
Hi.. ketemu lagi, 😁
Plis yang belum like bab-bab sebelumnya tolong di like dulu yah.. pliss... 🙏
Seharusnya setelah melewati hari yang melelahkan saat ini mereka sudah harus beristirahat. Tapi alih-alih beristirahat, Tian dan Arini malah sibuk mengobrol kesana kemari. Mereka bahkan sudah membahas banyak hal sedari tadi, sehingga tanpa mereka sadari semua kebersamaan itu membuat mereka semakin merasa dekat satu sama lain.
Arini yang awalnya merasa canggung dan sempat menolak saat Tian menarik tubuhnya untuk berbaring dengan bersandar didada lelaki itu lama kelamaan merasa nyaman berada disana.
“Apakah waktu itu kamu tidak merasa khawatir sama sekali, saat menerima keputusan ayahmu untuk menikahkan kamu dengan orang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya ?”
Arini menggeleng. “Tidak..”
“Tidak ?” Tian terhenyak mendengar jawaban yang penuh keyakinan itu. “Kamu beruntung sekali karena orang itu adalah aku. Coba kalau yang menikahimu itu kakek-kakek tua renta, memangnya kamu masih mau ?”
“Itu tidak mungkin. Aku percaya ayah tidak akan mungkin memberikan sesuatu yang buruk, ayah pasti akan memberikan hal yang terbaik dan istimewa untukku..” pungkas Arini membuat pupil mata Tian membesar.
“Jadi aku adalah hal terbaik dan istimewa itu yah ?” ucapnya bangga.
Arini mencibir. “Ge-er !”
Tian tertawa mendengar cibiran itu, bahkan Arini juga akhirnya ikut tertawa saat melihat lelaki itu tertawa lepas.
Begitu tawa mereka mereda Tian terdengar menarik nafasnya dalam-dalam.
“Arini, maafkan aku jika diawal pernikahan kita sikapku sangat buruk. Aku tau saat itu aku pasti selalu membuatmu sakit hati dan menangis. Aku benar-benar bodoh..” Tian berucap perlahan, intonasi suaranya dipenuhi berjuta penyesalan yang mendalam.
Arini terdiam. Ingatannya mau tidak mau kembali melayang pada masa diawal pernikahan mereka, betapa perlakuan Tian memang teramat sangat menyakiti hatinya. Tapi Arini juga mengingat bahwa meskipun begitu lelaki itu tidak serta merta melepas tanggung jawabnya. Seberapa muak Tian pada pernikahan mereka, Tian tetap menjaganya, tidak melepas tanggung jawabnya meskipun hati lelaki itu bahkan tidak menerima kehadirannya.
“Apa kamu mau memaafkan semua kesalahanku ? Karena sepertinya aku memang tidak pantas mendapatkan maaf.. ”
Arini serentak menggeleng. “Kamu ini bicara apa..? bukankah sepasang suami istri itu sudah seharusnya saling memaafkan..? aku juga minta maaf.. aku sering membuatmu marah, sikapku juga tidak bisa dibenarkan, aku.. aku bahkan belum bisa menjadi istrimu yang seutuhnya.. aku..”
Tian mendekatkan wajahnya, membungkam segenap kalimat yang hendak meluncur dari bibir Arini hingga beberapa menit lamanya. Setelah usai ia tersenyum.. menatap Arini yang juga berusaha menentang manik matanya meski begitu jengah setelah menerima sentuhan manis Tian yang entah sudah keberapa kalinya.
“Sepertinya aku harus menebus banyak kesalahan..”
“Kenapa bicara seperti itu lagi ?” Arini merenggut.
“Arini, aku juga meminta maaf atas nama mendiang ayahku, kamu dan ayahmu sudah melewati kehidupan yang sulit selama ini. Ayahmu tidak akan duduk dikursi roda jika hari itu ia tidak menahan peluru untuk ayahku.”
“Tapi ayahku juga selalu mengatakan, bahwa ayahmu meninggal karena keadaan ayahku yang seperti itu, sehingga ayahku tidak bisa lagi menjaga ayahmu.. juga ibumu..”
“Itu tidak benar.. mereka meninggal bukan karena kesalahan ayahmu. Sudahlah.. mungkin sudah takdirnya semua itu harus terjadi,” tepis Tian, tidak ingin membahasnya karena tidak ingin membuat perasaan Arini kembali memburuk sehingga akan membuatnya kembali menangis.
