
Yang belum mampir di PASUTRI dan TERJERAT CINTA PRIA DEWASA, ditunggu yah.. 🤗
.
.
.
"Ada apa..?"
Tian bertanya usai menaruh gelas yang isinya telah tandas itu keatas meja makan.
Sedari tadi ia bukannya tidak menyadari jika tatapan Arini yang duduk menemaninya makan malam itu selalu lekat padanya, dengan bibir yang berhiaskan senyum.
Arini menggeleng, masih dengan senyum yang sama.
"Aku tau aku memang setampan itu. Tapi sepertinya malam ini rasa kagummu berlebihan.." seloroh Tian dengan penuh percaya diri.
Mendengar itu Arini tertawa kecil. "Dasar narsis.." cibirnya seraya bangkit dari kursi, guna mendekati Tian yang masih duduk dengan tatapan yang mengarah penuh selidik padanya. "Ayo.." ajaknya kemudian, menarik pergelangan tangan Tian, memaksanya bangkit dari kursi makan.
"Mau kemana..?" alis Tian bertaut namun ia tak menolak ajakan Arini yang telah menuntunnya bangkit dan beranjak dari sana.
"Ke kamar.." ujar Arini acuh sambil menekan angka dua begitu mereka telah berada didalam lift.
"Egh..?" sepasang mata Tian melebar, pikirannya langsung melanglang buana mendapati kalimat Arini yang terdengar ambigu, namun yang ada Arini malah melotot padanya.
"Egh, apa? jangan berfikir yang 'iya-iya'. Aku hanya lelah, ingin tidur cepat, agar bisa bangun secepatnya juga pada besok pagi." pungkasnya seolah memupus khayalan Tian yang mulai out of control.
"Memangnya besok pagi ada apa?" alis Tian bertaut, sedikit kecewa mendengar kalimat terakhir Arini yang ternyata tak sesuai ekspektasi awal.
"Tidak ada apa-apa." pungkas Arini cepat, terus berusaha menghilangkan jejak.
"Hmmm.." Tian berdehem. "Sedang menyembunyikan sesuatu rupanya.."
"Tidak sayang.." elak Arini ringan, belum ingin membagi rahasia kecilnya sebelum benar-benar yakin.
Yah, tadi siang begitu sampai di rumah Arini memang sudah tidak sabar untuk mencoba test pack yang telah ia beli. Ia sengaja membeli beberapa buah sekaligus dengan merk yang berbeda demi mendapatkan kepastian akan firasat baiknya.
Meskipun sesuai anjuran seharusnya test tersebut dilakukan di pagi hari, namun Arini nekat langsung mencoba satu buah test pack yang hasilnya cukup menggetarkan jiwanya.
Pemandangan dua garis meskipun garis kedua nampak samar, telah membuat rasa bahagia telah menguasai seluruh dirinya, membuat Arini merasa kesulitan untuk menahan diri dari luapan kebahagiaan yang terlalu dini.
Merasa ketagihan dengan sensasinya yang mendebarkan, malam ini, sebelum Tian sampai dirumah, Arini kembali mencobanya lagi.. dan hasilnya tetap sama. Dua garis, masih dengan salah satu garis yang tetap samar.
"Ayo katakan.." ujar Tian lagi, begitu lift berhenti, dan mereka beranjak keluar dari bilik sempit itu, namun yang ada Arini tetap keukeuh menggeleng, dan konsekwen menutup mulut sampai mereka berdua tiba dikamar.
"Tidak ada apa-apa, sayang.."
"Tidak mungkin," pungkas Tian yakin semakin mencurigai gerak-gerik istrinya sendiri yang terlihat selalu mengulum senyum dalam diam.
"Tidak ada.."
"Pasti kabar bahagia.."
"Ish.."
"Sebentar.. biar aku tebak, apa kira-kira yang bisa membuatmu bahagia.."
__ADS_1
"Aku bilang tidak ada! sudah jangan bicarakan itu lagi.."
