
Arini mengerjapkan matanya beberapa kali saat merasakan sesuatu yang lembut sedang menghujani wajahnya. Dan saat ia membuka mata seraut wajah tampan Tian berada begitu dekat, hanya beberapa centi dari wajahnya.. sedang tersenyum manis usai menghujaninya dengan ke cu pan ringan berkali-kali.
“Maaf membangunkanmu. Tidurmu sangat lelap.. tapi aku khawatir karena kamu belum makan siang,” berucap demikian sambil buru-buru bangkit dari duduknya dan mendekati nakas.
“Aku tidak ingin makan, sayang..” ucap Arini lirih seraya bangkit perlahan, mendudukkan dirinya dikepala ranjang yang tidak terlalu besar itu. Kepalanya terasa sedikit pening.. mungkin karena efek dari terlalu lama menangis.
“Meskipun tidak ingin tapi tetap harus makan, bukan?” Tian sudah kembali ke sisi Arini dengan sebuah piring ditangan. Dia memang sengaja sudah menyiapkan sepiring makanan terlebih dahulu sebelum mengganggu tidur Arini tadi. “Buka mulutnya, aku suapin.. aaaa..”
Mau tidak mau akhirnya Arini membuka juga mulutnya untuk menerima suapan Tian. Tian tersenyum saat melihat Arini mengunyah makanannya perlahan. Meskipun di sudut hati Tian merasa sangat bersalah.. tapi ia mencoba mengabaikannya dan tak ingin mengusik dulu.
Untuk beberapa saat hanya ada hening, namun Tian terus menyuapkan sesendok demi sesendok makanan kearah Arini yang juga hanya menerimanya tanpa berkata apa-apa.
“Jam berapa sekarang?” Arini berucap setelah beberapa saat terdiam, sambil melirik jam tangannya dia sedikit terhenyak. “Jam tiga..?” alisnya bertaut.
“Sepertinya.. kenapa memangnya?” Tian menyodorkan kembali sendok didepan mulut Arini yang kali ini sudah menggeleng.
“Aku sudah kenyang..” tolaknya, kali ini tidak mau lagi menerima suapan Tian.
“Terakhir deh..” bujuk Tian.
“Benar yah, ini yang terakhir..” ucap Arini memastikan karena memang perutnya sudah terasa penuh. Dan akhirnya ia membuka mulutnya juga menerima suapan terakhir Tian saat melihat lelaki itu menganguk tanda setuju.
Tian bangkit dari duduknya lagi,
mengembalikan kembali piring yang masih tersisa sedikit isinya keatas nakas kemudian ganti mengambil gelas berisi air mineral. Menyodorkannya kearah Arini yang langsung meneguknya hingga tandas tanpa protes.
“Aku seharusnya bekerja..”
“Tidak usah kembali.” pungkas Tian sambil mengambil gelas yang sudah kosong dari tangan Arini, lagi-lagi mengembalikannya keatas nakas.
“Tapi tasku..”
“Tas dan semua barang-barangmu yang ada diatas meja sudah dibereskan oleh Rudi.” Tian kembali duduk ditepi ranjang, kali ini sudah menatap Arini yang terdiam. Tangan Tian terangkat membelai salah satu pipi yang mulus itu. “Istirahat disini saja dulu, nanti kita kembali kerumah menjelang malam.”
Arini terlihat menganguk perlahan.
Sejenak mereka berdua kembali terdiam sebelum akhirnya Arini memutuskan mengambil tangan Tian yang mengusap pipinya sejak tadi, membawanya kedalam genggaman dua tangannya sekaligus diatas pangkuan.
“Aku ingin mendengarnya..” ucap Arini lirih sambil terus menunduk, memperhatikan tangan Tian beserta jari jemari lelaki itu yang masih berada didalam kedua tangannya.
Tian menelan ludahnya kelu. Dirinya malah bingung harus memulainya darimana.
“Apa nenek ingin kita berpisah?”
Tian masih membisu.
