CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2. 008 - TUGAS KHUSUS


__ADS_3

Meta beberapa kali mengerjapkan matanya. Dan meskipun Meta merasa bahwa matanya terasa sangat berat untuk dibuka, namun sebuah tangan kecil yang halus itu terus menerus mengusap lembut pipinya, seolah bersikukuh ingin merayu Meta agar membuka mata sekaligus menguatkan dirinya.


“Mommy..”


Suara bisikan kecil itu kembali terdengar menyentuh gendang telinga Meta, mendorong jiwanya dengan kuat untuk menemukan titik kesadarannya.


Saat Meta memicingkan matanya lagi, samar ia telah menangkap sebuah wajah kecil berada begitu dekat dengan wajahnya sendiri.


“Rei...?” tanpa sadar Meta bergumam.


“Mommy... ayo bangun...”


Tatapan Meta semakin jelas, tapi untuk lebih meyakinkan dirinya tidak sedang berhalusinasi Meta mengangkat salah satu tangannya berusaha menyentuh wajah mungil yang sedang tersenyum dengan pancaran mata dipenuhi jutaan bintang yang berkelap-kelip dipenuhi kebahagiaan.


Saat jemari Meta bisa mengelus pipi kecil yang berisi milik Rei dengan perlahan barulah Meta benar-benar sadar bahwa ia tidak sedang berhaluinasi, tepat saat Rei sudah menghambur guna memeluknya yang masih terbaring.


“Mommy jangan pelgi lagi..”


Saat tubuh Rei menempel padanya, Meta bisa merasakan suhu tubuh mungil Rei yang masih terasa hangat. “Rei sayang... maafkan mommy yah...?” bisik Meta dipenuhi sesal saat menyadari bahwa bisa jadi dirinya ikut andil sebagai penyebab Rei jatuh sakit.


Bocah itu mengangguk kecil tanpa mengangkat wajahnya. “Lei kangen mommy.. mommy jangan pelgi lagi..”


Mendengar rengekan manja Rei membuat Meta ingin meraih tubuh mungil itu dengan kedua lengannya sekaligus, namun sebuah tangan besar tiba-tiba sudah menahan laju pergerakan tangan kirinya begitu saja.


“Jangan bergerak dulu..”


Meta melotot saat melihat siapa gerangan pemilik tangan besar yang sudah menahan pergelangan tangannya itu, dan menekannya keatas bantal yang menjadi penyangga. Ingin mengajukan protes tapi lelaki itu keburu berucap lagi...


“Ada jarum infus yang sedang menancap di tangan kirimu. Kalau kamu terlalu banyak bergerak nanti bisa berdarah...”


Meta sontak memalingkan wajahnya kearah tangan kirinya, dan benar saja, ia menemukan selang infus yang terhubung disana, lengkap dengan sebuah tangan besar yang masih bertengger dengan setia, membuat sekujur tubuhnya seolah dialiri rasa hangat yang aneh.


“Aku dimana ?” bertanya sambil membuang wajah dari pemandangan yang tiba-tiba membuat jantungnya berdetak tak normal.


“Dirumahku.”


“Lalu... siapa yang memasang jarum infus ini?”


“Tukang kebun.”


Meta terhenyak mendengar jawaban nyeleneh yang terucap tanpa beban dari bibir Rico. “Apa?!”


“Pertanyaan seperti itu apa masih perlu ditanyakan? tentu saja dokter yang memasangnya.” menjawab dengan nada keki.


Meta melotot mendengar jawaban pongah tersebut.


“Aku mau pulang.” berucap kemudian setelah terlebih dahulu meredakan sedikit kekesalan yang timbul dihatinya.


“Tidak boleh.”


“Ibuku akan mencari kalau aku tidak pulang. Lagi pula besok aku harus bekerja.” berucap seraya merapatkan giginya, agar kalimatnya tidak bisa ditangkap Rei dengan mudah, karena saat ini bocah itu terlihat sedang asyik memainkan pita kecil yang ada dikerah hem yang dipakainya, dan tenggelam dalam keasyikannya layaknya seorang bocah yang menemukan sesuatu yang mencuri perhatiannya.


