih mengalah dan mengikuti kemauan Rudi.
Arini menyadari bahwa berada diposisi Rudi sekarang tentu saja tidak mudah. Asisten Tian itu pasti selalu dilema karena mengetahui secara pasti seperti apa hubungan dirinya dengan Tian yang sebenarnya, sekaligus harus menjaga kerahasiaannya juga.
“Baiklah, Rudi.. intinya saya berterima kasih kamu sudah bisa menghandle semua tanggung jawab yang diberikan Pak Tian dengan baik. Tidak heran jika selama ini Pak Tian selalu mengandalkan kamu dalam segala hal..”
“Itu sudah merupakan tugas dan kewajiban saya sebagai asisten pribadi beliau, bu,” ucap Rudi sopan.
Arini menganguk kecil. Dalam hati ia pun bersyukur karena Tian sangat beruntung memiliki orang yang bisa diandalkan seperti Rudi. Tiba-tiba saja Arini ingin tau apa pendapat Tian nanti jika mengetahui bahwa dirinya sudah berhasil membantu Rudi dalam hal menggolkan salah satu kerjasama yang bernilai fantastik dengan Mr. Edward barusan.
Apakah lelaki itu juga akan bangga
padanya ?
Tatapan Arini mengembara kesetiap sudut co-working space hotel mercy yang memang merupakan pilihan Mr. Edward untuk pelaksanaan meeting mereka barusan. Alunan musik instrumental klasik yang terdengar sayup menambah kesan nuansa yang cozy.
Rudi yang melihat Arini termenung tidak berani menyela. Ia sengaja membiarkan Arini yang tersesat dalam lamunannya, tanpa berniat mengusik, sebelum akhirnya..
“Pak Rudi ?” sebuah suara lembut
tiba-tiba memecah keheningan.
Rudi yang awalnya terdiam menunggu respon selanjutnya dari sang nyonya besar yang ada dihadapanya sontak mengangkat wajahnyanya serentak.
Rudi serta merta bangkit dari duduknya saat menyadari wanita yang menyapanya dengan ramah barusan adalah Ariella Hasyim, Ceo PT. Mercy, yang adalah pemilik Mercy Green Resort sekaligus pemilik keseluruhan hotel mercy tempat mereka mengadakan meeting dengan Mr. Edward barusan. Sedangkan Arini yang awalnya tenggelam dalam lamunan ikut mengangkat wajahnya, dan mendapati seorang wanita cantik berwajah oriental dengan tubuh tinggi semampai bak miss universe sedang berdiri tegak dihadapan Rudi lengkap dengan senyumnya yang menawan.
“Pak Rudi sedang ada urusan apa disini ?” Lila bertanya ramah.
“Saya baru kelar meeting dengan klien kami, bu Lila. Kebetulan beliau menginap di hotel ini juga.” Rudi menjelaskan.
“Bersama Pak Tian ?” mata wanita itu berbinar saat menyebut nama Ceo Indotama Group. Refleks kepalanya berpaling kesana kemari seolah ingin mendapati sosok seseorang.
“Tidak, bu Lila, saat ini Pak Tian masih berada di London, saya bersama dengan.. ehem, ibu Arini datang kemari untuk mewakili beliau..” Rudi terlihat kikuk saat menyadari sepasang mata Arini yang fokus menatap Lila dengan tatapan yang sulit diartikan.
Rudi bukannya tidak mengetahui bahwa sejak kemarin semua karyawan kantor pusat Indotama Group sedang hangat-hangatnya membahas isu yang menerpa tentang kedekatan istimewa antara Pak Tian dengan Ceo PT. Mercy ini. Hal ini bahkan sudah ia laporkan dengan sangat detail kepada Pak Tian.
Entah ulah siapa yang sudah menyebarkan berita tidak benar tersebut. Dan puncaknya hari ini, isu murahan itu bukannya semakin mereda malah semakin hangat-hangatnya, berhembus kencang, beredar dari mulut kemulut, menggelinding seperti bola liar, apalagi sang Ceo malah sama sekali tidak berniat meredamnya. Sehingga jika melihat gelagat Arini sekarang, tidak menutup kemungkinan hal itu juga sudah sampai ditelinga Arini, yang notabene merupakan istri sah Ceo Indotama Group itu.