“Apa karena aku belum bisa memenuhi kontrak perjanjiannya..?”
Kali ini Tian menggeleng. “Sebuah
__ADS_1
pernikahan tidak seharusnya melibatkan kontrak seperti itu..”
“Tapi pernikahan kita memang seperti itu. Pernikahan diatas kontrak.. dengan point-point yang seharusnya dipenuhi..” kilah Arini.
Tian kembali menggeleng cepat. “Berikan aku waktu untuk membereskan semua kekacauan, yang diakibatkan oleh keegoisanku sendiri. Akulah penyebab utama yang membuat semuanya menjadi rumit.” pungkas Tian lagi seraya menatap Arini dalam-dalam.
“Lalu apa yang harus aku lakukan, sayang? nenek bahkan ingin mencarikan wanita lain untukmu kan..? aku sudah mendengarnya sendiri.. kamu mengatakannya tadi dengan sangat jelas..” suara Arini tersendat-sendat, sepasang matanya kembali tergenang. Tian bisa merasakan kedua tangan itu meremas kuat-kuat jemarinya yang masih berada didalam genggaman Arini.
“Sayang, jangan bicara seperti itu.. kamu bahkan tau aku tidak menginginkan wanita lain selain dirimu..”
“Tapi nenek..”
“Jangan pikirkan nenek.”
“Tapi..”
“Aku sedang mencari jalan untuk membujuknya. Lusa nenek kembali, dan aku ingin kamu tetap tenang. Serahkan semuanya padaku, jangan fikirkan apapun, percaya saja bahwa ini tidak akan lama, asalkan kamu mau mendengarkan semua yang aku katakan..”
Tatapan mereka beradu satu sama lain.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” lirihnya.
Tian beringsut lebih dekat, menatap Arini lekat, tepat dikedua manik mata wanita itu. Sementara itu.. sepasang mata Arini seperti terpenjara begitu saja, pupil matanya seolah tak bisa bergerak.. seperti melekat dengan kuat pada sepasang pupil yang baru ia sadari ternyata berwarna abu-abu gelap, membuat Arini merasakan ibarat memasuki sebuah terowongan panjang yang berujung pada labirin yang membuatnya semakin tersesat.
“Arini.. aku tidak suka memberimu
pilihan mengenai apa yang kamu inginkan, apakah kamu mau bertahan dengan pernikahan ini atau tidak. Aku takut jika aku harus mendengar apa yang justru tidak ingin aku dengar. Tapi aku harus melakukannya.. bertanya padamu untuk mengingatkan diriku sendiri, dan memberikan aku pegangan. Ini akan jadi yang terakhir aku menanyakannya.. apa yang kamu inginkan dari pernikahan ini ?”
“Katakan saja hanya apa yang benar-benar kamu inginkan.. ” Begitu dingin, hingga hati Arini terasa menggigil.
Arini begidik melihat rahang itu yang tiba-tiba mengeras. Lidah Arini terasa kelu. Kalimat itu terasa begitu dingin.. begitupun dengan raut wajahnya. Arini bahkan merasa, ia seperti terlempar pada lorong waktu dimana ia sedang berhadapan dengan seorang Sebastian Putra Djenar yang arogan pada enam bulan yang lalu, pada saat setitik harga dirinya bahkan tidak ada harganya sama sekali dimata lelaki itu.
Arini menelan ludahnya kelu, berusaha menguatkan hatinya karena mendadak ia bahkan merasa tubuhnya gemetar saat menyadari wajah Tian yang begitu datar tanpa ekspresi itu terus menatapnya tanpa berkedip, mengintimidasi.
“Aku.. aku tidak tau.. aku hanya ingin bersamamu.. aku tidak bisa memikirkan hal lain lagi..”
Arini berucap dengan kalimat tergeragap. Tapi dirinya meras lega, karena sesaat setelah mendengar itu wajah dihadapannya itu lambat laun sedikit mengendur.
“Yakin ini benar-benar yang kamu mau?” tanya Tian, dengan warna suaranya yang sudah tidak sedingin tadi.
