CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Modus


__ADS_3

“Jadi.. besok siang kamu sudah akan meninjau lokasinya langsung ?”


“Begitulah..” Tian menganguk. “Lalu bagaimana denganmu ? kita akan pergi bersama atau nanti bertemu di lokasi ?” Tian balik bertanya sambil menatap Rico serius.


Rico terdiam sejenak, balas menatap Tian dengan pancaran mata berisi keraguan. “Aku.. aku merasa kurang percaya diri..”


Tian melengos mendengar kalimat itu. “Kalau kamu masih mengatakan hal ini, itu tandanya pembicaraan kita akan mulai dari awal lagi. Kita kan tadi sudah membahasnya, Co..”


“Sorry, bro.. tapi aku benar-benar tidak percaya diri. Proyek ini terlalu besar.. aku belum pernah menangani proyek sebesar ini. Aku bukan dirimu yang bisa menaklukkan semuanya..” Rico melontarkan keluh kesah yang bergelayut dihatinya.


“Maka dari itu cobalah taklukkan semuanya. Sewaktu aku memulainya aku malah tidak punya siapa-siapa yang mendukungku, sekarang kamu malah mempunyai aku dibelakangmu. Sudah, jangan fikirkan apa-apa lagi..”


Rico menggaruk kepalanya yang tidak gatal, masih saja meragukan kemampuan dirinya sendiri.


“Sejak awal sudah aku katakan bahwa kamu memiliki kemampuan yang jauh lebih besar. Aku akui Best Elektro adalah perusahaan yang cukup maju, tapi sudah saatnya kamu mengembangkan kemampuanmu. Come on, Co.. ini kesempatan yang sangat bagus..”


Rico terdiam lagi, masih menimbang-nimbang usul Tian yang memintanya secara langsung menangani mega proyek pembangunan sebuah mall yang rencananya akan menjadi mall terbesar se-Asia Tenggara.


“Jangan kalah dengan istrimu.. Lila saja berani menangani proyek Mercy Green Resort sendirian sampai pada titik akhir, masa kamu tidak bisa..”


“Kamu sudah gila yah. Proyek yang kamu sodorkan padaku ini adalah mega proyek. Bagaimana mungkin aku menyanggupinya begitu saja. Aku takut akan mengecewakanmu !”


Tian tertawa. “Sejak kapan kamu punya rasa takut. Terima saja, aku ada dibelakangmu.”


Akhirnya dengan mengesampingkan semua kekhawatirannya, Rico menguatkan hati untuk menganguk, mengiyakan keinginan Tian yang langsung disambut Tian dengan senyum puas.


“Hhh.. finally...” desis Tian akhirnya merasa lega dengan keputusan Rico. Sejak awal Rico memang menjadi target utama Tian untuk proyek tersebut. Bukan hanya karena sebagai teman saja, tapi Tian memang membutuhkan orang yang bisa diandalkan kemampuannya sekaligus bisa dipercaya.. dan Rico adalah orangnya. Kalau bicara kemampuan maka kemampuan Rico sudah tidak bisa lagi diragukan, dan sepertinya Tian juga tidak bisa mempercayai orang lain sebesar ia mempercayai Rico. Terlepas dari semua sikap konyolnya.. Rico memang merupakan kandidat tunggal Tian untuk proyek ini.


Tian sedang menyesap kopi hitam yang mulai mendingin saat Rico melirik lelaki itu sekilas.


“Anyway.. bagaimana rasanya menjadi headline berita selama beberapa hari ini..” memutuskan untuk mengganti topik begitu pembicaraan awal menemui kata sepakat.


Tian tersenyum masam. “Sudah biasa..” ucap Tian acuh. Kenyataannya dia memang sudah kebal dihujani media tentang persoalan wanita, diluar pemberitaan-pemberitaan positif lainnya mengenai semua pencapaian dan prestasinya yang berhasil mengantarkan Indotama Group menjadi salah satu perusahaan raksasa didalam negeri serta sukses mengembangkan sayap di beberapa negara.


“Tapi kali ini sepertinya ada yang berbeda..”


“Maksudnya ?”


“Aku cukup salut melihatmu masih betah bersama wanita yang sama..”


“Arini maksudmu ?”


“Heh, siapa lagi..” tukas Rico terlihat sekali bahwa ia tidak terlalu wellcome. “Tian, kenapa kamu masih saja..”


“Co, sudah jangan bahas hal ini lagi. Aku lelah jika harus membahas hal ini denganmu terus menerus. Kamu tidak akan mengerti..” pungkas Tian.

__ADS_1


Rico menatap Tian tak percaya. Ia merasa kecewa dengan perkataan Tian tapi tetap saja enggan menyerah begitu saja. “Dulu, kamu selalu mau mendengarkan apa yang aku katakan.. tapi sekarang ? apa ini ? demi Arini kamu sepertinya bisa menendangku dari kehidupanmu ! Kamu benar-benar sudah gila !” Rico tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.


Lagi-lagi Tian tersenyum masam. “Sudahlah.. jangan mulai lagi..” kemudian ia melirik jam tangannya sekilas seraya beranjak dari duduknya. “Sudah mulai larut, aku akan mengajak Arini pulang.. lagipula istrimu juga butuh banyak istirahat..”


Tian keluar dari ruang kerja Rico begitu saja, meninggalkan Rico yang terdiam sebelum akhirnya memutuskan untuk menyusul. Tian yang sudah lebih dahulu beranjak keluar.


XXX 


Nyaris lima menit sudah berlalu saat mobil yang dikendarai Sudir meninggalkan teras rumah Rico dan Lila yang mengantarkan mereka hingga ke teras. Selama itu pula hanya keheningan yang bertahta.