“Ohh begitu ya, saya kira Pak Tian juga hadir..” raut wajah Lila sontak terlihat kecewa, dan semua itu terekam jelas dimata Arini yang sedari tadi tidak berkedip menatap wanita cantik itu.
Hanya dalam hitungan detik, Arini sudah bisa menggambarkan kesempurnaan wanita bernama Lila ini. Rambutnya yang berwarna coklat gelap tergerai lurus hingga ke pinggangnya yang sangat ramping, bentuk wajahnya yang kecil dihiasi sepasang mata yang juga kecil namun terkesan tegas. Lila sangat cantik, hampir mirip tzuyu, salah seorang member twice yang merupakan maknae dari girlband korea tersebut.
Lila yang seperti baru tersadar bahwa.Rudi tidak sendiri sontak mengalihkan pandangannya pada Arini.
“Oh iya, maaf, perkenalkan saya Ariella Hasyim, panggil saja saya Lila,” ia berganti menatap Arini dengan ramah.
‘Bahkan suaranya begitu lembut..’
Arini membalas senyum wanita cantik itu dengan kikuk. “Saya Arini, saya karyawan Indotama Group..” ucap Arini lirih.
__ADS_1
“Bu Arini, ibu Lila ini pemilik hotel
Mercy, beliau juga saat ini memiliki kerja sama dengan Pak Tian dalam
pembangunan Mercy Green Resort, yang peresmiannya akan segera dilaksanakan setelah Pak Tian kembali..” Meskipun terasa berat untuk mengatakannya dihadapan Arini pada akhirnya Rudi harus memperkenalkannya juga siapa sosok yang tiba-tiba muncul diantara mereka disaat yang tidak tepat ini.
Deg.
Mendengar itu jantung Arini langsung berdetak keras.
Sejak kehadiran wanita bernama Lila ini Arini sudah memiliki sebuah firasat yang aneh, namun setelah mendengar penjelasan Rudi yang detail maka Arini semakin yakin seratus persen siapa gerangan wanita cantik yang ada dihadapannya ini.
“Senang bisa berkenalan dengan anda bu Lila, selama ini saya hanya mendengar tentang proyek Mercy Green Resort, tapi tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan orang yang berada dibalik semua kesuksesan itu..” ucap Arini sembari berusaha mempertahankan senyum dibibirnya.
Mendengar kalimat dengan nada ramah itu Lila nampak tersenyum sumringah. “Kita semua tau bahwa keberhasilan Mercy Green Resort tidak lepas dari peran serta Indotama Group. Pak Tian-lah yang memiliki andil dalam keberhasilan proyek Mercy Green Resort kami. Tanpa kepercayaan dan dukungan penuh beliau, PT. Mercy tidak ada apa-apanya. Untuk itulah saya sangat berterima kasih dengan Indotama Group, khususnya dengan Pak Sebastian Putra Djenar selaku Ceo-nya,”
Arini menelan ludahnya saat menanggapi kalimat pujian setinggi langit yang dilontarkan seorang wanita secantik Lila untuk suaminya. Lila bahkan mengungkapkan pujian tersebut dengan wajah yang berseri-seri serta sepasang mata yang berbinar penuh rasa bangga dan kebahagiaan yang mendalam.
Yah.. Tentu saja Arini pernah bahkan terlalu sering mendengar tentang proyek Mercy Green Resort. Bahkan berita tentang peresmian resort mewah yang rencananya akan dilaksanakan dalam waktu dekat dan katanya akan diresmikan langsung oleh Ceo Indotama Group itu, akhir-akhir ini sudah menjadi trending topik nomor wahid dikantor pusat indotama Group, menjadi time line di berbagai media cetak bahkan sampai dibahas diberbagai berita televisi hingga infotaiment.
