CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Sekelebat ingatan masa lalu


__ADS_3

Butuh perjuangan untuk menembus barisan wartawan yang haus berita, belum juga rasa ingin tau para pengunjung mall xx tentang kehebohan besar yang barusan terjadi.


Saat ini berbagai media massa online maupun offline berlomba-lomba membuat headline paling menarik untuk menggambarkan situasi fenomenal yang barusan terjadi, dan realita bahwa Ceo Indotama Group, Sebastian Putra Djenar telah menikahi seorang karyawan wanita bernama Arini Ramdhan, telah membuat hari bersejarah ini menjadi hari patah hati sejuta umat.


(Termasuk para readers dan author.. 😭 kaciaann deh lo.. 🤣)


Sementara itu, sang pembuat kehebohan nampak santai menyandarkan tubuh sepenuhnya kesandaran kursi sambil menentang sepasang mata indah yang juga sedang menatapnya lekat. Mereka masih saling bertatapan tanpa kata, hanya bedanya jika Tian terlihat tersenyum tipis, wajah Arini malah sebaliknya terlihat datar.


Didepan mereka Sudir mengendarai mobil dengan tenang, sementara Rudi yang ada disampingnya hanya duduk disana tanpa kata.


“Masih marah ya..?” tangan Tian terangkat, menyentuh dagu runcing tersebut kemudian beralih pada sebuah pipi yang halus. Membuat gerakan mengusap lembut disitu.


Arini terlihat memutar bola matanya acuh, tapi jelas terlihat jika ia menikmati sentuhan yang penuh kelembutan itu.


“Aku minta maaf..” beringsut mendekatkan tubuh dan wajah dengan sekali gerakan, tapi kali ini Arini langsung membuat gerakan menghindar, membuat Tian serta merta menarik dirinya kembali sambil meringis kecil. “Wah.. masih marah rupanya..” desisnya kemudian.


“Memangnya aku berhak marah ?” mengatakan itu dengan mimik wajah yang keruh.


Tian mengangkat bahu. “Padahal aku sudah melakukan hal se-ekstrim ini untuk membuktikan perasaanku kepada seluruh dunia..”


“Memangnya siapa juga yang butuh ?”


Tian mendelik kecil. “Tidak butuh ya sudah. Yang jelas aku sudah melakukannya dengan sepenuh hati..”


“Aku sudah terbiasa menjadi istri rahasia. Tidak butuh pengakuan !” mengatakannya dengan ketus.


Mendengar sindiran pedas itu Tian tertawa sumbang. Mengerling sejenak kearah Arini yang masih betah dengan wajah cemberutnya yang membuat Tian tidak tahan lagi..  dengan gerakan cepat langsung merengkuh tubuh Arini begitu saja kedalam pelukannya.


Awalnya sempat terjadi pemberontakan dengan sengit namun kali ini Tian tidak lagi membiarkan dirinya mengalah pada wanita itu. Tian tetap nekad memeluk tubuh ramping Arini hingga pemberontakan itu melemah pada akhirnya.


“Aku benci padamu..!” masih mengumpat dengan suara perlahan.


“Aku sangat mencintaimu..” balas Tian sambil berbisik.


“Aku benar-benar membencimu..”


Mulutnya memang mengatakan benci, tapi gerakan tubuh Arini malah sudah menyelusup lebih dalam kedalam pelukan Tian yang seolah ingin menyelimuti seluruh tubuhnya dengan penuh kehangatan.


Tian tersenyum.. kali ini dirinya sudah menunduk, tanpa ragu lagi menemui kelembutan yang senantiasa dirinduinya itu..


Jalanan sore itu nampak sedikit lenggang..


Sudir masih memegang setir dengan tenang..


Rudi duduk disampingnya menatap jalanan..


Disaat seperti ini, mereka berdua sudah terbiasa jika tidak mendengar apa-apa..


---  

__ADS_1


Sementara itu..


