CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2. 9 - KESUKAAN PARA LELAKI


__ADS_3

Arini yang memang sedang getol-getolnya memperkenalkan tentang aturan  makan yang baik dan benar secara konsisten kepada Sean, saat ini sedang menemani Sean di meja makan untuk membiasakan bocah itu duduk dibangku makannya sekaligus membiasakan Sean makan dengan menggunakan alat makan dengan benar.


Bocah pintar yang rupawan itu saat ini sudah hampir menghabiskan makanannya sendiri manakala Arini menangkap sosok Laras yang muncul dari arah depan.


“Baru pulang, Ras..?” tanya Arini ramah saat menyadari kali ini Laras terlihat seorang diri dan tidak pulang bersama Tian seperti beberapa hari belakangan.


“Iya kak..” menjawab singkat. “Halo Sean.. how are you today..?” Laras sudah menyapa Sean yang sedang sibuk dengan peralatan makannya.


Sean yang mendengar sapaan itu mengangkat wajahnya sebentar. “I’m fine, aunty..” menjawab singkat sebelum kembali menyuapkan sendok berisi makanan kedalam mulutnya, membuat Laras tertawa kecil melihat kepintaran sekaligus kelucuan Sean.


‘Bocah ini tampan sekali.. seperti daddy nya..’


Hati Laras yang berbisik memuja membuatnya senyam-senyum sendiri saat menatap Sean.


“Tidak pulang bersama Tian..?”


Pertanyaan Arini memecah lamunan Laras yang awalnya masih berdiri terpesona sambil menatap Sean yang seolah merupakan duplikat Tian versi mini dimata Laras. Kepala Laras sontak menggeleng.


“Tidak, kak..”


“Lalu tadi kamu pulangnya dengan siapa?”


“Dianter Rudi.” menjawab singkat sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk kamar, merasa malas jika harus berbicara panjang lebar dengan Arini. “Aku masuk dulu, kak..” pamitnya sambil beranjak.


“Egh.. kamu.. apa sebaiknya tidak makan malam dulu, Ras ?“


“Tidak, kak.. aku tidak suka makan malam..”


“Takut gemuk, yah?” Arini masih saja bertanya, seperti biasa ia selalu mencoba mengobrol dengan Laras meskipun gadis itu terlihat tidak terlalu suka mengobrol dengannya atau dengan siapapun.


Sifat Laras memang seperti itu. Tapi bukannya merasa tersinggung, Arini justru sering  merasa kasihan dengan Laras yang kelihatannya bahkan tidak memiliki teman sama  sekali. Sepertinya hidup bersama Saraswati sejak menginjak remaja dan tenggelam dalam pekerjaan yang dibebankan padanya membuat Laras layaknya hanya mengenal Saraswati seorang dalam hidupnya.. dan itu membuat Arini merasa iba.


“Jangan terlalu memikirkan bentuk tubuh, Ras.. karena yang harus kamu prioritaskan harusnya kesehatan kamu dulu..”


Mendengar kalimat itu membuat Laras berbalik dengan senyum. “Tentu saja aku harus memikirkannya, kak.. aku kan masih muda.. aku tidak mau memiliki tubuh yang terlalu berisi seperti kak Arini..” berucap demikian dengan raut wajah khas-nya yang tanpa dosa.


“Hah? a-apa.. apa aku terlihat berisi, Ras?” Arini terhenyak mendengar kalimat itu.


“Memangnya kak Arini tidak pernah menimbang berat badan yah?”


“Aku menimbangnya kok..” kilah Arini entah kenapa dirinya merasa panik dengan pembicaraan saat ini dengan Laras. “Mmm.. memang setelah melahirkan berat badanku bertambah tiga kilogram dari berat semula. Tapi.. apa bertambah tiga kilogram itu sangat terlihat?” bergumam seolah pada diri sendiri.


‘Apa aku memang terlihat gemuk ? apa timbanganku selama ini salah ?’


Membathin dengan pikiran yang mulai diliputi rasa insecure bahkan paranoid.


“Yang jelas pria jauh lebih suka wanita yang langsing daripada yang gendut kan, kak, kalau tidak percaya, coba saja tanya pada kak Tian..”


Dan kalimat terakhir Laras itu merupakan the perfect closing statement dari Laras yang membuat kepercayaan diri Arini langsung terjun bebas, mencelos hingga kedasar..


XXXXX


Awalnya Tian tidak terlalu peduli saat melihat Arini yang berkali-kali berdiri didepan cermin besar seraya mematung beberapa saat, menatap pantulan dirinya sendiri yang tercetak jelas dipermukaan cermin. Namun karena adegan yang sama terus berulang hingga beberapa kali mau tidak mau Tian akhirnya memilih menutup layar laptopnya, kemudian menatap gerak-gerik aneh istrinya itu dengan seksama dari sofa panjang tempat ia duduk sekarang.


