
Yang ngancem mau copotin gigiku, plis jangan yah, ntar aq ngunyah pake apa klw gigi dah dicopot.. 😭😭😭
Enjoy yah.. gaiss.. 😅😅😅
.
.
.
Siang itu, diruangan meeting kantor Indotama Group Tian sedang memimpin rapat, pembahasan mengenai perencanaan awal pembangunan mega proyek Indotama Times Square. Beberapa orang penting yang terlibat, beserta Rico yang merupakan mitra Indotama group yang akan mengeksekusi proyek tersebut. Mereka semua duduk mengelilingi meja rapat.
Rapat internal itu telah berjalan sekitar sejam saat tiba-tiba ponsel Tian berdering. Biasanya dalam rapat yang lumayan penting seperti ini Tian akan memilih untuk mengacuhkan atau langsung membatalkan panggilan. Tapi menyadari dering ponselnya saat ini tidak seperti biasanya, alis Tian nampak bertaut. Tanpa melihat pun Tian tau persis siapa gerangan yang menelponnya.
Tanpa berfikir dua kali Tian langsung menekan icon terima, membuat Rico yang sedang mempresentasikan materi secara otomatis langsung menghentikan penjelasannya.
“Iya..?”
“Sayang..”
Suara diseberang nampak bergetar. Membuat wajah Tian langsung pias saat mendengarnya. Sejak memutuskan untuk menerima panggilan itu perasaan Tian memang sudah tidak enak, karena selama ini Arini nyaris tidak pernah menelponnya lebih dahulu apalagi wanita itu jelas-jelas sudah tau bahwa saat ini dirinya sedang memimpin rapat yang lumayan penting.
“Ada apa..?” Tian bersusah payah mengontrol nada suaranya agar tetap terdengar datar, mengingat semua perhatian semua orang yang ada diruangan meeting itu mau tidak mau sedang tertuju padanya.
“Sayang.. aku.. aku..”
“Sekarang ada dimana..?” Tian bahkan harus berfikir keras untuk merangkai dan mengucapkan kalimat netral agar tidak terdengar aneh ditelinga semua orang.
“Di toilet kantor..”
“Kembali ketempatmu sekarang..” berucap dingin.
Tian menutup panggilan itu begitu saja, melirik jam tangannya sekilas yang menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh menit.
“Sebaiknya kita break makan siang dulu.. tepat jam satu rapat kita
teruskan.” ujarnya sambil beranjak begitu saja keluar ruangan, diikuti pandangan heran semua yang ada ditempat itu, tidak terkecuali Rico yang seperti langsung bisa menangkap bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi, sedangkan Rudi dengan sigap langsung mengikuti langkah sang Ceo dari belakang, tak kalah tergesa.
Arini bergegas keluar dari toilet saat panggilan itu terputus begitu saja. Saat keluar dari sana ia langsung bisa menangkap sosok Tian yang muncul dari belokan yang menuju ruang rapat.
“Arini.. keruanganku sekarang..!” Titah Tian sengaja berucap demikian agar tidak menimbulkan kecurigaan para karyawan yang ada di beberapa kubikel dilantai lima belas itu begitu menangkap sosok Arini yang baru saja berbelok dari arah toilet.
“Baik, pak..” langsung membuntuti sang Ceo masuk kedalam ruangan, dengan kepala tertunduk.
Tanpa aba-aba, Rudi yang awalnya membuntuti langkah Tian melihat hal itu sontak memutar tubuhnya menuju lift. Tanpa diberi perintah ia bahkan sudah tau apa yang harus ia lakukan saat ini.. tentu saja menjauhi ruangan Ceo.
__ADS_1
Begitu pintu ruangan tertutup tanpa aba-aba Arini langsung menghambur ke pelukan Tian.
“Ada apa ? apa yang terjadi ?” Tian bertanya kebingungan melihat Arini yang langsung sesegukan dalam pelukannya. “Sayangku.. ada apa ini..? jangan membuatku panik..”
Belum bisa berucap apapun, hanya terdengar isakan yang tertahan.
“Arini.. ada apa ini ?” mengulang pertanyaan yang sama.
“Maafkan aku sayang..” terdengar lirih.
Tian nyaris berteriak saking frustasinya melihat pemandangan yang ada dihadapannya, kedua bahu yang berguncang perlahan.. wajah yang mulai dipenuhi air mata..
“Sayang.. katakan dulu kalau kamu mau memaafkan aku..” berucap semakin lirih.
Tian membuang nafasnya gusar campur geram. Melihat pemandangan Arini yang
seperti ini Tian benar-benar merasa sepertinya dia akan menjadi gila saat itu juga.
Tanpa sadar Tian sudah mencengkram kedua bahu Arini yang berguncang samar itu, menatap sepasang mata yang diam-diam telah menjadi telaga itu dalam-dalam.
