
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏
.
.
.
Rudi mengangkat wajahnya dari layar laptop saat mendengar beberapa kali ketukan di pintu ruang kerjanya. Dan Rudi langsung melengos begitu saja begitu mendapati sosok yang muncul disana adalah sosok wanita mungil dengan senyum dibibir yang saat ini terkesan terlalu sumringah.
Siapa lagi kalau bukan Larasati ?
Saking terlalu sumringah-nya.. belum apa-apa Rudi bahkan sudah bisa menebak dengan jelas apa maksud serta tujuan kedatangan sosok itu. Sosok itu pasti telah mengetahui sesuatu yang sedang berlangsung saat ini nun jauh disana.
Sebenarnya Rudi sedikit kaget mendapati kenyataan jika Laras bahkan telah kembali dari kota B, karena setahunya sejak kemarin pagi Laras memang nekad berkendara sendirian kesana tanpa diantar sopir kantor, dan memilih bermalam karena pekerjaannya yang padat yang mengharuskan Laras menyortir langsung beberapa bahan yang sebagian besar berupa kain dari pemasok untuk menentukan standar kwalitas yang baik.
Kwalitas bahan-bahan tersebut memang harus diuji dengan sangat teliti, karena nantinya akan dipakai dalam beberapa produk yang akan menembus pasar luar negeri karena telah mendapat permintaan langsung dari Fashion Milan, selaku salah satu brand mode terbesar didunia yang peminatnya sebagian besar adalah selebriti manca negara dan orang-orang hebat lainnya diseluruh belahan dunia.
“Boleh aku masuk, kak ?” pertanyaan yang sepertinya tidak membutuhkan jawaban karena pada kenyataannya Laras telah menyelonong begitu saja kedalam ruang kerja Rudi tanpa menunggu jawaban dari Rudi terlebih dahulu.
“Ada apa ?” tanya Rudi dengan intonasi suara yang dingin begitu melihat tubuh mungil itu telah terhempas sempurna tepat dihadapannya, masih dengan senyum yang terlalu sumringah.
“Tidak.. aku hanya ingin tau apa kak Tian akan ke kantor hari ini ?” tanyanya seraya duduk dengan nyaman menghadap lelaki dihadapannya yang selalu berwajah masam setiap kali ia menggangunya.
Rudi mendengus kecil. “Kamu kan masih sekretarisnya.. seharusnya kamu yang lebih tau. Lalu untuk apa bertanya lagi ?”
“Idih.. sinis banget yah jawabannya.. kalau tidak mau menjawab ya sudah.. tidak usah sewot begitu juga kali..”
Mendengar kalimat pongah tersebut, Rudi akhirnya meletakkan bolpen yang ada ditangannya keatas meja, memilih menyandarkan tubuh seutuhnya ke sandaran kursi seraya melipat tangannya didada. Pandangan Rudi lurus kedepan.. menatap wajah Laras yang ada dihadapannya yang nampak masih betah mencebikkan bibir.
__ADS_1
“Cuma itu yang ingin kamu ketahui atau masih ada lagi yang lain ?”
Laras nampak pura-pura berfikir sejenak. “Cuma itu..” menjawab dengan ekspresi wajah yang polos, padahal didalam hati Laras malah tertawa.
Pada kenyataanya Laras sendiri baru saja menelpon Tian untuk menanyakan kehadiran Tian dikantor, namun diluar dugaan Tian ternyata sedang berada dirumah Meta karena tepat pada hari ini juga.. Rico telah berhasil menikahi Meta. Kenyataan yang sulit dipercaya !
“Baiklah.. akan aku jawab. Pak Tian akan datang kekantor setelah jam makan siang. Sudah dengar kan ? jadi sekarang.. karena kamu sudah tau jawabanya.. kamu boleh kembali ketempatmu. Pekerjaanku masih banyak, dan aku tidak punya banyak waktu untuk sekedar meladeni basa-basimu yang tidak berguna itu.”
Mendengar sejumlah kalimat ketus yang terlontar dengan begitu lancar dari mulut Rudi membuat Laras serentak mendelik. “Apa sikapmu selalu se-menyebalkan ini yah ?” ujar Laras tidak bisa menyembunyikan ke-kesalannya.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa sikapmu juga selalu se-menyebalkan ini ?” tantang Rudi balas melotot.
“Cih.. memangnya kamu pikir aku ingin melakukan apa ? aku kan hanya bertanya tentang kak Tian.. tapi kamu sudah sewot seperti itu !” Laras mencoba berdalih.
‘Dasar bujangan tua pemarah..’
Seraya mendesis dalam hati.