“Arini.. kamu ini sedang apa sebenarnya?” Tian akhirnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya.


Sedikit terhenyak mendengar teguran Tian yang tiba-tiba sontak akhirnya Arini membalikan tubuh membelakangi permukaan cermin, ganti menatap Tian yang juga sedang menatapnya dengan intens.


“Sayang, apa kamu juga suka melihat wanita dengan tubuh yang ideal..?” berucap sambil mendekati Tian, dan baru berhenti saat tubuhnya sudah berdiri tepat dihadapan Tian yang akhirnya sedikit mendongak mendapati tubuh Arini yang sudah menjulang tepat dihadapannya.


“Pertanyaan macam apa ini..?” imbuhnya sedikit bingung dengan kelakuan absurd istrinya malam ini.

__ADS_1


“Jawab saja.”


Tian terdiam sejenak, sebelum akhirnya menelan ludah saat melirik kecil kearah istrinya yang bertubuh sintal. “Yah.. tidak munafik sih.. aku memang sangat menyukai tubuhmu yang sexy..”


“Aku tidak sedang bicara tentang tubuhku, tapi aku bicara tentang tubuh wanita pada umumnya..”


“Haihh.. maksudmu apa? aku tidak mengerti. Aku bahkan tidak pernah tertarik memperhatikan tubuh wanita lain selain dirimu.” ujarnya bersungguh-sungguh karena memang itulah kebenarannya.


Mendengar itu Arini malah menatap Tian dengan tatapan mereka-reka.


“Sudahlah, intinya aku menyukai tubuhmu itu saja!” berucap demikian sambil berdiri dan memeluk Arini dengan intim. Mulut Tian bahkan sudah berjalan-jalan kesana kemari hanya untuk mencari spot-spot yang ia sukai untuk ia hadiahi stempel kepemilikan.


“Sayang..” Arini mencoba mengurai dirinya dari jajahan Tian.


“Hhmm..”


“Sayang.. dengar dulu..” Arini benar-benar sudah menjauhkan dirinya dengan tujuan meminta perhatian sepenuhnya dari Tian.


Menyadari hal itu Tian membuang nafas kesal tapi akhirnya ia tetap berucap meskipun dengan nada tidak sabar yang kentara. “Hhh.. iya.. iya.. memangnya apa lagi yang harus aku dengar? cepatlah..!”


“Aku hanya ingin tau pendapatmu.”


“Iya apa..?” bertanya lagi dengan nada yang semakin tidak sabar.


“Apa kamu lebih menyukai tubuh langsingku yang dulu sebelum hamil dan melahirkan Sean?”


“Aku menyukai tubuhmu yang dulu dan sekarang.”


“Sayang.. aku serius!”


“Memangnya siapa yang sedang bercanda..?!” Tian mulai kesal, mengingat kesenangannya yang sejak tadi selalu terganggu. “Lagian kenapa juga kamu membicarakan hal yang aneh sejak tadi? memangnya apa yang sudah meracuni otakmu sebenarnya..?”


“Laras?” Tian sontak mengerinyit.


“Iya.. Laras. Dan tadi dia bilang.. dia bilang..”


“Dia bilang apa?”


“Dia bilang pria jauh lebih suka wanita yang langsing daripada yang gendut..”


“Tapi kamu kan sama sekali tidak gendut, sayang. Lalu untuk apa juga kamu mendengarkan bocah kemarin sore itu?”


“Tapi.. saat aku menyuruhnya makan malam, dia mengatakan kalau dia tidak suka makan malam karena


tidak mau memiliki tubuh yang terlalu berisi seperti tubuhku..”


"Cih.. bocah itu tau apa dengan kesukaan kami para lelaki..?" sudah melengos kesal mendengar kalimat Arini, terlebih saat mengetahui bahwa lagi-lagi ini tentang Laras.. dan selalu saja tentang Laras..!


Namun saat melihat seraut wajah Arini yang menatapnya dengan sepasang telaga yang jernih, hati Tian yang awalnya dongkol mendadak sembuh sendiri.


Demi apa?


Tian tersenyum dalam hati bercampur gemas saat menyadari bahwa setelah tiga tahun mereka mengarungi bahtera rumah tangga.. Arini Ramdhan, istrinya ini, bahkan masih memiliki sifat sepolos saat awal Tian mengenalnya.


“Sayangku.. tolong tanamkan ini baik-baik diotakmu juga dihatimu, bahwa aku selalu menyukai apa saja jika itu menyangkut dirimu, termasuk tubuhmu. Aku bahkan tidak suka jika kamu berusaha untuk membuat orang lain menyukaimu.. entah itu Laras atau siapapun itu, karena orang yang berhak menyukaimu itu hanya Sebastian Putra Djenar, dan orang itu adalah aku. Aku adalah pemilik mutlak atas dirimu.  Apa kamu mengerti?”


