
Halo Readers ku terlopee ...yang belum Like bab sebelumnya dari bab 1 s.d. sekarang, mohon di like ya, author kentang ini sangat butuh buat naikin performa. Kalau gak naik2, kalian gak kasian ...?
Yuk ah, like dulu, tekan icon favoritekan novel ini, dan bantu subscribe profil author 🙏
gimana..? udah kan.. kalau sudah.. yuk, cuzz ke yang manis-manis.. hehe..😅😅
...
Rudi baru saja keluar setelah mengantarkan setelan pakaian resmi yang akan dipakai Tian pada acara peresmian Mercy Green Resort, dan saat ini Arini baru saja menggantung setelan pakaian resmi tersebut digantungan lemari yang ada disalah satu sudut kamar resort tersebut untuk mempertahankan kerapiannya agar jangan sampai kusut saat dipakai Tian nanti.
Arini masih menatap setelan yang berupa two piece suit bewarna hitam yang maskulin tersebut dengan tatapan kagum, sembari membayangkan betapa tampannya Tian saat memakainya.
Suaminya yang sudah tampan dari sononya itu pasti akan mencuri perhatian semua orang dengan penampilannya yang selalu menawan.
Arini menutup pintu lemari itu dengan perlahan, bertepatan dengan sosok Tian yang terlihat keluar dari dalam kamar mandi dengan balutan bathrobe.
Senyum lelaki itu langsung merekah begitu saja melihat penampakan Arini yang berdiri didepan lemari dengan cermin besar yang terpasang di tiga pintunya sekaligus.
Tian langsung mendekati Arini dan dengan gerakan secepat kilat sepasang tangan kekarnya sudah melingkari area perut rata istrinya dari belakang tubuhnya.
“Ada apa?” Arini bertanya sambil tertawa saat melihat bayangan Tian yang memeluknya dari belakang terekam jelas pada permukaan cermin yang ada dihadapannya.
“Kangen ...” sambil menaruh dagunya dipundak kiri Arini.
Arini mencibir mendengarnya. “Kangen, tapi tahan tidak menelpon seharian ...”
Mendengar sindiran halus itu Tian
tertawa renyah, tapi ia masih sempat mencuri kecupan kilat di pipi kiri Arini.
“Hari ini aku sangat sibuk, dan menjadi teramat sangat sibuk karena memikirkan harus menyelesaikan semua urusan agar bisa secepatnya berada disini sebelum peresmian dimulai ...”
“Padahal acaranya nanti akan dimulai tiga jam lagi, untuk apa terburu-buru?”
“Persetan dengan peresmian itu, aku ingin secepatnya berada disini bukan karena hal itu, melainkan karena sudah sangat merindukan istriku ini ...” bisik Tian benar-benar ditelinga Arini. Hembusan nafasnya yang begitu dekat membuat bulu kuduk Arini meremang.
Pandangan mereka bertemu dipermukaan cermin. Arini tersenyum namun serentak menunduk melihat pemandangan yang terlalu manis itu, merasa bahagia tak terkira sekaligus rasa malu yang memenuhi sekujur tubuhnya merupakan kombinasi perasaan yang sulit untuk dijabarkan dengan kalimat apapun.
Tian tersenyum, kemudian membalikkan tubuh Arini untuk menghadap penuh kearahnya, dengan tangan kanannya terangkat, menahan dagu Arini agar terus menatapnya.
“Maaf tidak memberi kabar seharian. Aku membuatmu kangen yah ?” Tian mengu lum senyum menggoda.
Arini berpura-pura mendelik, kemudian memutar bola matanya. “Kapan aku mengatakannya?" kilahnya.
“Tidak mengatakan, tapi sayangnya kedua bola matamu ini tidak bisa berbohong. Coba lihat ... kangennya bisa sampe luber-luber begini ...” Tian sengaja menggeleng-gelengkan kepalanya berpura-pura keheranan.
“Ish, mana ada yang seperti itu ...!" Arini menepis tangan Tian yang menahan dagunya, sambil menggodanya itu.
Arini ingin melepaskan diri dari posisi yang membuatnya semakin berdebar, tapi belum ada tiga langkah menghindar tubuhnya kembali tertahan oleh rengkuhan posesif yang menguasai seluruh tubuhnya. Tian kembali sudah memeluknya dengan erat, mencium sekujur rambutnya yang masih lembab.
“Kamu barusan keramas?” tanya Tian disela-sela aktifitasnya.
“I-iya ...” mulai gugup.
