CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Surprise


__ADS_3

Merasa tidurnya terganggu Arini menggeliat kesana kemari mencoba membebaskan diri dari sesuatu yang terasa menghimpit. Namun manakala ia membalikkan tubuhnya tiba-tiba Arini nyaris terpekik saat menangkap seraut wajah yang barusan menghiasi mimpinya terlihat nyata tepat didepan hidungnya. Matanya membeliak tak percaya..


“Surprise..” bisik Tian dengan suara berat sambil mengulum senyum saat menyadari wajah Arini yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya itu dipenuhi raut keterkejutan.


“S-sayang..”


Tanpa aba-aba Arini langsung menghambur begitu saja dipelukan Tian, membuat Tian tertawa perlahan.


“Bukannya tadi pagi kamu mengatakan akan datang besok malam ? Kenapa datang sekarang ? jam berapa ini ?” berucap beruntun dengan nada berbisik saat berada didalam pelukan Tian.


“Tidak suka aku datang sekarang ? yah sudah kalau begitu aku tidur di hotel saja.. nanti aku kembali kesini lagi besok malam..” membalas pertanyaan itu dengan nada berbisik juga karena tidak ingin terdengar sang mertua, sambil berpura-pura melepaskan pelukan yang sedang melingkar erat di pinggangnya.


“Egh.. jangan..! apa-apaan sih ?!”


protes Arini.


Tian tertawa dalam hati saat menyadari pelukan itu semakin kuat melingkar ditubuhnya. “Kalau memeluknya sekencang ini aku bisa mati kehabisan nafas..” bisik Tian lagi, semakin menggoda wanita yang masih membenamkan wajahnya dengan sempurna, namun pelukan yang kencang itu tidak berkurang sama sekali.


‘Ternyata dia juga sekangen ini..’


Bathin Tian diam-diam tersenyum girang, tangannya akhirnya terangkat membelai rambut bergelombang dengan aroma mint campur lavender yang khas, sehingga refleks membuat hidungnya tidak tahan untuk tidak menghirup aroma itu dalam-dalam.


Tubuh Arini yang menempel ketat lama kelamaan mulai memprovokasi akal sehat Tian, sampai-sampai saat ini tangannya sudah tidak bisa lagi terkondisikan. Yang  tadinya hanya membelai rambut yang bergelombang, mendadak mulai mengelus lembut punggung yang terbalut piyama doraemon, dan detik berikutnya.. sudah travelling kemana-mana.


Arini yang mulai tersadar dengan adanya gerakan-gerakan tambahan ditubuhnya itu sontak melepaskan pelukannya yang semula begitu nyaman, menatap wajah Tian yang ada dihadapannya yang sedang tersenyum aneh.


“Sayang.. kamu.. kamu sedang apa ?” tanya Arini menatap Tian dengan tatapan curiga.


“Tidak.. tidak sedang apa-apa.” geleng Tian berpura-pura bego. “Ayo sini, peluk lagi..” Tian sudah ingin menarik tubuh Arini kembali mendekat padanya.


“Ishh..” Arini menepis kedua tangan itu. “Awas yah kalau macam-macam..” desisnya dengan wajah bersungguh-sungguh.


“Kenapa sih ?” Tian menatap Arini dengan tatapan protes.


Arini membisu, tapi bibirnya maju dua centi menandakan bahwa dirinya sedang cemberut.


“Belum selesai yah..?” bisik Tian lagi.


Arini membuang mukanya yang sudah memerah menahan malu. “Sudah tau masih bertanya.."


"Kenapa lama sekali sih.." terlihat menggumam perlahan dengan raut wajah yang terlihat kesal, membuat Arini melotot kecil.


"Ini baru hari ke-empat..” Arini berucap lirih. “Lagian omes banget sih, sudah tau di rumah sakit masih mikirin yang aneh-aneh..” gerutunya lagi.


“Siapa suruh kamu peluknya kencang banget,”


“Ya sudah kalau begitu aku gak mau peluk-peluk lagi..”


“Egh, kok begitu sih.. ya sudah ayo


peluk..”


“Janji yah cuma peluk,”


Tian menganguk asal. “Iya.. memangnya apaan..? kalau tau belum selesai gak mungkin lah aku nyosor. Ayo cepetan peluk !” titahnya.


Akhirnya Arini kembali masuk dalam pelukan Tian.


Satu menit, dua menit, lelaki itu nampak memegang janjinya, bahkan Tian nyaris tidak bergerak sama sekali, hanya hembusan nafasnya yang terdengar meskipun lama kelamaan Arini sedikit mengerinyit saat menyadari detak jantung Tian yang semakin lama kian cepat, dan seperti ada sesuatu yang mengeras dibawah sana.. membuat Arini kembali curiga.


“Arini..”


“Mmm,”


“Jangan cuma peluk bisa gak sih,

__ADS_1


tambahin cium boleh yah..” rayu Tian semanis gula.