Namun terlepas dari semua cerita tentang Mercy Green Resort, yang tak kalah mencengangkan adalah informasi terakhir yang didengar Arini dari Meta kemarin siang-lah yang membuat Arini akhirnya menyadari satu hal, meskipun isu tersebut hanya beredar diantara para karyawan kantor pusat saja, karena seluruh karyawan sudah tau dengan pasti kode etiknya. Mereka Semua tidak mungkin berani menerima resiko jika isu tersebut sampai mencuat keluar gedung kantor pusat.
Yah.. sepertinya sekarang Arini tau apa alasan sebenarnya yang membuat Mercy Green Resort terlihat begitu istimewa dan menjadi primadona dalam sekejap. Jadi.. seperti kata Meta, memang wanita inilah penyebabnya. Pemilik Mercy Green Resort yang ternyata seorang wanita cantik bak super model yang sekarang berdiri dengan anggun tepat dihadapan hidung Arini.
Huhh, ternyata suaminya yang galak dan berhati dingin itu, bisa juga berubah menjadi lelaki berhati hangat dalam sekejap, jika berhadapan dengan pemandangan yang indah. Lagian lelaki mana yang tidak tertarik dengan Ceo cantik pemilik hotel bintang lima dan resort mewah bertaraf internasional ini..?
Arini mengingat lagi kalimat Meta yang membahas tentang gossip hot tersebut, yang mengatakan bahwa Tian bahkan rela dan dengan loyalnya berinvestasi besar pada pembangunan Mercy Green Resort, mensponsori penuh pelaksanaan launching yang sepertinya akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat, bahkan Tian dengan sengaja mengosongkan jadwalnya secara khusus untuk pelaksanaan peresmian resort tersebut, menjadikan tanggal peresmiannya sebagai prioritas utama dalam agenda kerja Tian yang super padat.
Uwwuuww.. so sweet..!
Arini menelan salivanya yang semakin terasa pahit ditenggorokan.
‘Ternyata seperti itu yah.. rasanya menerima sikap manis dan menjadi prioritas dalam hidup seorang Sebastian Putra Djenar. Wanita mana yang tidak meleleh jika dihujani perhatian yang luar biasa seperti itu..? haiihh.. dasar playboy genit yang tak pernah insyaf. Sebastian Putra Djenar yang tidak pernah berubah. Lagaknya saja yang sedingin salju dikutub utara, tapi sifatnya tetaplah seorang buaya darat yang gemar menabur pesona..!!’
Arini merutuk geram dalam hati saat bayangan wajah tampan milik Tian melintas tiba-tiba dibenaknya. Arini tidak bisa membohongi hatinya bahwa saat ini ia sedang dilanda rasa cemburu tingkat dewa, sekaligus rasa insecure parah saat matanya melirik sejenak penampilan berkelas Lila dari atas sampai kebawah.
Seperti istilah Meta kemarin.. no debat, no kecot.., wanita secantik Lila sudah pasti masuk dalam kategori tipe wanita idaman Tian !
‘Apa-apaan ini ? apa dirinya harus bersaing dengan wanita cantik yang wajah dan penampilannya saja sudah seperti boneka Barbie ini..?’
Astaga.. Arini merasa otaknya sudah dipenuhi kabut gelap. Belum apa-apa ia sudah merasa begitu rendah diri, terlebih saat kembali mencoba menilik penampilannya sendiri dari atas sampai kebawah, kemudian lagi-lagi membandingkannya dengan wanita perfect disampingnya.
‘Ya ampun ! Selain cantik, wanita bernama Lila ini adalah seorang Ceo. Kelihatan sekali kan.. bahwa ia berpendidikan tinggi, penampilannya berkelas, seorang pengusaha sukses, berasal dari keluarga bangsawan.
Baiklah.. belum apa-apa perbedaan mereka bahkan sudah seperti langit dengan bumi..!’
Rasanya Arini sudah ingin menangis, menyadari betapa buluk penampilannya saat ini. Mana bisa ia menang jika harus bersaing dengan Ceo cantik yang seolah tanpa cela ini..?
.
.
.
Bersambung…
“Special Thx to : AGUSTINA NASUTION” 🤗🙏
__ADS_1
Part yg panjang.. btw selalu dukung author ya, gaiiss.. 😍 Lophyuu all.. 😘