CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 055


__ADS_3

Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘


Ditunggu kunjungannya di :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏


.


.


.


“Siapa..?”


Rudi bertanya begitu Meta menaruh ponselnya keatas meja.


“Pak Rico..”


Alis Rudi pun bertaut sempurna tanda keheranan yang mendera. “Masih memanggilnya pak Rico..?”


“Ini kan dikantor..” pungkas Meta secepat kilat, membuat sepasang mata rudi bersinar jahil.


“Jadi kalau dirumah memanggilnya apa ?”


Meta terdiam, namun semburat diwajahnya mewarnai kedua pipinya begitu saja.


“Honey ?”


Masih diam.


“Sayang ?”


“Apa sih..!” protes Meta sambil melotot.


Rudi tertawa tanpa suara. “Ayo makan..” ujar Rudi kemudian sambil meraih salah satu lunch box dan membukanya.


Meta yang tadinya merenggut akhirnya melakukan hal yang sama. Dan akhirnya mereka menikmati makan siang itu dengan mengobrol ringan, bertukar kabar sebagai basa-basi pengantar sebelum terlibat obrolan seru tentang ritme pekerjaan.


Meta menaruh lunch box miliknya yang telah tandas itu keatas meja, saling bertumpu dengan lunch box milik Rudi yang telah lebih dahulu menghabiskan makan siangnya. Ia meraih botol air mineral kemasan yang ada diatas meja, kali ini tidak seperti Rudi yang memilih menenggaknya langsung dari mulut botol, Meta tetap memilih menggunakan pipet yang terselip di merk botol tersebut untuk merasakan kesegaran air mineral yang diteguknya.


“Meskipun terlambat tapi aku tetap ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu..” Rudi melirik ke wajah putih Meta yang ada disampingnya.


“Aku juga ingin mengucapkan hal yang sama. Selamat atas pernikahanmu.. aku sungguh terkejut dan tidak menyangka, jika ternyata kita telah menikah dihari yang sama..”


Rudi tersenyum datar. “Aku pikir setelah menikah dengan seorang Ceo, kamu akan mengikuti jejak ibu Arini. Tinggal dirumah dan melakukan peran seorang istri yang seutuhnya, mengurus suami dan anak-anak..”


“Itu terdengar membosankan..” pungkas Meta cepat dengan maksud bercanda.


Rudi tertawa kecil mendengar candaan itu.


“Kamu sendiri bagaimana ? istrimu juga seorang Ceo, tentu sangat jauh dari gambaran wanita yang akan tinggal dirumah untuk mengurus suami dan anak-anak kan..”


“No.. no.. no.. kalau itu lain cerita..”


Meta mencibir melihat Rudi yang mengelak dari pembicaraan. “Kenapa ? apa Laras menolak jika harus tinggal dirumah dan menunggumu pulang ..?”


Rudi menggelengkan kepala dengan serta-merta. "Entahlah.. kami malah belum pernah membicarakannya..” ujar Rudi lagi setelah berfikir sejenak.

__ADS_1


Kenyataannya orientasi aktifitas dirinya dan Laras selama ini memanglah hanya berputar pada seputaran ranjang semata, dan belum pernah sekalipun mereka membicarakan hal-hal yang berat, terlebih menyangkut masa depan tentang rumah tangga mereka yang entah akan dirancang seperti apa.


“Aku dengar kamu jadi sering bolak-balik kota B..”


“Hanya jika weekend. Itupun kalau pekerjaan sedang tidak padat. Kalau jadwal sedang padat seperti sekarang.. hal itu menjadi tidak memungkinkan. Dua kali weekend terakhir ini aku malah tidak pernah punya waktu lagi kesana..”


“Memangnya pak Tian masih sekejam itu padamu ? sekarang ini kamu kan adik iparnya.. masa iya tidak ada kelonggaran sedikit pun..?”


Mendengar itu Meta langsung dihadiahi pelototan khas Rudi. Selalu seperti itu.. dan ekspresi lelaki ini tidak pernah berubah setiap kali Meta menggosipkan sang Ceo, yang seolah menjadi kiblat kehidupan seorang Rudi Winata.


XXXXX


Rico memperhatikan dua orang ob yang sedang merapikan meja bekas makan siangnya dengan Tian barusan. Matanya memang terlihat menatap aktifitas kedua ob tersebut namun sesungguhnya fikiran Rico sedang berada ditempat lain.


‘Shit !’


‘Sudah cukup !’


Rico membathin saat ia tak kuasa lagi mengendalikan dorongan dari keinginan hatinya yang begitu ingin menuju rooftop, dimana Tian telah menyulap tempat tertinggi dari gedung kantor pusat indotama group itu hingga menjadi sebuah mini garden.


Entah kenapa bayangan adegan super gila dimana Rudi dan Meta yang menikmati makan siang dengan saling suap-suapan mesra ditempat romantis, diatas puncak tertinggi gedung indotama group itu. seperti menghantui fikirannya terus-menerus sejak tadi sehingga membuat Rico tidak berselera dalam menikmati menu makan siangnya. Nafsu makan Rico seolah menghilang begitu saja.


“Tian.. aku keluar sebentar,” pamit Rico tak tahan lagi.


“Egh, mau kemana ?” Tian bertanya keheranan begitu Rico sudah beranjak dari posisinya yang sebelumnya hanya bersandar malas di sofa.


