
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, coment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR.. 🙏
.
.
.
Tian menunduk dengan mulut yang membisu, hanya menatap kedua tangannya yang berada dalam genggaman kedua tangan mungil Arini, terkulai begitu saja diatas pangkuannya.
Ia memutuskan kembali menarik nafasnya lagi sebelum akhirnya berucap perlahan. “Cerita tiga tahun yang lalu.. apa saja yang telah kamu ketahui ?”
“Tidak banyak...”
Tian terdiam lagi. Dalam fikirannya mereka-reka. Seharusnya hari ini.. detik ini.. adalah moment yang tepat untuknya mengucapkan semua kejujurannya. Setelah tiga tahun sedikit demi sedikit memupuk keberanian ternyata semuanya hanyalah si-sia. Entah kenapa menyadari bahwa Arini telah mengetahui ada sesuatu yang terjadi pada tiga tahun yang lalu membuatnya kembali meragu bahkan.. ketakutan..!
Sungguh.. ini sangat menakutkan untuk Tian. Bagaimana pun selama ini Tian memiliki kemampuan yang sangat hebat setiap kali membaca apa yang bercokol dibenak lawan bicaranya, namun kali ini gerak-gerik Arini yang tenang menunggunya membuatnya otaknya blank seketika.. membuat dirinya semakin berlari menjauh karena rasa takut pada dirinya sendiri.
“Nenek pernah menemuiku sekali..”
“K-kapan..” Tian membeliak, tidak percaya jika bibirnya sedang begetar saat ini.
‘Bagaimana mungkin aku lengah saat nenek menemui Arini..?’
“Sehari setelah nenek memergoki kita berdua diruanganmu..”
“Tapi.. bagaimana bisa ? dimana nenek bisa menemuimu ?”
Rumah dan kantor adalah tempat yang tidak mungkin. Para pengawal kepercayaan Tian bahkan lebih setia dan lebih awas dari benda mati seperti cctv, dan setiap jengkal langkah Arini selalu berada dalam pengawasannya. Lalu.. bagaimana mungkin nenek bisa mencari celah ?
“Besoknya sepulang kantor.. aku menemukan nenek telah berada didalam mobil yang dikendarai mang Asep.”
‘Pintar sekali..’
Tian mendesis dalam hati. Tentu saja.. wanita itu adalah Saraswati Djenar, yang sudah pasti tidak kalah pintar dari dirinya.
Saraswati pasti mengetahui dengan pasti bahwa memilih menunggu arini di dalam mobil yang terparkir di basement dengan sedikit mengancam mang Asep untuk menutup mulut, adalah satu-satunya celah mengecoh Tian agar tidak mengetahui bahwa sebenarnya Saraswati telah menemui Arini.
“Padahal nenek sudah berjanji untuk tidak akan pernah mencoba menemuimu setelah..”
“Setelah kesapakatanmu dengannya.”
Tian menelan ludahnya yang terasa kelu.
‘Itu berarti Saraswati telah membeberkan hasil kesepakatan mereka. Bahwa Tian telah berlutut dihadapan Saraswati, berjanji untuk bersedia mengikuti apapun keinginan Saraswati asalkan Saraswati bersedia menjalani teraphy pengobatan di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou..’
“Menemuimu sama artinya dengan nenek telah mengingkari janji.”
“Lalu bagaimana denganmu ?” pungkas Arini lirih.
Tian membasahi bibirnya.
“Apa kamu juga mengingkari janji, atau menepatinya sehingga diam-diam.. dibelakangku..”
“Tidak.” Tian menggeleng cepat. Wajahnya memucat saat melihat tatapan Arini yang berbalut ketenangan yang luar biasa namun dipenuhi keraguan. Tian menggeleng lagi. “Tidak sayang.. aku bersumpah aku tidak melakukannya.. percayalah..”
__ADS_1
Arini merasakan jemari Tian bergetar samar dalam genggamannya, entah kenapa hal itu malah membuatnya tertawa tanpa suara, tak peduli dengan tatapan Tian yang menatapnya bingung.
“Tiga tahun yang lalu.. setelah situasinya membaik, nenek kembali pulih.. kemudian Sean lahir.. dan hari-hari selanjutnya hanya diisi dengan keceriaan, kebahagiaan, berjalan dengan indah.. nenek dan aku bahkan sama sekali tidak pernah berusaha mengungkit pembicaraan yang sama lagi.. membuatku benar-benar nyaris melupakan pembicaraan dengan nenek pada waktu itu..”
Diam sejenak seolah mengatur nafas. Tapi diamnya Arini bak penantian seribu tahun untuk Tian. Tian merasa bathinnya semakin gundah dan tersiksa.
“Tapi.. sebelum meninggal nenek membicarakan hal yang aneh, yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak setiap kali mengingatnya. Beberapa minggu setelah kepergian nenek dan setelah pembacaan surat wasiat nenek yang telah mewariskan beberapa asset kepada Laras.. aku memutuskan untuk mengajak bicara Laras dikamar..”
Gigi Tian gemeretuk mendengarnya. Dirinya benar-benar kecolongan. Tian merasa harus menyiapkan mentalnya demi mendengar penuturan Arini selanjutnya.
'Sialan Laras.. jadi ternyata selama ini diam-diam Laras sudah mengkhianatiku ? setelah semua yang aku lakukan untuk mengambil hatinya ? aku bahkan selalu menurut padanya..? dan ternyata dia telah mengatakan semuanya kepada Arini ?'
“Laras telah mengatakannya padaku tentang rahasia besarmu.."
'Rahasia besarku..?'
Semuanya kini terasa semakin membingungkan, manakala tatapan mata Arini seperti bersinar iba.
