CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Paksu


__ADS_3

“Astaga.. mengapa dokumen ini menjadi seperti ini ? Hhhh.. sepertinya Vera sudah melakukan kesalahan..”


Rudi berucap kalut saat memerikasa dokumen yang hendak dijemput langsung oleh Ceo PT. Best Elektro itu mengalami kesalahan yang cukup fatal. Melihat hal itu akhirnya Rico memutuskan untuk menemui Pak Rico terlebih dahulu sebelum memikirkan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya.


Rudi baru saja keluar dari lift untuk


yang menuju lantai lima belas dimana Rico Chandra Wijaya sedang menunggu dokumen itu diruangan Ceo, manakala ia melihat pemandangan Pak Rico yang bukannya berada didalam ruangan Ceo malah saat ini sedang duduk di meja sekretaris.


‘Sedang apa Pak Rico duduk dikursi vera ?’


 XXXXX


Rico masih belum beranjak sedikitpun


dari tempat duduknya. Mendadak ia merasa betah duduk berlama-lama ditempat yang biasanya diduduki vera, Sekretaris Tian, yang entah kenapa hari ini tidak terlihat.


Dalam hati Rico malah bersyukur karena ketidak-hadiran vera, dirinya bisa dengan mudah mengawasi Arini yang duduk tidak begitu jauh darinya.


‘Astaga.. mengapa wanita ini seperti racun..? Semakin lama dilihat terasa semakin berbahaya saja untuk kesehatan jantung..?’


Rico menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali, mencoba mengusir fikiran aneh yang bergelayut diotaknya. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa ia tidak bisa berhenti mengawasi Arini ? bukan apa-apa.. Rico hanya merasa bahwa wanita dihadapannya ini seperti menyimpan sebuah misteri. Seperti ada sesuatu dari dirinya yang membuat bathin Rico seperti mencurigai.


Perhatian Rico yang semula fokus pada Arini akhirnya teralih saat sosok Rudi datang mendekat dengan sedikit tergesa. Wajah asisten pribadi Tian itu nampak sedikit pias apalagi setelah melihat sosok Rico yang sedang duduk dikursi vera.


‘Astaga.. bukannya berada diruangan Ceo, malah enak-enakan duduk dengan posisi menghadap penuh pada kubikel bu Arini. Apa yang sedang dilakukan Pak Rico ? Kalau melihat gelagat Pak Rico seperti ini, Pak Tian pasti akan marah..’


“Ada apa Rud ?” Tanya Rico saat melihat seperti ada yang tidak beres dari ekspresi wajah Rudi.


“Pak Rico, saya minta maaf, setelah saya cermati ternyata saya menemukan adanya beberapa kesalahan dalam dokumen ini..”


“Maksudnya ?” alis Rico sontak


mengerinyit.


“Maksud saya Pak Rico tidak bisa membawa dokumen ini sekarang, Pak,”


“Kenapa bisa begitu, Rud ? padahal besok pagi saya sangat membutuhkan dokumen ini untuk meeting internal..”


Rudi terdiam dengan fikiran yang sedikit kalut, menurut perkiraan Rudi, sepertinya karena dalam keadaan yang kurang fit Vera telah salah memasukkan beberapa angka dalam pelaporan yang mengakibatkan nilai laporan akhirnya ikut bergeser dengan signifikan.


“Tidak ada cara lain, Pak Rico, kalau begitu dokumen ini harus segera diperbaiki dulu.”


“Ya sudah, kalau begitu sekarang saya juga bersedia jika harus membedahnya bersama, biar semuanya bisa secepatnya dibenahi..”


“Saya juga berfikir seperti itu. Tapi


Pak Rico, yang menjadi persoalannya sekarang adalah biasanya hal seperti ini akan ditangani langsung oleh vera. Sayangnya saat ini vera sedang dalam keadaan sakit.”


“Lalu kira-kira siapa yang sekarang mampu menghandle pekerjaan vera ini..?”


