CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 026


__ADS_3

Bebeb Tian : “Thor.. koq readers pada gak ngerti sama rencana Laras yah..?”


Author : “Emang kamu ngerti, beb ?”


Bebeb Tian : “Ngerti dong, beb…”


(Angguk-angguk sambil senyum semanis gula…😍)


Author :


(Auto nyari tiang buat sandaran, gak kuat sama senyumnya..🤭)


Readers :


(Auto nyari blender… buat blender ha-pe masing-masing karena ngiri sama author..🤪)


.


.


.


Entah ini sudah keberapa kalinya Meta bolak-balik mengecek layar ponselnya yang tidak kunjung mendapat aktifitas apapun. Padahal sudah seminggu ini pak Rico tidak pernah absen dan selalu rutin menghubungi ponsel Meta tiga kali sehari untuk mengecek keadaan Rei, tapi entah kenapa hari ini sejak pagi Meta tidak menerima video call, telpon, atau sekedar message.


 “Sudah seharian tidak menelpon.. daddy macam apa itu.. tidak tau kalau anaknya sedang kangen..?” Meta mendesis kesal seraya menaruh kembali ponselnya dengan gerakan kasar keatas meja rias.


“Anaknya yang sedang kangen.. atau malah kamu sebenarnya yang kangen..?” sindir ibu Arum sambil melihat Rei yang sebenarnya tidak rewel sama sekali seperti apa yang diucapkan Meta. Rei bahkan belum menanyakan tentang daddy-nya sama sekali sejak pagi.


Meta terhenyak mendengar suara ibunya yang entah sejak kapan sudah berada didalam kamarnya. “Ibu !!” memekik kesal namun sedikit gelagapan. “Siapa yang ibu maksudkan dengan kangen ?”


“Ayam tetangga..”


“Jadi ibu mengataiku ayam ?”


Ibu Arum menatap Meta dengan kesal. “Sudahlah..!” merenggut kesal seraya mengalihkan perhatiannya kearah Rei yang terlihat sibuk bermain game yang ada di gadgetnya. “Rei sayang.. sedang apa ?” tanya ibu Arum dengan senyum sumringah.


“Sedang main game.. nenek mau main ?” mata Rei yang polos sudah tertuju pada ibu Arum yang telah berada disisinya.


“Waduhh.. tapi nenek gak bisa main itu..” ibu Arum berucap seraya ikut melongokkan kepala ke layar gadget milik Rei.


“Nanti Lei ajalin.. sini..” bocah itu langsung meraih jari telunjuk ibu Arum, menuntunnya agar bisa menyentuh touchscreen dengan gerakan cepat berkali-kali. “Itu buat tembak penjahat, nek..” ujarnya bersemangat dengan maksud mengajarkan ibu Arum.


Ibu Arum terbahak saat menyadari bahwa ternyata Rei benar. Semakin cepat jarinya menyentuh layar gadget berkali-kali semakin banyak pula jumlah peluru yang keluar dari senjata milik jagoan yang tertera dilayar. Beberapa orang bersenjata yang diklaim sebagai penjahat oleh Rei sudah jatuh bergelimpangan karena terkena peluru hasil tembakan ibu Arum.


“Wah... nenek hebat..” Rei tak kalah kegirangan saat menyadari usahanya untuk mengajarkan wanita yang dipanggil ‘nenek’ olehnya itu tidak sia-sia. Ibu Arum terlihat telah menjadi mahir dalam sekejap, bahkan agak ketagihan ikut menekan berbagai icon yang ada dilayar gadget Rei.


Meta yang melihat pemandangan itu

__ADS_1


bahkan ikut tertawa melihat tingkah polah ibu yang begitu heboh karena baru menemukan sesuatu yang menyenangkan hasil dari kemajuan technology yang semakin modern.


Meta baru saja ingin berniat bergabung dengan keseruan itu manakala suara ketukan dari pintu depan mengurungkan langkahnya.


“Siapa yang bertamu sore-sore begini ?” ibu Arum melirik Meta sekilas sebelum kembali tenggelam dalam keasikannya bersama Rei.


Meta mengangkat bahu. “Biar aku saja yang bukain, bu.. mungkin saja itu Mayra yang baru pulang dari bimbel..” berucap demikian sambil beranjak keluar dari kamarnya.