Arini menganguk perlahan. “Aku salut padamu, kamu bisa melewati semua itu dengan berani. Kamu bahkan bisa menjadi se-hebat ini..”
“Benarkah ? memangnya aku se-hebat apa dimatamu ? apa dimatamu sekarang aku terlihat keren ?”
__ADS_1
Arini tertawa melihat ekspresi percaya diri Tian. “Cihh.. dasar narsis..” imbuhnya sambil tertawa kecil. Tapi kemudian ia bergumam dengan senyum. “Tapi.. aku memang harus mengakui kalau kamu memang hebat dan keren. Bagaimana sih rasanya menjadi dirimu ?”
“Kamu sendiri.. bagaimana rasanya menjadi istri orang yang hebat dan keren seperti diriku ? hemm..?”
“Biasa saja,” Arini memanyunkan bibirnya, yang membuat Tian gemas melihatnya.
“Bohong.. bilang saja rasanya luar biasa..”
Mendengar kalimat over percaya diri itu Arini sontak memutar bola matanya yang membuat Tian kembali terpingkal-pingkal melihat reaksi Arini.
“Sepertinya hidupmu sangat sempurna yah.. kamu bahkan nyaris tidak punya kekurangan..”
“Tidak punya kekurangan ? becanda kamu..! aku bahkan punya tiga kelemahan sekaligus..”
Mata Arini membulat sempurna. “Benarkah ?”
Tian menganguk. “Kelemahanku yang pertama adalah Saraswati Djenar..”
“Itukan nenekmu..”
“Hemm.. dia nenekku yang sudah mengambil peran sebagai orang tuaku. Nenek yang membesarkan aku, mengajarkan aku semua yang tidak sempat diajarkan oleh kedua orang tuaku.”
Arini mangut-manggut sambil memperbaiki posisi kepalanya. “Aku tidak kaget kalau nenek adalah kelemahanmu. Kamu bahkan bisa menikah denganku karena tidak kuasa melawannya.”
“Benar sekali,” angguk Tian sambil tersenyum. “Yang kedua.. Rico Chandra Wijaya.”
Kali ini kedua kelopak mata Arini langsung membesar. “Pak Rico ?”
Arini menatap Tian tak percaya. Ini sungguh diluar dugaannya. Meskipun ia dan semua orang tau bahwa Rico Chandra Wijaya adalah sahabat masa kecil Tian, tapi mendengar bahwa Pak Rico bisa menjadi salah satu kelemahan Tian, ini sungguh berada diluar dugaannya. Bagaimana bisa pria pecicilan yang gemar menebar pesona kepada semua wanita itu bisa menjadi kelemahan Tian setelah Saraswati Djenar yang hebat ?
“Aku tidak percaya.. kenapa Pak Rico bisa menjadi kelemahanmu ?”
Tian tersenyum tipis. “Kamu tau tidak ? saat kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tuaku dua puluh tahun yang lalu.. saat itu umurku sebelas tahun, dan aku masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar.” Tian menarik nafasnya perlahan, seolah sedang menerawang ke masa terpahit yang pernah terjadi dalam hidupnya. “Rasanya sakit sekali.. kehilangan kedua orangtua sekaligus disaat kamu bahkan belum memahami arti kehidupan. Saat itu dunia seperti mau kiamat rasanya..”
Tanpa sadar Arini sudah menggenggam telapak tangan Tian kuat-kuat, seolah ingin membagi perasaan luka lelaki itu. Bagaimana mungkin Arini tidak tau seperti apa rasa sakitnya.. ia juga bahkan kehilangan ibu disaat ia sedang benar-benar membutuhkan sosoknya.
“Aku bertemu Rico dibangku kelas satu sekolah menengah pertama.” Tian tertawa kecil saat mengingat masa itu. “Kamu sudah liat bagaimana Rico kan ? dengan segala tingkah lakunya yang seperti itu aku bahkan tidak bisa menolak kehadirannya. Rico adalah satu-satunya seorang sahabat yang begitu banyak membantuku melupakan semua pengalaman buruk. Ia memiliki seribu satu cara untuk membuat setiap hari menyenangkan.”
“Pasti dia juga kan yang mengajarkanmu cara menjadi playboy..” tuduh Arini begitu saja, membuat suasana yang awalnya serius langsung mencair setelah tawa Tian pecah begitu saja.
“Kamu bahkan bisa menebaknya..” ucap Tian disela-sela tawanya.
