CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Jawaban


__ADS_3

‘Bab sebelumnya sudah di like and


comment belum sih ? kalau belum.. ayoo, scroll keatas lagi.. tekan dulu like-nya yah.. hahaha..’


.


.


.


.


.


“Apa aku benar-benar tidak berhak diberi tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di apartemen kemarin malam ?”


Tian menghela nafas sejenak, menyadari bahwa saat ini ia tidak memiliki celah lagi untuk menghindar. “Hanya ulah orang usil pemburu berita..” pungkas Tian singkat, enggan membahasnya.


Arini mencibir. “Itu kan kata Haris.


Sementara kamu sendiri bahkan memikirkan kemungkinan lain yang pastinya lebih serius daripada hanya sekedar seorang pemburu berita, kan ?”


Tian terdiam, dalam hati mengakui jalan pemikiran Arini yang bahkan bisa menebak dan menyelami apa yang sedang bergelut dalam fikirannya.


“Seharusnya.. kalau kamu ingin aku bisa dengan mudah menerima dan memahami semua ini, bukankah sebaiknya kamu juga harus bisa mengatakan hal yang sebenarnya ?”


“Heh, kamu ini sebenarnya sedang


membahas apa..?” masih mencoba menghindar dari pembicaraan.


“Aku sedang membahas ‘orang-orang tak kasat mata’ yang ada disekelilingku !”.


Tian tercekat, menelan ludahnya, merasakan lidahnya yang mendadak kelu.


“Aku.. jujur aku tidak suka jika hidupku menjadi seperti ini.”


“Menjadi seperti ini ?” ulang Tian.


Arini menganguk dengan yakin. “Apapun alasannya, ini sangat tidak adil. Kamu tidak boleh mengendalikan hidup seseorang seperti itu.”


‘…Tidak boleh mengendalikan hidup seseorang ? cih, aku bahkan bisa dengan mudah mengendalikan kehidupan semua orang yang ada disekelilingku kalau aku mau, lalu kenapa tidak boleh mengendalikan hidup seseorang yang adalah istriku..?’


Tian membuang muka sambil tersenyum kecut. “Begitukah ? bukankah selama ini kamu tetap bisa melakukan apa saja..?”


“Itu dulu.. sebelum aku tau bahwa bebas melakukan apa saja menurut versimu adalah dengan memantau setiap inchi aktifitas aku dan apapun yang aku lakukan. Aku bahkan tidak tau bagaimana mungkin kamu melakukannya. Aku juga butuh privacy, aku tidak suka membayangkan kalau ternyata selalu ada orang-orangmu yang berada disekitarku dimanapun aku berada seperti hantu. Itu mengerikan.” Arini berucap  panjang lebar.


Tian kembali terdiam.


‘...dan inilah yang aku takutkan, Arini.. ketidak-siapan dirimu untuk menerima kehidupanku yang seperti ini. Kamu bilang tadi mengerikan ? heh.. bukan


mengerikan, tapi membosankan, dan aku akan terus hidup dengan kehidupanku yang membosankan ini, meskipun aku sendiri tidak ingin..’


Tian menarik nafas sejenak, menatap wajah Arini dalam-dalam. “Arini.. kamu hanya perlu bersikap tidak peduli, jalani hari seperti biasa seolah-olah kamu tidak tau apa-apa, buatlah dirimu nyaman seolah tidak ada yang berubah dari hari kemarin. Dengan begitu, yang kamu anggap mengerikan.. mungkin tidak akan seburuk itu…”


“Tapi aku tidak..”


“Kalau kamu rewel dengan kehadiran mereka, secara tidak langsung kamu ikut menyulitkan mereka. Jangan menyusahkan mereka, biarkanlah mereka berkerja, karena sama seperti pekerjaan lainnya, pekerjaan yang mereka lakukan itupun adalah cara mereka menyambung dan menghidupi keluarga mereka dirumah. Jika kamu bisa berdamai dengan semua ini, sama artinya kamu sudah membantu memudahkan mereka melakukan pekerjaan mereka yang sebenarnya beresiko tinggi, yang pastinya tidak semudah seperti apa yang orang lain fikirkan..”