Rudi berfikir sejenak, benaknya langsung mengarah pada seseorang yang sepertinya sudah teruji dapat di andalkan dalam keadaan darurat seperti ini, siapa lagi kalau bukan Arini.


“Tunggu sebentar Pak Rico, sepertinya saya punya orang yang tepat untuk menghandle semua ini,” Rudi berucap sambil beranjak mendekati kubikel Arini, yang diikuti tatapan Rico yang tak lepas.


“Arini.. bisa tolong bantu saya ?”


Arini yang sedang fokus dengan layar komputernya sontak mendongak. Ia terkejut saat mendapati seraut wajah Rudi yang menatapnya penuh permohonan.


“Ada apa Pak Rudi ? Apakah masih ada lagi sesuatu yang bisa saya bantu ?”


“Iya, Arini.. tolong bantu Pak Rico


untuk memperbaiki kesalahan dokumen yang dibuat Vera. Sepertinya karena dalam keadaan kurang sehat Vera telah keliru memasukkan data laporan untuk PT. Best Electro. Saya tidak bisa melakukannya karena saat ini saya juga harus melaksanakan agenda Pak Tian yang lain dan mewakili beliau disana,”


‘Apa ?? Jadi Rudi ingin aku memperbaiki dokumen itu bersama-sama dengan Pak Rico yang playboy ini ? Huhhf…’


Arini yang mendengar permintaan Rudi sebenarnya merasa sangat keberatan, tapi apa boleh buat, ia harus tetap bersikap professional. Ia tentu tidak bisa menolak pekerjaan tersebut hanya karena alasan tidak suka berdekatan dengan lelaki yang sedari tadi duduk dikursi Vera itu sambil terus mengawasinya lekat, kan ?


“Baiklah Pak Rudi, saya akan berusaha melakukannya,” berucap lesu sambil menerima file dokumen yang dimaksud dari tangan Rudi. Tepat disaat yang sama, lelaki bernama Rico Chandra Wijaya itu sudah berdiri disisi Rudi dengan wajah yang dipenuhi senyum secerah mentari pagi.


“Sebaiknya kami menggunakan ruangan meeting agar lebih leluasa bekerja.” ucap Arini perlahan sambil menatap Rico yang menganguk dengan mimik yang sangat bersemangat. Arini bangkit dari duduknya meskipun masih dengan rasa enggan. “Baiklah, mari Pak Rico, sebaiknya kita langsung kesana sekarang,” sambil memeluk map file didadanya ia langsung berjalan kearah ruangan meeting yang letaknya ada dilantai itu juga.


Rico tersenyum menatap Arini yang ngeloyor begitu saja dengan sikap yang masih acuh tak acuh. Sebelum ia menyusul wanita itu Rico sudah menatap Rudi terlebih dahulu sambil tersenyum lebar.


“Terimaksih yah, Rudi,”


“Sama-sama, Pak, dan saya minta maaf atas ketidak nyamanan ini,”


“Sstt.. tidak apa-apa. Justru ini adalah ketidaknyamanan yang berakhir dengan sangat baik...” Rico berucap sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Rudi yang membuat Rudi bergidik.


“Berakhir dengan sangat baik ? Apa maksudnya, Pak Rico ?” Rudi mengerinyitkan alis tak mengerti dengan arah kalimat Rico.


Rico sontak menggeleng santai. “Ahh.. tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan.. baiklah, aku pergi dulu..” ucapnya seraya berlalu begitu saja dari hadapan Rudi dengan bersiul kecil.


Sikap Rico yang seperti itu membuat perasaan Rudi menjadi semakin tidak enak. Tiba-tiba feeling Rudi mengatakan bahwa sepertinya ia telah melakukan kesalahan dengan membuat Arini bekerja bersama Pak Rico. Apa yang akan terjadi kalau sampai Pak Tian tau mengenai hal ini ?


Ya, ampun.. aku sungguh ceroboh, tapi mau bagaimana lagi..?


