CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 090


__ADS_3

Follow my Ig. khalidiakayum


Setelah hiatus cukup lama, akhirnya "Cinta Eleana dan Panglima Perang" bisa UP lagi hari ini. Jangan lupa dikepoin yah.. 🤗


.


.


.


Pertanyaan itu terasa begitu sulit, sampai-sampai Meta merasa tidak bisa menjawabnya.


Tapi karena tak kunjung mendapatkan jawaban maka Rico yang terlalu takut mendengar sebuah penolakan akhirnya harus menghembuskan nafas perlahan kemudian mengucapkan sebuah kalimat yang sebenarnya sangat berat untuk ia ikrarkan sebelum mengakhiri pembicaraan tersebut.


"Aku janji tidak akan melakukan apapun. Sungguh.. aku hanya ingin berada didekatmu saja.."


Huhhfh..


Dan disinilah Rico berada, di kamar apartemen yang ditempati Meta, dengan rasa salah tingkah yang terlihat jelas diantara mereka.


Tak mengapa jika Meta merasa gugup dengan kehadiran Rico, itu adalah hal yang wajar mengingat bahwa Rico bahkan tau persis bahwa kejadian dua hari yang lalu dikamar sebelah merupakan hal pertama bagi Meta. Meta bahkan terlihat sangat minim pengalaman dan nyaris tidak tau apa-apa, saat Rico mengambil haknya.


Sementara bagi Rico?


Ini yang tidak habis dipikir, mengapa juga saat ini Rico ikut-ikutan merasa gugup?


Haihh.. bukan main konyolnya. Rico bahkan merasa seolah-olah ini adalah pengalaman pertama dirinya berada satu kamar dengan seorang wanita.


Bukankah itu gila namanya?


Sungguh memalukan..!


"Jangan khawatir.. aku sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang tidak kamu inginkan, jadi aku tidak akan mengingkarinya.."


Cihh.. bisa-bisanya Rico sok berucap demikian untuk menenangkan Meta yang terlihat duduk gelisah di sofa panjang yang ada disudut kamar, sementara didalam hatinya malah belingsatan sendiri saat harus benar-benar bersusah payah mengendalikan pikiran-pikiran mesum yang meronta-ronta sejak awal.


Rico telah berusaha mengguyur tubuhnya dibawah shower dan mencuci kepalanya yang dipenuhi fantasy liar, seolah ingin memaksanya untuk kembali melihat keseluruhan isi yang ada dibalik piyama berwarna navy milik Meta.


Kembali berfikir tentang itu membuat Rico sedikit pening sehingga jemarinya refleks menekan dahi sebelah kanan.


"Pak Rico kenapa?" suara Meta terdengar memecah keheningan.


Sebenarnya sejak tadi meskipun secara diam-diam Meta juga terus memperhatikan kegelisahan Rico sejak keluar dari pintu kamar mandi.


"Apanya yang kenapa?" tanya Rico melirik kecil kearah Meta.


"Itu.." Meta menunjuk jari Rico yang masih bertengger di dahi sebelah kanan seraya melakukan gerakan memutar serta memijit kecil disana. "Sakit ?"


Rico menggeleng kecil. "Hanya sedikit pusing. Mungkin karena kurang tidur.." kilahnya perlahan sebelum kembali beranjak kedalam kamar mandi.


Meta terdiam. Hanya menatap punggung Rico yang terlihat menghilang dibalik pintu. Ada perasaan iba yang menggelitik disudut hatinya saat mengingat dengan jelas seraut wajah Rico yang kuyu begitu tiba tadi. Sehingga ketika wajah murung Rico kembali muncul dari arah yang sama membuat Meta mencoba menguatkan hati untuk menepis keraguan dihatinya.


"Kepalanya.. mau dipijitin..?" tawar Meta sambil menggigit bibir.


"Mau!"

__ADS_1


Rico yang nyaris tidak mempercayai pendengarannya sendiri langsung melonjak, bergegas mendekati sofa dan merebahkan tubuhnya. Kepalanya ia taruh tepat dipangkuan Meta yang masih terhenyak mendapati respon Rico yang terlalu sigap.


"Egh.." Meta tergeragap begitu menyadari wajah Rico yang tersenyum lebar sudah berada diatas pahanya.


Rico meraih jemari Meta, membawanya menelusup hingga masuk kedalam rambutnya, bahkan sampai menyentuh kulit kepalanya.


"Tunggu apalagi, ayo cepat.." titahnya lagi dengan nada tak sabar.


Meta yang masih dalam mode mematung mendapati kejutan demi kejutan yang diakibatkan oleh sikap Rico yang begitu lugas akhirnya mulai menggerakkan jemarinya yang telah tenggelam dalam lebatnya rambut yang mengeluarkan aroma shampoo yang sama dengan rambutnya.


"Sudah berkemas belum untuk besok pagi?" tanya Rico terus memandangi Meta tanpa berpaling.


"Sudah.. tuh.." jawab Meta sambil memonyongkan bibirnya kearah koper berukuran sedang yang berdiri anggun disebelah wadrobe.


Meta berusaha mengacuhkan Rico yang terus menatapnya, tidak peduli meskipun sudah jelas-jelas Meta terlihat jengah. Sedangkan Rico malah seperti menikmati semua pemandangan kikuk lengkap dengan wajah yang dipenuhi semburat itu.


'Rasanya ingin sekali aku menggigit bibirnya yang ranum itu..'


Rico membathin namun tetap berusaha mengendalikan diri.


"Pak Rico sendiri sudah siap belum?" tanya Meta perlahan berusaha mengalihkan kegugupan dengan terus mempertahankan pembicaraan yang telah dibangun Rico diantara mereka.