“Ibumu tidak akan mencari selama tiga hari ini karena beliau mengira kamu sedang tugas keluar kota. Kamu hanya perlu menelponnya saja. Dan mengenai urusan pekerjaanmu, mulai besok kamu tidak perlu pergi ke kantor pusat Indotama Group lagi..”


“A-apa maksudmu?”

__ADS_1


“Tian sudah memberikanmu tugas khusus menangani semua administrasi yang menyangkut proyek Indotama Times Square.”


“Tugas khusus? Indotama Times Square?”


“Hhmm..”


“Jadi itu artinya...”


“Kamu akan bekerja dari rumahku mulai besok.”


“T-tapi aku...”


“Gajimu double. Karena selain kamu akan menerima gaji seperti biasa dari Indotama Group, kamu juga akan mendapat premi khusus dari proyek Indotama Times Square yang sedang aku tangani.”


Meta melotot. Apa-apaan ini? kenapa sekarang lelaki egois ini sudah mengatur seluruh perputaran kehidupannya?


“Kenapa melotot? apa saat ini kamu sedang menuduhku mengatur seluruh kehidupanmu?”


Meta semakin terhenyak.


'Astaga.. apa lelaki ini dukun? saat ini dia bahkan bisa mengetahui dengan mudah apa yang sedang aku pikirkan didalam otakku ini...'


Bathin Meta takjub bercampur geram.


“Bosmu Sebastian Putra Djenar yang sudah menugaskan dirimu untuk pekerjaan itu. Sudah sepantasnya sebagai bawahan, kamu menerimanya kan? ini merupakan keputusan pimpinan.”


Mendengar kalimat formil itu Meta melengos dalam hati.


‘Cihh... keputusan pimpinan? memangnya siapa yang tidak tau dirimu?'


Rico Chandra Wijaya, adalah satu-satunya orang yang sejak awal bisa meminta apa saja kepada Ceo Indotama Group. Meta bahkan tidak merasa kaget dengan keputusan mengenai dirinya yang ditunjuk untuk membantu pelaksanaan proyek Indotama Times Square karena sudah pasti lelaki ini juga yang berada dibalik semua keputusan yang diterimanya saat ini.


Ingin protes?


Tentu saja...!


Armetha Wulansari, tidak mungkin tunduk begitu saja oleh keputusan semena-mena lelaki dihadapannya ini kan?!


Berucap dalam hati, seraya nekad menentang tatapan lelaki sombong yang sedang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi itu.


“Mommy...”


Meskipun sudah bersikukuh tidak ingin mengalah dalam drama adu tatap yang sedang berlangsung sengit antara dirinya dan pak Rico, akhirnya Meta harus mengalah juga karena suara mungil Rei yang tiba-tiba menyeruak menyapa gendang telinganya.


Meta menundukkan wajahnya untuk mendapati Rei yang sedang menatap dirinya dan pak Rico berganti-ganti dengan tatapan heran.


“Apa mommy sedang kesal dengan daddy...?” kemudian bocah yang berumur dua tahun lebih itu berpaling kearah Rico. “Daddy, jangan malah...” imbuhnya lagi seolah ingin protes saat mendapati wajah Rico yang juga sedang menatap Meta dengan wajah dingin dan mengeras.


Meta yang terhenyak sontak menggelengkan kepala secepatnya. “Tidak... tidak sayang... mommy tidak sedang kesal kepada siapapun...” berusaha menyunggingkan senyum untuk Rei yang masih menatapnya curiga.


Sementara Rico yang mendengar kalimat bernada protes Rei barusan langsung meraih bocah lelaki itu yang awalnya berada dalam pelukan Meta kemudian dibawanya kedalam pelukannya. “Daddy juga tidak sedang marah...” berucap sambil menyuguhkan senyum kearah Rei, mendaratkan ciuman hangat dipipi putranya itu.


