CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 043


__ADS_3

Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘


Ditunggu kunjungannya di :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏


.


.


.


“Jangan terlalu lama melihat nanti bisa naksir..”


Rudi terhenyak mendengar ucapan yang tiba-tiba menyeruak memecah hening yang sedang berkuasa sejak tadi. Lebih terhenyak lagi begitu menyadari bahwa saat berucap Laras bahkan terlihat masih mengunyah sate ayam yang dibawakan Rudi itu dengan acuh, tanpa menoleh padanya sedikitpun.


Sedari tadi melihat penampilan Laras dengan rambut yang tergelung tinggi seadanya, disertai kaos putih tanpa lengan yang dipadu over all bahan denim membuat Rudi menyadari bahwa Laras memang masih sangat belia. Umur Laras yang kalau tidak salah dua puluh tiga tahun itu memang sangat kontras dengan dirinya yang terpaut nyaris sepuluh tahun.


Haihh.. menyadari kenyataan itu Rudi semakin merasa dirinya sudah seperti om-om yang memperalat gadis remaja saja..


“Naksir ? padamu ?” Rudi sengaja tertawa kecil untuk menyamarkan rasa salah tingkahnya yang melanda tiba-tiba karena ketahuan sedang menguliti gerak-gerik Laras yang makan dengan lahap. “Cihh.. memangnya bisa ? tapi kalau bisa baguslah.. setidaknya biar bisa sedikit mengimbangi perasaanmu yang selalu bertepuk sebelah tangan sejak jaman dahulu kala..”


“Kamu pikir aku masih Larasati yang sama dengan jaman dahulu kala seperti istilahmu itu ? Larasati yang dulu begitu naïf melakukan berbagai hal-hal konyol hanya untuk mencari-cari perhatianmu ?” Laras sudah menaruh tusuk terakhir sate ayam yang sudah polos itu keatas piring, memandang tajam pada lelaki dihadapannya yang bahkan terlihat santai saja mendengar kalimat pedasnya.



Mereka bertatap-tatapan beberapa saat tanpa kata. Namun didalam hati Laras sedikit tertegun karena tatapan Rudi kali ini tidak menantang seperti biasanya, malah terkesan biasa saja.. bahkan ada senyum yang teramat sangat samar didalam seraut wajahnya yang kelihatan lelah.


‘Ada apa dengannya ? mengapa dia tidak seperti biasanya yang sangat suka berdebat ? apa dia terlalu capek bekerja seharian sehingga sudah tidak punya tenaga lagi untuk bertengkar ?’


Laras membathin, dengan sepasang mata yang seolah terhisap oleh sebuah medan magnet yang ada pada sepasang mata dihadapannya yang kali ini bersinar teduh.


“Dimana kamar mandimu ?” tanya Rudi memecah kebisuan.


Seolah baru saja terbebas dari pengaruh hipnotis, Laras langsung memalingkan wajahnya kearah lain. “Ada kamar mandi diujung sebelah kanan.. sebelum dapur..”


Rudi melengos mendengar jawaban itu. “Aku bertanya dimana kamar mandimu..”


Laras menatap Rudi serentak.


Bukannya bergeming, lelaki dihadapannya malah terlihat mengawasinya lekat-lekat, membuat Laras sedikit gugup. “Bodoh.. baiklah aku ganti pertanyaannya. Dimana kamarmu ?”


“A-apa ??” sepasang mata Laras membulat sempurna mendengar kalimat Rudi yang selalu saja to the point.


Kali ini tanpa menunggu jawaban Laras lagi, Rudi sudah berdiri dari duduknya seraya meraih tas yang berisi beberapa setelan pakaian dan beberapa benda pribadi seadanya yang selalu setia menemaninya setiap kali ia berpergian.


“Egh.. mau kemana, kak ?” tanya Laras keheranan.


Rudi tidak mengindahkan pertanyaan itu.

__ADS_1


“T-tunggu..”


Laras bangkit dari duduknya dengan panik, menyusul pergerakan Rudi yang hendak beranjak namun lelaki itu malah mengibaskan tangannya dengan acuh.


“Jangan pergi !” pekik Laras terlontar begitu saja.


Langkah Rudi terhenti.


Langkah Laras pun terhenti, matanya menatap lekat punggung kekar dihadapannya yang sedang membelakanginya itu. Entah kenapa hatinya tidak rela jika lelaki itu benar-benar akan pergi meninggalkannya begitu saja.


