CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 109


__ADS_3

"Mommy, kemari.." Rico langsung berdiri dari duduknya, dan menarik pergelangan tangan Meta begitu Meta mendekat, membuat tubuh Meta merapat intim dengan tubuhnya.


"Kak.. Rico.. t-tidak mungkin.." Shela menggeleng berkali-kali seraya mengusap air mata yang mulai jatuh kepipinya dengan kasar, saat melihat bagaimana Rico merangkul Meta bahkan memanggil Meta dengan panggilan 'mommy'. Begitu mesra dan terdengar penuh cinta.


Meta yang awalnya kesal atas kehadiran Shela, melihat pemandangan itu sontak merasa sedikit iba. Menyadari bahwa wajar saja Shela merasa terpukul.


Bagaimana pun suaminya yang ganjen ini juga bersalah karena sempat melambungkan harapan Shela setinggi langit, juga gadis yang berlari berurai air mata barusan. Apalagi Shela telah mengantongi restu resmi dari orangtua Rico dan orangtua Lila.


"Shela, maaf, tapi ini kenyataannya. Aku tidak bisa lagi menyimpan kebenaran ini semakin lama, karena pada kenyataannya.. semuanya juga harus dibuka pada waktunya.." ucap Rico bersungguh-sungguh.


Jemari Rico memegang pinggang Meta dengan kuat, seolah menggambarkan betapa kuat dan solid tekadnya saat ini.


Yah.. Rico memang telah memutuskannya, terhitung sejak ia menyadari bahwa hatinya telah menentukan pilihan dan terpaut begitu rupa. Bahwa Meta adalah wanita yang tepat untuknya, dan ia benar-benar menginginkan Meta berada dalam hidupnya saat ini juga di masa depan kehidupannya serta kehidupan Rei.


Rico tau ini adalah awal dari kemelut yang sebenarnya, karena Shela pasti akan mengadukan semua kebenaran tentang Meta tanpa bersisa dihadapan ibu juga ibu Tiar, tapi lagi-lagi Rico sudah tidak peduli. Ia telah membulatkan tekad untuk menghadapi semuanya, karena apapun yang terjadi Rico tidak akan pernah rela melepaskan Meta lagi.


"Aku tidak bisa menerima semua penghinaan ini, kak. Dan kamu.." Shela menunjuk batang hidung Meta yang membisu. "Dasar wanita egois, kamu tidak tau bahwa keegoisanmu akan menyusahkan kak Rico nanti.."


"Itu bukan urusanmu, dan jangan mengganggu istriku.."


Kalimat tegas Rico membuat hati Shela gemetar menahan sakit, terlebih menerima perlakuan Rico yang langsung menepis jari telunjuknya yang berada di depan hidung Meta. Wajah Rico terlihat sangat kesal, menyiratkan pembelaan yang sepenuhnya kepada istrinya, serta tidak terima dengan perlakuan kasar Shela.


"Ini belum selesai, kak.. tunggu saja, karena aku akan mengadukan semua ini kepada Tante Tiar dan Tante Yunita..!" pungkas Shela yang kemudian beranjak dari hadapan Rico dan Meta dengan langkah cepat.


"Shel, tunggu.." Lusi, salah satu dari tiga sahabat Shela yang tersisa dan sejak tadi terperangah dengan adegan yang ada sontak mengejar langkah Shela yang semakin menjauh.


"Kalian berdua mau apa? tidak ingin menyusul teman-teman kalian..?" Rico memalingkan wajahnya kearah Gia dan Fechay yang terlihat masih mematung ditempat.


Ternyata sejak tadi drama satu babak antara Shela dan Rico tidak ada sedikit pun menarik perhatian keduanya. Gia dan Fechay malah berdiri tepat dihadapan Tian, sambil menatap wajah Tian lekat yang bahkan tidak menyadari jika sedang diincar oleh dua wanita yang berbeda alam sekaligus.


"Oh.. itu.. anu.. kami berdua hanya ingin mengenal dekat pak Tian.." Fechay tersenyum malu-malu saat menjawab pertanyaan Rico. Sementara disebelahnya Gia terlihat bertingkah laku yang sama. Malu-malu meong.


"Ehm.. iya pak Tian.. sekalian saya juga ingin mengatakan bahwa saya adalah salah satu model yang menjadi kandidat untuk salah satu produk fashion dari Indotama Group juga.."


Tian menatap keduanya dengan alis bertaut.


"Senang rasanya bisa bertemu langsung dengan pak Tian ditempat ini.." Gia berucap lagi sambil menyunggingkan senyum terbaiknya, berharap senyumnya mampu menarik perhatian Ceo Indotama Group yang terihat begitu menawan. Sungguh lelaki yang bisa memenuhi kategori idaman semua wanita.


Mendengar jawaban kenes dua makhluk serupa namun berbeda jenis itu membuat tawa Rico langsung pecah begitu saja, apalagi ketika melihat ekspresi terkejut Tian yang bercampur bingung usai menerima keterusterangan Fechay dan Gia yang begitu ingin mengenalnya lebih dekat.


Meta yang awalnya sedikit kesal dengan kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir Shela barusan, kini terlihat membekap mulutnya menahan tawa. Bagaimanapun pak Tian adalah bos nya, dan Meta tidak mungkin menertawakan pak Tian secara terang-terangan.