"Apakah Sean akan punya adik..?" ujar Tian usil, dengan tujuan awal ingin menggoda, namun siapa sangka sepasang mata Arini malah membeliak lebar mendengar celetukan iseng yang kenyataannya memang sangat tepat sasaran itu.
Tian terlihat melongo bego.
"J-jadi benar..?"
Suara Tian terdengar lirih bergetar.. tubuhnya bahkan ikut mematung ditempat, namun detik berikutnya Tian malah terkesiap ketika beberapa tinju kecil telah menghantam dadanya berkali-kali dengan kesal.
"Sayang.. teganya kamu merusak kejutanku..!" Arini mengamuk kesal, menyadari rahasia kecilnya telah dibongkar Tian dengan begitu mudah.
"Egh..? tunggu sebentar, s-sayang.. jadi.. benar..?" berusaha mendapat kepastian ditengah usahanya yang kelabakan menghindari serangan Arini yang seolah tak ingin berhenti memukulinya, membuat Tian harus menangkap kedua pergelangan tangan mungil itu sekaligus agar bisa ia tenangkan.
"Jahat.. aku benci padamu..!" sembur Arini yang masih tidak terima, membuat Tian mau tak mau tertawa keras, sehingga Arini ingin mencubitnya keras kalau saja kedua tangannya tidak tertahan oleh kedua tangan Tian.
"Padahal aku hanya bercanda saat menebaknya.. jadi benar.." gumam Tian sesaat setelah tawanya mereda. Kali ini ia telah menatap Arini dengan tatapan yang intens, lembut.. dan begitu dalam. Mampu meluruhkan semua kekesalan dan amarah Arini yang sempat meluap.
"Dasar menyebalkan.." lirih Arini akhirnya, menyadari memang tak mudah menipu suami tampannya itu.
Perlahan kepala Arini mengangguk, saat tatapan mereka berdua terkunci satu sama lain. "Aku baru memastikannya dengan test pack.."
"Lalu..?"
"Dua garis.. tapi satunya terlihat samar. Aku.. belum yakin.."
"Oh.. my.."
Tatapan Tian terlihat mengembun. Tanpa membuang waktu lebih lama lelaki itu telah membawa tubuh Arini sepenuhnya kedalam pelukannya, beberapa kecupan lembut terasa menghangatkan pucuk kepala Arini, diiringi lirih suara bergetar yang terucap berkali-kali..
"Sayangku.. terima kasih.. terima kasih.."
Kurang lebih enam jam menyetir seorang diri tentu terasa sangat melelahkan. Terlebih Rudi melakukannya marathon tanpa berhenti sama sekali, lengkap dengan kondisi tubuh yang sangat lelah setelah aktifitas yang padat sejak kemarin.
Selepas maghrib Rudi nekad melaju kekota B, dan ini adalah kali pertama Rudi memutuskannya sendiri atas keinginannya sendiri, tanpa paksaan.
Diwaktu-waktu sebelumnya Rudi tidak akan terlalu memaksa seperti ini. Tapi mendengar kalimat terakhir Laras ditelpon justru semakin membulatkan tekadnya.
"Kalau lelah sebaiknya jangan menyetir. Besok saja Kak, biar Kak Rudi malam ini bisa istirahat dulu.."
'Apa-apaan? sejak kapan Laras bisa bicara seperti itu? sejak kapan Laras menjadi begitu sabar untuk membuatnya tiba di kota B? bukankah selama ini istri kecilnya itu selalu tidak peduli? mau dirinya lelah.. mau dirinya kurang tidur..'
"Aku akan kesana sekarang.." ucap Rudi kemudian, memberikan keputusannya, bahwa dirinya akan menemui Laras saat itu juga.
Tepat jam dua belas malam ia telah berdiri didepan pintu apartemen Laras, menekan door acces lock control yang ada dipanel pintu.
