CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 051


__ADS_3

Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘


Ditunggu kunjungannya di :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏


.


.


.


“Jadi.. itu yang namanya Larasati Djenar..?”


“Benar-benar seperti rumor yang beredar, sangat kasar.. sangat angkuh.. tapi harus diakui.. juga sangat cantik..”


“Beruntungnya dia mendapatkan pak Rudi yang tampan dan mapan..”


“Bukannya pak Rudi yang beruntung mendapatkan dia ? masih muda, adik Ceo indotama group pula.. yah.. meskipun cuma adik angkat..”


“Iya.. dan katanya dia adalah kesayangannya Saraswaati Djenar semasa hidupnya..”


“Pantas dia mewarisi begitu banyak warisan keluarga Djenar..”


“Dia bahkan telah menjadi Ceo disalah satu perusahaan konveksi..”


“Dia juga telah menjadi pemilik sah butiq SWD Fashion..”


“Dan sekarang dia malah mendapatkan hati pak Rudi..”


“Beruntung sekali dia..”


“Astaga aku patah hati..”


“Oh my.. aku juga..”


Rumor terus beredar.. bergulir dengan cepat,  semakin memanas..


Ponsel Vera berbunyi. Ia serentak menepuk jidatnya dengan serta merta, begitu membaca nama yang tertera jelas dilayar ponselnya itu.


‘Ceo Indotama Group’


‘Memanggil..’


Vera menyentuh icon warna hijau untuk menerima panggilan sang bos besar, yang sepertinya telah bisa ia tebak, apa maksud dan tujuan panggilan tersebut.


“Halo Vera ?”


Suara berat khas pak Tian menyapa gendang telinga Vera.


“Iya pak Tian..?”


“Sepertinya Laras sudah membuat tontonan kecil yah ?”


Meskipun terdengar dingin, namun untunglah Vera masih bisa meyakini bahwa nada suara itu terdengar cukup tenang tanpa ada kemarahan.


“Iya, pak..”


“Seperti biasa.. meskipun tidak perlu berbuat terlalu ekstrim, tapi usahakan saja agar jangan sampai menimbulkan rumor berlebihan, apalagi jika sampai terekspos keluar..”


“Baik, pak.”


“Tolong kendalikan para karyawan..”


“Baik, pak Tian. Saya mengerti.”

__ADS_1


Dan pembicaraan singkat itu berakhir sudah..


Seperti yang sudah Vera duga sejak awal, bahwa pak Tian pasti meminta dirinya untuk mengendalikan para kayawan yang tanpa sengaja telah menyaksikan adegan drama satu babak barusan.


Drama yang melibatkan Rudi dan Laras, yang notabene satunya merupakan asisten pribadi sekaligus tangan kanan terpercaya, dan satunya lagi adik angkat yang terlalu dimanjakan.


Vera bahkan masih bisa tersenyum saat menyadari bahwa seorang Sebastian Putra Djenar dari dulu memang tidak pernah berubah, selalu membentengi segala urusan pribadinya begitupun urusan yang berhubungan dengannya, dengan se-maksimal mungkin, agar tidak bisa dengan mudah menjadi konsumsi lezat publik dan media.


XXXXX


Laras masih betah melingkarkan sepanjang lengannya dipinggang Rudi, namun tanpa sepengetahuan Laras, Rudi malah sudah berkali-kali melirik jarum jam yang ada dipergelangan tangannya.


Disaat seperti ini Rudi malah memikirkan nasib pak Tomi yang pasti sedang menunggunya. Bukan apa-apa.. Rudi hanya merasa benar-benar tidak enak dan kasihan dengan pak Tomi yang ikut menanggung getah apes akibat urusan pribadinya.


“Laras..”


“Hmm..”


“Ini sudah hampir malam..”


“Lalu kenapa ?”


“Kasihan pak Tomi sudah menunggu..”


Tidak ada jawaban, tidak ada pergerakan.


Bunyi pintu diketuk terdengar dari luar.


“Laras.. ada yang datang..” ujar Rudi lagi menyembunyikan rasa putus asanya.


Masih dalam mode yang sama. Tidak ada jawaban, tidak ada pergerakan.


“Masuk saja..!” Rudi menghembuskan nafasnya perlahan sebelum akhirnya dengan terpaksa harus menjawab saat ketukan dipintu kembali terdengar dari luar.


Seorang ob masuk dengan sebuah nampan ditangan. Langsung menundukkan wajahnya begitu melihat pemandangan dua manusia yang duduk merapat di sofa, dengan tangan sang wanita yang terkalung erat dipinggang sang lelaki tampan, sementara wajahnya tersembunyi dalam pelukan.


Ob itu menaruh dua gelas teh hangat keatas meja, sekaligus dua gelas kosong dengan dua botol air mineral kemasan.


“Terima kasih..”


“Iya, pak, saya permisi..” tetap menunduk.


Dan ob itu telah berlalu tanpa berani mengangkat wajahnya, meskipun tetap saja Rudi merasa risih.


“Minum dulu.. setelah itu aku akan mengantarmu pulang..”


Rudi menarik nafas lega ketika akhirnya Laras mau juga melepaskan diri. Wajah wanita itu nampak sedikit berantakan akibat jejak tangisan yang kentara.


