CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Berbicara dengan nenek


__ADS_3

“Sayang.. sebaiknya kamu beristirahat lagi yah..” Tian mengusap kepala Arini, membujuk wanita yang sejak tadi terus menatap dirinya tak berkedip, seolah-olah takut jika ia lengah sedetik saja maka Tian akan menghilang.


“Aku tidak mau tidur, aku takut bermimpi buruk lagi..” menggeleng kuat-kuat sebagai tanda penolakan.


“Aku mengantuk dan sangat lelah.. tapi kalau kamu tidak tidur, aku juga tidak mungkin bisa tidur sayang..” pungkas Tian bersungguh-sungguh.


Tian memang merasa sangat mengantuk karena saat tiba dirumah sakit tadi sekitar jam satu dini hari dan menemukan Lila yang tertidur diranjang khusus keluarga serta Rico yang tertidur di sofa, Tian memang belum ada sekalipun memejamkan matanya lagi hingga sekarang nyaris pukul empat shubuh.


Dari Rico dan Lila pula Tian mendapatkan berita bahagia bahwa menurut penjelasan dokter Hans, hasil test darah yang dilakukan menunjukkan bahwa Arini memang sedang mengandung buah cinta mereka dengan perkiraan umur janin sekitar sembilan minggu.


Dokter Hans juga menyarankan agar setelah kondisi Arini membaik sebaiknya ia juga menindaklanjuti hasil pemeriksaan tersebut ke dokter Rina selaku dokter obygyn untuk mendapatkan penjelasan yang lebih detail.


Setelah kehadirannya dan setelah memberitahu perihal kabar bahagia yang nyaris membuatnya meledak itu, Tian meminta Rico untuk segera pulang kerumah dan membawa Lila bersamanya.


Tian benar-benar tidak tega melihat Lila memaksa tidur dirumah sakit untuk menunggui Arini dengan kondisi hamil besar seperti itu.


Meskipun sempat menyampaikan keberatannya akhirnya Rico dan Lila bersedia juga menurutinya untuk pulang dan beristirahat dirumah.


Mendengar permintaan Tian yang bersungguh-sungguh membuat Arini merasa bimbang. Disisi lain ia tidak bersedia memejamkan matanya karena takut kembali bertemu dengan pelakor berwajah belia yang menemuinya tadi didalam mimpi buruknya, namun disisi lain Arini juga tidak tega melihat wajah kusut Tian yang sangat letih dan terlihat mengantuk.


“Baiklah, aku berjanji akan selalu memegang tanganmu seperti ini sampai nanti kamu bangun. Bagaimana..?” tawar Tian lagi terus mencari cara untuk membuat Arini bisa kembali tidur disisa penghujung hari yang tidak lama lagi akan dikunjungi mentari pagi.


Arini masih terdiam, namun tangannya terus menggenggam jemari Tian kuat-kuat.


“Kalau kamu tidak istrirahat sekarang, nanti yang ada disini akan ikut-ikutan begadang juga. Memangnya tidak kasihan dengan si kecil..?” berucap demikian seraya mengusap perut rata Arini dengan penuh kasih sayang.


“Baik.. tapi janji yah.. kamu akan memegang tanganku terus sampai nanti aku bangun..” mendengar kata ‘si kecil’ Arini langsung luluh begitu saja.


Tian tersenyum mendengarnya. “Iya aku janji.. aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu. Aku serius.” ujar Tian meyakinkan. Ia bangkit dari duduknya sejenak untuk mengatur posisi tubuh Arini agar nyaman, memberi kecupan singkat di beberapa bagian wajah Arini, baru kemudian ia menghantarkan kembali tubuh lelahnya keatas kursi yang ada disisi ranjang.


Tian terus mengusap punggung tangan seraya menatap wajah Arini hingga wanita itu benar-benar terlelap, sebelum akhirnya berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya juga dengan mencoba memejamkan mata.


Suasana pagi hampir menyapa dunia meskipun belum begitu sempurna..

__ADS_1


XXXXX


Belum ada tiga jam Tian memejamkan kelopak matanya manakala ia sangat terkejut dengan bunyi dering ponsel yang ada disakunya.


Tian bergerak cepat merogoh ponsel itu, khawatir jika deringnya akan mengusik tidur Arini yang terlihat lelap.


Tanpa berfikir dua kali Tian menekan icon hijau tanda terima panggilan saat menyadari nama Saraswati Djenar tertera jelas dilayar depan sedang melakukan panggilan.


“Halo, nek…” menyapa seraya menguap kecil.


“Tian, kamu sudah sampai?” suara khas milik Saraswati menyapa gendang telinga Tian.


