
Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏
.
.
.
Suara cekikikan tawa dari tiga orang karyawan yang melewati mereka berdua cukup ampuh mengusik keheningan yang ada.
Detik berikutnya baik Rico maupun Laras seolah baru saja sama-sama menemukan kesadarannya.. seolah baru terbangun dari siuman akibat lamunan yang sempat menguasai.
Rico menarik nafas sepenuh rongga. Entahlah.. terlalu dini jika saat ini Rico mengatakan bahwa dirinya merasa lega. Setidaknya bayangan horror suasana rooftop yang sunyi, romantis dan menghanyutkan telah sirna begitu saja dari benaknya yang tadinya terasa begitu marah, manakala dengan mata kepalanya sendiri Rico bisa melihat karyawan-karyawan indotama group nampak berseliweran di mini garden yang tertata rapi dengan nuansa hijau nan elegan itu.
Beberapa diantara karyawan-karyawan itu terlihat berkumpul menjadi kelompok-kelompok kecil yang bercanda tawa.. menikmati jam istirahat siang dengan berkelakar.. dan ada juga yang hanya duduk sendirian dibangku beton yang berjajar sambil menikmati makan siang.
Sejauh ini mata Rico bahkan belum menangkap wujud Rudi dan istrinya berada.
“Apa tempat ini selalu se-ramai ini ?” tanya Rico sedikit bergumam, karena meskipun ia sering mendengar tentang keberadaan mini garden ini, tapi kenyataannya baru kali ini Rico benar-benar menginjakkan kakinya ditempat ini.
“Kalau jam makan siang sih.. biasanya memang se-ramai ini, kak..” ujar Laras dengan sepasang mata yang mengawasi kesana kemari, berusaha menemukan seseorang yang ingin dirinya temui.
Suara ponsel Rico yang berdenting dari saku celananya membuat Rico segera memeriksa notifikasi tersebut.
Nama ‘Tian’ tercetak jelas di kolom nama pengirim chat masuk.
‘Cepat kembali.. meeting lanjutan akan segera dimulai..’
Membaca chat singkat dari Tian itu membuat kesadaran Rico semakin pulih.
‘Cihh..! aku ini sedang apa ? mau mempermalukan diri sendiri ?’
Rico menghembuskan nafasnya dengan sekali hentakan, tiba-tiba ia merasa menyesal hampir melakukan hal yang begitu bodoh dan sangat memalukan. “Sebaiknya aku kembali, Tian sudah menunggu..” ujarnya hendak berbalik kearah lift.
“Eh.. kak.. kamu kan belum bertemu Meta..?”
“Memangnya siapa yang ingin bertemu dia ?!”
Laras mencibir. “Kalau tidak mau bertemu lalu untuk apa kamu kesini ?”
“Untuk apa ? tentu saja untuk mencegah dirimu berbuat bodoh..!” semprot Rico begitu saja, membuat Laras yang mendengarnya semakin mencibir. “Memangnya kamu ingin aku peduli dengan Meta ? kamu ingin melihat aku cemburu ? wahhh…” Rico terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum remeh.
Laras ingin membalas kalimat penuh keangkuhan itu namun urung saat sepasang matanya menangkap dua sosok yang tak asing.
__ADS_1
Disana.. Rudi Winata, suaminya, nampak sedang berjalan kearah tembok pembatas, bersisian dengan seorang wanita berambut sebahu yang mustahil tak ia kenali.
Wanita itu Armetha Wulansari. Wanita yang selama ini gencar di gembar-gemborkan sebagai kekasih Rudi, yang sekarang secara diam-diam telah dinikahi kak Rico karena Rei. Iya.. tentu saja karena Rei kan..? mana mungkin Meta bisa mendapatkan hati kak Rico, kan ? itu mustahil. Memangnya dia seindah itu..?
Rudi nampak menunjukkan jari telunjuknya kebawah, sepertinya sedang memperlihatkan hasil maha karya khusus yang sengaja Ceo indotama group itu persembahkan untuk istrinya sebagai bukti yang bisa dilihat setiap saat oleh semua orang yang melihatnya dari atas rooftop tersebut.
Kekaguman jelas mewarnai seraut wajah Meta, sesaat sebelum akhirnya seorang karyawan yang melintas dengan tergesa-gesa tanpa sengaja menabrak bahu Meta, membuat tubuh wanita itu limbung dan..
XXXXX
“Jam berapa ini..?” alih-alih bertanya
demikian tapi Meta malah telah menengok jarum jam tangannya sendiri.
Rudi yang terlihat melakukan hal yang sama, tetap menjawabnya. “Masih lima belas menit lagi..”
“Sebaiknya kita kembali..”
“Hmm.. iya..” Rudi mengaangguk setuju. “Oh ya.. ada satu lagi yang hampir terlewat..” ujar Rudi setelah teringat sesuatu, membuat alis Meta sontak bertaut.
“Apa lagi ?”
“Mau liat tidak bukti cinta pak Tian kepada ibu Arini ?”
Mendengar itu alis Meta semakin berkerut. “Bukti cinta ? memangnya ada yang seperti itu ?” tanyanya seolah sangsi.
