CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Dilema Tian


__ADS_3

Tidak terasa..


Sudah lebih dari seminggu sejak kepergian Tian malam itu dan sejak itu pula sikap Tian berubah. Lelaki itu menjadi semakin dingin dikantor dan Tian tidak pernah lagi kembali ke apartemen.


Arini tidak mengerti insiden apa yang sebenarnya telah terjadi dimalam itu, sehingga sekarang Tian mengacuhkannya seperti ini.


Saat dikantor, Arini sudah cukup beruntung jika bisa melihat sosok Tian yang keluar masuk dari ruangannya, dan melewati kubikelnya dengan acuh seperti biasa. Tirai yang menutup rapat dinding kaca tersebut pun sudah tidak pernah lagi terbuka, seolah sengaja tidak ingin memberi kesempatan untuk Arini meski hanya untuk melihat sosoknya.


Alhasil setiap malam pun dilewati Arini dengan hanya menatap ranjang kosong dihadapannya dari sofa yang ada disudut kamar. Ia bahkan tidak berani mendekati ranjang tak bertuan itu, meskipun ia begitu ingin mendapatkan aroma tubuh Tian yang tertinggal disana, tetap saja ia tidak punya cukup keberanian untuk sekedar melakukan semua itu padahal sudah jelas lelaki itu tidak ada disana. Arini sudah lelah menebak apa yang membuat Tian berubah.


Siang ini.. di kantor pusat Indotama Group lantai lima belas.


Arini yang menyadari pintu ruangan Ceo yang tiba-tiba terbuka sontak mengangkat wajahnya dari layar komputer. Tian keluar dari sana sendirian dengan wajah sedikit kusut menampakkan kelelahan, namun anehnya dimata Arini hal itu sedikitpun tidak mengurangi ketampanan lelaki itu yang membuatnya selalu merindu.


Seperti beberapa hari belakangan ini, kali ini pun Tian langsung berjalan kearah lift, dan seperti biasa Arini tidak bisa tidak untuk menatap semua gerak-gerik lelaki yang selalu menghancurkan hatinya ini. Tapi tiba-tiba langkah yang terayun panjang itu mendadak terhenti tepat di kubikel-kubikel yang bejejer. Seperti teringat sesuatu, Tian kemudian berbalik dan menghampiri meja Vera, sekretarisnya.


“Vera,” suara beratnya begitu jelas ditelinga Arini.


“Iya, Pak Tian ?”


“Kamu sudah atur jadwal penerbangan saya besok malam kan ?”


‘Penerbangan besok malam ? memangnya Tian akan pergi kemana besok malam ?’


Arini yang mencuri dengar pembicaraan itu tidak bisa mencegah rasa penasaran yang melanda benaknya.


“Sudah pak, semua yang menyangkut perjalanan Pak Tian sudah fix semuanya,” jawab vera.


“Baiklah, dan tolong atur sebaik-baiknya semua jadwal saya sebelum saya kembali,”


“Baik, Pak.”


Tian langsung berbalik, namun sekilas ia menangkap sepasang mata Arini yang terus mengawasinya sejak tadi. Rasanya memang tidak mungkin jika Arini tidak mendengar pembicaraannya dengan Vera tadi.


Mata mereka beradu sebentar, dan sebelum Tian memalingkan kepalanya, Arini sudah lebih dahulu  menenggelamkan wajahnya kedalam kubikel dengan terburu-buru, bercampur gugup.


Tian sedikit terhenyak mendapati tingkah Arini yang menghindarinya terlebih dahulu. Tian melihat sesuatu dari sorot mata itu, namun tetap saja ia memutuskan untuk segera berlalu menuju lift.


Sedangkan Arini yang merasa jantungnya seolah ingin


melompat keluar karena tidak menyangka akan bersirobok pandang dengan Tian segera berusaha meraih botol minumnya dan langsung meneguknya dengan cepat.


“Wk wk wk…”


Arini kembali terhenyak mendapati suara cekikikan dibalik dinding kubikel disebelahnya. Disana dilihatnya Meta masih tergelak sambil menatap Arini dengan pandangan lucu.


“Kamu itu, Rin.. dari awal kenal sampe sekarang masih begitu aja tiap kali liat Pak Tian. Kayak lihat hantu.. hihii..”


“Astaga, Meta.. jangan keras-keras dong, kalau orangnya dengar bagaimana..?” bisik Arini sambil tak lupa memasang wajah kesal dihadapan Meta temannya yang super usil itu.