Arini menatapnya lekat. “Memangnya kamu tidak merasa muak hidup seperti itu ?”

__ADS_1


Tian tertawa sumbang. Ia berjalan kearah ranjang dan mendudukkan dirinya disana. “Muak ? Entahlah.. aku sudah menjalani semua ini bahkan sejak aku belum benar-benar memahami betapa kerasnya kehidupan. Awalnya aku juga kesal setengah mati, nenek dan almarhum ayahku.. saat itu aku bahkan merasa mereka mau merampok kehidupanku. Tapi setelah berdamai dengan keegoisanku sendiri.. akhirnya aku juga bisa berdamai dengan keadaan, menerimanya.. kemudian terbiasa..” Tian mengangkat bahunya acuh diakhir kalimat.


Arini menghembuskan nafasnya perlahan. Kalimat sederhana Tian cukup mampu menyentuh relung hatinya. Arini merasa malu saat menyadari lagi-lagi naluri kepekaan dari hati nurani-nya sangat kurang.


Seharian ini ia terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri, tidak terima dengan keputusan Tian, sibuk memikirkan kedepannya ia tidak lagi leluasa melakukan semuanya seperti biasanya, mengapa beberapa aturan Tian seperti kehadiran mang asep membuatnya tidak terima, terlebih mengetahui Tian menempatkan sejumlah orang untuk mengawasinya selama ini membuat dirinya kesal.


Hhhh.. ia bahkan lupa memikirkan bahwa seperti kata Tian tadi.. jika ia rewel dengan kehadiran mereka, secara tidak langsung ia ikut menyulitkan mereka. Yah.. mereka.. sejumlah anak buah Tian yang tanpa ia ketahui ternyata begitu gesit mengetahui dan mengawasi semua gerak-geriknya selama ini, menjadi pengganti mata Tian sehingga lelaki itu dengan mudahnya mengetahui semua yang menyangkut dirinya tanpa terkecuali.


“Jadi menurutmu saat ini aku sedang egois ?”


“Sedikit,”


Arini terdiam lagi. Berfikir sejenak


seolah menimbang-nimbang sesuatu. Tian sudah melakukan banyak hal untuknya, bahkan saat ini ia berada disini, menerima semua kebaikan hati yang dilakukan lelaki itu untuk ayah dan dirinya..


‘Arini.. bagaimana mungkin kamu bisa membalas semua kebaikan Tian ini ? Lalu untuk apa sekarang meributkan sesuatu yang bahkan dilakukan Tian semata-mata untuk keselamatan dirimu ?’


Arini menelan ludahnya sendiri menerima teguran yang datang dari kedalaman sanubarinya.


‘Bahkan dirinya belum melakukan apapun untuk membalas semua yang telah Tian lakukan untuknya.. terlebih untuk ayah..’


“Aku mengerti apa yang kamu


rasakan saat ini. Tapi tolong mengertilah juga.. untuk hal ini, dengan sangat menyesal aku tidak bisa melakukannya. Kamu setuju atau tidak.. kamu tetap harus menerimanya,”


Arini menarik nafas dalam-dalam, sebelum mencari kalimat yang tepat untuk mengatakan apa yang sudah ia putuskan sejak tadi. Lagian seperti kata Tian barusan.. ia bahkan harus tetap menerima keputusan Tian tidak peduli dirinya setuju atau tidak.


Lelaki itu egois sekali.. tapi akhinya Arini tetap meyakini bahwa mulai detik ini ia memutuskan untuk tidak


hanya menutup mata, melainkan menutup telinga, menutup mulut, dan menerima semuanya seperti yang diinginkan Tian.


“Mau meminta hadiah lagi ?” Tian melotot.


“Aku harus pandai mencari peluang. Dan seperti biasanya, aku mau sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uangmu,”


Tian mengulum senyum. “Baiklah.. sekarang apa lagi ?”


“Yakin ingin mengabulkan ?”