Saat Arini mengangkat wajahnya ia mendapati seraut wajah mupeng sedang menatapnya dengan penuh permohonan, membuat Arini tidak tega untuk mengecewakan suaminya yang tampan itu sehingga akhirnya Arini hanya bisa menganguk meski merasa sangat malu.


Seperti mendapat lampu hijau, tanpa basa-basi lagi Tian yang melihat angukan kecil itu langsung melahap sesuatu yang menjadi kesukaannya itu dengan tanpa ampun.


XXX 


Arini sudah jatuh tertidur sejak


beberapa saat yang lalu, namun Tian masih setia mengawasi wajah polos itu sambil mengulum senyum. Ia bahkan sampai tersenyum bangga menyadari hasil karyanya saat melihat bibir Arini yang kelihatan gemoy, nampak lebih montok dari ukuran sebenarnya akibat ulahnya.


Tian yang baru berniat untuk mulai


memejamkan mata mendadak tersentak dengan bunyi ponsel yang ternyata lupa ia non-aktifkan.


Maksud hati ingin me-reject, namun setelah melihat nama Rico yang melakukan permintaan video call itu tertera dilayar ponselnya meskipun sedikit kesal seperti biasa Tian memutuskan untuk tetap menerima panggilan itu.


“Ada apa, Co ?”


"Kamu ada dimana, bro ? aku hubungi sejak tadi susah banget..”


Tian berfikir tentu saja Rico kesulitan menghubunginya karena ponselnya pasti saat itu sedang non-aktif karena berada dipesawat. “Ada apa sih, Co ?”


“Gak ada apa-apa, seperti biasa hanya mau ngajakin kamu hangout tapi karena kamu gak bisa dihubungi ya..” Rico mengangkat bahu.


“Oh yah, Co, kamu akan datang pada peresmian Mercy Green Resort, kan ?”


Mendengar itu Rico kembali mengangkat bahunya acuh. “Lihat nanti.”


Tian berdecak melihat sikap pongah Rico. “Mau sampai kapan hubungan kalian seperti itu ?”


“Sudah, jangan mulai lagi. Aku malas jika sudah membahas masalah rumah tanggaku..”


“Makanya selesaikan,”


“Kamu ini sangat keras kepala. Wanita tetaplah wanita.. sehebat apapun, mereka tetap membutuhkan perhatian, ingin disayang, dipuja dan dirayu. Astaga.. aku tidak percaya hari ini aku mengajarkan hal se-receh ini kepada seorang senior sepertimu..”


Rico tertawa sumbang. "Tian, kamu jangan membuatku tertawa. Memangnya seumur hidupmu kamu pernah memuja wanita ? selama hidupmu saja kamu bahkan hanya tau rasanya dipuja wanita, digilai wanita, dan mematahkan hati wanita.." sungut Rico.


"Kamu sepertinya meremehkan aku yah.." saat mengucapkan hal itu refleks Tian kembali mengusap punggung Arini yang tertidur dengan sangat nyaman didalam pelukannya.


Rico yang seperti baru tersadar akan sesuatu sontak terdiam. Alisnya bertaut serius. “Tian, kamu sedang bersama siapa ?” tanyanya setelah memastikan pemandangan dilayar ponselnya bahwa Tian sedang berbicara dengan posisi tiduran, tapi yang membuat Rico gagal fokus adalah adanya rambut yang meriap didekat wajah Tian.


Tian yang tersadar bahwa Rico notice dengan keadaannya yang tidak sendirian sontak berucap singkat namun penuh makna. “Seseorang,”


“Wanita ?”


“Cihh, apa maksudmu ? kamu pikir aku sudah belok ? tentu saja seorang wanita..!!” Tian berucap gusar yang tertahan karena tidak ingin suaranya membangunkan Arini yang terlelap, apalagi jika sampai terdengar mertuanya yang sedang beristirahat diruangan sebelah.


Rico malah tertawa ngakak mendengar kegusaran Tian. “Akhirnya setelah sekian lama bertapa, si junior kamu kasih makan juga. Aku nyaris berfikir junior-mu itu sudah mati rasa pada wanita..“ ejek Rico, mengingat nyaris dua bulan ini entah kenapa Tian selalu menolak setiap dirinya menyuguhkan wanita yang baru dengan berbagai model untuk sahabatnya itu.


“Sialan..!”


Umpat Tian mendengar ejekan Rico. Dan demi harga dirinya yang meminta pembelaan karena ejekan Rico barusan, Tian dengan sengaja mengambil jemari Arini yang terkulai, kemudian membawanya pada bibirnya.. mengecupnya dengan lembut dan mesra sebelum akhirnya melirik kearah layar ponselnya lagi dimana wajah Rico terlihat menatapnya lekat-lekat..


“See..?” ujar Tian, tersenyum sarkasme.