“Mana aku tau apa yang benar-benar sedang ingin kamu lakukan sekarang ? karena di otakmu yang kecil itu terdapat seribu satu rencana..! yang jelas kalau kamu mau datang kesini hanya untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.. kamu sudah bisa melihatnya sendiri kan ? kamu pikir kalau sekarang Meta sedang menikah, lalu aku akan melompat dari jendela ruanganku yang ada dilantai lima belas ini ?”
Mau tidak mau Laras berdecak kagum meskipun bibirnya masih seperti biasa, tetap mencebik.
Laras yang mendengar kalimat sinis Rudi yang memang pada dasarnya sangat berkesesuaian dengan kenyataan seperti yang tergambar sempurna didalam otaknya itu kini sedikit terhenyak.
Laras memang sengaja mendatangi ruangan Rudi hanya untuk menyaksikan secara langsung wajah patah hati milik Rudi. Hatinya pasti akan terhibur kan kalau bisa melihat kesedihan diwajah lelaki arogan itu ? memangnya hal apa lagi saat ini yang bisa membuatnya senang selain melihat Rudi sakit hati ?
Laras bahkan sudah membayangkan bahwa ia pasti akan tertawa dengan keras kalau perlu sampai perutnya terasa sakit, seandainya saja ia menemukan kalau-kalau mata Rudi sedang sembab karena habis menangis darah akibat ditinggal kawin oleh Meta, yang saat ini secara diam-diam sepertinya telah resmi menjadi istri Rico.
Tapi yang ada Laras malah kecewa karena boro-boro terlihat patah hati.. lelaki angkuh dihadapannya ini malah terlihat biasa saja, bahkan masih mempunyai kekuatan berlipat ganda untuk melontarkan kalimat-kalimat pedas seperti biasanya.
“Kalau kamu merasa baik-baik saja, lalu kenapa kamu tidak datang menghadiri akad nikah mereka..?” masih tidak mau menyerah dalam usahanya menyakiti hati Rudi meskipun usahanya mulai terlihat sia-sia.
“Aku tidak diundang. Puas ?” pungkas Rudi lagi seraya mengalihkan tatapannya kelayar laptop. Berniat untuk meneruskan kembali pekerjaannya yang tertunda meski yang ada akhirnya ia hanya menggerak-gerakkan mouse tanpa arah dan tujuan, hanya berpura-pura
__ADS_1
agar terlihat sibuk.
Laras terdiam mendengar jawaban tegas Rudi, sedetik kemudian ia hanya bisa membisu setelah menyadari bahwa misi awalnya telah gagal total.
Sementara itu, entah kenapa Rudi malah tidak bisa lagi berkonsentrasi penuh dalam melanjutkan pekerjaannya yang cukup menumpuk saat ini, di saat Laras sedang duduk dihadapannya seraya memperhatikan dirinya dengan begitu lekat.
“Kak..” suara Laras terdengar lagi, kali ini nada suaranya terdengar serius.
“Hhmm..” tidak menengok.
“Apa.. kak Tian se-antusias itu saat menerima laporanku semalam ?” tanya Laras tiba-tiba sudah mengalihkan pembicaraannya begitu saja saat teringat reaksi positif Tian semalam ketika ia melaporkan hasil dari kwalitas bahan-bahan yang dimasukkan para pemasok kemarin.
“Hhmm…” lagi-lagi hanya berdehem acuh.
Laras terdiam lagi mendapati sikap Rudi yang menjawab setiap pertanyaannya dengan gaya malas-malasan tanpa semangat. Namun diamnya Laras akhirnya membuat Rudi penasaran juga karena kemudian Laras tak kunjung bicara sementara ia terus menggerak-gerakkan mouse tanpa arah.. bahkan meng-klik sembarangan cursor-nya yang ada di permukaan layar laptop.
Entah kenapa tiba-tiba saja Rudi sudah merasa penasaran dengan apa yang membuat Laras menjadi terdiam cukup lama.
“Kalau mau melamun jangan disini.. mengganggu saja. Keluar sana..” usirnya tanpa perasaan, sebenarnya tidak sepenuh hati, tapi yang ada Laras malah benar-benar beranjak dari tempat duduknya tanpa melakukan perdebatan berarti, membuat Rudi sontak terlongong begitu saja.
‘Ada apa dengannya ?’
Bertanya dalam diam dengan benak yang ikut mereka-reka, begitu punggung Laras telah menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
.
.
.
Bersambung..
Double up untuk hari ini..??
__ADS_1
No !! enak ajah... bukan double loh ya.. tapi tepat nya TRIPLE UP.. karena dalam beberapa jam, season. 2 bab. 35 akan on the way.. cekidooottt.. 💪
Jangan lupa untuk selalu membagi sedekah berupa Like, Comment, and Vote. Thx and Lophyuu all.. 🥰