"Aku sudah menyerahkan urusan persiapanku dan Rei kepada bik Sumi. Biar besok pagi tidak perlu repot lagi.."


"Ohh.."


"Tidak apa-apakan..? liburan kali ini anggap saja kita sedang menyenangkan hati istri bos besar.." ujar Rico lagi.


Meta hanya diam mendengarkan, meskipun hatinya sedikit tersentil.


"Maaf.."


Rico mengerinyit. "Maaf kenapa?"


"Maaf karena kehadiranku membuat pak Rico harus melakukan perjalanan yang tidak diinginkan.." sedikit membuang muka dengan wajah dipenuhi penyesalan.


Melihat pemandangan itu Rico menarik nafas seraya berfikir sejenak. Detik berikutnya lelaki itu sudah menyentuh ujung rambut Meta perlahan. "Aku yang harus minta maaf.."


"Tapi.."


"Aku janji, dilain waktu aku akan membuat perjalanan yang lebih menyenangkan. Khusus untuk kita berdua.."


Meta terhenyak mendengar kalimat itu, jantungnya ikut berdebar dan menggila.


'Apa aku tidak salah dengar? khusus untuk kita berdua.. apa itu berarti.. hanya aku dan pak Rico? hanya berdua saja? tapi.. itu artinya..'


"Setelah ini, setelah semua masalah selesai.."


Rico telah melepaskan ujung rambut Meta yang sempat ia permainkan, kemudian memeluk kedua lengannya diatas dada. Rico menatap lekat wajah Meta dari bawah tempat dimana tubuhnya rebah dalam pangkuan wanita yang tetap membisu, namun jemarinya terus memijat kepala Rico.


"Mau kan?" tuntut Rico karena lagi-lagi tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Pak Rico, bukankah setelah semua ini kita akan bercerai? lalu untuk apa melakukan perjalanan berdua?" lirih Meta yang memilih kata 'perjalanan berdua' karena mulutnya terlalu malu untuk berucap kata 'honeymoon'.


"Apa kamu ingin kita bercerai?"

__ADS_1


"Itu kan keinginannya pak Rico," ralat Meta seolah mengingatkan.


Rico tersenyum. "Jadi kamu tidak ingin?"


"Egh.." Meta gelagapan lagi, membuat Rico yang awalnya hanya tersenyum kini berganti tertawa kecil. "Aku.. aku.. terserah. Aku akan mengikuti keinginan pak Rico.."


"Benarkah?"


Meta mengangguk serentak.


"Yakin mau mengikuti keinginanku..?" lagi-lagi Rico tersenyum penuh arti.


"Tentu saja. Kalau itu sudah menjadi keputusan pak Rico maka aku tidak akan mempersulit keputusan tersebut.."


Rico mengangguk kecil, "Baiklah.. mendengar itu aku sangat lega.."


Meta menelan ludahnya yang terasa kelu.


Namun bukannya berkeinginan memuaskan hasrat ingin tau milik Meta, detik berikutnya Rico malah memilih memejamkan matanya dengan tenang, sementara senyumnya terus melekat dibibirnya.


"Akhirnya.. aku bisa mendengar apa yang ingin aku dengar.." berucap lirih seolah membiarkan kesan ambigu dalam kalimatnya.


Meta yang masih merasa mengambang dengan pernyataan Rico yang tidak juga menegaskan seperti apa lelaki itu memaknai hubungan mereka saat ini akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Terus diam dengan pemikiran yang semakin tak tentu arah.


Selanjutnya keheningan kembali mengambil alih semuanya, membuat waktu seolah berhenti..


Merasakan pijatan lembut yang terus-menerus memanjakan kulit kepalanya membuat Rico semakin rapat memejamkan matanya, menghayati sentuhan jemari Meta yang entah kenapa terasa begitu nikmat.


Lumayanlah sebagai pengobat rasa merana yang mendera akibat dirinya yang sudah telanjur harus memegang janji untuk tidak menyentuh Meta malam ini.


Sementara Rico nampak tersenyum meskipun dengan mata terpejam, Meta malah terus memperhatikan seraut wajah yang berbaring nyaman dipangkuannya.


Pijatan Meta yang awalnya sedikit bertenaga, setelah beberapa saat kini telah berganti dengan hanya membelai rambut Rico, seolah memudahkan lelaki itu untuk menjemput rasa kantuk.


Alhasil Rico yang sejak tadi memejamkan mata kini semakin merasa begitu nyaman, sehingga antara sadar dan tidak tiba-tiba Rico sudah bergerak miring, sambil memeluk pinggang Meta begitu saja, separuh wajah Rico terbenam pada perut datar Meta.


Meta yang terkejut mendapati gerakan tiba-tiba itu langsung merona begitu menyadari sekarang Rico bahkan sudah berbalik, tertidur nyaman dalam pangkuannya.


Pemandangan itu menggugah hati Meta yang terdalam, membuat sanubarinya seolah dialiri air sejuk yang datang dari pegunungan. Begitu murni.


Meta terus membelai rambut lebat Rico, matanya tak lepas memandang.. membuatnya tidak menyadari entah sejak kapan.. mimpi telah membuainya begitu saja, dengan hati diliputi kebahagiaan tiada tara yang didalamnya ikut terselip doa dan asa.. sekiranya semua itu enggan berakhir.. betapa bahagianya..


.


.


.


Bersambung..


Kalau author bikin Grup Chat WA, ada yang minat gabung gak ? 🤭


Jangan lupa dukung author terus ya..😀


Thx and Lophyuu kesayangan.. 🤭

__ADS_1


__ADS_2