Disebuah perjalanan yang lain, sebuah mobil juga melenggang dengan tenang menembus jalanan sore yang cukup lapang.. tidak seperti biasanya arus lalu lintas kali ini tidak padat merayap.


“Kenapa diam saja ?” Rico yang sedang memegang setir nampak mengerling sejenak kearah Lila. Sesekali ia nampak mengelus perut istrinya yang sudah mulai membusung dengan sombongnya.


“Aku sedang memikirkan Arini..”


“Untuk apa memikirkannya lagi ? dia sudah nyaman bersama dengan suaminya yang kaya raya itu. Lebih baik pikirkan saja dirimu sendiri.. apa kesalahanmu saat ini..”


“Ahh, Rico.. aku tau aku salah karena telah melanggar perkataanmu. Tapi kalau tidak begitu aku tidak akan bertemu Arini kan.. jadi ada gunanya juga aku melakukan kesalahan..” mencoba melakukan pembelaan diri sebaik mungkin.


Rico melengos. “Selalu seperti ini. Kamu benar-benar pintar membela diri yah..”


Mendengar itu Lila tersenyum penuh kemenangan. Tapi mendadak ia menatap Rico serius saat teringat sesuatu.. “Oh ya, Co.. aku tidak bisa membayangkan seberapa kayanya Tian. Kamu tau tidak..? Arini bahkan punya black card..”


“Sekaya apa Tian aku juga tidak bisa menghitungnya. Yang jelas Tian bisa menjadi seperti sekarang itu bukanlah hal yang mudah. Karena sejak kehilangan kedua orangtuanya sekaligus Tian terpaksa harus memikul tanggung jawab yang besar tentang masa depan Indotama Group itu sendirian..”


Saat berucap demikian ingatan Rico serasa sedang mengembara ke beberapa tahun yang silam saat pertama ia bertemu Tian dibelakang sekolah sedang menghisap sebatang rokok.


Saat itu.. Rico sedang mencari tempat yang aman untuk bersembunyi karena ingin melarikan diri dari pelajaran matematika yang sangat ia benci, tak disangka ia menemukan bocah kelas sebelah sedang menghisap rokok dengan nikmat.


“Kamu merokok..?!” Rico kecil dengan seragam putih biru nampak terpesona melihat anak lelaki sebayanya yang terlihat keren dengan sebatang rokok ditangan.


“Mau coba..?” Tian berucap acuh.


Tentu saja ia langsung mengangguk.


Tian menggeleng. “Orangtuaku tidak mungkin tau. Mereka belum lama meninggal karena kecelakaan.” berucap acuh, sedangkan Rico malah terhenyak mendengarnya. Merasa sangat iba, tapi yang mengalaminya malah terlihat cuek saja, yang belakangan baru Rico ketahui bahwa sikap pongah Tian itu hanyalah upaya mempertahankan diri dari kesedihannya.


Dan siang itulah pertama kali mereka bicara dan saling mengenal, dibelakang sekolah dengan sebungkus rokok yang membawa petaka karena sesaat setelahnya mereka berdua tertangkap penjaga sekolah dan digelandang keruang guru.


“Punya siapa ini ?” ibu guru BP dengan tampang judes bertanya sambil sebelah tangannya mengacungkan satu bungkus rokok, sebelah tangannya lagi mengacungkan mistar kayu.


Mereka berdua saling bertatapan.. tak ada yang gentar.. tapi tak ada juga yang mau mengaku.


Sampai ketika seorang wanita paruh baya yang tak lain Saraswati Djenar tiba disana dengan langkah anggun.


“Sebastian.. apa ini punyamu ?”


Tian tertunduk sambil membisu.


“Bukan, itu punyaku..” entah dorongan darimana yang membuat dirinya mengaku, tak peduli dengan tatap protes Tian yang lekat padanya.


Dan terhitung sejak saat itu.. Rico menjadi terbiasa menerima semua kesalahan Tian tanpa disuruh.


