CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 047


__ADS_3

Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘


Ditunggu kunjungannya di :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan


kontrak juga kayak CTIR. 🙏


.


.


.


“Kamu pikir cuma kamu saja yang tidak memikirkan apa-apa ?”


Meta menoleh kesamping, dan ia malah disuguhi wajah Rico yang tersenyum mengejek.


“Huhh !” akhirnya memilih membuang nafas dongkol karena tidak tau harus melakukan apa untuk membalas ejekan Rico kepadanya, sedangkan Rico malah tertawa kecil mendengar hembusan nafas yang terlontar keras itu.


“Pak Rico, kenapa sih selalu saja mengikuti kemauan ibuku ?”


“Kemauan ibumu yang mana ?”


“Yang meminta kita menginap dirumah ini dan yang meminta Rei tidur dengan ibu. Lainkali jangan langsung mengiyakan.. pikir dulu dong sebelum setuju..”


“Sudah aku pikirkan.” berucap santai seraya menopang kepalanya dengan kedua lengan, menghadap langit-langit kamar dimana kipas kecil sedang berputar dengan bunyi derit kecil yang berirama.


Meta melotot mendengarnya. “Lalu kenapa setuju saja dengan keinginan ibu ?”


“Kalau kamu jadi aku.. bagaimana caranya bisa menolak ?”


Meta terdiam. Namun dalam hati berdecih..


‘Cihh jadi semua yang lelaki ini lakukan hanya sekedar pencitraan diri ? kamuflase belaka ?’


“Pak Rico benar-benar menyebalkan..” ucap Meta tak tertahan.


“Aku ? menyebalkan ? sejak kapan aku..”


“Sejak dulu pak Rico. Sejak dulu pak Rico selalu menjadi orang yang menyebalkan..!”


Rico mengerinyitkan kedua alis. Kali ini dia telah benar-benar memiringkan tubuhnya kearah Meta yang ada disampingnya. “Memangnya kapan aku pernah membuatmu kesal ?”


Meta melotot mendengar kalimat tanpa dosa itu. Bisa-bisanya lelaki itu mengatakan kalimat itu ? memangnya dia tidak pernah berfikir seberapa menyebalkannya dirinya selama ini ?


‘Untung saja kamu ganteng pak Rico.. kalau tidak sudah sejak dulu wajahmu itu aku hajar..!’


Geram Meta dalam hati saat mengingat betapa banyaknya moment tidak menyenangkan yang telah ia lewati besama seorang Rico Chandra Wijaya jauh sebelum ini.


“Pernah sekali waktu ada insiden diruangan pak Tian.. aku tidak sengaja menumpahkan kopi keatas meja pak Tian dan nyaris mengenai dokumen penting yang ada diatas meja ? ingat tidak ?


“Yang mana yah..?” Rico terlihat menerawang, mencoba mengingat-ingat.


“Yang waktu pak Rico sedang bicara dengan pak Tian diruangan, trus aku masuk dengan seorang klien pak Tian dari perusahaan otomotif.. wanita cantik dengan rok pendek yang..”

__ADS_1


“Oh itu.. iya ingat, aku ingat.. wanita itu cantik sekali, namanya Ana dari perusahaan toyona kan..?” tebak Rico dengan jitu.


“Nah.. tuh kan ingat.. gara-gara ulah pak Rico yang kebelet mau kenalan dengan ibu Ana, tangan pak Rico menyenggol map yang aku pegang, kemudian map itu jatuh keatas meja.. mengenai cangkir kopi diatas meja dan..”


“Tunggu..” pungkas Rico memotong semua kalimat yang terlontar dengan semangat empat lima milik Meta. “Memangnya.. memangnya yang menumpahkan kopi waktu itu kamu yah ?”


Mendengar pertanyaan itu wajah Meta langsung dihiasi mendung tebal.


‘Cihh.. giliran wanita cantik dan sexy dia ingat sampai ke akar-akarnya.. giliran wanita apes yang akhirnya kena semprot pak Tian habis-habisan karena ke-ganjenan sahabatnya, dia malah tidak ingat..’


“Wah.. ternyata yang waktu itu benar-benar kamu yah ?”


“Huhh..”


“Maaf yah, gara-gara kejadian itu kamu pasti kena teguran Tian..”


Meta melengos, namun sesaat kemudian matanya kembali bersinar menatap Rico.


“Sebentar.. kalau yang ini pasti Pak Rico ingat..” mencoba kembali berusaha megingatkan catatan dosa seorang Rico Chandra Wijaya di dalam hidupnya.


“Ada lagi ?” alis Rico bertaut.


 Meta menatap Rico lagi dengan serius. “Saat itu aku baru keluar dari toilet.. lalu tiba-tiba pak Rico muncul dari arah toilet pria dengan terburu-buru dan menabrakku dengan keras. Bagaimana ? ingat tidak, pak ?” tatap Meta dengan aura tatapan memaksa.


“Memangnya pernah ?” Rico malah bertanya dengan tampang bodoh, membuat sepasang mata Meta nyaris meloncat keluar.


“Masa iya tidak ingat sih ?”


“Aku benar-benar tidak ingat. Memangnya kenapa ? apa kamu sampai dilarikan kerumah sakit karena aku menabrakmu ?”


“Benarkah ?”