“Aku harus mendengarnya dulu. Aku sudah bilang kan, ada hal-hal yang tidak bisa aku lakukan, Im just a human..”


“Tenang saja, aku tidak akan memintamu membawa salah satu planet..”


Tian tertawa.  “Baiklah.. lalu apa ?”


Arini berfikir sejenak, memikirkan apa yang saat ini sedang benar-benar ia inginkan ?


‘Tian..’


Egh.., hatinya ini kenapa ? tiba-tiba


menyerukan nama Tian begitu saja. Namun sejenak Arini seolah tersadar, bahwa lelaki yang sedang menanti jawabannya dengan senyum ini.. lelaki itu merupakan sebuah rahasia besar untuknya.


Sebastian Putra Djenar.. dengan kehidupannya.. jalan berfikirnya.. Arini tersadar bahwa bagi dirinya, seluruh kehidupan Tian ibarat sebuah lorong misteri, yang jika Arini mencoba masuk kedalamnya.. maka dirinya akan tersesat..!


Sisi hati Arini seperti tertohok. Tian


bahkan tau semua tentang dirinya.. bahkan bisa melakukan apa yang paling ia inginkan.. tentang ayah.. menyiapkan kejutan semanis ini.. lalu bagaimana dengan dirinya ? sejauh ini apa yang sudah ia lakukan untuk Tian ? Sepertinya belum ada. Tian mengetahui semua tentang dirinya, dan ia bahkan tidak tau apa saja yang lelaki itu inginkan.. apa makanan kesukaannya.. apa warna favoritenya..

__ADS_1


“Jawaban,” refleks Arini berucap.


‘Yah.. aku ingin mendapat jawaban.. tentang seperti apa dirimu..? apa yang kamu inginkan..? apa yang..’


“Jawaban ?” ulang Tian, memutus sejumlah kalimat tanya dihati Arini. Alis Tian nampak  bertaut.


“Yup. Aku ingin apapun yang aku tanyakan, maka aku akan mendapatkan jawabannya..” Arini tersenyum misterius.


“Kalau itu aku tidak mau,”


“Egh ? Kenapa ? aku kan tidak meminta sebuah planet..”


“Karena aku tidak memiliki gambaran, pertanyaan seperti apa yang nanti akan kamu tanyakan..”


“Random ?”


“Tidak..”


“Hanya malam ini saja..”


“Sama halnya dengan membuka peluang untukmu membuat jebakan. Big no..! aku tidak setuju,” Tian tetap menggeleng, membuat Arini melotot.


‘Ternyata lelaki ini tidak mudah ditipu..’


Arini menatap Tian cemberut.


“Aku tidak peduli, malam ini aku akan terus bertanya banyak hal kepadamu, sampai kamu bosan untuk menolak menjawab !”


Wajah polos itu kembali lagi. Sepasang mata yang membesar, bibir yang mencebik dua centi, ekspresi keras kepala yang sangat sempurna.


Tian tertawa keras saat melihat kembali pemandangan yang menyenangkan hatinya itu.. namun meskipun begitu, kepala Tian terus menggeleng berkali-kali, tetap menolak permintaan aneh Arini.. meskipun sepasang mata itu sudah melotot sempurna kearahnya.


---


“Ini pesanannya, bu,”


Rudi menyerahkan dua buah tas kresek berwarna putih dengan logo sebuah super market yang langsung disambut antusias oleh Arini.


“Terima kasih, Rudi..”


“Sama-sama, bu Arini. Saya juga harus mengecek kesiapan makan malam dulu.”


Begitu Rudi berlalu Arini langsung


menutup pintu kamar. Dengan membawa dua buah kresek putih tersebut ia hanya mengambil sebuah kemasan pembalut dan menaruhnya didalam paper bag yang berisi piyama doraemon, menyimpan sisanya kedalam wadrobe.


“Aku mau mandi dulu..” Arini langsung bergegas kedalam kamar mandi, mengabaikan sepasang mata yang sedang mengawasinya lekat.


.


.


.


.


.


Bersambung…

__ADS_1


Bagi tip nya dong.. Lophyuuu… all...😘


__ADS_2