CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Sebuah tamparan


__ADS_3

Arini mengerjapkan matanya berkali-kali.. sebelum akhirnya membukanya perlahan. Pemandangan dinding bercat putih serta aroma yang khas rumah sakit lambat laun mengembalikan kesadarannya.


Ingatan terakhir Arini pada sosok berbaju putih seorang petugas rumah sakit yang tengah memasangkan jarum infus pada pembuluh darah venanya membuat ia refleks menengok ke punggung tangan kanannya. Benar saja.. disana memang sudah tertancap jarum infus yang dipasangkan perawat tadi.


Ruangan itu begitu hening.. tidak ada siapa-siapa selain dirinya..


Arini yang merasa agak pegal baru saja ingin memperbaiki posisi tubuhnya manakala tiba-tiba pintu kamarnya terbuka perlahan.


“Sayang ?” pekik Arini tertahan saat melihat kehadiran Tian disana, nyaris tak percaya dengan pandangannya sendiri.


Bongkahan kerinduan yang tak tertahan membuat Arini ingin menghambur kearah lelaki itu namun urung saat menyadari selang infus yang menghalangi pergerakannya, terlebih saat melihat kedatangan Tian yang ternyata tidak sendirian.


Seorang wanita belia yang terlihat sekali lebih muda darinya tiba-tiba muncul dari balik punggung kokoh milik Tian.. dan berdiri disamping lelaki itu. Mereka berdiri tegak bersisian sambil menatap lurus kearahnya yang terduduk dengan perasaan bercampur aduk.


“S-sayang.. s-siapa dia..?” suara Arini terdengar tercekat saat bertanya, mencoba menepis firasat buruk yang sudah menghantui benaknya.


Tian membisu, namun sepasang mata Tian yang tetap menatapnya lurus semakin membuat bathinnya merasa tidak nyaman.


“Sayang, aku sedang bertanya siapa dia ? kenapa kamu diam saja ? kenapa tidak menjawab..?” Arini tidak bisa menyembunyikan lagi rasa panik yang sedang menderanya.


‘Tuhan.. apa ini jawaban dari segala macam fikiran burukku akhir-akhir ini..?’


‘apa Tian benar-benar menduakan aku seperti kecurigaanku selama beberapa bulan terakhir ini..?’


‘apakah ini wanita pilihan nenek Saraswati untuk Tian..?’


Dihantui dengan begitu banyak pemikiran buruk, tanpa Arini sadari Tian sudah berada disisinya, menggenggam jemarinya dengan begitu erat.


“Sayang.. maafkan aku..” Tian tertunduk lemah saat mengatakannya.


“K-kenapa ? kenapa meminta maaf ? siapa dia sayang..?”


“Dia.. dia adalah..”


“Aku adalah istri pak Tian..” wanita itu tiba-tiba sudah berada disisi ranjangnya, tepat disisi Tian bahkan telah melingkarkan tangannya dilengan suaminya dengan begitu akrab.


“Tidak.. ini tidak mungkin..” Arini menggeleng, air matanya luruh begitu saja.


“Ini kenyataan bu, Arini.. maafkan saya.. tapi saya benar-benar telah menjadi istri pak Tian..”


“Dasar pelakor !” Arini ingin menjambak wanita itu namun gerakannya dihalangi Tian dengan sigap.


“Sayang, maafkan aku..” Tian mencoba memeluk menenangkannya, namun amarah Arini seolah tidak terkendali. Ia mengamuk seperti orang gila.. tak peduli dengan rasa sakit dipunggung tangannya dimana sebuah jarum infus masih menancap disana, membuat perban yang melilitnya mulai berwarna merah akibat darah yang merembes disana.


“Tidak, aku tidak mau ! aku tidak mau seperti ini.. ini tidak mungkin ! ini tidak mungkin !!”


Arini berontak sekuat tenaga. Belum puas rasanya kalau belum bisa mencakar wajah pelakor kecil itu


“Sayang.. tega sekali kamu melakukan semua ini padaku ! jadi ini yang kamu lakukan selama beberapa bulan terakhir ? dibelakangku diam-diam kamu menikahi gadis lain ??!”


Sikap Tian yang memeluk tubuhnya kuat-kuat dan mengunci pergerakannya agar tidak bisa melakukan tindakan apapun untuk gadis itu justru membuat Arini semakin kalap, hatinya semakin terluka karena merasa saat ini Tian sedang berusaha melindungi gadis itu sedemikian rupa..