“Pak Rico tidak ingat ?”


“Tidak..”


“Sama sekali tidak ingat..?”


Rico terdiam sejenak, wajahnya terlihat berfikir keras namun akhirnya ia tetap menggeleng perlahan.


Meta menepuk jidatnya sendiri dengan gemes. “Astaga.. tanganku bahkan lecet, dan pak Rico sendiri yang mengambil kotak p3k, lalu menaruh plester ditanganku ini..” berucap gemes seraya mengacungkan tangannya yang pernah berada didalam genggaman Rico.


Meta bahkan masih mengingat dengan jelas betapa jantungnya berdebar hebat saat kejadian itu. Wajahnya yang begitu pucat pasi membuat pak Rico panik, padahal Meta pucat pasi bukan karena luka kecil ditelapak tangannya.. melainkan karena tangan besar pak Rico yang terus-menerus menggenggam tangannya, membuat jantung Meta seolah lupa untuk memompa aliran darah hingga wajahnya menjadi pucat pasi seperti mayat. Tapi apalah daya.. semua kejadian aneh, menyebalkan, bahkan yang begitu manis sekalipun sepertinya tidak ada satu pun yang nyantol di otak pak Rico.


“Sudahlah.. mengobrol denganmu membuatku ngantuk..” ucap Rico cuek.


“Eghh.. pak Rico tunggu dulu.. satu, satu lagi.. kalau yang ini pasti ingat..”


“Percuma !” Rico malah mengambil salah satu guling yang ada diantara mereka untuk menutup wajahnya namun dengan cepat Meta kembali menarik guling itu agar terlepas dari upaya menutupi wajah Rico.


“Pak Rico !” pekiknya kesal.


“Apa sih.. sudah lah percuma.. dasar nolep kamu tuh..”


Meta cemberut. “Baik.. satu lagi.. aku janji satu lagi.. terakhir deh.. pliss..”


“Baiklah.. apa ?” Rico menyerah.

__ADS_1


“Waktu itu pak Tian sedang keluar negeri, trus ada laporan milik best electro yang telah salah di input oleh Vera. Saat itu pak Rudi memerintahkan aku dan Arini untuk membantu pak Rico memperbaiki dokumen di meeting room..”


“Trus..?”


“Seharian itu aku dan Arini bekerja dengan pak Rico..”


“Iya aku ingat. Arini yang membantuku memperbaiki semua dokumen itu. Kita bahkan harus lembur sampai malam untuk menyelesaikannya..”


Mendengar itu wajah Meta mulai berseri, sebelum kalimat Rico berikutnya telah membuat semua senyum itu hilang dalam sekejap.


“Jadi yang membantu Arini waktu itu.. kamu yah ?” Rico berucap dengan nada sedikit ragu.


“Huhh !!”


“Egh.. kenapa ? bukan kamu..?”


Meta menatap Rico dengan kekesalan yang sudah sampai di ubun-ubun. Saking kesalnya rasanya Meta ingin menelan lelaki dihadapannya ini dengan sekali telan.


“Oh iya.. itu.. itu sepertinya memang kamu yah..” ucap Rico lagi dengan mimik yang jelas sekali terlihat keraguan disana.


“Sudahlah.. ternyata memang percuma..” Meta membalikkan tubuhnya dengan kesal yang tertahan, memilih memunggungi Rico sebelum tensi darahnya naik mendadak.


‘Bisa-bisanya pak Rico tidak punya sedikit pun memory tentang aku yang tersimpan di otaknya ? ternyata bagi pak Rico, diriku ini benar-benar ibarat udara yang tak kasat mata ? selama ini begitu sering berada disekitarnya namun tidak pernah sedikit pun terlihat..?!’


Meskipun demikian Meta tidak bisa mencegah hatinya untuk ngedumel panjang pendek.


‘Nasib menjadi wanita yang tidak ada apa-apanya kok segini amat ya ?’


Bathinnya lagi dengan perasaan gondok.


Sementara itu.. tanpa diketahui Meta, jauh didalam sana.. didalam lubuk hati yang terdalam.. Rico malah tertawa ngakak dalam hati.


‘Dasar wanita polos ! bisa-bisanya dia percaya bahwa selama ini aku tidak mengetahui siapa dia.. dan insiden apa saja yang pernah terjadi diantara mereka ?’


Rico menahan diri mati-matian agar jangan sampai tawanya pecah berderai. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan Meta ? sementara Meta adalah sahabat dekat Arini yang terlalu sering membuat ulah dengan sikapnya yang polos, aneh dan absurd itu.


‘Armetha Wulansari.. aku bahkan tau kalau kamu memiliki hobby yang suka menatapku terang-terangan..’


Rico membatin sambil lagi-lagi tersenyum dalam hati.


Mungkin karena selalu merasa dirinya tidak pernah dianggap.. selama ini Meta bahkan dengan cueknya bisa menguliti Rico sampai puas setiap kali mereka bertemu di kantor pusat Indotama Group, dan Rico sudah mengetahui semua tentang kebiasaan wanita itu sejak lama..


.


.


.


Bersambung..


Ini double up-nya loh.. truss.. mana


suaranya..? hahahha.. 😅


Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. adalah harapan author selalu.. 🤗


Thx and Lophyuu all.. 😘

__ADS_1


__ADS_2