CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 033


__ADS_3

Ditunggu kunjungannya di :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu like, comment, vote, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏


.


.


.


Rico mungkin tidak menyadari betapa beratnya perjanjian yang telah ia ikrarkan dengan Sang Maha Pencipta. Saking beratnya bahkan diibaratkan arsy-Nya berguncang begitu kalimat sakral itu terucap lewat bibir Rico dengan begitu lancar tanpa sedikitpun keraguan.


Yang ada difikiran Rico saat itu hanya satu.


Rasa lega.


Meta telah menjadi istrinya yang sah dimata agama dan masalahnya selesai.


Sehingga setelah ia mengantongi kata ‘sah’ dari para saksi atas ijab qabul yang ia lakukan, semua prosesi berikutnya dilewati Rico dengan begitu santai. Rico bahkan sanggup mengabaikan semua ekspresi kepedihan di wajah Meta yang disembunyikan wanita itu dengan baik dihadapan segelintir orang yang memenuhi ruang tamu rumah Meta yang sempit.


Sesuai kesepakatan Rico memang akan langsung memboyong Meta kerumahnya begitu akad nikah selesai.  Dan prosesi akad nikah sederhana itu kini telah benar-benar usai. Beberapa tetangga yang hadir bahkan telah beranjak pulang, menyisakan Tian dan Arini yang tertinggal disana.


Arini yang sejak tadi sudah sangat tidak sabar untuk bisa berbincang dengan Meta telah berhasil menarik lengan sahabatnya itu keruang tengah, meninggalkan Tian dan Rico yang sedang berbincang entah membicarakan apa, sementara disudut yang lain ada ibu Arum dan Mayra yang terlihat santai bersama dua orang suster, mereka mengawasi Rei dan Sean bersama-sama yang sedang sibuk memainkan sebuah mobil remote control milik Rei.


Kedua bocah itu pun nampak akur dan larut dalam kegembiraan karena bisa bermain bersama, membuat Arini lebih leluasa saat harus menggelandang Meta keruang tengah.


“Arini.. ada apa..?” bisik Meta agak kebingungan saat harus mengikuti langkah Arini


“Ssstt..”


Meta semakin mengerinyitkan alis mendapati gerak-gerik istri Ceo Indotama Group yang teramat sangat mencurigakan itu.


“Ayo duduk. Ada yang ingin aku bicarakan..”


Meta hanya bisa menurut, menghempaskan tubuhnya di kursi makan, tepat disebelah Arini yang juga duduk disana.


“Ada apa sih ?” kembali bertanya saat menyadari Arini tak kunjung bicara, melainkan hanya menatap wajahnya lekat-lekat.


Penampilan Meta yang tertangkap matanya dari dekat sontak membuat Arini menautkan alis, sehingga ia lupa menanyakan hal yang sejak dua hari lalu ia tahan. Pertanyaannya malah berganti dengan sebuah pertanyaan konyol dalam sekejap mata.


“Siapa yang merias wajahmu ?”


Meta melengos. “Menarikku seperti kambing kesini, hanya untuk menanyakan hal seperti itu ?” dumel Meta gemas sendiri. “Tidak ada acara rias merias. Aku hanya memakai bedak bayi seperti biasa, merapikan alis sedikit, dan memakai lip tint. Memangnya kenapa ?”


Arini menepuk jidatnya sendiri. Kalau saja Arini tau bahwa penampilan Meta akan sepolos ini.. tentu saja dirinya pasti akan mendatangkan MUA nomor wahid untuk membuat wajah Meta glowing dan bersinar sehingga bisa sedikit memukau Rico si tengil itu..!


“Haiihh.. sudahlah.. sudah terlambat.” geleng Arini putus asa, membuat Meta semakin heran dibuatnya. Arini mencoba pasrah namun lagi-lagi saat ia menatap Meta kembali dan menyadari penampilan Meta saat ini.. kepalanya mendadak menjadi semakin pening.


“Bajumu ini..”

__ADS_1


“Ini baju ibu..”


