
Jangan lupa bab sebelumnya di LIKE dan SUPPORT dulu yah.. jangan sampai ketinggalan.. 🥰
.
.
.
"Rudi.." panggilan Tian menyadarkan Rudi untuk kembali menegakkan kepala, menatap wajah Tian yang berada tepat dihadapannya, hanya berseberangan meja biro milik Tian. "Terima kasih.."
Rudi menelan ludah, menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Bukan Pak Tian, melainkan aku yang seharusnya berterima kasih." ujar Rudi dengan intonasi lirih.
"Aku, Rud. Aku yang harus melakukannya. Sejak awal kamu telah mendampingiku meraih kesuksesan demi kesuksesan. Yang aku berikan padamu ini tidak cuma-cuma, tapi semua ini adalah hasil jerih payahmu sendiri. Kamu bahkan tau itu.."
Kemudian Tian mengambil map berwarna keemasan tersebut, membukanya dan menilik satu persatu semua aset kepemilikan serta beberapa surat berharga atas nama Rudi Winata.
Benar, semua itu memang bukanlah pemberian cuma-cuma, Rudi telah bekerja keras selama belasan tahun dan mereka telah memulainya bersama-sama. Rudi memiliki lima persen saham dari Indotama Group, dan bahkan menjadi pemegang saham utama dari beberapa perusahaan lainnya serta beberapa hotel besar. Aset bergerak dan tidak bergerak milik Rudi Winata juga tanpa sadar telah terkumpul cukup banyak, dan semua kenyataan itu cukup membuat Tian salut dan terharu. Rudi sudah bisa berdiri sendiri sejak lama, namun lelaki itu memilih terus berada disisinya untuk mendukungnya.
Sejujurnya Tian bahkan merasa berat melepaskan Rudi. Rudi telah memiliki semua kepercayaannya yang jumlahnya melebihi seratus persen. Jika Rudi pergi, Tian pasti akan merasa kesulitan dan kewalahan, namun Tian tau dirinya pun tidak boleh menahan Rudi dengannya sekian lama. Sudah saatnya Rudi membangun kehidupan masa depannya sendiri, apalagi dengan kondisi rumah tangga Rudi dan Laras yang terlihat masih sangat jauh dari harmonis.
"Selain semua ini, aku juga menitipkan satu hal lagi untukmu.." desis Tian sambil mengangkat wajahnya sebentar guna menatap Rudi.
Rudi mengerinyit. "Satu hal..?"
"Laras.."
Rudi terdiam sejenak mendengar permintaan khusus Tian, mendadak ingatannya kembali terbentur pada Laras, yang sejak semalam tidak kunjung bisa ia hubungi ponselnya, membuat Rudi mulai merasa sedikit khawatir dengan istri kecilnya itu.
"Aku tau, aku ibarat lelaki yang egois.." Tian berucap lagi. "Aku terlihat seperti orang yang telah menjebakmu dalam situasi yang sulit.."
Rudi terperangah mendengar kalimat Tian. "P-Pak Tian.. tolong jangan mengatakan kalimat seperti itu.."
Tian menggeleng lemah. "Tidak apa-apa. Seharusnya aku sudah membicarakannya semua ini denganmu sejak awal, meskipun sebenarnya kamu juga sudah tau persis duduk persoalannya. Tentang mengapa aku selalu mengikuti semua keinginan Laras.. meskipun pada akhirnya semua keputusan yang aku lakukan hanya membuat Laras terluka dan terluka.."
Rudi terdiam. Lidahnya kini benar-benar terasa kelu.
"Kamu pasti tau bahwa sejak awal Nenek membawa Laras dari Permata Hati, aku bahkan tidak pernah begitu dekat dengannya. Sampai ketika tiga tahun yang lalu itu.."
"Pak Tian.. tidak perlu mengatakannya karena aku mengetahui semua kebenarannya. Semua itu sedikit demi sedikit membuatku mulai bisa memahami jalan pikiran Laras, memahami mengapa ia begitu keras kepala, mengapa ia begitu sulit diatur, mengapa ia enggan mempercayai orang lain.." Rudi tertunduk. "Sebenarnya aku juga merupakan orang yang memiliki tanggung jawab besar atas semua kekecewaan yang dialami Laras, sedangkan Pak Tian hanyalah orang yang sedang berada pada keadaan dan situasi yang tidak tepat dan terjepit. Maafkan aku Pak Tian.. karena untuk hal yang satu ini, aku belum bisa membuat Pak Tian merasa tenang.."
Tian termanggu mendengar kalimat Rudi yang panjang, yang sebenarnya hal tersebut pun merupakan beban hati dan pikiran tersendiri untuk Tian selama ini.
__ADS_1
Nenek Saraswati telah menitipkan Laras kepadanya untuk bisa menemukan kebahagiaan yang diinginkan gadis malang itu.. namun pada kenyataannya Tian bahkan belum mampu memberikan apapun.