“Sudah selesai dengan yang itu, kan ...?” bisiknya lagi, kali ini sudah menyurukkan wajahnya ke cekungan leher Arini yang membuat sekujur tubuh Arini meremang. Sedangkan Tian yang merasa dirinya semakin terbakar semakin menenggelamkan wajahnya pada wangi sabun, bercampur parfum dengan aroma floral yang menguar dari bagian tubuh sensitive Arini yang sedang dikuasainya.
“Hhmm, iya ...”
Tian mengangkat wajahnya, menatap Arini dengan tatapan dalam. Detik berikutnya Arini terpekik kecil tak menyangka jika Tian akan dengan nekad mengangkat tubuhnya begitu saja dan meletakkannya diatas ranjang yang empuk dan berukuran besar itu. Lelaki itu langsung menyusulnya disana, hingga membuat wajah mereka berdua sejajar nyaris tanpa jarak.
__ADS_1
Sepasang mata Arini bergerak gelisah saat menyadari Tian yang sedang berada diatasnya begitu dekat membuat Arini bisa melihat dengan jelas bagaimana perubahan wajah lelaki itu saat rahang tegasnya mengeras, wajahnya memerah menahan gejolak namun terlihat jelas bagaimana kerasnya Tian berusaha menguasai deru nafasnya yang mulai memburu.. semua pemandangan maskulin itu membuat Arini mau tidak mau sedikit ciut.
Tian yang menyadari kegugupan Arini berusaha keras menguasai dirinya. “Takut ...?” Tian melembutkan tatapannya sambil mengelus sebelah pipi yang sudah penuh dihiasi semburat, mencoba memberikan ketenangan untuk istrinya yang sedang bedebar, sambil disisi lain berusaha meredam kobaran api dalam dirinya sendiri.
Arini menggeleng pelan, tapi sorot matanya tidak bisa berbohong bahwa dia memang sedang gelisah, membuat Tian terdiam sejenak untuk beberapa saat, menelan ludahnya dengan susah payah. Tian merasa seperti sudah berada diambang rasa namun harus kembali meredamnya.
“Kenapa berhenti?” tukas Arini saat menyadari Tian tak kunjung meneruskan apa yang telah dimulainya, melainkan hanya menatapnya lekat-lekat.
Tian tersenyum lembut mendengarnya. “Kalau kamu merasa belum siap, aku akan menunggunya ...”
Arini balas menatap Tian lekat, mata mereka bertaut begitu dekat tanpa kata.
“Tapi apa kamu ... benar-benar menginginkan ... dengan aku yang seperti ini ... aku hanya ...”
Arini tidak tau, kenapa kali ini kalimatnya sungguh belepotan. Ia bahkan tidak mampu merangkai sebuah kalimat dengan benar saking gugupnya.
Tian menghela nafas panjang. “Aku sangat menginginkanmu. Sangat ingin, tapi hanya jika kamu bersedia ...”
"Aku bersedia!” memutus perkataan Tian begitu saja.
Tian membisu, belum berani memulai, hanya matanya yang terus menatap Arini lekat dengan perasaan membuncah yang sedang susah payah ia kendalikan.
“Sayang, aku siap melakukannya, aku bersungguh-sungguh. Aku ingin menjadi istrimu seutuhnya ...”
Tian terenyuh saat melihat sepasang mata Arini yang sudah berkaca. Kepalanya menggeleng berkali-kali, sambil menatap arini dengan penuh perasaan.
”Sayangku, jangan seperti ini. Jangan menangis ...”
“Tapi aku benar-benar ingin menjadi istrimu ...”
“Tentu saja hanya kamu satu-satunya yang menjadi istriku. Aku sudah menyerahkan seluruh hidupku untukmu, seluruh hidupku sudah jadi milikmu.”
Sepasang mata yang dihiasi telaga, puncak hidung bak bukit kecil, dan terakhir pada semua titik pusat kelembutan Arini, yang sudah memasrahkan dirinya untuk bisa dimiliki suaminya seutuhnya.
Untuk yang pertama kali dalam seumur hidupnya, Tian merasa kegugupan yang luar biasa, saat menyentuh intim seorang wanita seperti ini.
Segudang pengalamannya akan tubuh wanita saat ini seolah tidak berarti sama sekali. Beragam perasaan yang bercampur aduk dihatinya yang membuat tangannya gemetar saat berusaha meloloskan satu persatu penghalang milik Arini.
Hingga dibatas akhir gejolak yang menderu, Arini telah meremas kuat kedua lengan Tian sekaligus.
Wajah Arini yang menegang tidak bisa membohongi dirinya sebagai akibat dari segala pusaran rasa sakit yang wanita itu rasakan, yang sialnya bagi Tian, justru membuatnya nyaris gila saat harus kembali meredam.
"Sakit ...?”
“Tidak.”
Tian tau Arini berbohong saat mengatakannya.