“Astaga..” desis Arini, hampir saja menepuk jidatnya sendiri kalau saja tidak mengingat bisa-bisa Meta akan tersingung dengan sikapnya. “Pantas..” akhirnya hanya bisa mendesah pasrah sambil terduduk lemas.


Bagaimana tidak ?


Penampilan Meta saat ini, dengan gamis panjang berwarna putih lengkap dengan hijab bermotif senada sudah tidak ada bedanya dengan seragam ibu-ibu kompleks yang hendak pergi ke majelis taklim.


“Seandainya saja kamu memberitahuku tentang semua ini tentu saja aku akan membuat penampilanmu jadi lebih baik..”


“Just stop it.” pungkas Meta menatap Arini kesal. “Dua hari jariku hampir keriting menekan nomor ponselmu namun setiap panggilanku selalu di alihkan. So.. bagaimana aku bisa memberitahukan dirimu tentang rencana hari ini..?”


Arini terhenyak mendengar kalimat itu. Baru tersadar kalau tentu saja Meta tidak bisa menghubunginya selama dua hari terakhir karena Tian telah memblokir nomor Meta untuk sementara, sengaja untuk menghindari kontak dengan sang calon pengantin.


Tian bahkan baru saja membebaskan nomor Meta dari daftar blokir kontaknya tadi pagi, saat mereka berdua telah bersiap untuk berangkat kerumah Meta bersama Rei.


“Mmm.. trus apa rencanamu sekarang ?” tanya Arini lagi sengaja mengalihkan pembicaraan.


Meta mengedikkan kedua bahunya acuh. “Rencana apa ?”


“Ishh..!”


“Aku bersungguh-sungguh, Rin... aku tidak punya rencana apa-apa selain menjalankan kehidupan seperti biasa. Mau apalagi memangnya ?”


“Gak honeymoon..?”


Meta menelan ludahnya. Ia merasa harus benar-benar berhasil menjaga ucapannya, gerak-geriknya, bahkan ekspresi wajahnya, jika tidak ingin warna perasaannya saat ini terlihat dengan jelas dihadapan Arini.. apalagi dihadapan ibu nanti.


“Mmm.. kalau itu.. aku.. maksudku kita belum sempat membicarakan..”


“Meta.. kamu.. yakin dengan semua ini ?” usut Arini lagi seraya menatap tajam.


“Maksudnya ?”


“Mmm.. maksudku.. menikah secepat ini dengan Rico..”


“Yakinlah.” pungkas Meta cepat.


Arini menghembuskan nafasnya perlahan. “Apa.. sejauh ini Rico memperlakukan kamu dengan baik ?”


“Tentu saja, Arini. Rei sangat menyukaiku.. bagaimana mungkin pak Rico memperlakukan aku dengan buruk..?”


“Kamu bahkan masih memanggilnya pak Rico..”


Meta malah tertawa kecil mendengar nada kekhawatiran yang diucapkan Arini dengan hati-hati. Kemudian dengan sedikit berbisik ia berucap.. “Belum terlalu terbiasa, tapi seperti Rei.. aku memanggilnya daddy.. keren kan…?” sambil mengedipkan sebelah matanya dengan ekspresi genit.


Dan detik berikutnya Meta tidak bisa lagi menahan tawanya yang berderai saat menyaksikan wajah Arini yang terhenyak, kaget campur merinding. “Cih.. gelaiyy..” Arini refleks mengusap tengkuknya, kemudian ganti mengusap kedua lengannya berkali-kali.. seolah mengundang tawa Meta semakin tak tertahan.


Meskipun pada awalnya Arini begitu khawatir dengan perasaan Meta yang sesungguhnya, tapi melihat sendiri sikap Meta yang kelihatannya masih saja ceria dan absurd seperti biasa membuat perasaan Arini sedikit tenang.


Bayangan buruk selama dua hari ini yang terus menggelayut dibenaknya, sehingga Arini benar-benar merasa sangat tidak sabar untuk bertemu sahabatnya ini untuk menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Meta baik-baik saja seperti kalimat Tian yang terus meyakinkan dirinya.