Detik berikutnya kembali hanya dikuasai hening sampai akhirnya Rudi memutuskan untuk membalikkan tubuh perlahan, guna mendapati sosok Laras yang berdiri tidak sampai dua meter dari dirinya itu yang terlihat jelas pada sepasang matanya, sedang memilin jari jemarinya satu sama lain.


Rudi tersenyum melihat pemandangan itu, mengingatkannya pada delapan tahun yang lalu.. saat wanita dihadapannya ini berdiri terpaku dihadapannya seperti sekarang namun masih dengan penampilannya yang lugu, sedikit culun, lengkap dengan rambut berponi dan berkepang dua.


“Dimana kamar mandinya ? aku mau mandi. Gerah..” seolah telah melupakan adegan sebelumnya, Rudi sudah berucap lagi, kali ini lengkap dengan gerakan mengibas kecil kerah kemeja putihnya yang dua kancing atasnya memang sudah terbuka sejak awal.


Lewat gerak bibir yang maju dua centi Laras menunjuk salah satu pintu yang merupakan kamar yang ditempatinya, dimana kamar mandi pribadinya juga berada didalam sana.


Detik berikutnya Laras sudah membuang wajahnya lagi.. tak kuasa berlama-lama menahan diri untuk melihat penampilan Rudi saat ini yang sebenarnya terlihat agak kusut karena telah seharian bekerja, namun entah kenapa malah terlihat semakin menawan dimatanya.


Kemeja putih polos yang kedua tangannya telah tergulung sampai kesiku, dua buah kancing atas yang telah sengaja dilepas, lengkap dengan wajah dan rambut yang semuanya telihat agak kusut dan lelah.. namun anehnya semua itu malah menjadi satu kesatuan aura yang menggoda sekaligus terasa berbahaya.. namun demi Tuhan Laras sangat menyukainya.



Rudi kembali berbalik, melenggang acuh kearah pintu yang diisyaratkan Laras tadi sambil menentang tas nya dengan bibir yang berhiaskan senyum penuh kemenangan.


Sejujurnya Rudi memang tidak pernah berniat untuk pergi. Tadi ia nekad beranjak sambil mengangkat tas-nya dengan tujuan memeriksa langsung satu persatu dari beberapa pintu yang tertutup itu karena Laras awalnya terlihat enggan menunjukkan dimana letak kamar pribadinya.


Tak dinyana ia malah mendapat jackpot permintaan ‘jangan pergi’ sekaligus pemandangan wajah kikuk Laras yang sangat manis dan menggemaskan.


“Ini semua dokumennya..”


Sambil mengibaskan rambutnya yang masih sedikit basah, Rudi menaruh sebuah map file berwarna keemasan berisi seluruh dokumen kepemilikan SWD Fashion keatas meja rias, dimana Laras tengah duduk disana, melakukan semua rutinitas wajib setiap kaum hawa.


Laras meliriknya sekilas map file tersebut, namun detik berikutnya ia kembali sibuk menaruh sebuah cairan bening mirip serum ke seluruh permukaan wajahnya seraya melakukan gerakan memijat kecil di seluruh area wajahnya yang mulus seolah tidak berpori-pori itu.


Rudi akhirnya memilih menyandarkan tubuhnya dipinggir meja rias, melipat tangannya di dada seraya mengawasi Laras yang terlihat acuh dengan kehadirannya.


“Kamu benar-benar tidak suka mengucapkan terima kasih ya..”


Mendengar sindiran itu Laras hanya melirik sekilas. “Terima kasih.” ucapnya dengan nada jutek, yang tidak ada tulus-tulusnya sama sekali.


Rudi menghembuskan nafasnya melihat tingkah pongah itu. “Begini sifatmu menghadapi tamu ?”


“Tamu ?” mendadak Laras tertawa nyaris tanpa suara. “Kalau cuma tamu untuk apa disini ? sana tidur di kamar tamu..!” semakin terlihat jutek.


Rudi menahan lengan Laras saat wanita itu akan beranjak. Namun yang ada dengan kasar Laras langsung menepisnya.


Melihat tingkah Laras yang seperti itu bukannya marah Rudi malah tersenyum. Dengan nekad Rudi malah ikut beranjak menghalangi langkah Laras.


“Mau apa lagi ?” Laras berucap galak pada sosok yang tiba-tiba telah tegak dihadapannya.

__ADS_1


Tidak berniat menjawab melainkan Rudi langsung mengangkat tubuh mungil itu begitu saja. Tidak peduli dengan pemberontakan Laras yang berusaha melepaskan diri sambil mengumpat kesana kemari Rudi langsung menghempaskan tubuh yang terasa teramat sangat ringan itu keatas ranjang besar yang berada ditengah kamar.


