CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 113


__ADS_3

Double UP...! 🤗


...


Yang belum nyamperin cerita PASUTRI dan TERJERAT CINTA PRIA DEWASA, mampir yuk.. dan jangan lupa meninggalkan dukungan.. 🙏🏿


.


.


.


"Mang, nanti didepan mampir sebentar di apotik yah..?" titah Arini begitu mobil yang dikendarai mang Sudir melewati pintu keluar dari Kantor Pusat Indotama Group, usai menurunkan Tian di lobby depan kantor.


Arini merasa beruntung saat melihat Sean yang tertidur lelap dipangkuan suster saat Tian turun dari mobil, sehingga drama satu babak yang berisikan rengekan Sean yang selalu terjadi setiap kali mereka mengantarkan Tian ke Kantor Pusat, kali ini tidak terjadi.


"Apotik yang dikiri jalan itu yah, Bu?" tanya mang Sudir merespon permintaan Arini yang duduk dibelakang, karena saat Tian turun tadi, Beni yang awalnya menjadi penghuni mobil yang terus mengintil dibelakang mobil mereka sejak dari bandara telah berpindah menggantikan posisi Tian yang duduk dibangku depan, tepat disisi mang Sudir.


"Iya, mang.." jawab Arini.


"Ibu Arini mau beli obat?" Kali ini Beni yang bertanya, tepat seperti dugaan Arini.


Arini sontak menggeleng cepat. "Akh.. tidak, Ben.. aku cuma mau beli plester luka.." ujar Arini lagi memberi alasan.


"Ibu Arini terluka?" lagi-lagi Beni kembali melayangkan pertanyaan, meski pun terucap dengan nada yang sangat santun.


"Tidak.. Ben, hanya untuk persediaan di kotak p3k saja. Kalian tau sendiri kan saat ini Sean sedang aktif-aktifnya bergerak dan beraktifitas. Karena itu Sean jadi sering jatuh saat berlari kesana kemari. Makanya harus punya persediaan ekstra untuk plester luka dirumah.." ujar Arini sengaja menjelaskannya panjang lebar agar bisa memuaskan rasa keingintahuan Beni yang begitu besar meskipun lagi-lagi tetap terucap dengan penuh kesantunan.


Arini memang sudah mengantisipasinya sejak awal. Ia sudah bisa menebak, bahwa pembicaraan seperti ini pasti terjadi untuk semua aktifitas apapun yang ia lakukan. Hampir empat tahun menjadi Nyonya Sebastian Putra Djenar, Arini tidak mungkin tidak bisa membaca situasi dan kondisi yang ada. Karena tidak hanya kepada Beni dirinya harus berhati-hati, tapi kepada siapa pun. Entah itu Mang Sudir, entah itu Haris, semua orang yang berada disisi Sebastian Putra Djenar seolah sudah terdoktrin dengan baik untuk setia tanpa syarat kepada suaminya.


Jadi intinya, jika Arini ingin menyembunyikan sesuatu dari Tian, kepada siapa pun Arini harus berhati-hati menjaga lisan dan sikapnya, karena semua kalimat begitupun gerak-geriknya sekecil apapun pasti bisa diketahui suaminya yang posesif itu dimanapun Tian berada.

__ADS_1


Seperti saat ini, Arini merasa perlu berhati-hati agar jangan sampai niatnya membeli alat pendeteksi kehamilan itu ketahuan, karena sudah pasti semua yang ia lakukan tidak mungkin menjadi rahasia dihadapan Tian.


Tanpa terasa mobil yang dikendarai Sudir telah sampai di parkiran depan apotik yang dimaksud.


"Biar aku saja yang turun untuk membelikannya, Bu.." tawar Beni saat mobil yang dikemudikan Mang Sudir masih mencari posisi yang tepat agar terparkir dengan sempurna.


"Akh.. tidak usah repot-repot. Malah mendingan kamu tidak perlu turun, Ben, aku hanya sebentar kok.." ujar Arini, secepat kilat membuka pintu yang ada disampingnya dan langsung melompat turun.