Arini tersipu usai mendengar kalimat panjang mengintimidasi yang teramat sangat manis dari awal hingga akhir tersebut. Kedua pipinya telah menjadi semerah cherry.


“Sayang.. kamu paling bisa yah merangkai kata untuk menyenangkan telingaku..”


“Astaga.. jadi saat aku sedang berusaha keras mencurahkan segenap perasaan yang ada didalam hatiku, kamu malah berfikir aku sedang menggombal..?” melotot kecil, sedikit tidak terima dengan respon Arini yang justru menyangsikan kesungguhan kalimatnya barusan.

__ADS_1


“Habisnya semua ucapanmu selalu terlalu manis didengar oleh telingaku ini..”


“Itu karena aku benar-benar memujamu.” Kemudian melirik kecil. “Aku tidak sepertimu yang selalu dengan mudah menepisku..”


“Egh, menepismu? kapan aku begitu?”


“Sering.”


“Sering..?”


“Iya sering. Aku bahkan tidak pernah menang melawan sainganku itu.. bocah tampan bernama Sean Argano


Putra Djenar.. kamu bahkan akan langsung mengabaikanku setiap kali dia mencuri perhatianmu..”


Mendengar itu Arini langsung terpingkal-pingkal, terlebih saat menyadari wajah Tian yang terlihat serius saat berbicara tentang rival terberatnya.


“Sama anak sendiri kok cemburu..” kilahnya merasa lucu.


“Tentu saja aku cemburu, apa kamu tidak bisa melihat bahwa bocah itu sangat tampan ? dia bahkan jauh lebih tampan dari Ceo Indotama Group yang terkenal tampan itu..” kilah Tian lagi, semakin membuat Arini tergelak.


“Sudah.. sudah sayang.. kalau kamu seperti itu terus bisa-bisa aku akan sakit perut karena kebanyakan tertawa..” lerai Arini bersungguh-sungguh meski masih dengan sisa-sisa tawanya.


Menanggapi itu Tian tersenyum. “Baiklah.. biar kita impas, kamu juga harus merasakan cemburu seperti yang aku rasakan.. “


Pupil mata Arini melebar mendengar kalimat Tian, dahinya sontak mengerinyit. “Maksudnya?”


Senyum aneh Tian sudah membuat Arini curiga dengan maksud tersembunyi suami mesumnya itu. “Aku berniat membuat seorang gadis mungil yang seperti dirimu, tapi nantinya dia akan lebih cantik darimu. Kelak dia akan menjadi rival terberatmu.."


Belum sempat Arini mencerna dengan baik maksud dari kalimat yang diucapkan Tian manakala lelaki itu sudah membopong tubuhnya menuju peraduan, tempat berpusatnya seluruh cinta mereka yang melimpah ruah.


“Modus..” ujar Arini mencibir saat mendapati senyum Tian yang terukir sempurna diwajah yang berada diatas wajahnya, sudah berada diposisi konvensional yang tepat.


“Tapi kamu suka kan?” balas mencibir sambil menyesap kenikmatan tanpa permisi.


“Apa aku mengatakannya?” ucap Arini menggoda, disela-sela mengambil nafas yang sedang berada dalam penjajahan yang manis namun menuntut.


Tian tertawa tanpa suara. “Aku tidak mudah diprovokasi. Ingat itu baik-baik, sayangku..” berucap demikian seraya menarik lepas piyama yang dipakai Arini begitu saja tanpa membukanya dengan sabar seperti biasa.


Arini memekik tertahan menyaksikan kancing piyamanya yang berhamburan terlepas dari jahitan yang mengikat. Matanya sontak melotot kearah Tian yang malah tersenyum senang mendapati responnya yang terpana.


Malam ini.. suhu kamar mereka yang luas terasa sangat panas.


Penyejuk ruangan yang biasanya teramat sejuk bahkan tidak bisa meredam hawanya..


Dinginnya malam tidak mampu membantu menyejukkan..


Seperti biasa, Tian terus membuat Arini merasakan penyatuan indah yang terus berulang, namun yang dirasakan Arini malah sebaliknya.


Tidak peduli seberapa kerasnya Tian membuatnya luluh lantak.. dirinya tidak pernah bisa untuk tidak menyukai setiap tindakan suaminya itu..


Entah dengan kelembutannya..


Entah dengan kekuatannya..


Bagaimana mungkin Arini menolaknya?


Arini justru selalu menyukai semua yang dilakukan Tian, bahkan mendambanya, sekalipun yang dilakukan lelaki itu tak jarang merupakan tindakan yang tidak terkendali.. tetap saja yang dirasakan Arini hanyalah perasaan cinta yang dibalur kenikmatan.. yang selalu begitu indah diawal penyatuan.. dan akan terus terasa indah hingga diakhir petualangan..


...


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2