Arini menganguk.
“Mau berjanji..?”
Arini kembali menganguk dengan tegas, membuat Tian bisa menghela nafasnya dengan lapang.
“Sayang, aku tau saat ini aku terlihat buruk dan serakah, tapi aku tidak bisa mencegah hatiku untuk mengatakannya. Apakah aku egois? aku ingin jadi istri yang sempurna untukmu dan aku tidak mau apa-apa lagi selain itu. Meskipun aku belum mampu membuatmu bahagia.. dan membuat nenekmu bangga..”
“Untuk mendapatkan kebahagiaan, menjadi sedikit buruk bahkan tidak apa-apa. Aku mengatakannya, karena sepertinya aku bahkan lebih serakah dari dirimu..”
__ADS_1
Arini menatap Tian sesaat..“Sayang, kenapa aku seperti merasa takut dengan pembicaraan ini..?”
Tian tertawa sumbang mendengar kalimat Arini.
“Nenekku bukanlah seseorang yang mudah untuk dihadapi. Selama ini kamu hanya mengetahui kulit luarnya, tapi kamu belum berhadapan dengan Saraswati Djenar yang sesungguhnya. Aku hanya ingin memastikan dia tidak bisa mengintimidasi dirimu dan membuatmu menyerah dengan mudah..”
Arini menelan ludahnya yang terasa pahit. Sejujurnya nyalinya sedikit menciut saat ini.. tapi untuk melangkah mundurpun ia tak ingin.
“Arini, apakah kamu tau? selama hidupku aku hanya tau satu hal, saat aku memutuskan sesuatu, aku tidak suka merubahnya lagi. Tapi ternyata pernikahan kita adalah pengecualian.. hatiku juga adalah pengecualian.. tapi percayalah, untukmu, aku bahkan sudah memantapkan hatiku ini sejak lama..”
Menghela nafas sejenak..
“Jangan pernah menarik kata-katamu tadi kembali.. jangan pernah melakukannya meskipun nantinya nenek akan membuat semuanya menjadi semakin sulit..”
“Sayang, jangan seperti ini.. kamu membuatku takut lagi..” Arini tidak bisa menyembunyikan betapa ia bergidik melihat Tian mengucapkan semua itu dengan wajahnya yang dingin.
Tian tertawa, tapi sedetik kemudian ia merengkuh Arini serta merta kedalam pelukannya. “Apa Aku benar-benar bisa membuatmu takut?”
Arini menganguk dalam dekapan aroma maskulin lelaki itu.
“Aku memang harus menakutimu, agar apapun yang terjadi nanti kamu akan terus mengingatnya, dan tidak akan pernah mencoba lari dari Sebastian Putra Djenar.. pemilik hidupmu ini..”
Tian mengucapkan kalimat itu sambil tertawa kecil..
Bercanda-kah..?
Entahlah.. Arini bahkan tidak bisa menemukan sedikitpun hal yang lucu, meskipun Tian terlihat masih betah dengan tawa kecilnya.
“Bulan ini belum dapatkan..”
Arini serentak melotot. “Aaaa.. sayang, kenapa bertanya sih..? padahal aku ingin membuatnya lupa..!” wajah Arini serentak merenggut.
Tian tertawa mendengarnya. “Maaf.. aku merusak kesenanganmu yah ?”
“Huhh..” seraya memajukan mulutnya dua centi, membuat tawa Tian kembali berderai.
“Sudah mengeceknya?” ucap Tian lagi dengan lembut, sambil merapikan rambut Arini yang meriap, menaruhnya kebelakang telinga.
Arini menggeleng lagi-lagi. “Belum. Aku akan mengeceknya nanti jika tanggalnya benar-benar sudah terlewat seminggu..”
“Firasatku sedang baik..” Tian berucap sambil mengulum senyum
.
.
.
Bersambung…
__ADS_1
LIKE.. COMMENT AND VOTE kalian sangat aq nanti.. 🤗
Lophyuu my readers.. more and more.. 😘