CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Berterima kasih dengan benar


__ADS_3

“La.. perutmu semakin besar.. kapan sih lahirannya ?” tangan Arini selalu saja tidak bisa menahan rasa penasaran untuk mengelus perut Lila yang keras dan membulat sempurna setiap kali mereka bertemu.


Hari ini adalah hari ke-tiga Arini berada dirumah sakit Indotama Medical Centre, yang artinya hari inilah yang ditetapkan dokter untuk Arini bisa pulang dan melanjutkan istirahat dirumah.


Itulah yang menjadi alasan kenapa sepagi ini Lila dan Rico sudah berada diruang rawat inap Arini, karena sejak pagi-pagi sekali Lila sudah ribut untuk bisa menemui Arini sebelum pulang, yang membuat Rico tentu saja tidak berdaya melawan keinginan istrinya yang keras kepala dan sedang hamil tua itu.


“Menurut perkiraan dokter sih minggu depan..” ucap Lila dengan bangga sambil sedikit memamerkan perutnya.


“Pantas saja sudah sebesar ini.. ternyata sudah waktunya..”


“Bagaimana tidak besar.. segala makanan dimakan sampai kepiring-piringnya..” tanpa sadar Rico bergumam pelan seolah pada dirinya sendiri namun celakanya Lila masih bisa mendengarnya meski tidak terlalu jelas.


“Apa kamu bilang, Co ?” mendengar itu Lila langsung melotot sempurna, sementara Arini malah tertawa kecil melihat pasangan yang terlihat sekali saling mencintai itu namun begitu suka berdebat dimanapun mereka berada. Sepertinya Lila memang harus memiliki kesabaran extra dalam menghadapi kelakuan Rico, yang tidak seperti Tian yang selalu bersikap tenang dan mahir mengendalikan diri, Rico merupakan spesies manusia tengil yang memang sudah pecicilan dari sononya.


Yah.. Tian memang ahlinya mengendalikan diri dan emosi dalam segala hal kecuali pada hal-hal yang berbau mesum, lelaki itu akan berbalik menjadi seratus delapan puluh derajat dari yang tadinya mahir mengendalikan diri menjadi sangat lupa diri.


“Tidak.. aku tidak bilang apa-apa..” Rico mengelak secepat kilat.


“Bilang saja kalau kamu keberatan karena aku sekarang gendut dan tubuhku tidak bagus lagi seperti dulu ?”


“Tidak.. kata siapa kamu gendut.. kamu tidak gendut sayang.. kamu sexy kok.. sungguh..” Rico langsung mendekati Lila, mengelus punggung Lila berkali-kali seolah ingin menenangkan kejengkelan Lila. Berusaha membujuk istrinya yang terlihat kesal semaksimal mungkin. “Ya sudah aku minta maaf yah sayangku..” Rico meringis melihat tatapan galak Lila padanya.


“Sudah, La.. jangan marah.. katanya kalau sedang hamil tidak boleh marah-marah..” ujar Arini menengahi karena kasian juga melihat wajah Rico yang memelas.


“Huhh.. bagaimana aku tidak marah, Rin..? bisa-bisanya dia bilang begitu.. memangnya bentuk tubuhku sekarang ini karena siapa kalau bukan karena ulahnya..”


“Husshh.. La, jangan bicara begitu dong.. aku kan sudah minta maaf..” ujar Rico dengan muka penuh penyesalan.


“Ada apa lagi ini, Co. Kalian ini selalu seperti ini yah..? tidak lelah berdebat terus tanpa henti..?” Tian yang baru saja muncul diruangan itu berdecak heran melihat sepasang suami istri yang sangat gemar berdebat tersebut.


Melihat kehadiran Tian yang telah kembali bersama Rudi yang setia dibelakangnya membuat Arini tersenyum senang, karena itu pertanda ia sudah bisa meninggalkan rumah sakit dan pulang kerumah.


Tidak dipungkiri jika dirinya sudah merasa sangat bosan berada dirumah sakit selama tiga hari ini yang membuat aktifitasnya hanya berputar diatas ranjang pasien sepanjang hari.

__ADS_1


Tian tiba dikamar rawat inap Arini setelah baru saja melakukan konsultasi akhir dengan dokter Rina yang sejak beberapa bulan yang lalu memang telah ia beri rekomendasi khusus agar bisa bergabung dengan tim dokter yang ada di Indotama Medical Center.


Ia telah mencari tau semua hal yang harus dilakukan dan dihindari oleh wanita hamil, serta meminta resep vitamin terbaik yang bisa dikonsumsi Arini selama masa kehamilannya Dokter Rina juga sudah mengatur jadwal khusus untuk Arini untuk melakukan usg dan pemeriksaan rutin.


Melihat kehadiran Tian disana membuat Rico langsung mengunci mulutnya meskipun Lila jelas-jelas sedang mencibir kearahnya bahkan kemudian sampai mengejek dengan memeletkan lidah. Tentu saja Rico tidak mungkin membalas, karena jika ia nekad membalas ulah istrinya itu, Tian pasti akan langsung menyalahkan dirinya seperti biasa.


Melihat pemandangan lucu itu Arini tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak tertawa kecil melihatnya.