Namun yang ada seperti yang sudah-sudah, seolah permintaan Arini hanyalah sebuah angin lalu, Beni malah dengan sigap juga telah membuka seatbeltnya sendiri dan bergegas mengikuti langkah Arini yang terayun ringan menuju pintu apotik.


Begitu sampai didepan pintu apotik, Arini berbalik. "Beni, tunggu disini saja yah, aku hanya sebentar, okehh..?" ucap Arini sambil tersenyum, agar Beni mau mengalah padanya sedikit saja.


"Baiklah, Bu.. tapi kalau Bu Arini lama, aku akan masuk.."


"Iya.. iya.. lama apaan? cuma mau beli plester ini.." seloroh Arini dengan riang sambil bergegas mendorong pintu apotik yang terbuat dari kaca tebal itu, meninggalkan Beni yang berdiri tepat dibingkai pintu dengan kedua tangan yang berada dimasing-masing saku celana, namun tatapannya mengawasi sekeliling dengan waspada.


Hanya dua menit berselang manakala Arini telah keluar lagi dari pintu yang sama. Tangannya menggenggam kresek berlogo apotik tersebut dengan wajah yang riang meskipun masih nampak sedikit pucat.


Beni yang melihatnya hanya mengangguk takjim sebelum akhirnya mengikuti langkah Arini yang telah bergerak lebih dahulu mendekati mobil yang terparkir.


"Ayo, mang buruan.." ujar Arini begitu tubuhnya dan Beni telah duduk sempurna sambil kembali memasang seatbelt, seolah tak sabar ingin sampai kerumah, dan tentu saja langsung mencoba test pack yang ia beli diam-diam untuk membuktikan firasatnya sebagai langkah awal.


XXXXX


Rudi duduk tepat dihadapan Tian. Diatas meja Tian terdapat beberapa map berisikan dokumen yang memerlukan tanda tangannya, dengan sebuah map berwarna keemasan yang isinya cukup tebal terletak dibagian paling atas dokumen.


Begitu sampai dari Pulau Dewi hal yang dilakukan Tian pertama kali adalah memanggil Rudi untuk menghadapnya.


"Rasanya berat, tapi seperti yang aku janjikan sejak awal, pada akhirnya aku harus melepaskanmu untuk memulai masa depanmu sendiri.."


'Memulai masa depan sendiri?'

__ADS_1


Rudi terdiam, namun dalam hati tersenyum getir. Selama ini tidak hanya sekali dua kali keinginan yang sama muncul menggerogoti pikirannya, namun pada kenyataannya Rudi tidak pernah sanggup meninggalkan Tian, bahkan hanya sekedar mengatakannya.


Agak lebay?


Iya, tentu saja.


Karena dimata Rudi, Tian tak ubahnya bak dewa penolong, yang mampu membuatnya bisa melakukan apa saja. Tian adalah pahlawan bagi Rudi Winata sekaligus seorang rule model.


Kebaikan Tian padanya sudah tidak terhitung lagi. Mulai dari awal kehidupan, mengangkatnya dari lembah kelam tanpa masa depan, memberikannya kesempatan, sampai-sampai Tian tidak pernah segan menyerahkan semua rahasia besar dan berbagai kepercayaan diluar batas kelayakannya yang nota bene hanya sekedar asisten pribadi biasa.


Mengingat semua itu Rudi telah bertekad sejak awal, bahwa dia tidak akan pernah pergi dari sisi Tian, sebelum Tian sendiri yang memintanya.


Dan sekarang Tian telah mengatakannya dengan jelas.


Lalu apakah itu artinya waktunya telah tiba?


Dan map berwarna keemasan itu?


Apakah benar semua itu adalah semua dokumennya yang selama ini tersimpan rapi didalam brankas pribadi milik Tian?


Kalau semua itu benar, maka seharusnya Rudi bahagia. Tapi yang ada saat ini, seluruh hatinya justru dipenuhi oleh kesedihan..


.


.


.


Sebelum lanjut Part2 - 114


Jangan lupa di LIKE DAN SUPPORT dulu yah.. 🥰

__ADS_1


__ADS_2