Saat kakinya pertama melangkah keheningan telah menyapanya begitu saja. Membuat Rudi tidak ingin berlama-lama saat melintasi ruang tamu dan ruang tengah yang agak temaram karena sebagian besar penerangannya telah dipadamkan, terus melangkah kedepan pintu yang seolah menjadi satu-satunya tujuan.
.
.
.
Ini adalah kali kedua Laras membasuh wajahnya di wastafel.
Untuk apa lagi kalau bukan untuk mengusir kantuk yang kembali menyerangnya, serta mencegah sepasang matanya agar tidak terlelap karena harus menunggu seseorang yang selalu menjadi pemenang rindu yang ada dihatinya.
__ADS_1
Sudah tengah malam dan Rudi belum juga tiba, namun Laras malah menjauhkan ponsel dari jangkauannya.
Laras teringat saat terakhir ia menanti Rudi tiba dengan penuh rasa ketidak-sabaran. Saat itu Rudi bahkan terlihat kesal karena ia tak berhenti menelpon, hanya untuk mengetahui posisi lelaki itu setiap saat, dan merasa marah jika telponnya sekali dua kali terabaikan.
"Laras, jangan menelpon terus-menerus. Apa kamu ingin aku tidak fokus menyetir karena harus mengangkat telpon setiap saat..?"
"Tapi aku kan hanya ingin mengetahui keadaanmu, kak.. masa aku tidak boleh menelpon..?"
"Bukan tidak boleh menelpon, tapi jika sudah tau aku sedang menyetir.. sebaiknya jangan menelpon.."
So.. 'Jangan menelpon saat Rudi sedang menyetir'. Dan Laras telah mencatatnya lagi dengan baik, satu hal yang tidak disukai Rudi, untuk tidak boleh lagi ia lakukan.
Karena itulah meski sejak enam jam yang lalu usai Rudi mengatakan segera menuju ke kota B, Laras bahkan enggan menggenggam ponselnya berlama-lama, seolah takut tergoda untuk menekan pemilik panggilan cepat pada angka satu yang ada didalam ponselnya.
Awalnya.. meskipun rumah tangga mereka diawali dengan sedikit pemaksaan Tian, namun Laras bisa merasakan bagaimana Rudi berupaya cukup keras untuk bertahan menghadapi semua sikap keras kepalanya.
Namun semakin hari.. seiring waktu.. sikap Rudi semakin berubah. Tidak lagi mencoba bersikap hangat dan ramah, karena sepertinya Rudi bahkan mulai muak berpura-pura terus-menerus baik padanya.
Laras menyambar handuk kecil, untuk mengusap wajahnya yang basah oleh bilasan air dingin, sebelum akhirnya memutuskan untuk melangkah keluar.
Namun begitu ia membuka daun pintu kamar mandi, sepasang matanya langsung tertumbuk pada sosok yang tengah berdiri tegak didepan pintu kamar mandi dengan wajah yang dipenuhi lelah.
"Kak..?"
Laras langsung menubruk tubuh Rudi begitu saja.
"Kenapa belum tidur..?" suara berat Rudi terdengar begitu dekat ditelinga Laras.
"Aku menunggumu.." ucap Laras tanpa mengangkat wajahnya, memilih menenggelamkan seluruh wajahnya didada Rudi yang tanpa sadar juga telah memeluk kedua bahu mungil itu, membawanya masuk lebih dalam kepelukan.
Mereka terus seperti itu sekian lama, hanya saling memeluk tanpa bergerak dan tanpa kata..
.
.
.
Bersambung..
Dengan berat hati harus mengatakan bahwa, Ceo Tampan dan Istri Rahasia akan segera End dalam waktu dekat.
Sedih.. tapi setiap awal pasti akan menemui akhir. Semoga pencapaian CTIR tidak akan berhenti sampai disini, dan akan terus menuai pembaca baru saat benar-benar tamat nanti. I hope. 🥺
Like
Comment
Vote
Tip,
Subscribe,
Rate 5,
Author banyak maunya.. ðŸ¤
__ADS_1
Thx and Loophyuu all.. 😘