Rico membisu melihat adegan manis dilayar ponselnya itu. Tubuh Rico bahkan ikut-ikutan menegang.


Ia tidak mungkin salah lihat..


Ia juga tidak mungkin salah mengingat..


Jemari yang sedang dikecup Tian dengan mesra itu..

__ADS_1


Cincin yang melingkar dijari manisnya..


Rico menelan ludahnya kelu.


‘Itu Arini..’


 XXX


Panggilan video call itu sudah usai


sejak lima menit yang lalu. Tapi Rico masih menatap layar ponselnya lekat. Ia masih tidak ingin mempercayai apa yang barusan ia saksikan, bahwa hal yang paling ia takutkan yang menjadi kecurigaannya selama ini terbukti benar. Tian sedang bersama Arini saat ini.. dan wanita itu bahkan sedang tertidur didada Tian..?


Ini tidak benar.


Lalu siapa yang salah ?


Apakah wanita polos seperti Arini sanggup menggoda Tian ? sepertinya itu tidak mungkin. Lalu apakah Tian yang sudah begitu brengsek memperalat wanita sepolos Arini ?


Huhh.. Rico tidak suka dengan


alternative terakhir itu, tapi apa boleh buat ? justru alternative terakhir itulah yang paling masuk diakal. Pasti Tian-lah yang telah menggoda Arini, dengan segala pesona dan daya pikat yang ada pada diri Tian, bahkan wanita baik-baik seperti Arini bisa bertekuk lutut. Memikirkan hal itu membuat fikiran Rico semakin buntu.


Refleks Rico membuka galeri, ia baru ingat beberapa minggu yang lalu ia pernah mengambil foto Arini diam-diam yang dikirimkannya ke kontak Tian dengan maksud menggoda sahabatnya itu. Tapi waktu itu ia melakukannya sebelum dirinya mengetahui bahwa Arini berstatus istri seseorang.


Rico menatap foto Arini lamat-lamat.


‘Apa yang harus aku lakukan ? aku tidak bisa membiarkan Tian melakukan hal bodoh yang akan menghancurkan nama baiknya..’


Fikiran Rico menjadi kalut saat benaknya diliputi tentang Tian. Ia sadar ia tidak bisa mengabaikan sesuatu jika itu sudah menyangkut Tian. Saking kerasnya Rico berfikir.. ia bahkan tidak menyadari bahwa sosok Lila sudah berdiri dibelakangnya sejak tadi.


Sebenarnya Lila bermaksud menyapa suaminya itu. Ia bahkan sengaja menunggu Rico hingga larut malam.


Dengan berbekal dua buah hasil test pack dengan merek yang berbeda ditangan yang semuanya memperlihatkan hasil yang sama, pemandangan dua buah garis merah yang terlihat nyata.


Akhir-akhir ini Lila memang merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Lila merasa kehilangan nafsu makan, sering pusing dan selalu merasa mual dipagi hari.


Awalnya Lila menyangka dirinya hanya kelelahan biasa, tapi kemarin manakala ia tidak sengaja melihat stock pembalut dilemarinya yang tidak berkurang mendadak Lila mencurigai sesuatu.


Tidak ingin rasa penasarannya berkelanjutan kemarin Lila memberanikan diri membeli dua buah test pack sekaligus dengan merk yang berbeda, dan hasilnya tadi pagi Lila nyaris gila saat melihat hasil dua buah test pack itu.


Seharian ini Lila sudah berfikir begitu banyak, mengambil keputusan setelah menyingkirkan egonya jauh-jauh.


Lila berniat membuat sebuah gencatan senjata. Ia menyadari ia membutuhkan Rico, dan karena itulah dirinya benar-benar ingin berdamai dengan segala keegoisan dengan menceritakan secara jujur kondisi dirinya yang tidak bisa ia pungkiri, bahwa dalam keadaan seperti ini.. betapa ia benar-benar memerlukan dukungan Rico sebagai suaminya. Harapan Lila cuma satu, semoga hubungan mereka akan membaik setelah Rico mengetahui telah ada sebuah kehidupan baru yang sedang tumbuh didalam rahimnya.


Tapi semua niat tulus Lila mendadak sirna begitu saja saat menyadari Rico sedang duduk terpekur diteras depan, sambil menatap sebuah foto wanita dilayar ponselnya, yang ia kenali dengan sangat merupakan salah satu karyawan Indotama Group..


‘Arini..?’


Lila mundur perlahan tanpa bicara,


menaiki anak tangga langsung menuju kamar mereka yang ada dilantai dua, masuk kedalamnya tanpa bersuara, kemudian menutup pintu kamar sekaligus memutar kuncinya dari dalam.


Lila bahkan belum sempat menyentuh ranjang.. saat bulir bening jatuh berlomba-lomba memenuhi wajahnya yang pias...


.


.


.


.


Bersambung…


Like and Comment ya..

__ADS_1


Lophyuu.. 🤗😘


__ADS_2