__ADS_1


Bagaimana tidak?


Gia dan Fechay bahkan tidak tau bahwa penyebab pak Tian salah tingkah sama sekali bukan karena mereka berdua terlihat begitu menarik, melainkan karena kehadiran Arini yang telah berdiri dibelakang mereka berdua sambil berkacak pinggang, dengan sepasang mata melotot galak kearah suaminya yang terlihat semakin gugup mendapati pelototan tajam Arini.


"S-sayang.. kenapa berdiri disitu, ayo kesini.." Tian memutuskan berdiri, dengan mengacuhkan kehadiran Gia dan Fechay, Tian mendekati Arini dengan senyum yang lebar.


Detik berikutnya Tian telah menarik lembut pergelangan tangan Arini dan mendudukkannya dikursi pantai, tanpa peduli dengan tatapan Rico dan Meta, apalagi Gia dan Fechay yang bahkan mulut keduanya sampai terbuka saat menyaksikan bagaimana seorang Sebastian Putra Djenar yang hebat nampak memperlakukan istrinya dengan teramat sangat istimewa, layaknya seorang putri.


Tian memperlakukan Arini berkali-kali lipat lebih istimewa dari sebuah porselen mahal yang dijaga dengan sepenuh jiwa raga agar tidak retak.


"Sayang, minum dulu yah, kamu pasti haus kan sejak tadi kejar-kejaran dengan Sean?" Tian menyodorkan es kelapa muda yang segar kearah Arini yang masih cemberut saat melirik Gia dan Fechay yang masih betah mematung seolah penonton istimewa drakor yang sedang menayangkan adegan romantis.


Mau tidak mau Arini akhirnya menghirup pipet tersebut, karena Tian bahkan telah menyodorkannya kedepan mulutnya.


"Bagaimana? segar kan?" tanya Tian dengan senyum salah tingkah, dalam hati merutuk karena Gia dan Fechay yang tak kunjung beranjak.


"Hmm.."


"Mau lagi?"


"Tidak.."


"Sayang.."


"Sebenarnya kalian berdua menunggu apa sih?" Rico yang tidak tega melihat Tian yang gelagapan seperti itu sekian lama akhirnya mengambil inisiatif untuk menegur dua makhluk yang kurang peka dengan keadaan itu.


"Oh.. egh.. tidak.. maaf jika kami mengganggu.." Fechay tergeragap dengan gaya melambai yang khas.


"B-baiklah kami berdua pamit dulu.." pungkas Gia, sambil menarik lengan Fechay untuk berlalu dari situ secepatnya.


"Dagh.. duo ganteng.." sempat-sempatnya Fechay memberikan sun jauh masing-masing kearah Rico dan Tian yang terhenyak kemudian refleks sama-sama bergidik.


"Cihh.. sial, apaan itu..?" ujar Rico sambil menelan ludah, begitu menerima tingkah genit Fechay.


"Gak ditangkap?" ujar Arini sambil menatap Tian.


"Apa yang mau ditangkap?"


"Cium jauh tadi.."


"Idihh.. amit-amit..! itukan waria..!"

__ADS_1


"Satunya normal.."


"Sudah, jangan cemburu begitu. ini minum lagi, sayangku.." ujar Tian semanis madu, kembali menyodorkan es kelapa muda kehadapan Arini, yang akhirnya tetap menyambutnya meskipun dengan wajah yang cemberut.


"Siapa juga yang cemburu? najiss.." ujar Arini sambil menghirup pipet.


Melihat pemandangan Tian yang tidak berkutik dihadapan Arini itu membuat Rico langsung tergelak, tak peduli meskipun wajah Tian terlihat terlipat kesal. Namun tawa Rico itu pun tidak berlangsung lama.


Tawa Rico terhenti mendadak, bukan karena Rico takut dengan wajah masam Tian, tapi karena Meta telah melotot kesal kearahnya, membuat Rico akhirnya juga terdiam, sama-sama tak berkutik seperti halnya Tian.


Sementara itu..


Shela masih saja sesegukan ketika menutup pembicaraan ditelpon. Wajahnya terlihat sangat kacau.


"Tenangkan dirimu, Shel.." Lusi mengelus punggung Shela yang naik turun tak beraturan.


"Hatiku benar-benar sakit, Lusi.. aku tidak menyangka kak Rico akan mengkhianatiku seperti ini. Kalau benar mereka sudah menikah, maka itu artinya kak Rico bahkan sudah membohongi kedua orangtuanya demi wanita sialan itu..!" umpat Shela dengan air mata yang tak kunjung surut.


Yah.. barusan Shela telah mengatakan semuanya kepada Tante Tiar tentang apa yang sudah ia lihat terlebih semua kalimat pengakuan Rico yang mengejutkan.


Tante Tiar menyarankan Shela untuk menenangkan diri, dan tidak melakukan apapun, sebelum Tante Tiar membicarakan semuanya dengan Yunita Wijaya, yang tak lain adalah ibu dari Rico Chandra Wijaya.


.


.


.


Bersambung..


Like


Comment


Vote


Tip,


Subscribe,


Rate 5,

__ADS_1


Author banyak maunya.. 🤭


Thx and Loohyuu all.. 😘


__ADS_2