“Teh atau air mineral ?” tanya Rudi seraya mengusap perlahan sisa-sisa bening yang telah mengering.


“Air mineral..”


Rudi membuka kemasan sebuah botol dan menuangkannya kedalam gelas kosong yang telah tersedia, kemudian menyodorkannya kearah Laras yang langsung meneguknya perlahan.


“Tidak mau minum teh nya dulu ?”


Laras menggeleng lagi.


“Kita pulang sekarang yah..” Rudi berucap lembut, berusaha membujuk.


Laras menggeleng lagi, membuat alis Rudi sontak bertaut.


“Aku malu..” ujarnya menatap Rudi sambil sedikit meringis. “Aku malu melewati begitu banyak orang diluar sana setelah.. setelah kejadian tadi..”


Mendengar kalimat yang diucapkan dengan wajah polos itu Rudi tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa kecil. Ia tidak peduli meskipun Laras telah melotot padanya karena telah tertawa.


“Tidak apa-apa. Kakakmu yang superior itu pasti sudah mengantisipasi semua sikap bodohmu itu dengan sebuah keajaiban.. like a magic..”

__ADS_1


Laras menatapnya bingung.


“Nanti saat kamu berjalan keluar, tidak akan ada lagi seorang pun yang bisa melihatmu.. karena dia telah menyulapmu menjadi kasat mata, sehingga hanya aku yang bisa melihatmu..” ujar Rudi lagi dengan senyum.


“Ngaco !”


“Lohh ? tidak percaya ?”


“Tidak mungkin !” Laras berucap, bersikeras.


“Ayo buktikan kalau begitu..” ucap Rudi sambil berdiri dari duduknya, membuat Laras yang awalnya enggan akhirnya ikut berdiri meskipun kelihatan ragu.


“Aku tidak percaya..” desis Laras lagi masih bersikukuh.


“Mau taruhan ?” Rudi mengerling nakal. “Kalau aku benar, kamu harus janji tidak akan menangis saat aku pergi..”


“Dan kalau salah.. kak Rudi harus tinggal disini lagi selama seminggu !” ucap Laras bersemangat.


“Deal.” sambut Rudi tanpa ragu, dalam hati telah tersenyum penuh kemenangan.


Rudi sudah bisa menebak jika dirinya pastilah yang akan menjadi pemenangnya, karena sejak awal saat melihat gerak-gerik ob yang bahkan tidak berani mengangkat wajahnya sedikitpun, Rudi sudah bisa menebak bahwa pak Tian sudah bergerak cepat seperti biasanya.


Adalah hal yang mustahil jika seorang Sebastian Putra Djenar tidak bisa mengetahui secara detail insiden tadi sore, kan ?


Karena itulah Rudi berani bertaruh bahwa pak Tian pasti tidak akan membiarkan sesuatu yang tidak nyaman akan menimpa Laras setelahnya.


Dan benar saja, saat Laras menapakkan kaki dengan ragu keluar dari ruangan Vera, melintasi ruangan demi ruangan, memasuki lift, bahkan sampai menaiki mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lobby.. Laras merasa dirinya benar-benar telah menjadi seseorang yang seolah kasat mata, seperti tidak terlihat sama sekali oleh semua orang selain Rudi.


Saat Laras berjalan seluruh tatapan karyawan kantor cabang indotama group dengan serta merta akan jatuh tertunduk mengawasi lantai.. tidak ada satupun dari mereka yang berani memberikannya sebuah tatapan..


XXXXX


Situasi jalan yang mereka lalui malam ini memang tidak terlalu ramai.


Kali ini lagi-lagi pak Tomi kembali mengambil alih kemudi, sehingga Rudi pun bisa duduk dengan santai sambil menikmati alunan Paint my Love yang lembut lewat vocal khas Michael Learns To Rock yang berasal dari audio mobil pak Tomi.


“Jadi.. hubungan percintaan kalian.. sudah diketahui pak Tian ?”


Rudi mengangguk. “Sudah bukan lagi hubungan percintaan biasa, pak.. kami bahkan sudah menikah..”


“Astaga.. oh eh, maksudku selamat..” ralat pak Tomi sampai tergeragap saking kagetnya.


Melihat sikap kaget pak Tomi yang terlihat lucu itu Rudi malah tertawa, yang membuat pak Tomi akhirnya ikut-ikutan tertawa juga.


“Iya pak.. terima kasih..” ucap Rudi disela-sela tawa mereka yang mulai mereda.


“Semoga menjadi keluarga yang sakinah.. mawadah.. warahmah..”


“Amin, pak.. terima kasih..”


“Semoga secepatnya juga dikarunia momongan..” ucap pak Tomi lagi seraya tersenyum tulus, sebelum akhirnya kembali fokus mengawasi jalanan yang ada dihadapannya..


Meninggalkan Rudi dengan air muka yang berubah datar..


Tawanya bahkan telah menghilang..


Senyumnya pun kini terlihat hambar..


.


.


.


Bersambung..


TRIPLE – UP !!! 🔥

__ADS_1


Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. adalah harapan author selalu.. 🤗


Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2