CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 091


__ADS_3

Hari ini ada double bab untuk up. Janji yah.. dua-duanya harus di like/di support yang sama.. 🙏


.


.


.


Arini berusaha bersikap biasa saja saat pertama kali mendapati Rudi dan Laras yang telah tiba lebih dahulu di lounge airport untuk private jet.


Meskipun sejak kemarin dirinya sempat terkejut dan agak kesal saat mengetahui Tian telah menyetujui keikutsertaan Laras pada perjalanan mereka tapi mau bagaimana lagi. Toh dirinya juga tidak bisa membatalkan perjalanan tersebut begitu saja.


"Sayang, tolong jaga sikapmu kepada Laras yah.. tidak enak nanti sama Rudi karena bagaimanapun Laras adalah istrinya.." bujuk Tian saat mereka berjalan kearah lounge, dan itu merupakan bujukan yang entah kesekian kalinya yang dilontarkan Tian kepada Arini.


Mendengar kalimat peringatan yang sama Arini memilih tidak menjawab, namun bibirnya tetap mencebik.


"Rico belum datang, Rud..?" tanya Tian begitu tiba dihadapan sepasang suami istri itu.


"Belum, pak, tapi tadi katanya sudah on the way bandara."


Tian mengangguk sebelum akhirnya mendudukkan diri disalah satu sofa, dimana Arini telah duduk terlebih dahulu sambil memangku Sean yang terlihat anteng meskipun sejak tadi tidak berhenti bertanya ini dan itu.


Pewaris keluarga Djenar itu terlihat sangat excited karena sejauh ini lebih sering melihat dunia luar hanya sebatas jendela gadget saja. Sudah bukan rahasia lagi jika ruang publik bukanlah tempat yang disukai Tian untuk keseharian istri terlebih anak semata wayangnya.


"Halo Sean.. how are you?" Laras tidak bisa menahan diri untuk menyapa Sean terlebih dahulu.


Sejak dulu Laras memang sangat menyukai Sean, meskipun ia sering membuat kekacauan kecil pada hubungan Tian dan Arini, tanpa Arini sadari.


"I'am fine aunty.."


Laras menyentuh kecil pipi bulat Sean yang kemerahan sebelum memberanikan diri menatap Arini.


"Halo kak.. apa kabar?" ujar Laras sambil mengulas senyum. Ini adalah kali pertama ia kembali bertatap muka dengan nyonya Sebastian Putra Djenar setelah drama pernikahannya dengan Rudi yang bukan main kacaunya.

__ADS_1


"Baik, Laras. Kabarmu sendiri bagaimana?"


"Egh, aku.. aku juga baik, kak,"


"Selamat yah atas launching kemarin.." ujar Arini tersenyum tulus, mencoba mengenyahkan segala rasa kesal yang tertinggal setiap kali mengingat cerita di masa lalu yang seharusnya telah terkubur.


"Iya kak, terima kasih.."


Dan mereka akhirnya bisa sedikit berbincang meskipun terlihat kaku.


Tidak hanya Arini yang tengah berusaha, sebaliknya Laras pun harus melakukannya dengan baik. Sejak kemarin Rudi telah mewanti-wanti Laras agar bisa menjaga sikapnya kepada semua orang terlebih kepada Arini, lalu mana mungkin Laras bisa mengelak.


Sejujurnya dengan Arini, Laras sudah berusaha melakukan gencatan senjata sejak lama. Yakni terhitung sejak malam pernikahannya dengan Rudi. Kehadiran Arini sudah bukan masalah besar bagi Laras. Namun dengan Meta..?


Untuk yang satu itu Laras tidak bisa berjanji.


"Semua sikapku tergantung padamu kak, kalau kamu masih terlihat caper dan kerap menaruh perhatian padanya.. maka jangan salahkan aku jika aku ingin mengerjainya.."


Mendengar kalimat keras kepala yang terucap dengan nada cuek itu membuat Rudi menggelengkan kepalanya berkali-kali.


Sementara itu, mendapati kalimat Rudi yang kelihatan ngelesnya, Laras malah melengos.


'Kapan? kak Rudi bertanya kapan?'


Laras memendam geram. Mungkin Rudi tidak pernah menyadarinya, tapi Laras sangat mengerti, bahwa jangankan dalam perbuatan, dalam pembicaraan dan perdebatan mereka pun Rudi selalu menaruh Meta ditempat yang paling aman, begitu tinggi.. dan begitu istimewa..!!


XXXXX


Tian tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya begitu melihat Rico tiba di lounge tersebut dengan gaya cengengesan khas Rico.


Sementara Meta yang berjalan bersisian dengan suster dibelakang Rico sambil menggandeng tangan Rei terlihat salah tingkah begitu menyadari mereka telah membuat Ceo Indotama Group itu menunggu cukup lama.


"Berani-beraninya membuatku menunggu.. mau cari mati yah?" semprot Tian kearah Rico tanpa ampun.

__ADS_1


Mendengar itu Rico malah kembali cengengesan. "Sorry my bro.. you know lah.." ujarnya mengedipkan matanya kearah Tian yang tambah mangkel menerima gaya andalan Rico yang begitu percaya diri, membuat Meta yang kini telah berada disamping Rico langsung merona.


"Meta..!! wah, dari tadi aku tidak sabar bertemu denganmu," Arini langsung berdiri untuk mengamit bahu Meta, menjauhi sekumpulan para suami mereka, membawa Meta ke sofa tempat dimana Laras juga telah lebih dahulu duduk disana.


"Maaf membuatmu menunggu.."


"Issh.. tidak apa-apa, belum juga setengah jam," ujar Arini begitu girang dengan kehadiran Meta.


Sedangkan Sean dan Rei jangan ditanya lagi.. dua bocah itu tak kalah senangnya saat bertemu. Sekarang mereka berdua sibuk berlarian kesana kemari dibawa pengawasan kedua suster dan beberapa pengawal khusus yang berada disana. Ulah dua bocah aktif tersebut cukup membuat kedua suster mereka mau tidak mau sedikit berolahraga di pagi itu.


"Hai, Laras.."


"Hmm.."


Sapaan Meta hanya dibalas dengan satu garis senyum oleh Laras sebelum ia kembali menyibukkan diri dengan ponsel yang ada ditangannya.


Bathinnya kembali diliputi kesal melihat keakraban Arini dan Meta yang begitu intim.


"Sekali lagi maaf yah Rin.. kami datang agak telat. Daddynya Rei semalam baru pulang dari luar kota, jadi bangunnya agak kesiangan.."


"Ciee.. makin sweet ajah sekarang.." goda Arini membuat Meta langsung blush.


Meta juga merasa sangat malu berucap dengan kalimat se-lebay itu. Tapi mau bagaimana lagi? dirinya memang harus terlihat sebahagia itu dengan Rico, terlebih sejak tadi Rico selalu mengingatkannya berkali-kali untuk mulai mencoba menanggalkan panggilan 'pak Rico' di sepanjang perjalanan mereka ini.


Menurut alasan Rico, selain akan terdengar aneh oleh semuanya, Rico juga tidak mau mereka bicara seformil itu dihadapan Rei yang mulai kritis dengan lingkungannya.


Dan meskipun merasa sedikit malu karena masih belum tau Rico akan membawa hubungan mereka kemana nantinya, karena lelaki itu juga tidak pernah memberikan kepastian.. alhasil Meta tetap harus membiasakan diri begitupun lidahnya untuk terus memanggil Rico dengan sebutan 'Daddy'.. sama seperti Rei.


.


.


.

__ADS_1


Next to Part2 - 092


Cekidoott.. 🤗


__ADS_2