CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Membiarkan isu


__ADS_3

Hari masih terlalu pagi, namun Tian sudah menikmati english breakfastnya yang berupa baked bean, atau kacang merah yang direbus dengan sedikit garam hingga lunak kemudian dimasak bersama saus dan bawang di penthouse pribadi miliknya.


Gedung tiga puluh dua lantai yang merupakan aset Indotama Group yang berlokasi dikawasan elite west end London itu, memang sudah disulap sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah gedung yang bisa memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkan Tian setiap kali ia datang dalam rangka urusan bisnisnya di London.


Tiga puluh lantainya merupakan pusat perputaran bisnis Indotama Group dengan lantai dua puluh Sembilan sebagai ruang kerjanya selaku Ceo Indotama Group, lantai tiga puluh satu disulap bak unit apartemen lengkap dengan tiga kamar yang dua diantaranya ditempati masing-masing oleh madam Luisa dan madam Anne, dua orang maid yang sudah berumur hampir setengah abad yang menjadi kepercayaan Tian khusus mengurus dan bertanggung jawab atas dua unit lantai terakhir gedung ini, sementara lantai terakhir adalah sebuah penthouse, yang tentu saja merupakan area pribadi Tian.


Meskipun masih banyak gedung yang lebih tinggi di daerah West end ini, namun pemandangan London dari segala arah Penthouse milik Tian yang nyaris keseluruhan dindingnya berbahan kaca itu tentu saja tidak kalah menarik dalam menyajikan view yang sangat berkelas.


Setelah menghabiskan satu hari full untuk menyelesaikan pekerjaannya di Singapore, malamnya Tian memang memutuskan langsung terbang ke London lagi-lagi dalam rangka mengurusi segala persoalan bisnis yang seolah tidak pernah ada kata selesai.


Tian tiba di London pada besok siangnya, dan ia langsung berpacu dengan setumpuk pekerjaan berserta agenda yang sudah menantinya, mengabaikan rasa jet lag yang sedikit mengganggunya sambil berharap bisa menyelesaikan semua persoalan yang ada di kantor cabang Indotama Group ini dalam waktu singkat.


Menjelang sore Tian terus berada diruang kerjanya dilantai dua puluh sembilan, dan malamnya ia menyempatkan diri untuk menghadiri undangan makan malam khusus dari seorang rekan bisnisnya di Berners Tavern, sebuah restoran mewah di London yang sangat terkenal dengan menu andalannya yang berupa sajian special cumi-cumi risotto, dan cumi goreng renyah. Selain itu, menu lainnya seperti macaroni keju dengan pasta carbonara dan kembang kol gorengnya yang dihidangkan dengan saus Skotlandia pun menjadi menu primadona restoran yang berkonsep modern serta mewah itu.


Tapi anehnya.. saat Tian mulai menyantap semua masakan spesial yang sudah tersaji dihadapannya, entah kenapa yang ada Tian malah merindukan sop sayuran dengan ayam goreng yang dibuat istrinya di apartemen, Tian juga bahkan sempat membayangkan mi instan buatan istrinya itu juga.


Keesokan harinya di London dan aktifitas pagi Tian tidak ada bedanya dengan aktifitas paginya saat dirinya baru saja tiba di Singapore. Ia masih bisa menikmati breakfast yang saat ini disediakan kedua orang maid-nya sambil memeriksa satu persatu email yang masuk.


Tapi tentu saja yang paling membuat Tian bersemangat di pagi ini tak lain adalah email khusus dari Rudi yang merupakan rangkuman laporan tentang segala sesuatu yang menyangkut kegiatan istrinya Arini, yang didapat dari semua unit keamanan khusus keluarga Djenar yang masing-masing sudah mengetahui dengan pasti apa saja tugas dan tanggung jawab mereka dalam rangka mengawasi keseharian istrinya itu. Saat ini tugas Rudi menjadi dua kali lipat lebih berat dari pada sebelumnya semenjak Tian tidak ada, karena jika Tian berada disana tentu Tian bisa memantau gerak-gerik istrinya yang polos itu dengan lebih mudah.


Yah.. segala sesuatu sampai pada hal terkecil yang dilakukan Arini secara terperinci sudah dilaporkan Rudi tepat pada jam dua belas siang waktu setempat, yang dengan kata lain akan mundur tujuh jam menjadi jam lima pagi waktu London.


Tian sedikit mengerinyit saat membaca beberapa poin yang menjadi bahan laporan Rudi pagi ini. Salah satunya adalah tentang isu aneh yang sedang beredar di kantor pusat Indotama Group yang menyangkut dirinya dan Ariella Hasyim, Ceo PT. Mercy, yang tak lain adalah istri sahabatnya Rico Chandra Wijaya.


Tian meraih ponselnya, mencoba menguhubungi Rudi. Ia tidak memerlukan waktu lama untuk menunggu panggilannya direspon karena seperti biasa Rudi selalu merespon panggilannya dengan cepat.


“Halo, Pak Tian.” Suara Rudi terdengar diseberang.

__ADS_1


“Rudi, coba jelaskan secara singkat mengenai isu yang beredar ini.” ujar Tian to the point. Tian merasa tidak sabar sehingga ia tidak lagi berbasa-basi.


"Seperti  biasa, Pak, para karyawan selalu saja penasaran dengan kisah percintaan Pak Tian.”


Tian terdiam sejenak mendapati ucapan Rudi.