“Daddy, ayo peluk mommy...” sepasang mata jernih Rei menatap Rico sungguh-sungguh.


Meta nyaris tersedak mendengar permintaan polos itu sedangkan Rico yang nampak lebih tenang terlihat hanya tersenyum menanggapi permintaan Rei.

__ADS_1


“Tidak boleh... mommy sedang sakit, tidak boleh dipeluk...” berbisik kecil memberi alasan, membuat pipi Meta yang mendengar kalimat itu dengan jelas langsung dipenuhi semburat saat mendengar alasan yang dilontarkan oleh suara berat milik Rico. Entah kenapa dirinya merasa sangat malu berada dalam situasi seperti ini.


“Kenapa tidak boleh?” bertanya dengan nada polos.


“Nanti tangan mommy berdarah...” ucap Rico lagi-lagi memberi alasan yang mengada-ada, seraya menunjuk tangan Meta yang tertancap jarum infus.


“Tidak boleh peluk...?”


“Iya sayang, tidak boleh...”


Rei menatap Rico yang masih terlihat melakukan gerakan menggeleng berkali-kali. Seolah meragukan pernyataan daddynya sendiri.


Sejenak bocah kecil itu perlahan turun dari pelukan Rico dan naik kembali keatas ranjang Meta, langsung memeluk Meta begitu saja.


“Boleh Daddy, mommy tidak akan beldalah kalau dipeluk.. ayo peluk mommy, daddy..”


Rico mematung sambil menatap Meta kebingungan.


“Mommy... ayo...” mengambil tangan Meta dan menautkannya begitu saja dengan tangan Rico, yang berdiri dengan raut wajah yang mulai gelisah, sementara Meta semakin gelagapan.


“Daddy, peluk mommy...” Rei mulaij menarik ujung baju Rico dengan sedikit memaksa, membuat Rico beringsut kedepan. Belum sempat Meta memikirkan apa yang harus ia lakukan manakala pandangannya menggelap begitu saja...


Rico yang merasa tidak tega melihat tatapan Rei yang penuh permohonan akhirnya harus menanggalkan rasa enggan yang bergelayut dihatinya. Tanpa merasa perlu mendengar pertimbangan Meta terlebih dahulu Rico langsung merengkuh Rei yang berada dipelukan Meta... merengkuhnya sekaligus dengan tubuh wanita itu.


Rico berhasil membawa kedua tubuh itu kedalam pelukannya.


Mendekapnya dengan berhati-hati namun begitu lembut...


Adegan yang manis itu mau tak mau membuat aroma maskulin khas Rico menyelimuti Meta begitu saja.


Menguasai indera penciuman Meta...


Meremas kuat keluar masuknya jalan nafas Meta yang tercekat...


Melumpuhkan pergerakan otak kanan dan kiri Meta sekaligus...!


Rei tertawa senang saat mendapati tubuh mungilnya yang terhimpit diantara tubuh Rico dan Meta. Bocah itu langsung menangkup wajah Meta dan mendaratkan ciuman, sedetik kemudian berpindah menangkup wajah Rico dan kembali mendaratkan ciuman.


Rico dan Meta yang semula masing-masing terasa kikuk dengan posisi tersebut mendadak tersenyum mendapati sikap Rei yang begitu manis.


Senyum mereka berdua mengembang sempurna melihat sinar kebahagiaan yang terpancar dari sepasang mata Rei sebelum akhirnya senyum itu tenggelam tiba-tiba saat celoteh riang Rei lengkap dengan sorot mata yang berbinar terdengar mengudara mengisi ruang diantara mereka...


“Daddy.. ayo cium mommy..”


.


.


.


Bersambung..


Like, Vote, Comment seperti biasa yah... 😍


Lophyuu all... 😘

__ADS_1


__ADS_2