Rudi membuang nafasnya berat. Ia baru saja melirik arloji yang ada dipergelangan tangannya manakala ponselnya tiba-tiba berbunyi. Rudi meraih ponselnya tersebut, dan langsung menekan icon terima panggilan saat mengetahui yang menelpon adalah Tian.


“Halo, Pak Tian,”


“Rudi, susah sekali sih menghubungi ponselmu..? Kamu ada dimana ? Kenapa kamu membiarkan Rico menunggumu dengan duduk dihadapan istri saya ?!”


“Hah ?” Rudi terhenyak mendengar kalimat beruntun yang diucapkan dengan nada kesal diseberang sana. “Pak Tian, tadi Pak Rico tidak duduk dihadapan bu Arini, melainkan dikursi vera..”


“Kamu ini seperti tidak mengenal Rico saja..! Pergilah kesana sekarang, berikan apa yang dia inginkan dan suruh dia cepat pergi !”


Klik.


Pangggilan itu diputus begitu saja


dengan sepihak oleh Tian yang benar-benar gusar karena sudah termakan umpan Rico dengan mudah. Tian bahkan hampir membanting ponselnya sendiri saking kesalnya.


Bagaimana tidak, disaat dirinya sedang dalam keadaan kalut memikirkan laporan Haris tentang beberapa aktifitas mencurigakan di apartemen yang semakin intens, Tian malah terjebak pada keadaan delay saat transit penerbangan Dubai-Jakarta yang sudah menyita waktunya lebih dari lima jam.


Dan dengan berbagai kekalutan


dibenaknya, Tian mendapati kenyataan bahwa disaat yang sama, Rico sahabatnya yang gak ada akhlak itu sedang berusaha menggoda Arini, istrinya. Meskipun Tian tau persis ulah Rico itu hanya sebatas keusilan Rico semata, namun hati Tian tetap saja tidak bisa diajak kompromi. Tian terus saja merasa kesal, marah dan cemburu tanpa henti !

__ADS_1


Rudi masih setia melongo menatap ponselnya yang telah kembali kelayar default. Ia akhirnya mendapat kesimpulan bahwa sepertinya pesawat Pak Tian benar-benar mengalami delay, karena buktinya Pak Tian masih bisa menelponnya. Rudi meyakini hal itu karena mengingat penerbangan dari Dubai bisa memakan waktu sekitar delapan jam lebih. Pantas saja Pak Tian merasa sangat kesal. Terjebak delay nyaris tiga jam ditambah waktu transit yang seharusnya.. berarti sudah ada sekitar lima jam lebih Ceo Indotama group itu terjebak di Bandara Internasional Dubai.


Sesaat Rudi kembali mengingat bagaimana kemarahan Pak Tian tadi. Hanya karena mencurigai keusilan Pak Rico yang katanya duduk dihadapan istrinya ? Hhh.. Pak Rico.. kenapa anda melakukan hal aneh seperti itu sih ? Apakah anda tidak tau dengan ulah usil seperti itu saya-lah yang akan selalu menerima getahnya ?


Astaga.. belum habis persoalan yang satu, sudah datang lagi persoalan yang lain. Rudi mengusap wajahnya, ia bahkan belum sempat melaporkan tentang kesalahan dokumen Best Electro, tapi Pak Tian sudah emosi seperti itu.


Tidak.. tidak.. melihat kemarahan Pak Tian, sebaiknya ia tidak usah dulu memberitahukan kesalahan kecil ini. Apalagi jika Pak Tian tau kalau sekarang istrinya ada diruangan meeting bersama Pak Rico ? Ya ampun.. sebaiknya sekarang ia harus secepatnya mencari solusi dari kondisi saat ini..!


Rudi memutar otak sejenak sampai akhirnya sebuah solusi sederhana melintas dibenaknya. Dengan serta merta Rudi mendekati kubikel yang ada disisi Arini.


“Meta,” panggil Rudi pada wanita yang menempati kubikel itu.


“Iya Pak Rudi ?” Meta yang terlihat


sedang mengetik sesuatu langsung mendongak saat mendengar Pak Rudi memanggilnya.