XXXXX


Sudah tiga puluh menit berlalu dan Rico masih belum bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan. Alhasil ia masih berada ditempat yang sama, dibawah sebatang pohon akasia yang tumbuh dipinggir jalan, menunggu dibelakang setir dengan perasaan campur aduk yang sebagian besar didominasi oleh rasa kesal.


Bagaimana tidak ?


Disaat sepuluh menit pertama Rico tiba ditempat itu, ia malah menghabiskan sepuluh menit pertamanya hanya  dengan menatap gang diseberang jalan seraya menimbang-nimbang, mengumpulkan keberanian, dan  sibuk memikirkan apa yang ia harus lakukan jika ia tiba dirumah Meta.


Jika bersikap datar seperti biasa ia merasa tidak enak dengan ibu Meta. Tapi jika bersikap ramah.. apa itu tidak terlihat aneh ? mengingat selama ini ia tidak pernah begitu ramah setiap kali bicara dengan Meta.


Rico bisa saja menjemput Rei tanpa harus datang langsung kerumah Meta, tapi.. sepertinya sikap seperti itu juga akan terlihat tidak sopan dihadapan ibu Meta.


Dan Rico masih berusaha memantapkan hati sekaligus nyalinya untuk turun dari mobil, belum juga saat mengingat ia harus melewati gang sempit serta beberapa rumah warga terlebih dahulu sebelum bisa sampai dan mengetuk pintu rumah Meta, manakala sebuah mobil sport hitam yang sangat Rico kenali sudah berhenti dan memarkirkan diri dengan sempurna didepan sebuah warung, nyaris berseberangan dimana mobil Rico terparkir saat ini.


Sosok lelaki berpostur tinggi turun dari mobil sport diseberang jalan, berbicara akrab dengan penjual warung yang sepertinya sudah sangat mengenali sosok itu sebelumnya, sebelum akhirnya melangkah pasti dan menghilang didalam gang sempit yang sejak tadi dimata Rico sudah seperti mulut labirin yang menakutkan untuk dilewati.


Rico refleks meninju setir dihadapannya.


Kesal ?


Bagaimama tidak ?


Dengan mata kepalanya sendiri Rico melihat Rudi mengingkari kesepakatan dengannya untuk tidak mencoba menghubungi Meta apalagi menemuinya.


Yah.. setelah memegang kartu As Rudi yang ketahuan bermalam bersama Laras di Mercy Green Resort weekend kemarin, Rudi memang telah berjanji untuk mengikuti keinginan Rico daripada harus menanggung kenyataan jika Rico akan membeberkan kebejatannya dihadapan Tian. Dan Rico memang harus melakukan semua itu demi memuluskan rencananya.


Namun kenyataan yang ada dihadapan Rico saat ini malah sebaliknya.


Rico memang baru saja tiba dari perjalanan panjang dalam rangka pemasaran brand baru yang dikeluarkan Best Electro dibeberapa kota besar diseluruh Indonesia, dan naasnya pulang-pulang Rico sudah melihat pemandangan seperti ini. Kekesalan Rico pun semakin bertambah saat menyadari bahwa ponselnya yang memang telah lowbat kini telah mati total karena kehabisan daya, membuat ia tidak memiliki kesempatan untuk menelpon Rudi dan kembali melontarkan ancaman seperti biasa.


“Sial !!”


Maki Rico sambil meninju lagi setir dihadapannya, namun sejenak kemudian ia memilih mencoba tenang sesaat dan memikirkan apa yang harus ia lakukan.. dan akhirnya Rico memilih untuk menunggu sejenak.


Kesabaran Rico hampir habis saat tiga puluh menit telah terlewat.. dan ia hampir memutuskan turun dari mobilnya saat itu juga, namun gerakannya kembali urung saat melihat sosok Rudi keluar dari gang dengan wajah lesu, kembali menyapa pemilik warung yang ia titipi untuk parkir mobilnya tadi seraya memberikan selembar uang berwarna merah yang diterima si pemilik warung dengan sukacita tak terkira, sebelum akhirnya kembali menaiki mobil sportnya dan berlalu dari sana.