“Arini ... maaf ...” Tian berucap frustasi, begitu menyadari keutuhan Arini.
Tian bahkan tidak sanggup membayangkan, bahwa sudah pasti dia akan menyakiti wanita itu tanpa ampun.
“Tidak. Jangan sayang ...” Arini menahan kedua lengan Tian yang sudah berniat menyerah.
“Arini ...”
“Sayang, aku benar-benar ingin melakukannya untukmu. Aku mohon ...”
Arini menatap Tian syahdu, membuat Tian putus asa.
__ADS_1
Wanita itu seperti sengaja membuat Tian kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Kelembutannya sudah menyentuh permukaan kulit Tian, dan tangan halus itu ikut memprovokasi jiwa kelembutan, yang akhirnya tanpa berpikir dua kali, ibarat seekor banteng marah yang kembali ke arena, menaklukkan lawan dengan mudah ... hanya dengan sekali hentakan.
Arini merasa dirinya seperti terlempar ke neraka, sungguh sebuah penyiksaan yang luar biasa!
Anehnya, setelah beberapa saat merasakan tubuhnya yang terbakar nyaris tak bersisa, perlahan namun pasti setiap kepingan tubuhnya yang hancur itu seperti bereinkernasi.
Melayang hingga kelapisan langit ketujuh ...
Terlempar berkali-kali pada gumpalan awan yang lembut ...
Berkali-kali digulung semilir angin ...
Seperti mimpi yang sangat menyakitkan, namun ajaibnya tidak berakhir tragis.
Karena yang tersisa kemudian hanyalah ...
Rasa manis ...
Begitu manis ...
Sangat manis ...
XXXXX
"Aku tinggal sebentar, begitu acaranya selesai aku akan langsung kembali.” ucap Tian sambil mengecup kening Arini yang masih meringkuk malas diatas ranjang.
Seperti bayangan Arini semula, setelan two piece suit berwarna hitam itu terlihat sangat pantas ditubuh Tian yang memang sangat proposional.
Arini tidak bisa mencegah hatinya untuk mengagumi suaminya sendiri yang memang begitu mempesona, membuatnya merasa sanggup jatuh cinta setiap saat karena suaminya sungguh lelaki yang begitu sempurna, perfect dalam segala hal.
Arini mengangguk perlahan mengiyakan, sedikit merasa menyesal sekaligus lucu saat sedari tadi melihat Tian pontang-panting bergegas menyiapkan dirinya sendiri karena diburu waktu peresmian Mercy Green Resort yang akan segera dimulai, hanya dengan menunggu kehadiran seorang Sebastian Putra Djenar saja.
Arini tidak mampu melakukan apa-apa dengan kondisi tubuh remuk redam, yang rasanya seperti baru saja kembali dari medan perang.
Selain itu, Tian juga melarangnya bergerak untuk melakukan ini dan itu, yang alhasil membuat dirinya sedari tadi ibarat penonton setia yang hanya menyaksikan Tian mondar-mandir kesana kemari mempersiapkan dirinya seorang diri.
Arini tidak bisa membayangkan bagaimana kepanikan kecil diluar sana.
Semua orang tau bahwa Ceo Indotama Group biasanya sangat on time dalam segala hal. Jadi disaat ia belum terlihat saat mendekati injury time seperti ini ... tentu saja itu akan membuat panik semua pihak.
“Jangan lupa habiskan makanannya.” Tian berucap lagi sambil menunjuk rolling table yang sudah ada didalam kamar mereka yang didalamnya berisi beberapa menu makanan.
"Iya,“
“Habiskan semuanya, karena nanti malam kamu pasti membutuhkan tenaga ekstra ...” kalimat nyeleneh itu dibalas Arini dengan mendelik kearah Tian yang tertawa melihat tingkahnya yang kelihatan teramat sangat mager.
“Cepatlah pergi, kalau tidak kamu bisa membuat acaranya benar-benar molor. Itu bisa merusak imagemu sebagai tuan tepat waktu." ucap Arini mengingatkan.
Tian mengangguk sambil tersenyum, setelah melirik sekilas jam rolex ditangannya ia langsung beringsut mendekati Arini, mendaratkan kembali satu kecupan singkat dikening sebelum berucap ...
“Aku pergi ...” bisiknya sambil mengelus sebelah pipi Arini sesaat, sebelum akhirnya benar-benar berlalu dari kamar itu.
...
Bersambung…
(Chapter yang sangat menguras otak. Author berusaha berhalu setinggi bintang, namun apa daya yang muncul diketikan hanyalah remahan. Ahahaha..😅)
__ADS_1
Like and Comment jangan lupa ya.. 🤗 Lophyuu.. ALL.. 😘