
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏
.
.
.
Pemandangan yang ada saat ini sungguh sangat jauh dari bayangan Arini pada awalnya.
Arini yang semula mengira ia akan menemukan pemandangan sepasang manusia yang akan tertunduk menyesali perbuatan mereka dihadapan suaminya.. tapi kenyataan yang ada Arini malah seperti sedang menonton serial kartun tom and jerry yang merupakan musuh bebuyutan yang tidak bisa diakurkan sama sekali.
Sejak tadi baik Rudi maupun Laras sama-sama mempertahankan argumen mereka masing-masing, saling menyalahkan satu sama lain, dan berdebat tanpa henti.. sementara Arini hanya bisa menatap kedua makhluk aneh itu tanpa suara, sedangkan di hadapan mereka bertiga, Tian duduk di sofa single sambil terus memijit keningnya sejak tadi.
“Kak Tian.. ini tidak mungkin. Barusan kan kita sudah bicara, kak.. dan kak Tian sudah setuju kalau aku akan kembali ke kota B secepatnya. Aku tidak punya waktu untuk menikah dengannya..!”
“Kamu akan pergi ke kota B setelah menikah.” Tian menanggapi kalimat Laras tanpa menoleh, masih sambil memijit keningnya.
“Pak Tian, saya juga kan sudah mengakui kesalahan. Dan saya akan bertanggung jawab karena kesalahan itu. Tapi.. bukan berarti saya harus menikah..”
“Kalau tidak menikah, lalu tanggung jawab seperti apa yang mau kamu tawarkan ?” berucap datar, lagi-lagi masih memijit keningnya.
Arini yang melihat adegan bantah-bantahan tersebut mendadak ikut-ikutan merasa pening. Ia tak habis pikir.. bagaimana mungkin Tian tetap bersikeras menikahkan dua orang yang saling membenci seperti ini ? apa ini akan berhasil ? sepertinya tidak mungkin..!! dan sangat mustahil !!
“Pak Tian, saya mohon, saya mengakui saya telah melakukan kesalahan..”
“Kak.. maafkan aku, aku telah mengecewakan kak Tian..”
“Pak Tian, maafkan saya, saya benar-benar khilaf..”
“Kak.. maafkan aku juga, aku juga khilaf..”
“Pak Tian..”
“Kak..”
“DIAMMM !!!”
Tiga orang yang ada dihadapan Tian nampak terlonjak secara bersamaan begitu mendengar suara Tian yang tegas, kemudian ruangan Ceo itu langsung menjadi hening, sunyi melebihi kuburan.
Tidak ada lagi yang berani berkata-kata, apalagi berani berdebat. Bahkan menghela nafaspun telah mereka lakukan dengan hati-hati.. seiring dengan ciutnya nyali masing-masing.
Tian bangkit dari duduknya yang sejak tadi, berdiri tegak, dengan dua tangan yang terbenam dikedua saku celananya, menatap Laras dan Rudi berganti-ganti dengan wajah yang dipenuhi ekspresi kesal luar biasa, sementara Arini hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan sangat perlahan.. masih tidak tau harus melakukan apa.
“Khilaf ? kalian bilang khilaf ? melakukannya berkali-kali dan masih bisa mengatakan itu hanya khilaf ? ck.. ck.. ck.. bisa-bisanya kalian menolak untuk menikah.. apa kalian sudah tidak punya rasa malu ?! Hahh ?!”
__ADS_1
Bentak Tian seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali, sungguh Tian tidak habis pikir dengan jalan fikiran Rudi dan Laras yang saat ini tertunduk dalam dihadapannya.
“Kalian berdua dengarkan ini baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya untuk yang kedua kali, dan aku peringatkan.. jangan coba-coba berniat untuk membantahnya sedikit pun..! kalau kalian nekad melakukannya.. aku sendiri yang akan mematahkan kedua kaki kalian berdua dengan tanganku ini. Mengerti ?!”
Kembali Tian menatap Rudi dan Laras berganti-ganti, yang akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. Mendengar kalimat Tian yang terucap dengan aura sedingin salju dikutub utara, mereka berdua tidak lagi memiliki keberanian untuk membantah, apalagi sampai menolaknya.
“Rudi.. persiapkan dirimu sekarang. Dan kamu Laras.. pulanglah lebih dahulu dengan Arini.” kemudian tatapan Tian kini berpindah pada istrinya yang sejak tadi membisu tanpa kata.
Arini akhirnya hanya bisa mengangguk mengiyakan keinginan Tian agar dirinya bisa membawa Laras pulang kerumah, tidak lagi mencoba berkata apa-apa agar segala sesuatunya tidak berbuntut panjang.
Arini paham betul watak Tian, jika sudah mengeluarkan aura ‘membunuh’ seperti ini, itu tandanya suaminya itu tidak bisa lagi dibantah.
“Aku tidak bisa menundanya lagi meskipun sesaat..karena sudah aku putuskan, kalian harus menikah sekarang juga..!!”
XXXXX
Suasana mobil yang melaju membelah jalanan yang menjelang sore itu masih saja hening. Seperti biasa Sudir selalu mengendarai mobil dengan tenang, sedangkan Haris juga tidak pernah bicara jika tidak ada yang penting untuk dibicarakan.
Sementara dibangku kedua, Arini duduk memangku Sean yang tertidur dipangkuannya dengan wajah tanpa ekspresi, sedangkan Laras hanya diam meskipun dalam hati dipenuhi dengan gejolak kegelisahan.