Nafas Arini memburu, amarahnya benar-benar sudah diambang batas.


“Lepaskan aku !” bentaknya sambil memberontak dari cekalan Tian yang kuat. “Aku bilang lepaskan akuuu..!!!”


……


“Arini.. Arini tenanglah.. bangunlah sayang..”


Arini tersentak. Matanya terbuka dengan sempurna, nafasnya memburu, bulir keringat sebesar biji jagung nampak memenuhi dahinya.. namun nyawanya seolah masih melayang diudara..

__ADS_1


“Sayang..” suara yang sangat dirindukannya menyapa gendang telinganya diiringi sentuhan lembut dipipinya seolah ingin membawa pulang kesadarannya.


Arini memalingkan wajahnya kesamping.. mendapati wajah tampan Tian disana dan..


‘Plak !’


Tangan kirinya yang bebas tanpa sadar telah melayang begitu saja kewajah Tian.


“Aduh..” Tian terlonjak, tak menyangka kalau akan disambut dengan sebuah tamparan yang cukup keras.. bukannya pelukan hangat seperti yang ia bayangkan. “Sayang..?” tatapan mata Tian terlihat teduh bercampur heran, sekaligus mengandung protes.


“Dimana gadis itu ??!” menatap Tian tajam dengan mata berkaca-kaca.


“Gadis apa..?” kepala Tian menengok kesana-kemari dengan bingung, ingin mencari tau gadis mana yang sedang ditanyakan Arini.


“Gadis belia pelakor itu ! dimana kamu menyembunyikan dia..?!” tetap bersikeras lengkap dengan tatapan berapi-api.


Tian mengerinyit bingung, namun sesaat kemudian ia malah tersenyum, nyaris tertawa saat menyadari apa yang sedang dialami Arini. “Sepertinya tadi kamu bermimpi buruk..” ujarnya menahan tawa.


Arini menatap Tian dalam-dalam seolah mencoba mencari kebenaran disana, masih belum bisa mempercayai seutuhnya.


“Dengar sayangku, tidak ada gadis belia disini.. dan tidak ada pelakor yang sedang aku sembunyikan..”


“Benarkah ?” bertanya lirih.


‘Jadi.. tadi aku hanya bermimpi..?’


‘Benar-benar cuma mimpi..?’


Membathin dengan hati yang masih sedikit bimbang.


Tian menganguk cepat. “Mengapa bisa bermimpi seperti itu..? jangan-jangan selama ini kamu benar mencurigaiku sampai bisa berfikir seburuk itu ?”


Arini tergeragap, mencoba menyembunyikan prasangka yang memang sudah bergelayut dihatinya selama ini.


Melihat pemandangan kedua bahu yang terguncang itu Tian serta merta meraihnya perlahan, merengkuhnya dengan hati-hati, sedapat mungkin tidak mengenai punggung tangan Arini yang masih terhubung dengan selang infus.


“Tidak ada gadis belia, dan tidak ada pelakor. Mana ada yang seperti itu..? semua itu hanya ada dalam mimpi burukmu.. lupakan yah..” bisik Tian membujuk seraya membelai rambut dengan aroma khas mint campur lavender kesukaannya, menyisihkan beberapa anak rambut kebelakang telinga Arini.


Arini mengeratkan pelukannya. “Jangan pernah mengkhianatiku sayang.. sungguh aku tidak bisa menanggungnya.. kalau tadi kamu tidak menahanku, mungkin aku sudah menjadi pembunuh..”


“Pembunuh ?”


Arini mendongak kesal menatap Tian yang menatapnya dengan keheranan. “Kenapa tadi kamu menahanku ? padahal aku hampir behasil mencakar wajahnya..!” sengitnya lagi kemudian saat bayangan mimpi buruk barusan kembali melintas dibenaknya.


Alis Tian bertaut.. namun detik berikutnya tawa lelaki itu pecah berderai saat menyadari Arini yang belum bisa move on sepenuhnya dari mimpi buruknya terlebih saat melihat wajah berantakan Arini yang dipenuhi air mata masih bisa menatapnya dengan galak.


“Jangan tertawa.. aku bersungguh-sungguh, sayang.. gadis belia itu datang bersamamu dan mengaku bahwa dia juga istrimu.. aku masih merasa itu seperti kenyataan karena nenek tidak menyukaiku..” berucap sendu, air matanya mulai menganak sungai.


Tian tersenyum. “Itu kan dulu.. saat ini nenek bahkan ingin sekali bertemu denganmu..”