“Sudah siap pulang kerumah ?” Tian menghampiri Arini yang wajahnya terlihat sudah jauh lebih segar di pagi ini.


Arini menganguk cepat. “Tentu saja. Aku sudah tidak sabar ingin pulang kerumah..”


Tian menuntun Arini berdiri menuju kursi roda yang telah siap disana lengkap dengan seorang perawat.


“Ayo, La..” Rico mengamit lengan Lila untuk beranjak keluar, tapi yang ada Lila malah menepis tangan Rico dengan kasar.


Menerima perlakuan kasar itu Rico langsung menatap Lila dengan pandangan kesal, tapi yang ia temukan disana adalah seraut wajah yang malah sedang meringis menahan sakit.


“Co.. sakittt..” bertepatan dengan itu terlihat ada air yang bercampur sedikit darah terlihat mengalir turun dikedua kaki Lila.


Mendengar kalimat Lila semua mata yang ada disana nampak langsung tertuju pada wanita itu, dan setelah melihat pemandangan rembesan air yang mengalir turun mendadak ruangan itu langsung dipenuhi kepanikan.


“Sayang.. k-kamu kenapa ?” Rico langsung meraih lengan Lila yang masih berdiri sambil meringis.


“La.. sepertinya kamu mau lahiran sekarang..” Arini bahkan langsung melepaskan diri begitu saja dari Tian. Bergegas mendekati Lila yang begitu Arini menahan tangannya tangisnya langsung pecah begitu saja.


“Riinn.. ini sakit sekali..  huuuu huu..”


“Suster, tolong secepatnya tangani ibu Lila lebih dahulu..” Tian memerintahkan suster itu agar kursi yang awalnya diperuntukkan oleh Arini agar diberikan kepada Lila. “Rudi.. tolong panggil dokter Rina, agar bisa menangani Lila secepatnya.. nanti aku yang akan menelpon dokter Hans..” berucap demikian sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi dokter Hans.


“Baik pak..” Rudi langsung keluar menuju ruangan dokter Rina yang berada satu lantai dibawah suite room tersebut.


Sementara Lila yang masih menangis kesakitan telah dibawah dengan kursi roda keluar menuju ruang persalinan karena air ketubannya yang sudah pecah menandakan sang jabang bayi sudah tidak sabar hadir ke dunia.

__ADS_1


Tian menatap Arini yang tengah mengawasinya dengan tatapan yang khas. Ia langsung menggeleng begitu tau apa yang sedang diinginkan istrinya itu sekarang tapi Arini terlihat menatapnya dengan tatapan yang dipenuhi aura pemberontakan.


“Aku tidak mau tau.. aku akan menunggui Lila sampai dedek bayinya lahir. Pokoknya aku tidak mau pulang sebelum..”


“Baik.. baikkk.. whatever you want sayangku.. kamu bosnya, aku akan menuruti semua keinginanmu..” putus Tian tidak berdaya.


“Terima kasih sayang.. ayo kita susul mereka..” tersenyum penuh kemenangan sambil mengambil tangan Tian begitu saja untuk menyusul Rico dan Lila keruang persalinan, namun yang ada Tian malah menahan tangan Arini dan membuat tubuh mereka sudah tidak berjarak.


“Berterima kasih lah dengan benar..” bisik Tian sebelum akhirnya tanpa membuang waktu langsung mengecap dan merasai seberapa manis istrinya yang telah berhasil membuatnya tergila-gila ini.


Arini tersenyum menyadari keinginan Tian yang sekarang tidak lagi membuatnya kaget. Sebastian Putra Djenar, suaminya yang tampan ini, selalu tau bagaimana caranya mengambil keuntungan dari dirinya dengan cara yang paling menyenangkan dan mendebarkan.


‘Aku sangat mencintainya.. dan sangat menyukai semua tindakannya..’


Arini membathin, seraya tanpa ragu mengalungkan kedua lengan dileher Tian, memperdalam kehangatan.. memperbesar percikan api yang membuatnya semakin membara.. membuat Rudi yang tadinya sengaja membawa beberapa orang petugas keamanan Indotama Group sedianya akan mengambil beberapa barang pribadi milik sang bos besar dan istrinya yang akan ditaruh kedalam mobil dan nantinya akan dibawa pulang kerumah.. mendadak memberi tanda ke beberapa orang itu untuk menunggu sejenak diluar..


Rudi menarik perlahan pintu suite room rawat inap yang awalnya terpentang lebar untuk menjaga privacy sang bos besar.. sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya disalah satu bangku yang tersedia diluar ruangan itu. Menunggu disana dengan sabar, bersama beberapa petugas keamanan khusus Indotama Group.


.


.


.


.


Bersambung…


Besok Chapter akhir yah sayang.. klw mau baca author saranin habis maghrib yah.. meskipun author gk jago bikin adegan yang membara tapi ya.. begitu deh.. pokoknya bacanya abis maghrib aja biar lebih afdol.. 😅🙏


LIKE, COMMENT, VOTE, dukung author terus yah...😅


See you and lopphyuu more and more my readers… 😍😘

__ADS_1


__ADS_2