Tidak mendengar respon langsung dari Tian, Rudi memutuskan untuk bertanya. “lalu apa yang harus saya lakukan, Pak Tian ? perlukah saya meredam semuanya sekarang ? karena menurut pengalaman saya, isu itu pasti sudah akan semakin ramai hari ini, dan mau tidak mau akan sampai juga ditelinga.. bu Arini.” ucap Rudi.


Tian masih terdiam, menimbang-nimbang. “Begini saja, Rud.., cukup pastikan isu tersebut tidak sampai keluar apalagi jika nantinya berada ditangan media..”


“Lalu bagaimana dengan yang beredar didalam, Pak ?”


“Biarkan saja dulu,”


“Biarkan saja ?” Rudi nyaris terhenyak mendengar arahan Tian yang terdengar aneh.


"Iya, Rud, selagi itu hanya menjadi konsumsi diantara karyawan.. biarkan saja,”


“Saya benar-benar ingin tau reaksinya. Kalau dia marah, bukankah itu pertanda baik ?”


‘Rupanya begitu ya.. mau memancing rasa cemburu istrinya sendiri dengan isu seperti ini ? Astaga.. mengapa saya merasa seperti sedang mengurusi percintaan seorang remaja labil..?’


Rudi membatin saat mengetahui maksud sang bos.


“Baiklah, Pak Tian, saya mengerti,” kemudian ia menambahkan lagi setelah teringat sesuatu yang tak kalah penting. “Lalu bagaimana dengan laporan Haris terkait keamanan apartemen, Pak ?”


“Saya belum mengambil keputusan,” ucap Tian datar.

__ADS_1


"Maaf, Pak Tian, saya tau Haris beserta bawahannya sangat bisa diandalkan. Tapi sepertinya bu Arini bukanlah tipe orang yang terbiasa menerima tekanan media meskipun itu hanya berupa tekanan yang sangat kecil,”


Tian bukannya tidak memikirkan hal yang seperti diungkapkan Rudi saat ini. Tian paham betul, meskipun Arini merupakan wanita yang tegar dengan kepribadian yang kuat, namun disisi lain Arini juga bukanlah tipe orang yang gemar bersosial dengan luas. Tian mengetahui semuanya, karena untuk mengetahui lika-liku kehidupan Arini tentu saja bagi Tian semudah membalikkan tangan.


Arini bahkan tidak memiliki banyak teman baik saat ini maupun pada kehidupan sebelumnya, karena pada dasarnya sifatnya tidak mudah dekat dengan banyak orang. Tapi konsekuensinya bagi Tian, Tian akhirnya harus memiliki kesulitan yang lain yakni mengendalikan sikap masa bodoh Arini yang masih terbawa sampai detik ia menjadi nyonya Sebastian Putra Djenar.


“Rudi, begini saja.. saat ini saya belum memiliki alasan yang tepat untuk membuat Arini menjauh dari apartemen, tapi saya akan mengatakan kepada Haris bahwa saya akan menyerahkan keputusan ini padamu. Sebentar malam saya baru akan take off dari Heathrow, saya hanya punya kesempatan untuk memonitoring perkembangan terakhir saat transit sekitar tiga jam di Dubai. Selepas itu.. tolong berikan keputusan yang tepat untuk Haris, demi kenyamanan istri saya,” Tian mengucapkan kalimat itu dengan hati yang sangat berat. Saat ini ia benar-benar mengkhawatirkan Arini, dan sialnya ia tidak bisa berada disana lebih cepat lagi.


“Baiklah, Pak Tian, saya mengerti,” ucap Rudi mencoba mengurangi beban fikiran Tian.


Tian menghembuskan nafasnya dengan berat, dan panggilan itu berakhir sudah.


Hari ini jadwal Tian lumayan longgar. Tian memang hanya tinggal memiliki beberapa agenda final, dan untuk itulah sebentar malam rencananya ia sudah akan bertolak kembali ke Indonesia dengan menggunakan maskapai Emirates yang memiliki jam penerbangan terdekat dengan jadwal terakhir pekerjaannya.


Rasanya Tian sudah tidak sabar sekali jika mengingat ia masih harus melewati penerbangan yang kurang lebih delapan belas jam lima puluh menit, setelah sebelumnya harus pula melewati nyaris satu hari terakhir full dikantor cabang Indotama Group ini sebelum ia bisa bertolak ke Bandar Udara International London Hearthrow yang jaraknya sekitar dua puluh dua kilo meter dari kawasan elite West End London.


Tian menyesap Americano-nya sesaat sebelum meneruskan aktifitas paginya. Sekarang ia sudah akan membuka sebuah file secret yang tidak boleh dibuka oleh siapapun selain dirinya, dan setelah ketegangan kecil yang melanda benaknya tadi saat ini Tian sudah mulai tersenyum sendiri begitu menekan tombol ‘play’.


.


.


.


Bersambung..


Oh em ji.. pusing pala author zheyeng..!! 😭

__ADS_1


Chapter ini awalnya masih berantakan pake banget, tapi author bela-belain bikin cakep biar bisa up lagi sore ini. Mengetahui kalian menyukai setiap bab-nya menjadi kekuatan tersendiri bagi author untuk terus berkarya. Pliss selalu dukung author yah.. jangan kasih kendor.. like, comment, favorite kan, subscribe profil, dan vote.. yang banyak, siapa tau nanti hasilnya bisa dipake buat beli baju lebaran.. ahhahahaha.. Amin YRA..🤣


Lophyuuuu.. Muachhhh.. 😘😘😘


__ADS_2