“Maafkan aku, kak..” Laras akhirnya memilih untuk membuka suaranya terlebih dahulu.
Arini yang sejak tadi membisu seraya menepuk-nepuk punggung Rei yang tertidur dipangkuannya sontak menoleh ke asal suara disebelahnya yang bahkan berucap tanpa berani menatapnya.
“Maaf untuk apa ?”
“Aku.. aku telah merepotkan kak Arini..”
Laras menelan ludahnya kelu.
‘Tentu saja. Tentu saja kamu melakukannya karena kak Tian. Mana mungkin karena diriku kan ?’
Dalam hati Laras berucap sendu.
Detik berikutnya Laras lebih memilih membuang pandangannya keluar jendela mobil yang ada disampingnya, mengawasi hiruk-pikuk jalanan dengan tatapan kosong serta fikiran yang mengembara tak tentu arah.
Entahlah..
Laras merasa hatinya terasa hampa. Meskipun di sisi lain.. kenyataan bahwa dalam beberapa jam kedepan ia bisa mewujudkan semua mimpi panjangnya sejak masa remaja yang begitu ingin memiliki seorang Rudi Winata, tapi yang ada sekarang.. dilubuk hatinya yang terdalam Laras malah tidak merasakan kebahagiaan sama sekali disana.
Jika semua ini terjadi pada beberapa tahun yang lalu..
Mungkin Laras bisa menutup kedua matanya begitupun dengan mata hatinya..
Mungkin ia bisa untuk tidak peduli Rudi menyukainya atau tidak..
Mencintainya atau tidak..
Menginginkan dirinya atau tidak..
__ADS_1
Tapi sekarang ?
Seorang Larasati bukanlah seorang gadis yang naïf lagi seperti dulu. Penolakan demi penolakan yang selalu ia terima nyaris disepanjang hidupnya membuat dirinya bersumpah.. ia tidak bisa lagi menerima jika ia harus ditolak kembali.
Sejak dulu tidak terhitung lagi seberapa sering Rudi menolaknya. Saat Laras sedang memulihkan hatinya dan mencoba menerima desakan Larasati untuk menikah dengan Tian.. lagi-lagi Laras menerima penolakan Tian. Lalu setelah semua rentetan kejadian yang membuat dirinya merasa tidak pernah diinginkan oleh siapa pun.. membuat dirinya harus berjuang mati-matian menegakkan kepala.. mengapa hari ini lagi-lagi ia harus kembali menerima penolakan ?
Laras mati-matian menahan tanggul pertahanan yang seolah ingin ambrol begitu saja. Namun semakin ia tahan.. semakin kuat terasa desakannya, sehingga ia tak kuasa saat sebutir bening menyeruak dari celah benteng kokoh yang ia bangun selama ini.. dan sebutir bening itu akhirnya sanggup merobohkan semua keteguhan hatinya.
Laras tidak tau entah sejak kapan ia mulai terisak. Karena semakin ia tidak ingin Arini mendengar tangisannya.. hatinya justru semakin melemah.
Kepala Laras terus berpaling kearah lain, ia tak berani menoleh, namun mendadak jantungnya seperti hendak berhenti memompa aliran darahnya, manakala Laras merasakan sebuah tangan lembut yang menepuk punggungnya perlahan, seolah ingin memberinya kekuatan.
.
.
.
Sementara itu..
Arini tidak tau apa yang membuat hatinya tergerak. Namun ketika melihat Laras yang sesegukan tanpa berani menatapnya.. secara refleks nuraninya memerintahkan dirinya untuk menepuk perlahan punggung yang bergetar menahan tangis itu.
Sisa-sisa dari kebaikan hatinya telah menang.. karena akhirnya ia malah bersedia meminta Laras, untuk membagi kesedihannya yang sedang berkuasa..
XXXXX
“Kalau kamu butuh sesuatu dirumah ini, kamu bisa memintanya pada bik sumi. Dan kalau ada apa-apa.. jangan sungkan untuk mengatakannya padaku..” Rico berucap tepat didepan bingkai pintu kamar tamu yang kini resmi menjadi kamar Meta.
“Boleh tidak aku tidur dengan Rei malam ini ?” Meta berucap lirih, menahan langkah Rico yang hendak beranjak.
Rico terdiam sesaat, sebelum akhirnya berucap dengan berat hati. “Meta.. bukannya aku melarangmu. Tapi.. sebaiknya kamu bisa berangsur-angsur menjaga jarak. Kalau kamu semakin hari.. semakin lengket dengan Rei.. bagaimana mungkin Rei bisa lepas darimu begitu saja..”
Meta mematung mendengar kalimat Rico.
“Lagipula.. mulai besok kamu juga sudah mulai bekerja dengan normal kan..?”
“Egh.. i-iya.. ” Meta mengangguk dengan gerakan kikuk.
“Baiklah, kalau begitu sebaiknya kamu segera beristirahat, karena pekerjaanmu juga sudah menumpuk diruang kerjaku..”
Meta tidak bisa menahan diri untuk tidak terhenyak, namun yang ada Rico sudah berbalik dan meninggalkan Meta begitu saja yang masih setia berdiri dibingkai pintu kamarnya..
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa tekan icon favorite untuk novel ini yah.. 🤗
Please give me your Like, Comment, and Vote. Thx and Lophyuu all.. 🥰