
Tian baru saja membuka pintu apartemennya saat aroma khas langsung menyerbu indera penciumannya.
Aroma lezat itu membuat cacing dalam perutnya yang terakhir diisi pada jam dua siang tadi saat dirinya dan Rudi makan siang disalah satu restoran yang dekat dengan lokasi Mercy Green Resort sontak langsung berdemo didalam sana.
Apalagi Tian merasa akhir-akhir ini tubuhnya seperti sering cepat merasa lelah. Mungkin itu disebabkan karena sudah hampir seminggu ia tidak sempat berolahraga karena tuntutan pekerjaan yang menumpuk.
Langkah kaki Tian yang lesu membawanya kearah dapur dan lagi-lagi Tian menemukan sosok Arini, kali ini sedang mengaduk sesuatu didalam wajan.
Rambut Arini yang bergelombang tergelung keatas hingga menampakkan leher jenjangnya membuat Tian harus bersusah payah menelan ludahnya sendiri menyaksikan penampakan tubuh langsing Arini dari belakang.
Mau tidak mau Tian harus kembali mengakui, bahwa entah darimana datangnya sirene di otak Tian yang mengirimkan signal penilaian bahwa dimata Tian saat ini istrinya itu malah kelihatan semakin sexy saja dari hari kehari.
Seperti merasakan aura kehadiran seseorang yang selalu berada dalam benaknya, refleks Arini menengok kebelakang dan benar saja, ia mendapati sosok Tian sedang berdiri mematung, menatap lurus kearahnya.
Dada Arini sontak berdebar mendapati sosok yang diam-diam senantiasa dinantikannya setiap saat itu, tapi Arini menepis setiap kegugupan hatinya, dan menggantikannya dengan seulas senyum.
“Sudah pulang?” tanya Arini ringan.
“Hemm,”
Arini menatap sejenak wajah Tian yang kelihatan lelah itu. Merasa iba, namun ia sendiri menyadari bahwa ia tidak mampu melakukan apa-apa yang bisa meringankan beban beserta tekanan pekerjaan serta tanggung jawab besar yang dipikul lelaki dihadapannya itu.
Akhirnya Arini hanya bisa menundukkan wajahnya, kembali fokus pada aktifitasnya semula.
Sejenak hanya hening yang ada namun Arini menyadari bahwa Tian sedang mengawasi gerak-geriknya.
“Pak Tian, mau coba makan ini tidak?” ujarnya memberanikan diri sambil menatap Tian sejenak. Tetap berusaha sekuat tenaga menepis kekakuan yang hendak tercipta jika ia tidak segera mengantisipasinya.
Tian masih membisu, hanya menatap punggung wanita itu yang sekarang tengah meniriskan sesuatu disana, lalu menaruhnya kedalam baskom kecil, mengaduk-aduk sebentar menggunakan sendok dan sumpit dengan gerakan mencampur, kemudian membawanya ke meja makan.
Sebenarnya Tian ingin berucap “Iya” atau minimal mengangguk.
Sekarang saja perutnya juga terasa sangat lapar. Tapi seperti biasa, entah mengapa keengganan selalu saja memenangkan pertarungan ego yang ada didalam hatinya.
“Pak Tian ... mau coba tidak ...?” Arini bertanya lagi.
Sejujurnya dalam hati Arini juga merasa was-was karena selama ini Tian seolah tidak pernah mau menerima apapun bentuk kebaikannya, apalagi jika sudah menyangkut masalah makanan.
‘Seperti takut mau aku racuni saja..’
Arini merenggut dalam hati.
“Apa itu ... mie instan?” ragu Tian membuka suara.
“Iya, ini memang mie instan.”
__ADS_1
Arini menaruh baskom kecil berisi mie instan yang masih mengepul itu keatas meja makan minimalis.
“Dan ini harus segera di makan, kalau tidak mie-nya akan lembek dan rasanya akan menjadi tidak enak.”
“Bukankah makanan sejenis itu tidak baik untuk kesehatan?” imbuh Tian.
Arini terlihat berfikir sejenak. “Asalkan tidak dimakan setiap waktu, saya rasa tidak apa-apa ...”
“Apa kamu juga tidak tahu kalau makan makanan seperti itu bisa membuat tubuhmu menjadi gemuk ...?” Tian berucap lagi.
“Tapi ... aku kan sama sekali tidak gemuk ...” kilah Arini reflek meraba perutnya yang datar.
Mata Tian mengerling pada gerakan jemari tangan Arini yang mengusap-ngusap perutnya tanpa sadar, kemudian malah membayangkan jemari lentik itu balik mengelus perut kotak-kotak miliknya ...
‘Haihh.. pikiran gila macam apa ini?’
Tiba-tiba saja Tian merasa perutnya terasa bergelenyar aneh dan bahkan sedikit ngilu, seperti ada ribuan kupu-kupu yang sedang berkejaran didalam sana.
‘Astaga ... kenapa pikiranku menjadi semesum ini sih ...?’
Rutuk Tian dalam hati, menyadari pikiran kotor yang begitu cepat melintas dibenaknya.
“Saya baru pulang lembur. Sekarang rasanya sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk memasak sesuatu yang lain untuk dimakan, makanya hanya terpikir untuk memasak mie instan ...”