“Kamu mau apa, kak ? jangan macam-macam yah..!” pekik Laras begitu menyadari Rudi sudah menyusulnya keatas ranjang dengan cuek.


“Aku tidak mau apa-apa. Aku lelah.. aku hanya mau tidur..” begitu kepalanya menyentuh bantal, Rudi langsung menarik tubuh Laras kedalam pelukannya, memeluknya dengan ketat seperti memeluk sebuah guling. “Tapi kalau kamu mau hal yang lain selain tidur.. kamu tinggal bangunkan aku saja..” bisiknya dengan nada super mesum yang sangat kontras dengan suara beratnya.


Mendengar kalimat itu Laras serentak melotot masih dalam kungkungan rengkuhan Rudi yang sempurna. Ia memilih berhenti berusaha untuk meloloskan diri, karena selain ia sudah mulai kehilangan tenaga untuk memberontak.. semakin dia menggeliat lelaki itu bahkan semakin kencang memeluknya.


“Dasar maniak..” gumam Laras sangat perlahan saat mengingat kalimat terakhir Rudi tadi, setelah beberapa saat hanya mendengar suara tarikan dan hembusan nafas yang berat namun teratur.


“Aku masih bisa mendengarnya..”


Laras terhenyak mendapati bisikan itu, sementara kedua mata Rudi nampak masih terpejam. Lelaki itu juga tidak bergerak sama sekali.. hanya memeluknya dalam diam, namun sekalinya Laras bergerak sedikit.. lengan yang melingkar itu nampak semakin bertenaga memenjarakannya.


“Kamu harus lebih sering makan.. biar lebih berisi..” tiba-tiba bergumam lagi, seiring dengan rasa panas yang dirasakan Laras pada permukaan kulit perutnya yang ramping, yang entah sejak kapan tangan besar itu telah berada didalam sana, mengusap-ngusap lembut seolah sengaja ingin membuat seluruh tubuhnya meremang.


“Matamu itu pasti bermasalah.. karena tubuhku sudah ideal untuk ukuran wanita.” protesnya sengit, mencoba mengalihkan rasa aneh yang mulai melanda tubuhnya akibat usapan yang semakin intens.


“Ideal apa ? kurus begini.. mana nyaman dipeluk ?”


“Kalau tidak nyaman ya sudah jangan dipeluk..”


Bug !


“Aduhh..!” Rudi langsung mengadu begitu siku wanita itu sudah bergerak cepat menghantam perutnya. “Kamu sudah gila ya ?” ujar Rudi kesal sambil meringis kecil. Matanya yang sedari tadi  terpejam bahkan nyaris diserang kantuk yang sesungguhnya itu kini sontak melebar.


Bukannya menyesal dengan perbuatannya Laras malah tertawa melihat wajah Rudi yang sontak kaget dan berubah pias, pastinya tidak menyangka akan mendapat hadiah istimewa yang menyakitkan.


Melihat pemandangan Laras yang masih tergelak itu membuat Rudi tidak bisa lagi menahan diri. Berfikir bahwa mungkin dengan memberi sebuah pengajaran yang manis kelakuan bar-bar istri kecilnya itu bisa sedikit dikendalikan.. sontak Rudi bangkit, dan dengan sekali gerakan yang tidak memerlukan banyak tenaga, dalam sekejap mata Rudi berhasil membuat Laras tidak berkutik dibawahnya. Langsung membungkam sejumlah kalimat protes yang hendak keluar dari bibir mungil itu.


Lama mereka berdua saling me ma gut dalam keremangan, sebelum Rudi mulai meloloskan semua penghalang yang ada.


Mungkin karena tidak seperti biasanya.. saat mereka melakukannya dengan terburu-buru dan dikejar kekhawatiran akan perbuatan yang tidak seharusnya..


Karena saat semuanya terasa halal, kali ini Rudi dengan leluasa membuat dirinya merasakannya dengan sangat baik seberapa lembut seorang Larasati saat ia miliki.


Bagi Rudi, Larasati ibarat candu, yang membuatnya ingin terus menikmati keseluruhan yang ada didiri wanita itu.. seinchi.. demi seinchi.. tanpa ingin berhenti..


.


.


.


Bersambung..


Laras yang belia.. 😍


Rudi yang om-om tapi.. ah sudahlah..🤭


(Jadi tidak sabar menunggu comment kalian.. 😅)

__ADS_1


Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. adalah harapan author selalu.. 🤗


Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2