__ADS_1


Meta mencibir. “Tenang saja.. orangnya sudah tidak ada..”


Arini mendelik. “Sstt,, tetap saja, membicarakan atasan itu tidak boleh, Meta..”


“Iya.. iya.. maaf deh..” Meta memasang tampang menyesal tapi hanya sebentar, karena detik berikutnya ia sudah menatap Arini lagi dengan senyum usilnya yang seperti biasa.. “Cerewet..” sambil memeletkan lidahnya dengan ekspresi lucu kearah Arini, membuat Arini kembali mendelik.


Sia-sia saja Arini melotot karena Meta telah kembali menghilang dibalik dinding kubikel pembatas sambil tak lupa menyisakan tawa usilnya untuk Arini yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menghadapi keusilan Meta.


XXXXX


Tian turun dari mobilnya langsung menuju lift khusus yang tersedia di apartemennya. Kesibukan Tian yang padat demi mengejar beberapa target perusahaan sekaligus membuatnya lebih sering membawa kendaraan sendiri saat malam hari.


Bukan apa-apa, Tian hanya merasa kasihan pada istri dan anak Sudir jika Sudir harus pulang tengah malam setiap hari karena menunggunya lembur.


Beberapa hari belakangan Tian bahkan memilih untuk menginap di kantor pusat karena merasa terlalu lelah jika memaksakan diri untuk pulang ke apartemen.


Beberapa hari belakangan, Tian sengaja memilih menjauhi apartemennya.


Bukan apa-apa, melainkan karena dirinya merasa belum bisa menelaah perasaannya sendiri dalam menghadapi Arini, sementara disisi lain semakin lama Tian merasa semakin tidak bisa mengendalikan diri jika terus berdekatan.


Sial.


Bagaimanapun juga ia adalah lelaki normal, sama seperti yang diucapkan Rico tempo hari, bahwa lelaki normal mana bisa tahan jika harus tidur sekamar bersama seorang wanita tanpa menyentuhnya, apalagi wanita itu berstatus istrinya yang sah.


Perbedaan kasus mereka hanyalah jika Tian masih bisa berusaha untuk menahan hasratnya yang meletup-letup sekuat tenaga, sedangkan si brengsek Rico yang tidak tahu malu itu malah ketagihan enak-enakan sendiri sehingga lupa memikirkan bagaimana perasaan Lila istrinya.


Ini memang tidak seperti seorang Sebastian Putra Djenar yang biasanya, karena Tian memang tidak pernah menilai wanita manapun dengan penilaian yang terlalu spesifik.


Itu bukan mitos, tapi fakta!


Tian selalu menghindari komitmen apalagi jika sudah menyangkut perasaan dan wanita. Itulah mengapa sampai saat ini Tian selalu merasa ragu untuk memulainya dengan Arini.


Mengapa ?


Karena seorang Arini Ramdhan tidak sama seperti wanita-wanita yang dikenalnya selama ini.


Semua sikap Arini selalu membuat Tian merasa kesal, bingung, sekaligus membuatnya semakin terlihat unik dimata Tian dari hari ke hari.


Tipe wanita yang keras kepala, namun gampang diintimadasi, karena Tian bisa dengan mudah membuat kedua bola matanya berkaca-kaca menahan sakit hati, tapi anehnya tidak membutuhkan waktu yang lama juga untuk Arini memulihkan hati.


Hati wanita itu sepertinya begitu mudah melupakan semua rasa sakit yang diterimanya meskipun Tian terkadang sudah sangat keterlaluan.


Entah sejak kapan Arini berhasil mengusik serta menguasai hati dan pikirannya,npadahal sejak awal Tian sangat memandangnya sebelah mata karena wanita itu begitu mudah setuju untuk dijodohkan hanya dengan imbalan biaya perawatan ayahnya.


Dimata Tian hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Arini terkesan seperti wanita yang sangat butuh uang sehingga bersedia menghalalkan segala cara.


Namun seiring waktu berlalu, Tian justru menemukan banyak hal yang justru tidak sejalan dengan segala tuduhannya, karena bahkan sampai detik ini Arini tidak pernah sekalipun menggunakan segala fasilitas yang Tian berikan.


'Apakah dia sengaja ingin membuatku terkesan?'

__ADS_1


Entahlah.


Kenyatannya selama ini Arini sepertinya hanya menggunakan uangnya sendiri, karena Tian bisa melihat bahwa isi kulkasnya selalu rutin terisi, sementara ia tidak pernah sekalipun menarik uang yang Tian berikan.