“Hanya sebentar..” bukannya menjawab Rico malah terus berlalu hingga hilang dibalik pintu ruangan, meninggalkan Tian yang masih terbengong ditempat duduknya.


Berdiri didepan lift menunggu pintunya terbuka.. Rico nyaris terhenyak mendapati sosok mungil yang keluar dari dalam bilik lift yang hendak ia pakai juga, membuat Rico urung memasuki lift yang sudah tidak berpenghuni itu.


“Laras ?” berucap spontan.


“Sedang apa kamu disini..?” tanya Rico keheranan, karena setahunya Laras sedang berada di kota B dalam memenuhi target permintaan untuk Fashion Milan.


“Ingin membuat surprise..” ucap Laras yang dipenuhi keceriaan.


“Selamat, kamu sudah berhasil mengejutkan aku..” seloroh Rico sekenanya.


“Idihh.. siapa juga. Aku mau memberikan surprise untuk kak Tian dan juga suamiku..”


Mendengar kata ‘suamiku’ itu cukup membuat Rico tertawa sumbang. “Baguslah.. aku yakin suamimu itu pasti akan merasa sangat.. sangat.. terkejut dengan kehadiranmu ini..”


Laras memutar bola matanya mendengar kalimat Rico yang sedikit ambigu, namun ia memilih untuk tidak mengindahkannya.


“Kak Rico, apa meetingnya sudah mau dimulai..?”


“Belum. Meeting selanjutnya nanti akan dimulai lagi pada jam satu..”


Laras melirik arloji alexander christie yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. Dan memastikan masih ada setengah jam lagi sebelum meeting akan kembali diteruskan.


”Kebetulan..” desis Laras pada akhirnya, sedikit lega. Kemudian ia kembali menatap Rico dengan sepasang matanya yang berbinar.


“Kak Rico tau tidak kak Rudi ada dimana sekarang..?”


“Tentu saja.”


“Dengan kak Tian kan..?"


Rico malah belum sempat menjawabnya manakala Laras sudah kembali berkicau.

__ADS_1


"Pasti dengan kak Tian.. memangnya mau dengan siapa lagi..?” menebak dengan yakin namun akhirnya sedikit terhenyak mendapati gelengan kepala Rico yang melebihi keyakinanannya.


“Tidak yah ? lalu.. dimana ?”


“Rooftop.” jawab Rico tanpa merasa perlu memikirkannya dua kali, saking otaknya yang hanya terisi penuh dengan kekesalan sejak tadi.


“Mini garden ?”


Rico kembali mengangguk.


“Baiklah aku akan kesana saja..” tanpa berfikir dua kali Laras masuk kembali ke bilik lift yang sejak tadi masih terbuka dibelakangnya dengan langkah yang terayun ringan.


Dan pada saat itulah entah kenapa tiba-tiba Rico baru tersadar bahwa sepertinya ia sudah melakukan kesalahan, dan telah salah mengambil keputusan saat membeberkan keberadaan Rudi dan Meta kepada Laras, hanya karena dirinya sedang dipenuhi amarah.


“Laras, egh.. tunggu sebentar..”


Rico terpana menatap pergerakan lincah tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk nekad meloncat masuk kedalam lift disaat pintunya nyaris mengatup sempurna.


“Kak Rico akan kesana juga..?”


Rico membisu, sementara lift telah bergerak naik.


Merasa tidak lagi memiliki banyak waktu untuk memutuskan, Rico akhirnya memilih menatap Laras lekat.


“Laras.. maafkan aku, tapi sepertinya kamu juga harus tau satu hal terlebih dahulu..”


Laras terlihat menautkan alis melihat keseriusan di wajah Rico yang ada dihadapanya. “Ada apa sih kak ?” tanyanya keheranan.


“Kamu harus tau bahwa saat ini Rudi sedang makan siang di mini garden..”


“Lalu ?”


“Disana.. dia tidak sendirian..”


Laras terdiam sejenak. Mencoba mengartikan satu persatu kalimat Rico dengan fikiran yang tenang, sebelum akhirnya berucap perlahan.. “Apa kak Rudi sedang makan siang bersama istrimu, kak ?”


Rico tersenyum kecut mendengar penuturan Laras yang tepat sasaran, namun Rico bahkan masih tidak bisa menjawabnya.. sampai pintu lift terbuka dilantai puncak yang menjadi tujuan mereka berdua.


Kehadiran Rico dan Laras disambut oleh semilir angin yang menerpa lembut.. sementara itu dihadapan mereka hamparan rumput hijau telah menyapa sejauh mata memandang.


Seharusnya pemandangan yang ada semakin terasa menyejukkan hati dan mata.. namun kenyataannya semua itu sama sekali tidak berlaku untuk sepasang hati milik Laras dan Rico.. yang sama-sama sedang berdebar tak berirama..


.


.


.


Bersambung..


Ashiyappp... akhirnya pop-nya nyampe juga di 1,00 M. 🎉


Terima kasih banyak yah.. my Reader.. my Moodboster.. kesayangan author.. 😍



Jangan lupa buat yang belum, yukk.. favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. karena apapun dukungan kalian merupakan penyemangat author untuk terus berkarya.. 🥰


Thx and Lophyuu all.. 😘

__ADS_1


__ADS_2