“Meta, pergilah keruangan meeting sekarang. Bantulah Arini dan Pak Rico untuk memperbaiki beberapa dokumen PT. Best Elektro sampai selesai,”


“Baik, Pak,” tanpa banyak bertanya Meta langsung menganguk menyanggupi perintah Pak Rudi, asisten pribadi Ceo indotama


Group itu.


‘Setidaknya dengan kehadiran Meta, Pak Tian tidak akan terlalu gusar karena bu Arini tidak berdua saja dengan Pak Rico didalam sana,’


Rudi berucap dalam hati sembari menarik nafas sedikit lega saat melihat Meta yang langsung beranjak kearah meeting room.


XXXXX


Nama Haris yang sedang melakukan panggilan muncul dilayar ponsel Tian. Padahal Tian baru saja hendak mengaktifkan mode pesawat pada ponselnya begitu suara merdu announcement yang memberitahukan informasi untuk penumpang Emirates Airlines tujuan Dubai-Jakarta diminta untuk segera menaiki pesawat udara. Dengan waktu yang sangat terbatas Tian langsung memutuskan untuk menerima telepon itu dengan terburu-buru.


“Iya Haris, ada apa ?”


“Maaf Pak Tian, saya hanya ingin memastikan apa yang harus saya lakukan..”


“Haris, saya tidak bisa mengambil


keputusan tanpa memikirkannya, karena saat ini posisi saya sudah harus naik pesawat. Begini saja..


koordinasikan semuanya dengan Rudi, sekarang saya bahkan


hanya bisa memepercayai kalian berdua untuk memutuskan dan mengambil tindakan yang tepat. Satu hal yang harus kalian ingat, ambilah tindakan jika keadaannya benar-benar tidak bisa dikendalikan. Ingat baik-baik Haris.. saya ulangi sekali lagi, hanya jika keadaannya benar-benar tidak bisa dikendalikan.”


“Baiklah Pak Tian.. kalau begitu saya akan mengikuti alurnya dengan membiarkan bu Arini seperti biasa,”


“Hemm.. biarkanlah dia pulang ke


apartemen seperti biasanya, berusahalah membuat dia nyaman dan tidak merasa sedang terjadi sesuatu..”


“Saya mengerti pak Tian,”


“Haris..”


“Iya, Pak..”


“Seperti yang kamu tau, kan. Bahwa kalian yang akan menanggung konsekwensinya, jika kalian salah mengambil keputusan. Ingatlah, saya sudah menaruh semua kepercayaan dipundak kalian !”


“Baiklah, saya mengerti, Pak Tian..”


Jam sudah menunjukkan hampir pukul enam sore saat Arini dan Meta sudah menyusun lembar demi lembar dokumen PT. Best Elektro. Sementara Rico yang ada dihadapan mereka nampak sedang mengecek pesan masuk yang ada diponselnya.


Arini mengerling kearah lelaki itu


sejenak. Ternyata meskipun terkenal playboy, dan terlihat sedikit pecicilan, dalam bekerja Pak Rico merupakan orang yang sangat serius. Ia tidak menampakkan keusilannya sama sekali sampai mereka usai memperbaiki dokumen yang mereka kerjakan yang dibantu Meta dan asisten Pak Rico yang bernama Dani yang datang menyusul bos-nya.


Diam-diam Arini salut terhadap Rico. Kekhawatirannya sejak awal bahwa dirinya akan merasa tidak nyaman selama bekerja terbukti tidak benar. Aura lelaki itu disaat sedang serius bahkan terlihat begitu dingin dan datar, mengingatkan Arini pada sosok Tian.


‘Tian ?’


Bahkan hanya menyebut nama Tian dalam hati sudah membuat Arini sesak.


“Apakah semuanya sudah selesai, Dan ?” Rico bertanya sambil mengangkat wajahnya, menatap mereka bertiga yang sudah selesai membereskan semua dokumen yang ada.