__ADS_1


Semua kekhawatiran Arini itu bukannya tanpa alasan. Arini mengenal betul seperti apa Rico. Untuk meluluhkan hati lelaki itu saja, seorang Ariella Hasyim yang dewasa, memiliki karir cemerlang, super duper sempurna dan paripurna harus jatuh bangun terlebih dahulu.. lalu apa kabar dengan seorang Armetha Wulansari, sahabatnya yang polos ini ?


Semuanya seperti bertolak belakang seratus delapan puluh derajat. Bukannya Arini memandang remeh Meta, karena meskipun begitu Meta memiliki wajah yang cukup manis.


Pada kenyataannya.. dari segi umur saja Meta bahkan lebih muda dari darinya. Melihat Meta saat ini Arini bahkan seperti bisa melihat cermin dari dirinya sendiri pada beberapa tahun yang lalu. Begitu naïf.


Lagi pula Rico bukan Tian.. yang berfikiran jauh lebih dewasa. Tian bisa terlihat begitu mencintainya meskipun ia masih saja bisa meragukan kesetiaan Tian.


Tapi Rico ?


Rico tetaplah Rico.. yang meskipun lelaki itu tetap setia kepada Lila sampai di akhir hayat.. namun Arini terlalu sering mendengar curahan hati Lila yang selalu merasa bahwa hanya bisa memiliki Rico karena kehadiran Rei, tapi tidak dengan keseluruhan hatinya.


Entahlah..


Mungkin memang benar.. bahwa seorang istri memiliki sebuah sensor yang akurat didalam hati masing-masing, sehingga bisa mendeteksi setiap kejanggalan para suami. Kendatipun tidak kunjung bisa menemukan bukti berarti untuk bisa membenarkan hasil setiap deteksi dari sensor tersebut.


“Meta..” Arini melirik Meta yang terlihat memainkan jari-jemarinya yang bertaut diatas meja.


“Hhmm..?”


“Bagaimana hubunganmu dengan Rudi ?” bisik Arini, rasanya memang tidak mungkin bisa menahan diri untuk menanyakan satu hal itu.


“Beberapa hari yang lalu Rudi sempat datang kesini.” berucap ringan nyaris tanpa beban.


“Oh ya ? lalu ?”


Meta mengangkat bahunya acuh. “Hanya mengembalikan beberapa barang yang tertinggal dilaci meja kerjaku sebelumnya.”


“Lalu..?”


Meta tertawa tanpa suara seraya menatap Arini. “Lalu apa lagi ? ishh.. Arini, kamu ini sedang memikirkan apa..? aku kan sudah mengatakanya berkali-kali bahwa kami hanya berteman biasa, tidak memiliki hubungan spesial apa pun..”


Arini menelan ludahnya. Entah harus lega atau harus merasa sedih melihat kenyataan yang ada didepan matanya ini.


Dimatanya Meta dan Rudi sudah jelas-jelas mulai dekat. Tapi Rico datang seperti perompak yang menyabotase langsung hubungan itu.. dan semua itu didukung penuh oleh Tian, suaminya.


Kalau sudah seperti itu.. pasti rasanya memang sudah tidak mungkin, kan ? Karena hal apapun jika telah melibatkan campur tangan seorang Sebastian Putra Djenar.. ibaratnya bisa mematahkan seribu usaha sekaligus.


“Arini.. semua yang terjadi hari ini, aku memang sudah harus menjalaninya. Aku tidak bisa terus berada disisi Rei, dan tinggal satu atap dengan pak Rico terus kan.. apapun alasannya, itu akan terlihat sangat tidak baik..”


Arini terdiam. Tapi saat ia kembali menatap Meta.. ia malah tidak menemukan apa-apa disana. Ekspresi wajah sahabatnya itu terlihat biasa saja. Tidak bisa dibilang sangat bahagia.. namun tidak ada juga gurat kesedihan.


Namun meskipun demikian, entah kenapa.. Arini tetap saja tidak bisa mempercayai semua yang terjadi hari ini begitu saja..


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


Kalau dukungannya like-nya banyak di bab ini.. aku bakal up lagi hari ini.. 😀


Please give me your Like, Comment, and Vote. Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2