“Sudah aku duga ! melihat sikapnya yang pecicilan seperti itu sudah pasti dia juga yang mengajarimu mengenal wanita..”
Tian mengulum senyum. “Rico memang terlihat seperti itu. Tapi percayalah.. dia tidak seburuk itu, karena aku sudah mengenalnya nyaris seumur hidupku..”
“Aku tetap tidak suka padanya. Dia bahkan selalu menggodaku, membuatku kesal..”
__ADS_1
“Memangnya kamu tidak suka padanya ? Lelaki se-tampan Rico.. tidak ada wanita yang tidak menyukainya. Masa iya kamu tidak tertarik padanya sama sekali..”
“Bicara apa ? aku ini sudah punya suami. Untuk apa tertarik pada lelaki lain ?” dengan wajah cemberut Arini membalikkan kalimat Tian tadi dengan telak, membuat Tian tersenyum mendengarnya.
“Baiklah tentu saja. Lagian Rico memang bukan sainganku. Aku bahkan jauh lebih tampan dan lebih kaya dari dia. Kamu pasti tidak akan menyesal menjadikan aku suamimu dan upss...”
Kalimat itu terputus begitu saja karena Arini sudah menutup mulut Tian dengan tangannya. Matanya mendelik kesal.. sedangkan Tian malah tertawa menerima pelototan garang itu. Tian mengambil jemari Arini yang awalnya menutup mulutnya dengan posesif dan menciumnya lembut. Membuat Arini yang ingin mengomel mau tidak mau luluh juga dengan tindakan manisnya itu.
Sejenak suasana hening kembali mengambil alih waktu. Dalam diam Arini tercenung saat mengingat pembicaraan Tian tentang Pak Rico.
Ternyata seperti itu.. bathinnya. Akhirnya salah satu pertanyaannya dibenak Arini selama ini terjawab sudah. Tentang mengapa Pak Rico selalu merasa besar kepala karena selalu begitu yakin bahwa Tian akan selalu mendukungnya dan bisa melakukan apa saja untuknya, itu tidak lain karena ternyata Pak Rico adalah satu-satunya orang yang pertama kali melihat Tian menangis, satu-satunya orang yang selalu memberikan dukungan, penghiburan, serta kepercayaan, bahkan disaat mereka belum benar-benar mengenal pahit getirnya kehidupan. Pak Rico sudah berada disamping Tian jauh sebelum Tian menjadi seorang yang hebat seperti sekarang.
Hati Arini sontak terenyuh.. menyadari betapa ia harus berterima kasih kepada Pak Rico, karena lelaki itu telah menjaga Tian sedemikian rupa bahkan disaat dirinya belum berada dalam kehidupan Tian.
Lama mereka terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.. manakala Tian berucap..
“Dan yang terakhir.. apa kamu tidak ingin menanyakan kelemahanku yang ketiga ?” bisik Tian perlahan setelah mereka terdiam cukup lama.
Hening.
Tian mengerinyit saat menyadari Arini tidak merespon kalimatnya. Sesaat setelah Tian menatap wajah yang ada disampingnya itu.. Tian membuang nafas perlahan, ia tersenyum saat menyadari mata Arini telah terpejam dengan helaan nafas yang halus teratur.
Arini tertidur dengan berbantalkan lengannya.
Tian memperbaiki letak kepala wanita itu perlahan, menyibak anak rambut yang jatuh menghalangi wajah yang terlelap dengan damai, kemudian menyentuh lembut wajah polos itu, mengusap sebelah pipi
itu sambil berbisik perlahan..
“Kelemahanku yang ketiga adalah dirimu, Arini Ramdhan, karena melihatmu menangis, hatiku menjadi sakit.. melihatmu bersedih, jiwaku ikut terluka..”
Tian terdiam sejenak. Menatap wajah indah itu dalam-dalam.
“Arini.. maafkan aku jika aku harus menjadi seorang yang egois. Meski dengan hidup bersamaku nanti kamu akan sering merasakan sakit hati, menangis, terluka dan kecewa.. tapi aku benar-benar tidak lagi bersedia untuk melepaskanmu..”
.
.
.
.
.
Bersambung…
Like n Coment yah.. My Readers ku Tersayang..🤗
__ADS_1
Plis yang belum like bab-bab sebelumnya tolong di like dulu yah.. pliss... 🙏
Jangan berhenti dukung author terus ya, Lophyuu all...😘