Meskipun dalam diam, Tian sudah beberapa kali melirik wanita yang ada disampingnya itu, wajah Arini terlihat tanpa riak dan terus merenung. Saat makan malam tadi istrinya itu bahkan hanya makan dengan porsi yang sangat sedikit seolah tidak berselera.


“Sedang memikirkan apa sih ?“ Tian menyentuh rambut bergelombang itu, membelainya dengan lembut.


Arini menggeleng.


“Apa ada yang tidak mengenakkan hatimu saat ini ?”


Lagi-lagi Arini menggeleng.


“Pembicaraanmu tadi dengan Lila.. apa berjalan dengan lancar ?”


“Tidak ada apa-apa sayang. Lila sangat baik. Pak Rico itu sangat beruntung mendapatkan istri seperti Lila..”


Arini menghembuskan nafasnya perlahan mendengar kalimat Tian yang biasanya selalu bisa membuat hatinya berbunga, tapi kali ini ia merasa kalimat itu seperti menjadi sebuah beban untuknya. “Sayang, aku berkata serius. Lila itu cantik dan baik hati.. Lila juga sangat sempurna sebagai wanita, apalagi saat ini dia sedang..”


Mengambang.


Tian yang akhirnya bisa menebak apa yang sedang mengusik bathin Arini sontak mendekatkan dirinya agar bisa merengkuh istrinya itu. Ia berbisik sangat perlahan, tidak ingin Sudir mendengar rahasia kelam mereka diawal menikah.


“Jangan mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu. Kamu harus tau bahwa mereka sudah menikah sebelum kita menikah. Kehidupan rumah tangga mereka bahkan tidak seperti kita.. yang bahkan baru kemarin menjalaninya dengan selayaknya suami istri..”


Arini mendongak kecil, sepasang matanya bahkan telah lembab menahan tangis membuat hati Tian ikut tersentil. Pemandangan Arini yang seperti itu entah kenapa benar-benar menggetarkan sanubari Tian yang terdalam.. membuat Tian serentak menunduk, mengecup sepasang mata yang telah ber-telaga itu berkali-kali.. berganti-ganti..


Mendapati perlakuan Tian, kedua kelopak mata Arini menjadi semakin tergenang. Arini tidak tau pasti apa yang sedang ia rasakan saat ini.. ia hanya merasakan hatinya begitu sedih hingga sebenarnya ia malah ingin berteriak..


“Sayang.. kenapa menangis ? tolong jangan seperti ini.. maafkan aku kalau karena datang kerumah Rico sudah membuatmu sedih..”


Arini menggeleng berkali-kali, mencoba menghapus air matanya yang sudah berjatuhan tanpa permisi. “Tidak sayang.. kamu tidak salah, aku.. aku hanya


terbawa perasaan setiap melihat Lila, melihat wajah Lila yang pucat, melihat Lila mengunyah semua buah-buahan yang rasanya kecut, semua itu entah kenapa membuatku iri..” lirihnya terdengar perih.


“Ada saatnya kamu juga bisa seperti Lila.. tapi hal itu tidak mungkin terjadi saat ini kan, sayang.. semuanya butuh proses, kamu hanya perlu bersabar, berdoa, dan yang paling penting..”


“Apa yang paling penting ?” Arini mendongak lagi begitu menunggu kalimat Tian yang mengambang tidak kunjung selesai diucapkan.

__ADS_1


Tian tersenyum. “Yang paling penting tentu saja berusaha..”


“Berusaha ?”


“Iya, berusaha membuatnya.. aduhh..!” Tian sontak mengaduh kecil begitu merasakan gigitan seperti lima ekor semut dipaha kirinya, sementara Arini usai mencubit sudah terlihat melotot meskipun diwajahnya masih nampak jejak linangan air mata.


“Bisa-bisanya kamu mengatakan hal itu saat aku sedang menangis..” dumel Arini tak tertahan lagi.


Tian menatapnya dengan tatapan tak bersalah. “Tapi aku bersungguh-sungguh. Bagaimana


bisa hamil kalau tidak melakukannya..?”


“Huhh !” Arini merenggut. Sedetik kemudian ia sudah menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran kursi, namun sepasang matanya masih mengawasi Tian yang menatapanya dengan tatapan polos.


“Padahal aku mengatakan hal yang benar..” Tian berucap lagi.


“Hhmm..”


“Ya sudah kalau tidak mau dengar,”


“Apa tadi aku pernah bilang tidak mau dengar ?” tukas Arini lagi.


Seraut wajah Tian kembali berbinar. “Jadi kamu setuju denganku kan, sayang ? kalau kita harus berusaha lebih keras lagi dari yang sudah-sudah..”


“Berusaha lebih keras lagi dari yang sudah-sudah bagaimana maksudmu..?” Arini mulai menatap galak kembali, waspada dengan setiap kata suaminya yang memiliki tingkatan modus yang tinggi.


‘Gila saja.. lalu yang selama ini mereka lakukan itu apa bukan berusaha keras namanya ?’


Tian menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. “Yahh.. maksudku.. berusaha lebih keras lagi.. dan lebih sering lagi..” mengucapkan kalimat itu tanpa rasa malu sedikitpun sambil tersenyum aneh yang membuat Arini memutar bola matanya sambil mencibir.


“Dasar modus..!”


.


.


.


.


Bersambung…


(Kali aja ada yg pgn ngintip 😅 : Ig. khalidiakayum).


Dukung author yah.. Lophyuuuu.. 😘

__ADS_1


__ADS_2