“Sudah, Pak, semuanya sudah beres,”


Rico menganguk kemudian menatap Meta dan Arini dengan lebih intens. “Terimakasih, berkat kalian berdua, akhirnya semuanya bisa selesai diperbaiki,”


“Tidak apa-apa Pak Rico, ini sudah


merupakan bagian dari tugas kami,” ucap Arini yang diiyakan Meta dengan gerakan menganguk kecil.


“Oh, yah.. bagaimana kalau kita makan malam bersama. Biar aku yang traktir.. anggap saja sebagai rasa ucapan terimakasih kepada kalian berdua, bagaimana ?”


“Maaf, Pak Rico, sepertinya aku tidak bisa, aku harus segera pulang,” Arini menggeleng cepat, ia tidak peduli dengan tatapan protes Meta kepadanya.


“Wah.. padahal aku sangat berharap.” wajah Rico terlihat kecewa. “Baiklah, kalau begitu biarkan aku mengantarkan kalian pulang..” tawar Rico lagi tidak serta merta putus asa.


Arini menarik nafas sejenak, mencibir dalam hati.


‘Haiihh.. dan setelah urusan pekerjaan selesai akhirnya sifat asli Rico Chandra Wijaya keluar sudah. Perayu.. sedikit memaksa.. suka mencari kesempatan.. ck ck ck, padahal tadi saat bekerja, lelaki ini sangat keren dengan tampang dinginnya yang sedikit arogan..’


“Tidak usah repot-repot, Pak Rico, Meta membawa kendaraan sendiri..” lagi-lagi Arini yang menjawab. Arini tidak mempedulikan tatapan protes Meta yang lagi-lagi mengarah kepadanya. Lagian.. kenapa juga sih Meta ? Dia kan memang memiliki kendaraan sendiri.. untuk apa berharap diantar pulang Pak Rico segala.


“Oh, yah ? lalu bagaimana denganmu ?”


“Aku.. tempat tinggalku tidak terlalu jauh, Pak, aku biasanya naik ojek. Sebentar juga sampai kok,” imbuh Arini.


“Ojek ?” Rico mengerinyit.


“Iya, Pak Rico aku sudah terbiasa,”


“Arini, ini sudah hampir malam,


sebaiknya aku akan mengantarmu pulang saja,”


“Tidak, Pak.. justru karena sudah malam, makanya lebih kalau aku naik ojek online..”


“Kenapa ?”


“Tidak apa-apa, Pak Rico..”

__ADS_1


“Kalau tidak apa-apa, lalu kenapa aku tidak boleh mengantar ?”


“Aku..  aku hanya..” Arini menggigit bibirnya seraya melirik Meta yang ada disampingnya.


Meta menarik nafas pelan sebelum akhirnya membuka suara. “Maaf, Pak Rico, biar aku saja yang mengantarkan Arini.. aku kan bawa mobil juga,” Meta berucap menyelamatkan Arini dari situasi canggung yang menderanya.


Rico tersenyum simpul. “Oh.. kamu takut ada yang marah kalau aku mengantarmu pulang yah ?” lelaki itu sudah tersenyum-senyum menggoda.


“B-Bukan seperti itu..”


‘Cihh.. Pak Rico ini kenapa sih ? membuat dirinya serba salah saja..’


“Kenapa ? Sudah punya pacar rupanya ?”


Arini menelan ludahnya dalam diam.


“Takut pacarmu cemburu ?”


Meta yang merasa gemas sendiri melihat usaha gigih Rico mendekati Arini sontak berbisik kearah Rico. “Bukan pacar.. pak Rico, tapi paksu..” bisik Meta.


“Paksu..?”


“Ahh.. iya baiklah Pak Rico, maaf kami duluan, ayo Met..!” Arini langung menyeret lengan Meta dengan tergesa-gesa, Meta yang sempat berusaha memberontak karena belum rela beranjak dari tempat itu akhirnya tidak bisa melawan Arini yang tiba-tiba saja seperti memiliki kekuatan yang berkali-kali lipat.


“Egh..?” Rico melongo melihat pemandangan dua wanita yang saling tarik menarik itu hingga keluar dari meeting room.