“Kalau kamu memang lapar, lalu kenapa mie-nya tidak kamu makan saja ...? pakai menawari saya segala ...”
Usai berucap demikian Arini kembali beranjak kearah dapur minimalis, kembali menyalakan kompor gas dengan cekatan dan merebus lagi sebungkus mie instan yang diambilnya dari rak atas yang desainnya menempel didinding dapur.
Semua gerakannya yang gesit itu tak ada satupun yang luput dari pengawasan Tian.
“Pak Tian ...” Arini menoleh kearah Tian serta merta.
Tian yang masih berdiri mematung seolah terpukau menatap gerak-gerik lincah Arini didalam dapurnya sontak tersadar.
“Ada apa?”
“Pak Tian jangan makan mie instan itu yah ...”
“Appa?” Tian sedikit terhenyak dengan alis mengerinyit tak mengerti.
“Mie instan itu jangan dulu dimakan.” ulangnya lagi sambil memberi kode dengan wajahnya kearah mie instan yang masih mengepul diatas meja.
“Tadi kamu suruh saya makan. Sekarang malah kamu bilang jangan ...” Tian merenggut.
Arini terkekeh, “Maksud saya, Pak Tian nanti makan yang baru saya buat saja ... yang itu biar saya saja yang makan. Begitu, Pak..” Arini bicara tanpa mengentikan aktifitasnya.
__ADS_1
“Kenapa memangnya ...?”
Arini tidak langsung menjawab, ia sudah berbalik mematikan nyala kompor gas, kembali melakukan aktifitas yang sama seperti yang ia lakukan tadi di baskom pertama, mengaduk dan mencampur mi instan didalam baskom dengan menggunakan sendok dan sumpit.
“Karena mie instan yang baru dibuat akan lebih enak langsung dimakan, daripada yang sudah dibuat sesaat lalu tapi tidak langsung dimakan.”
Arini menjelaskan panjang lebar sambil menaruh baskom mie instan yang baru saja dibuatnya ke sisi lain meja makan.
“Ayo Pak Tian, dimakan dulu. Nanti kalau keburu lembek, jadi tidak enak lagi rasanya.” ucap Arini seraya mengitari meja ke sisi lain, dan kemudian duduk dihadapan baskom mie yang telah dibuatnya terlebih dahulu.
Ragu Tian akhirnya menghempaskan tubuhnya diatas kursi makan. Posisi mereka sekarang berhadapan di meja makan minimalis itu.
Arini mengangkat wajahnya, membuat gerakan isyarat seolah ingin mengatakan agar Tian harus segera memakan mie instan yang ada dihadapannya.
Perlahan dan sedikit ragu akhirnya Tian menyendok kuah mie instan tersebut, mencicipinya sedikit.
‘Enak’.
Tian bergumam dalam hati.
Kemudian mulai berpikir lagi, entah kapan terakhir kali ia memakan makanan seperti ini? rasanya sudah lama sekali.
Tangan Tian bergerak menyendoknya lagi, kali ini dengan takaran lebih banyak, meniup pelan sebelum kembali memasukkan kedalam mulut, terus seperti itu.
Arini tersenyum melihatnya, karena untuk yang pertama kalinya akhirnya ia berhasil membuat Tian memakan sesuatu yang dibuat oleh kedua tangannya meskipun itu hanya berupa mie instan, sungguh hati Arini sangat bahagia.
Arini mengunyah perlahan sambil tersenyum, sesekali menatap Tian yang ada dihadapannya, yang kelihatannya seperti menikmati betul mie instan buatan Arini.
Arini tidak menyadari jika disaat yang sama, meskipun dalam diam sesekali mata Tian pun sebenarnya begitu sering melirik kearah Arini yang ada dihadapannya.
Tian menelan senyumnya saat menyadari bahwa momen langka ini bisa membuatnya merasakan sebuah kesejukan yang mengalir lembut di bilik hatinya, perasaan yang begitu sederhana namun terasa sangat menentramkan sekaligus menggetarkan jiwanya dengan cara yang unik, yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Akhirnya mereka nyaris menghabiskan makanan mereka masing-masing tanpa kata, hanya saling mencuri pandang sesekali, itupun tanpa diketahui masing-masing, sebelum dering ponsel milik Tian memecah keheningan.
Tian yang terus menyeruput kuah mie instan yang sudah hampir mencapai dasar baskom itu awalnya terlihat tidak peduli. Tapi rupanya si penelepon kelihatannya orang yang sangat gigih karena tidak serta merta menyerah dan berhenti menelepon meski sudah diacuhkan berkali–kali.
Dengan tampang dingin campur kesal akhirnya Tian merogoh ponsel yang terus menerus berdering itu dari saku celananya.
Lelaki itu terlihat mendengus kesal saat melihat nama yang tidak asing tertera dilayar ponselnya.
‘Rico Chandra Wijaya’
“Ada apa lagi? mengganggu saja..!!”
Tian terdengar mengumpat kesal, sambil bangkit dari duduknya untuk mengambil jarak, menjauh dari meja makan.
__ADS_1
...
Bersambung..