Rudi menganguk sambil bangkit dari duduknya. “Kesini sebentar..” ajak Rudi seraya beranjak, membuat Meta yang melihat pergerakan lelaki itu akhirnya ikut bangkit dengan serta-merta, mengikuti langkah Rudi yang menuju salah satu tembok pembatas. “Coba lihat kebawah sana..” tunjuk Rudi kemudian, kearah halaman depan kantor pusat indotama group.
Dibawah sana.. dihalaman depan gedung kantor pusat yang terlihat asri dengan begitu banyaknya bunga, tanaman hias dan beberapa pohon yang tertata.. ternyata semua itu tidak hanya semata-mata ditata dengan biasa, melainkan jika dilihat dari ketinggian akan terbaca dengan jelas huruf “AR” yang tentu saja merupakan inisial nama “Arini Ramdhan”, berada ditengah symbol hati raksasa.
“So sweet banget pak Tian..” Meta tidak bisa menahan kekagumannya melihat hal itu. Hatinya ikut berbunga-bunga hanya dengan membayangkan bagaimana besarnya cinta seorang Sebastian Putra Djenar untuk seorang Arini Ramdhan.
“Kalau kamu mau, kamu juga bisa-lah minta pak Rico untuk membuatkannya di halaman kantor pak Rico. Nanti inisialnya “AW” dari Armetha Wulansari..”
“Ngaco !!”
Rudi tertawa mendapati pelototan itu namun tiba-tiba..
Bukk..!
“Awas…”
“Aaaaa…”
“Maaf.. maaf bu Meta.. maaf pak Rudi.. saya tidak sengaja..”
Meta belum berani membuka matanya manakala saat tubuhnya terhuyung karena sebuah benturan, dirinya yang telah limbung dan hendak jatuh membuatnya pasrah menutup mata, tapi yang ada setelah beberapa saat ia malah tidak merasa jatuh apalagi kesakitaan.
“Tidak apa-apa..” suara Rudi terdengar begitu dekat.
__ADS_1
“Terima kasih, pak Rudi.. permisi..”
Kemudian hening.
“Kamu tidak pingsan kan ?”
Meta terhenyak mendengar bisikan itu, matanya sontak terbuka perlahan.. sedetik kemudian langsung membelalak begitu menemukan wajah Rudi yang begitu dekat dengan wajahnya dan.. astaga.. Meta langsung membebaskan dirinya begitu saja yang entah kenapa bisa berada dalam pelukan Rudi seutuhnya.
“Maaf.. maaf..”
Meta belum bisa berbicara. Dadanya nyaris meledak karena ritme debaran yang tak kunjung normal.
“Meta, maaf.. kalau aku tidak menangkapmu sudah bisa dipastikan tadi kamu pasti sudah jatuh..”
“Iya tidak apa-apa.. terima kasih yah..” Meta mencoba tersenyum kecil, meskipun kikuk.
Rudi mengangguk, namun masih terlihat bahwa lelaki itupun sedikit risih karena kejadian tadi.
Meta memilih kembali menghadap kearah tembok yang tingginya sebatas dada untuk ukuran tubuhnya, dan Rudi pun melakukan hal yang sama. Masing-masing berusaha menetralkan perasaan tidak nyaman yang melanda.
Mereka berdua bersama-sama
kembali mengarahkan pandangan kebawah, dihalaman depan kantor pusat indotama group, dimana salah satu bukti cinta seorang Ceo indotama group kepada istrinya, terukir dengan manis disana..
XXXXX
“Mau menangis ?”
Laras tersenyum kecut mendengar nada suara yang dipenuhi ejekan itu menyapa gendang telinganya. “Kak Rico ini sedang bicara apa ?” elaknya sedikit jengah.
“Aku sedang membicarakan kenyataan. Bahwa kalau kamu ingin menangis.. menangis saja. Rahasiamu akan aman bersamaku. Trust me.” Rico menepuk-nepuk lengannya, namun senyum dibibir lelaki itu tetap dihiasi unsur ejekan.
“Cihh.. untuk apa menangis ? sejak dulu mereka memang saling menyukai kan.. aku bahkan tidak kaget melihat pemandangan tadi..” imbuh Laras mencoba mengembalikan kepercayaan dirinya yang sempat mencelos akibat menyaksikan adegan mesra didepan matanya, dimana Rudi dengan sigap menangkap tubuh Meta yang terhuyung hingga jatuh kedalam pelukannya.
Sementara itu.. Rico yang mendengar kalimat Laras sontak tertegun.
“Justru kalau kak Rico merasa sakit hati melihat semuanya, pergi saja sana.. datangi istri kakak. Kenapa malah menonton disini ?” ucap Laras dengan nada memprovokasi yang kental, namun tentu saja Rico tidak semudah itu untuk termakan umpan.
“Kamu pikir aku akan memberikan kamu tontonan mahal secara cuma-cuma ?” ujar Rico mendengus seraya tertawa hambar. Sejenak kemudian ia sudah menatap Laras lekat-lekat, mencondongkan tubuhnya kearah wanita itu seraya berbisik.. “Sori, aku tidak tertarik..”
Dan setelah itu Rico sudah benar-benar beranjak dari sana begitu saja, meninggalkan Laras yang masih setia mematung memandangi dua punggung manusia yang berdiri berjejer membelakanginya, yang jaraknya tak lebih dari sepuluh meter dari tempatnya berdiri terpaku..
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. karena apapun dukungan kalian merupakan penyemangat author untuk terus berkarya.. 🤗
Thx and Lophyuu all.. 😘