"Rudi.. apakah sebegitu sulitnya bagimu membuka hati?"
Rudi terhenyak mendapati pertanyaan Tian. Ia membisu sekian lama.
"Lepaskan.."
"A-Appa..?"
"Cinta bukanlah sebuah perasaan yang bisa dipaksakan. Perasaan cinta juga tidak bisa dimasukkan dalam kategori seberapa besar loyalitasmu kepadaku."
Tian menarik nafasnya berat. Seberat hatinya saat harus kembali memutuskan ketidak-adilan keputusannya untuk Laras. Tian merasa ia memang harus mengatakannya, karena Rudi pun tidak pantas memikul tanggung jawab atas masa depan seorang wanita yang tidak bisa ia berikan kebahagiaan.
"Aku telah keliru saat memaksamu bersama Laras karena yang ada dirimu telah terluka.. Laras apalagi.."
"Pak Tian aku.."
"Aku tidak akan memaksamu lagi, kamu bebas menentukan semua kebahagiaanmu sendiri.. masa depanmu sendiri.."
Entah kenapa hati Rudi seolah tertumbuk keras. Padahal jauh didasar hatinya, selama ini ia telah lelah berharap Pak Tian akan membebaskannya dari janji yang menyangkut kehidupan dan masa depan Laras yang telah Pak Tian percayakan untuknya
Lalu mengapa begitu mendengarnya seluruh sudut hatinya justru merasa sakit dan ngilu..??
Tian tenggelam dalam lamunan, Rudi pun demikian. Masing-masing dari mereka sibuk mereka-reka gambaran masa depan yang tepat yang sudah harus mereka rancang kembali mulai sekarang.
"Ini, ambillah.." Tian menyodorkan map berwarna keemasan itu, setelah mereka berdua membisu sekian lama.
Saat menyodorkan map tersebut senyum Tian sudah terukir sempurna, seolah kabut dan kegundahan yang menjadi pembahasan mereka beberapa saat yang lalu telah ia enyahkan jauh-jauh.
Rudi menerima map tersebut dengan tangan bergetar. Selama ini Rudi bahkan enggan menyimpan semua miliknya, dia bahkan meminta Tian untuk menyimpan semua itu untuknya.
"P-Pak Tian.."
"Sudah saatnya kamu menanggalkan panggilan itu juga. Mulai sekarang panggil aku Tian saja, seperti halnya Rico. Kamu adalah sahabatku, juga mitraku. Indotama Group serta beberapa anak perusahaanku yang lain bahkan masih membutuhkan support dirimu.." ujar Tian sambil terus menyunggingkan senyum, berusaha menghapus sisa-sisa keraguan milik Rudi yang masih terpancar jelas pada sepasang matanya yang kini bersinar penuh haru.
"Pikirkanlah kembali dengan baik mana yang akan jadi prioritasmu. Dan kalau kamu sudah memantapkan tekad untuk memulainya, kamu jangan sungkan untuk meminta bantuan dariku. Kamu boleh meminta apa saja.."
"Tentu saja, Pak.."
"Tian." ralat Tian cepat.
__ADS_1
"Baiklah.. T-Tian.." ujar Rudi dengan lidah sedikit kaku, namun saat mengucapkannya Rudi merasa penghargaannya kepada Tian justru menjadi semakin berlipat ganda, meskipun ia telah menanggalkan panggilan 'Pak' yang telah belasan tahun ia sematkan untuk Tian.
Tian tersenyum mendengarnya. Sementara Rudi terlihat bangkit dari duduknya
"Tian, boleh tidak aku memelukmu?"
Mendengar permintaan itu sepasang mata Tian langsung melotot tajam.
"Tidak boleh!"
"Egh.. t-tapi kenapa? katanya aku boleh minta apa saja. Lalu kenapa aku hanya minta memelukmu saja tidak boleh..?"
Tian menatap Rudi dengan ekspresi galak. "Kamu mau aku pukul yah? untuk apa meminta memelukku? minta yang lain saja..!" dumel Tian lagi.
Mendengar itu Rudi tidak bisa lagi menahan tawanya. Dan meskipun awalnya Tian terlihat sangat dongkol, pada akhirnya Tian pun tidak tahan untuk tergelak bersama Rudi.
"Enak saja meminta tubuhku yang berharga ini. Sudah tau tubuhku ini hanya milik istriku. Dasar.. berani-beraninya meminta aset pentingnya Arini.."
"Iya.. iya.. baiklah.. aku tidak akan meminta tubuhmu yang berharga itu lagi.." Rudi terlihat mengusap tengkuknya sambil tersenyum kecil.
"Tentu saja. Ingat itu baik-baik, karena kalau kamu berani meminta hal itu lagi, maka aku tidak akan segan menendang bo kongmu itu..!!"
.
.
.
Bersambung..
Like
Comment
Vote
Tip,
Subscribe,
Rate 5,
__ADS_1
Author banyak maunya.. ðŸ¤
Thx and Loophyuu all.. 😘