'Ada apa..?'
Lagi-lagi Tian gagal mengartikannya.
"Dan wanita itu.. wanita yang dijodohkan nenek untuk kamu nikahi.. apa kamu sudah berani mengatakannya sendiri padaku dengan mulutmu saat ini..?”
Tian menatap Arini.
“Apa aku masih perlu mengatakannya ?” berucap gugup separuh kesal menyadari kenyataan yang ada.
“Tentu saja.”
“Bukankah kamu sudah mengetahuinya, sayang ? lalu untuk apa aku perlu menyebut namanya ?” Tian menjawab enggan, benar-benar menahan dirinya untuk tidak terhenyak.
“Baiklah..”
“Katakan dengan jelas..”
“Sayang pliss..” Tian membuang nafasnya berat, memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya menatap Arini lekat dengan tatapan memohon pengampunan.
"Katakan.."
“Larasati.”
Begitu mendengar sebait nama itu Arini gagal menguasai dirinya. Tian bisa merasakan tangan Arini yang menggenggamnya kuat. Meremasnya dengan getaran yang sangat terasa.
‘Tidak.. ini tidak mungkin.. bagaimana mungkin sepasang mata milik Arini memancarkan rasa keterkejutan yang luar biasa ?’
‘Tidak.. tidak Tuhan..’
Tian menggeleng berkali-kali.. hatinya mendadak diliputi kepanikan.
‘Sial…!’
‘Bodoh ! aku benar-benar bodoh !”
Tian merutuk dirinya sendiri, pasrah saat menyadari.. bahwa dirinya telah terjatuh dalam perangkap istrinya sendiri.
XXXXX
“Turunkan saja aku didepan sana..”
__ADS_1
Kalimat Laras memecah keheningan yang ada didalam mobil sport milik Rudi. Jari telunjuknya menunjuk sebuah halte yang tidak lama lagi akan mereka lewati.
“Aku akan mengantarkanmu sampai dirumah.”
“Dasar bodoh ! apa kamu sengaja ingin semua orang tau kalau aku tidak pulang semalaman dan tiba-tiba muncul di pagi hari bersamamu ?!”
Rudi melengos. “Apa kamu tidak bisa bicara baik-baik tanpa mengumpat ?”
“Tentu saja bisa. Asal lawan bicaraku bukan dirimu !”
Bertepatan dengan kalimat yang terlontar dengan nada kasar itu, Rudi menginjak pedal remnya dengan kasar juga.
“Turun.” ujar Rudi dingin.
Laras melotot. “Aku bilang turunkan aku di halte didepan sana.. bukan disini..!”
“Sama saja. Kamu tinggal jalan kedepan.. apa susahnya ?”
Laras terdiam, seraya memandang halte didepan sana yang kira-kira masih harus ditempuh dengan jarak kira-kira lima puluh meter dari tempat Rudi menghentikan mobilnya saat ini. Mendadak Laras menelan ludahnya dengan perasaan getir.
“Kenapa diam ? aku menyuruhmu turun. Aku bahkan tidak sanggup berlama-lama denganmu lagi meskipun hanya sesaat..!”
Laras tetap membisu, menelan ludahnya kelu. “Aku.. aku tidak mau turun disini. Aku tidak mau berjalan..”
“Jangan manja.”
“Aku bersungguh-sungguh. Aku tidak mau berjalan sejauh itu.. apa kamu benar-benar tidak punya perasaan ? aku masih merasa sakit ! aku tidak bisa !”
Usai berucap demikian Laras membuang pandangannya ke samping, jauh keluar jendela dengan pandangan nanar. Dilubuk hatinya merasa malu saat harus mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan.. tapi mau bagaimana lagi ? lelaki tanpa hati ini benar-benar tidak peka dengan keadaannya yang remuk redam karena kebrengsekan lelaki itu..!
Rudi sedikit terhenyak saat menyadari apa maksud yang terkandung dalam perkataan Laras. Jarak kira-kira lima puluh meter itu tentu tidak seberapa.. tapi berjalan dengan keadaan Laras yang baru saja mengalami pertempuran sepanjang malam dengan dirinya.. itu.. itu sudah pasti sangat menyakitkan.
Diam-diam hati Rudi dililit rasa iba. Akhirnya tanpa bicara panjang lebar lagi ia kembali menyalakan mesin mobilnya sambil membisu, dan kembali menginjak rem perlahan serta menepikan mobilnya pas didepan halte seperti yang diinginkan Laras.
“Apa kamu akan memesan taxi online ?” bertanya perlahan sambil menoleh.
“Sudah tau masih sok bertanya..” menjawab dengan intonasi menggerutu kecil seraya menyelempengkan tas-nya acuh, bersiap keluar dari mobil Rudi tanpa berniat sedikit pun untuk balas menoleh.
“Hati-hati..” ungkapan itu terlontar begitu saja dari mulut Rudi.. yang dibalas Laras dengan lengosan kasar.
“Cihh..!”
.
.
.
Bersambung..
Tolong di Like,
Tolong di Comment
Tolong di Vote.
My readers.. my moodboster.. my all.. Thx and Love you forever.. jangan kecewa kalau author gak ontime update, yang jelas.. untuk bulan ini, karena level karya naik ke level 9 author berniat mau ngejar 60.000 kata biar dapet uang jajan dari NT.. 🥳
So.. udah pasti bakal up terus, bahkan lagi nyari waktu untuk up marathon.. Doain yah.. biar nyampe 60.000 kata diakhir bulan, dan mendapat level menggembirakan di awal bulan, agar usaha author gak sia-sia.. 🤗
__ADS_1
Besar harapan author atas dukungan kalian...🥰