“Iya, Nek. Maaf aku sengaja tidak memberi tahu karena aku tiba tengah malam, kalau aku langsung menelpon nanti bisa mengganggu waktu istirahat Nenek..”


“Tidak apa-apa.. lalu.. bagaimana keadaan Arini?”


“Semalam kondisinya sudah jauh lebih baik, Nek..”


“Syukurlah kalau begitu..” Saraswati mendesah lega. “Tian, Laras baru saja mengatakan bahwa shubuh tadi beberapa media online nampak ramai memberitakan tentang kehamilan istri Ceo Indotama Group. Apa itu benar?” tanya Saraswati seolah tidak sabar menunggu konfirmasi tentang berita tersebut langsung dari sumbernya.


“Iya, Nek.. semua itu benar. Aku juga baru mengetahuinya dari Rico saat tiba semalam, bahwa Arini ternyata benar-benar positif hamil. Dia sedang mengandung anakku.. cucu nenek..” Tian mengatakannya dengan bangga.


Namun usai berkata demikian Tian malah tidak mendengar lagi sahutan dari seberang.. melainkan sebuah isakan lirih  yang terdengar jelas diujung sana.


“Nek..?” panggil Tian merasa khawatir. “Nenek tidak apa-apakan? kenapa nenek malah menangis?”


“Aku sedang merasa sangat bahagia mendengarnya Tian.. bagaimana bisa yang di Atas sana tidak menghukumku, melainkan memberikan aku hadiah sebagus ini disaat aku nyaris melakukan kesalahan yang besar kepada kalian..” berucap lirih dan sedikit tersendat.


“Nek.. jangan berfikir seperti itu lagi. Tuhan memberikan hadiah yang indah untuk Nenek, karena Dia tau bahwa sebenarnya Nenek memiliki hati yang sangat lembut. Jadi sekarang aku minta, Nenek fokuslah pada kesehatan dan kesembuhan, serta menjalani semua proses ini dengan sabar agar kelak nenek bisa menggendong cucu yang selalu nenek impikan..”


“Iya Tian.. aku ingin sembuh secepatnya..”


Tian menarik nafas lega mendengarnya. “Oh ya, Nek.. ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan..”

__ADS_1


“Ada apa, Tian?”


“Nek, aku minta maaf karena aku mungkin tidak bisa mengabulkan permintaan nenek tentang kembali membawa Arini menemui nenek karena kondisi Arini yang sekarang..”


“Tidak.. tidak.. jangan kemari. Arini tidak boleh kemanapun disaat sedang  mengandung cucuku. Begitu semua perawatan ini selesai.. aku yang akan datang menemuinya dan calon cucuku itu. Tolong ingatkan Arini untuk hal ini, Tian.. “


Sifat mengatur dan mengintimidasi khas Saraswati Djenar telah kembali, namun kali ini Tian menerima semua sikap Neneknya itu dengan tertawa lepas, kemudian Tian berucap enteng seraya menatap Arini yang sepertinya karena terusik dengan suaranya yang sedang berbicara ditelpon sejak tadi, kini tengah mengawasi pembicaraannya dengan Saraswati tanpa berkedip.


“Bagaimana kalau nenek memberikan semua larangan itu langsung kepada orangnya? karena kalau hanya aku yang memberitahukan semua itu.. sepertinya menantu nenek ini masih akan memaksakan sikap keras kepalanya..” ujar Tian dengan nada mengadu.


Arini melotot sempurna kearah Tian saat mendengar kalimat lelaki itu.


“Apa Arini sudah bangun?”


“Sudah Nek, saat ini Arini sudah bangun dengan wajah yang sangat segar.. sepertinya dia sangat siap menerima semua nasihat nenek..”


Arini semakin melotot garang saat mendengar Tian malah menambah memanas-manasi semangat Saraswati yang sedang berkobar, saking senangnya mendapatkan apa yang ia impikan sejak lama, pewaris keluarga Djenar.


“Baiklah.. aku akan mengganti panggilannya dengan video call, berikan ponselmu pada Arini sekarang..” saat ini suara Saraswati malah terdengar lebih bertenaga


“Siyaapp nek..” nyaris tertawa saat berkata demikian sambil menyodorkan ponselnya yang telah berganti dengan panggilan video call itu kearah Arini yang menyambutnya dengan lesu.. saat membayangkan akan seberapa banyak aturan dan larangan Saraswati yang nanti akan diterimanya.. yang sudah pasti tidak mungkin berani ia bantah sedikitpun..


.


.


.


.


Bersambung…


LIKE, COMMENT, VOTE, dukung author terus yah... 🤗

__ADS_1


See you and lopphyuu more and more my readers…😘


__ADS_2