Setelah memberhentikan Waty, Tian juga merasa apartemennya justru jauh lebih bersih dari sebelumnya, baju kotornya pun tidak pernah lagi terlihat menumpuk di keranjang cucian.


Semua perlengkapan yang ada di wadrobe seolah tak menarik untuk disentuh, karena hanya sekali Arini memakai gaun terusan polos dengan desain sederhana berwarna salem pemberian Tian, itupun saat mereka hendak menemui nenek Saraswati.


Selebihnya ia selalu mengenakan pakaiannya sendiri, baik saat ia pergi ke kantor sampai saat ia tidur, tidak sekalipun Arini menggunakan berbagai pakaian mahal, aksesoris dan perhiasan di wadrobe, yang seharusnya memang sudah menjadi miliknya.


Kejadian beberapa hari yang lalu saat dirinya pulang dan mendapati Arini yang sedang memasak mi instan kini bak terputar ulang.


Malam itu untuk yang pertama kalinya Tian akhirnya bisa merasakan buah tangan istrinya.


Padahal mi instan merupakan jenis makanan yang paling Tian hindari selama ini, namun bersama Arini ia justru melahapnya seperti orang kelaparan.


Aneh.


Bagaimana mungkin makanan instan tinggi karbohidrat itu seolah berubah menjadi makanan terenak di dunia yang tidak pernah ia cicipi sebelumnya?


Sejenak Tian tersadar akan satu hal, berpikir bahwa bisa jadi sudah semestinya ia berusaha untuk memulai awal yang baru, mencoba membuka hati untuk mengenal seorang Arini Ramdhan lebih dalam lagi.


Pemikiran manis yang diam-diam sedang Tian rangkai dibenaknya mendadak buyar dengan bunyi ponselnya saat itu.


Rico yang saat itu terdengar sangat emosional memaksa Tian untuk bertemu di apartemen yang membuat Tian dengan susah payah harus mengalihkan lelaki tengil itu ke café terdekat.


Sejujurnya Tian bahkan belum siap Rico atau siapapun mengetahui keberadaan Arini yang tiba-tiba saja sudah menjadi istrinya.


Entah kenapa semua hal kecil itu tiba-tiba saja bisa membuat Tian panik dan ngeri sendiri.


Seperti saat membayangkan Lusi yang nekat menghampiri pintu apartemennya dan menerobos masuk tempo hari.


Persoalan Lusi ini semata-mata memang karena kekhilafannya. Sesaat setelah produk kecantikan itu launching Tian dan Rico berada di apartemen Tian malam itu, mereka minum-minum seperti kebiasaan mereka, dan Rico adalah orang yang paling bertanggung jawab karena secara diam-diam mengundang Lusy yang langsung datang dengan membawa beberapa orang teman modelnya.


Tian bukan orang naïf yang tidak menyadari bahwa sejak awal Lusi berusaha keras untuk mendekatinya dan ia pun sama sekali tidak benar-benar berniat menolaknya seperti kebiasaan buruknya selama ini dalam menghadapi wanita. Tapi informasi yang diberikan Rudi yang memperingatkan Tian bahwa Neneknya yang tak lain adalah Saraswati sedang dalam perjalanan menuju apartemennya membuat mereka semua panik dan secepat kilat membubarkan diri, termasuk Lusi yang pulang dengan perasaan ketidak relaan karena mungkin  merasa kesempatan emasnya yang sudah didepan mata untuk mendekatinya seketika hancur berkeping-keping karena kehadiran Saraswati.


Dan meskipun pada saat itu jujur Tian merasa dongkol dengan ulah nekad Saraswati yang seakan ingin menggerebeknya dimalam itu, namun saat ini Tian malah  bersyukur karena tidak sempat terlibat lebih jauh bersama Lusi.


Pasti akan sangat menyusahkan, mengingat Lusi yang baru saja di endorse Indotama Group tentu memiliki akses yang lumayan besar untuk bisa berkeliaran di kantor pusat.


Dulu Tian merasa hal kecil seperti itu tidak terlalu mempengaruhinya, namun setelah menikahi Arini semuanya terasa berbeda. Tian merasa harus menjaga perasaan Arini.


Kenapa?


Apa karena Arini adalah istrinya yang sah?


Tidak.


Ternyata bukan hanya karena itu saja.

__ADS_1


Tian terlalu gengsi untuk mengakui bahwa pada kenyataanya, wanita itu sudah berhasil mencuri keseluruhan hatinya ...


Bersambung.


__ADS_2