Arini terhenyak mendengaranya. “Nenek..? apa sekarang nenek..”


Tian menganguk. “Maafkan nenek yah sayang.. sekarang nenek benar-benar menyesali semuanya.. dia bahkan ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf..”


“Kalau begitu tunggu apalagi ? ayo kita bertemu nenek.. dimana nenek sekarang..?” Arini sudah menggoyang-goyangkan lengan Tian dengan bersemangat meskipun tubuhnya sendiri masih lemah.


“Tidak bisa sekarang..”


“Kenapa ?”


“Karena nenek sedang dalam perawatan di rumah sakit di Guangzhao China..”

__ADS_1


“Nenek sakit..?” Arini terhenyak mendengar kenyataan tersebut.


Tian menganguk. “Tapi saat ini kondisinya baik-baik saja, tinggal menunggu proses pemulihan..” ucap Tian kemudian seraya membelai wajah yang begitu dekat dengan wajahnya itu.


“Jadi itu sebabnya kamu sering bolak balik kesana akhir-akhir ini ?”


“Hhmm..”


“Kalau begitu kenapa kita tidak pergi menjenguknya saja, sayang..?” kembali memberi ide.


“Tidak bisa..” Tian kembali menggeleng sambil mengulum senyum.


“Kenapa lagi..?”


“Karena aku tidak mengijinkanmu kemana-mana.. apalagi menaiki pesawat untuk perjalanan yang lumayan jauh..”


“Sayang !” Arini menghentak protes. Seperti kebiasaannya yang ngambek jika kemauannya tidak dituruti.


“Ssst.. jangan berteriak.. nanti yang ada didalam sini bisa kaget..”


“Didalam sini..  egh..?” tenggorokan Arini tercekat. Arini bahkan refleks menjauhkan tubuhnya sedikit agar sepasang matanya yang membeliak sempurna bisa menatap Tian, mencari kebenaran pada sosok yang sedang mengulum senyum itu dengan jelas.


“Iyaa..” Tian menganguk meyakini seraya menatap Arini dengan raut wajah secerah mentari pagi.


“S-sayang..” terbata-bata.


“Hemmm.."


“Jangan becanda.. ini.. ini tidak lucu..” sepasang mata Arini yang begerak gelisah sudah tergenang lagi.


“Aku tidak sedang bercanda.. 'dia' benar-benar sudah ada didalam sini..” berucap demikian sambil mengusap perut datar Arini dengan lembut, membuat Arini terpana. “Terima kasih istriku.. kesayangku.. pemilik hidupku..” bisik Tian lirih, sambil menggenggam jemari Arini, menundukkan wajahnya untuk mencium jemari yang bertaut itu.. kemudian selanjutnya mencium perut datar Arini beberapa saat, yang masih mematung menerima semua pemandangan yang menggetarkan jiwanya.


‘Ini bukan mimpi.. aku benar-benar hamil..?’


‘Terima kasih Tuhan.. akhirnya engkau mengabulkan segala doa kami selama ini..’


Air mata harunya bak sebuah mata air pegunungan, yang turun berlomba-lomba saling mendahului satu sama lain, namun meskipun demikian bibirnya tersenyum.


Tangan Arini terangkat membelai rambut Tian yang masih betah membenamkan wajah diperutnya, terdengar menggumamkan sesuatu yang entah apa, seolah sedang mengajak bicara seseorang didalam sana.


Arini sama sekali tidak bermaksud mengusik kegiatan lelaki itu. Dimatanya yang dilakukan Tian saat ini ibarat sebuah pemandangan yang sangat menyenangkan untuk dipandang.


Moment sederhana itu terasa mendebarkan seluruh sanubarinya, membuatnya lupa dengan segala rasa sakit yang masih tersisa ditubuhnya..


.


.


.


.


Bersambung…


Reader : Tian nikah lagi..??  thor.. pokoknya aq gak rela !!!!!! 😡


Author : Appaa kalian bilang..??!! Enak aja nikah lagi.. aq juga gak rela kaleee.. 😜


Hahahahaha… 😂


Dengan berat hati harus mengucapkan ini adalah sekitar 3 Chapter sebelum end, terimakasih untuk yg selalu setia dan tidak berpaling.. 😌🙏

__ADS_1


LIKE, COMMENT, VOTE, dukung author terus yah... 🤗


See you and lopphyuu more and more my readers… 😘❤


__ADS_2