“Baiklah.. dengarkan ini baik-baik, dan ingatlah ini baik-baik. Iya, aku memaafkanmu. Tidak peduli apa kesalahanmu.. tidak peduli sebesar apa kesalahanmu.. aku akan tetap memaafkanmu. Aku akan selalu memaafkan semuanya..! Apa kamu sudah mendengarnya..?!”
‘Lagi-lagi.. tamu tak diundang..’
Tian menelan ludahnya. Rongga dadanya seperti terasa hampa tapi ia mencoba tenang. Meskipun memendam perasaan campur aduk seperti ini rasanya sungguh sangat menyiksa. Masih lebih mendingan jika dirinya disuruh mengobrak abrik seisi dunia.
Tian merasa dirinya benar-benar tak berdaya.. tak berguna..
Dirinya.. Sebastian Putra Djenar..
Ceo Indotama Group..
Bahkan semua predikat yang terdengar begitu hebat yang melekat pada dirinya itu seolah-olah menjadi tidak berarti bagaikan serpihan debu..
‘Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa aku lakukan.. because i’m just a human..’
Definisi yang tepat dari salah satu kalimat andalannya selama ini.
“Tidak apa-apa, kita bisa mencobanya lagi..” berucap perlahan meskipun rasa sesak merongrong setiap aliran darahnya, rasa kecewa menampar-nampar membuatnya seperti ingin berputus asa namun Tian tidak bisa menunjukkannya. Ia harus terlihat tegar dihadapan Arini.
“Sayang.. ini pasti ada sesuatu. Kalau semuanya baik-baik saja lalu kenapa aku tidak bisa seperti wanita lain..”
“Karena yang diatas belum mengijinkan. Bersabarlah sampai waktunya tiba..”
“Tapi nenek akan datang besok..”
__ADS_1
“Besok atau detik ini tidak ada bedanya untukku. Kita sudah membicarakan hal ini kemarin, jangan mengungkitnya lagi.” Tian menatap Arini tajam. “Aku sudah katakan akan menghadapi seluruh dunia ini untukmu. Lalu kenapa selalu mengulang hal-hal yang pesimis ?”
Arini kini menatap Tian dengan tatapan mengira-ngira. “Sayang, apa sekarang kamu sedang marah padaku ? aku tau aku sudah mengecewakanmu, aku tidak berguna..”
“Aku bukan marah, aku hanya tidak suka mendengarmu menyalahkan dirimu..”
“Kenyataannya aku memang tidak berguna..! kalau kamu jadi diriku apa kamu bisa tidak menyalahkan dirimu ?”
“Arini.. kamu ini bicara apa ?” Tian mengusap wajahnya.
Arini tertunduk lemah.. memilin jemarinya satu sama lain sebelum berucap lirih.. “Aku lelah..”
Tian nyaris terhenyak mendengarnya. Kepalanya mendadak terasa bertambah pening begitu saja. “Lelah ya.. ?” desisnya tidak bisa lagi mengontrol ekspresi wajahnya yang mulai mengeras. Tian bahkan harus menekan suaranya yang nyaris lepas kendali.. tapi tak dipungkiri dirinya memang telanjur geram. “Jadi sekarang kamu ingin menyerah ? Baiklah.. terserah padamu.. mau menyerah ? menyerah saja. Tapi jangan pernah menyuruhku menyerah seperti dirimu, karena kata menyerah tidak pernah ada dalam kamusku !”
Arini menatap Tian dengan mata berkaca-kaca, lidahnya terasa kelu, nyaris tak percaya jika saat ini Tian sedang bicara padanya seraya menahan amarahnya begitu rupa.
“Mau mengatakan apa lagi ? mau mengingatkan aku lagi keinginan nenek tentang penerus keluarga Djenar ? Aku pasti akan memberikannya. Sudah puas ?”
“Sayang..”
“Dan kamu yang akan mengandung anakku.”
Bulir-bulir bening jatuh berlomba-lomba dipipi Arini.
“Arini, tolong jangan mematahkan hatiku, begitu juga dengan keyakinanku. Sudah cukup..!” wajah Tian mengeras.
Merasa marah ?
Tentu saja !
Dirinya merasa sangat marah, kesal, geram, kecewa. Saat ini Tian bahkan merasa bahwa ia seperti seorang prajurit yang sedang berjuang sendirian. Terus menguatkan, padahal didalam hatinya telah berkali-kali patah arang, sementara Arini terus saja berfikir pesimis tanpa henti. Apakah wanita ini tidak menyadari betapa kerasnya dirinya berjuang untuknya selama ini ? Apa semua yang dia lakukan tidak berarti sama sekali ?
“Aku harus melanjutkan rapat. Sebentar pulanglah duluan dengan mang Asep..” saat mengatakan hal itu Tian bangkit begitu saja, meninggalkan Arini yang masih membisu tanpa bisa berucap sepatah kata...
.
.
.
.
.
Untuk menebus kesalahan karena alur yang tidak sesuai keinginan, hari ini aq kasih 2 bab yah.. yuk.. jangan lupa LIKE, COMMENT DAN VOTE nya yah..🤗
Cekidooottt.. 😘
__ADS_1