Entah itu merokok.. entah itu membolos.. semua kenakalan mereka terus berlanjut hingga mereka dewasa. Mungkin karena rasa iba dengan tragedy yang menimpa Tian membuat hati kecil Rico saat itu selalu terpaku untuk terus berada didepan Tian dan menjadi orang yang selalu maju lebih dahulu.


“Sedang memikirkan apa sih ?”

__ADS_1


Suara Lila yang mengusik membuat Rico terbangun dari sekelebat ingatan masa lalu.


“Aku sedang memikirkan bagaimana caranya mendapat sebuah black card kalau sampai kamu menginginkannya.”


Rico berucap asal sambil melirik wanita disampingnya.


“Aku kan bukan sultan seperti Tian.. aduhh..” Rico sudah mengadu saat merasakan perih dipahanya yang terkena cubitan Lila yang lengkap dengan pelototan galaknya.


“Aku tadi cuma bercerita tentang Arini, bukan meminta hal serupa..” protesnya sengit.


“Iya deh, maap, tapi kalau ada.. mau juga kan ?” goda Rico lagi membuat Lila melotot kesal. “Meskipun aku tidak bisa memberikan black card.. tapi setidaknya aku lebih jago mencetak keturunan dibandingkan Tian. Iya kan..” ujarnya lagi dengan bangga namun diluar dugaan kalimat becandanya malah membuat Lila semakin kesal.


“Ishh.. bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Bersenang-senang diatas kesedihan mereka..” protes Lila benar-benar gondok.


“Aku hanya becanda..” ralat Rico sungguh-sungguh. Saat menyadari candaannya memang tidak sepantasnya.


“Huhh, kamu ini.. aku saja jadi kepikiran bagaimana besok saat Saraswati Djenar datang..”


“Tidak usah dipikirkan. Aku sudah memberikan jalan keluar yang tokcer untuk mereka. Sisanya tinggal mereka berdua yang akan menghadapinya, yang terpenting sekarang, nenek tidak bisa lagi semena-mena memaksakan kehendaknya, karena setelah publik mengetahui pernikahan Tian dan Arini.. ia tidak mungkin memaksakan tindakan arogan untuk memisahkan mereka.. "


“Jadi semua itu idemu ?” Lila terbelalak tak percaya.


Rico tersenyum bangga. “Tentu saja.. dan kalau semuanya berjalan dengan lancar, Tian sudah berjanji bahwa aku boleh meminta apa saja dari dirinya..” tersenyum sumringah.


“Ya ampun.. Rico Chandra Wijaya, suamiku yang tampan dan jenius.. aku sayang padamu..” tiba-tiba Lila sudah meringsek mendekati tubuh suaminya, memeluk lengan Rico dengan manja.


“Akhh.. sana.. sana.. kamu pasti mau menyabotase jatah permintaanku pada Tian kan ?” ucap Rico bergerak-gerak menghindar..  namun bukannya menjauh Lila malah semakin kuat memeluk lengannya. “Haihh.. giliran ada maunya saja kamu baik dan mau menempel-nempel padaku seperti ini, kalau tidak ada maunya tidur memelukmu saja sering kamu sikut..”


“Itu kan karena aku gerah, hamil membuatku sering gerah, Co.. kamu tidak tau rasanya sih..”


“Alasan saja. Hari ini mengatakan hamil membuat gerah, kemarin mengatakan anakku tidak ingin dekat-dekat.. besok entah alasan apa lagi yang mau kamu pakai untuk mengusirku dari tempat tidurku sendiri..”


Lila tertawa mendengar Rico yang ngedumel panjang pendek. Tapi lagi-lagi.. bukannya menjauh ia malah beringsut semakin rapat ketubuh suaminya, menggelendot manja disana.


Haihh.. kalau sudah begini Rico mana bisa menolaknya kan..?


Untung saja saat ini Rico masih menyetir.. coba kalau tidak..


.


.


.


.


Bersambung…


LIKE, COMMENT , VOTE 🤗

__ADS_1


Lophyuu my readers.. more and more.. 😘


__ADS_2