Arini tidak hanya menggandeng paksa Meta.hingga keluar meeting room, melainkan sampai mereka berdua masuk kedalam lift.


“Arini, apa-apan sih ?” Meta protes


begitu lift sudah bergerak turun.


“Kamu tuh, kenapa sih bicara seperti itu pada Pak Rico ?”


“Kalu tidak begitu dia mana mau berhenti menggodamu..? huh, membuatku cemburu saja,” protes Meta sambil manyun.


Arini yang melihat ekspresi Meta sontak tertawa ngakak. “Cemburu..? ambil gih..!” ledek Arini.


“Pak Rico hanya sibuk mencari


perhatianmu terus. Makanya biar saja aku sudah membuatnya K.O. siapa suruh menggoda istri orang !”


Arini menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi dalam hati Arini juga merasa ada baiknya juga kalau Rico tau dia sudah bersuami. Yah.. siapa tau dengan begitu lelaki itu benar-benar berhenti menggodanya.


“Arini, apa kamu mau pulang denganku ?”


“Tidak, aku sudah memesan ojek online,” sambil memperlihatkan ponselnya yang sedang membuka aplikasi ojek online langganannya.


“Ya sudah kalau begitu, aku balik duluan yah..”


“Iya, Meta, hati-hati dijalan.”


“Sip.. kamu juga hati-hati yah,”


Arini membalas ucapan Meta sambil menganguk, dan mereka pun berpisah begitu pintu lift terbuka kembali dilantai dasar.


 


Sementara itu, masih di meeting room kantor pusat Indotama Group lantai lima belas..


“Dani..”


“Iya pak ?”


“Apa sih artinya ’paksu’ ?”


“Paksu ?” Dani mengerinyit. “Paksu.. bukankah itu kepanjangan dari ‘Pak Suami’..?” ujar Dani ragu-ragu.


“Hah ?? Pak Suami ??!” Rico terhenyak namun kepalanya langsung menggeleng berkali-kali. “Tidak.. tidak.. itu tidak mungkin..! begini saja, coba kamu cari di google, apa artinya ‘paksu’.”


Dani yang tidak mengerti dengan apa yang sedang diinginkan bos nya dari pembicaraan mereka ini akhirnya tak urung membuka juga ponselnya untuk searching google dengan tajuk : ‘arti dari paksu’.


“Bagaimana ? sudah ketemu, Dan ?” wajah Rico nampak tidak sabar.


“Sudah, Pak Rico !” tukas Dani.


“Coba kamu bacakan..”


“Benar yang saya katakan tadi, Pak, karena disini juga tertulis bahwa paksu itu adalah kepanjangan dari PAK SUami..”


Rico terhenyak.


“Memangnya ada apa Pak Rico ?”


“Aku tidak percaya kalau Arini sudah bersuami,” kilahnya masih tidak ingin percaya dengan kenyataan yang ada dihadapannya.


“Tapi sepertinya bu Arini memang sudah menikah, Pak..” imbuh Dani lagi.


Rico melotot mendengar ucapan Dani. “Sok tau. Memangnya kamu tau darimana ?”


“Loh.. masa selama ini Pak Rico tidak memperhatikan kalau dijari manis bu Arini sudah dihiasi cincin yang bermata berlian ?”


“Masa sih ?” Rico menggaruk-garuk kepalanya. Kali ini ia benar-benar lengah sampai-sampai tidak menyadari bahwa dijari manis Arini sudah bertuan, dan itu karena dia terlalu fokus menatap wajah Arini yang sederhana dengan sikapnya yang cuek luar biasa.


Sungguh Rico tidak menyangka bahwa seorang Arini yang sempat membuatnya penasaran ternyata sudah berstatus istri seseorang.


‘Siapa suaminya ? Ck ck ck.. lelaki bajingan itu pasti beruntung sekali bisa mendapatkan istri seperti Arini..’


Desis Rico dalam hati.


.


.


.


Bersambung…


lunas untuk hari ini yah..😊

__ADS_1


Bagi support dong.. 🤗


__ADS_2