Usai melihat semua adegan itu Rico akhirnya memutuskan untuk benar-benar turun dari mobilnya, menyeberangi jalan yang tidak terlalu ramai kendaraan, dan dengan langkah pasti menyusuri gang sempit itu.


Rico melemparkan senyum pada beberapa orang yang ia temui sepanjang gang yang semuanya menunjukkan ekspresi serupa, menatap dirinya dengan aneh. Mungkin karena tidak familiar dengan wajahnya yang bukan warga kampung tersebut, mungkin juga karena penampilannya yang terlihat begitu formil, atau.. mungkin juga karena wajahnya yang terlalu tampan ?

__ADS_1


Rico tersenyum dalam hati, sengaja bercanda dengan memuji dirinya sendiri untuk mengalihkan kegugupan yang mulai mendera saat langkahnya mulai mendekati mulut gang.


Setelah seminggu akhirnya Rico bisa melihat lagi.. Rei.


Iya.. Rei.


Rei saja kan..? memangnya siapa lagi yang ingin ia lihat ? cih..!


Menurut mang Diman yang mengantarkan Meta dan Rei seminggu yang lalu, setelah berada diujung gang, rumah Meta adalah rumah kelima dibarisan kanan. Dan Rico mulai menghitung rumah pertama.. rumah kedua.. rumah ketiga.. ke-empat.. keli…


Alis Rico bertaut. Tepat saat ia berada didepan rumah kelima, mata Rico menangkap tiga orang pria bertubuh kekar dengan tampang dan penampilan yang sangar nampak berbicara dengan wajah marah mengeliling seorang wanita paruh baya dengan wajah pucat pasi berurai air mata seolah meminta dikasihani.


Apa itu ibunya Meta ?


Tapi.. siapa tiga orang itu ?


Lalu.. Rei ? dimana Rei..?!


Saat mengingat Rei mendadak Rico menjadi panik. Sehingga ketika salah seorang dari tiga preman tersebut mengangkat sebuah kursi yang ada diteras kecil rumah itu, berniat membantingnya kelantai, tanpa berfikir panjang dengan langkah tergesa setengah berlari Rico sudah berada ditengah kekacauan tersebut, tidak bisa lagi menahan dirinya..


“Berhenti !!”


Suara Rico yang keras mampu mengheningkan suasana yang awalnya gaduh namun mencekam, membuat semua mata memandang ke asal suara. Wanita paruh baya yang Rico yakini merupakan ibu Meta, tiga orang preman dengan berwajah angker, serta beberapa pasang mata yang tak terhitung jumlahnya milik para tetangga yang hanya bisa menonton tanpa ada satupun yang berniat ikut campur.


“Siapa kamu ? jangan ikut campur !!!” lelaki dengan brewok paling sangar nampak berkacak pinggang dengan lagak songong dihadapan Rico.


Rico menarik nafas sejenak, menetralisir degup jantungnya yang sebenarnya sedang salto kesana kemari saat menyadari ketiga preman tersebut telah mengelilingi dirinya seperti tiga ekor harimau lapar yang mengincar seekor kelinci tersesat. Sedangkan wanita paruh baya yang terihat ketakutan itu nampak menatap Rico dengan berurai air mata.


“P-pak.. Ri..co..?” ibu Arum berucap


terbata, saat menyadari wajah yang begitu mirip dengan Rei itu telah berada tepat dihadapannya.


Rico menganguk takjim seraya tersenyum kearah ibu Arum bermaksud menenangkan, sebelum akhirnya kembali menatap tiga orang preman tersebut berganti-ganti.


“Siapapun aku.. itu tidak penting. Aku juga tidak paham persoalan apa yang membuat kalian tega melakukan semua ini..” berucap tenang seraya menatap sejenak kekacauan di teras rumah kecil itu, dimana sebuah meja telah terbalik, dua buah kursi terjungkal disudut, dan beberapa pot bunga yang hancur berantakan. “Intinya.. mari kita bicara..”


.


.


.


Bersambung..


Apa sih rencana Laras yang berniat mau ngerjain Rudi ? 🤫


jawabannya ada di next bab.. 😅

__ADS_1


Like, Commentt, and Vote. Thx and


Lophyuu all.. 🥰😍😘


__ADS_2